TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 21


__ADS_3

Siang itu!


Dikediaman uwa Iyan. uwa Iyan sedang menganyam sebuah anyaman di sebuah bambu yang dianyam menjadi kipas. Sudah beberapa buah yang didapat oleh laki laki itu. Disaat itu Zahra sedang duduk dan melihat apa yang dilakukan oleh laki laki itu.


"Jangan duduk disini!" teriak uwa Iyan.


Pria itu menatap wajah Zahra, tapi gadis itu hanya tersenyum saja mendengar larangan dari laki laki yang ada di hadapannya.


"Kamu mengingatkan saya pada Anin. Anin selalu duduk disamping saya ketika saya sedang membuat kipas," ujar uwa Iyan menerawang.


Ya dalam benaknya ia mengingat bocah kecil itu. bocah kecil yang selalu menemani dirinya dengan istri. Saat malam Anin selalu menemani dirinya, selepas 2 tahun Anin lebih banyak tidur di rumah ini.


"pak, kira kira seperti apa sih Anin yang dibicarakan bapak, sepertinya semua warga menyukai Anin?" tanya Zahra penasaran.


Ya sejak ia datang ke desa ini. Nama Anin selalu terucap oleh semuanya warga, sepertinya Anin itu sangat berarti sekali. Sedangkan menurut Zahra keluarga Anin biasa saja tidak ada yang istimewa sama sekali.


"Anin bocah yang baik yang harus terseret kasus yang besar. Saya juga nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Anin." ujar uwa Iyan meninggalakan pekerjaan dan duduk di amben ( tempat yang terbuat bambu yang di belah satu satu, lalu di kasih paku supaya rapi ).


Tapi sebelum itu ia masuk kedalam rumah dsn menghidangkan singkong rebus serta air teh pahit.


"Ini makanan kesukaan Anin," ujarnya tersenyum sambil meletakan rebusan singkong di depan Zahra.


"Dsn ini juga kesukaan Anin, singkong bakar," lanjut uwa Iyan menyimpan beberapa singkong bakar.


Laki laki itu langsung duduk di atas amben, tidak lupa juga uwa Iyan menyediakan teh manis buat Zahra. Ia langsung duduk bersila sambil mengambil cerutu nya.


Zahra hanya bisa menelan ludah tanpa haus, singkong singkong itu mengingatkan pada sosok laki laki yang telah lama meninggal. Ia hanya tersenyum ada rasa syukur disaat pria yang ada dihadapannya mengingat nama seseorang yang hampir dilupakan. Anin.


"Wah! Pak Iyan ingat Anin ya," tawa Zahra perih.


"Selalu!"


"Uwa, boleh uwa ceritakan tentang Anin dan keluarganya?" tiba tiba Zahra berkata seperti itu lada uwa Iyan.


"Buat apa?" ketus uwa Iyan.


"Ya nggak apa apa sih! Masalahnya bagus dibuat cerita novel. Aku suka menulis Lo." Zahra seperti memaksa pada uwa Iyan.

__ADS_1


"Siapa tahu kalau aku menulis novel, nanti Anin baca buku yang aku tulis lalu ia pulang kangen sama bapak." lanjut Zahra.


uwa Iyan yang mendengarkan alasan dari Zahra hanya mengangguk angguk kepalanya, alasan gadis yang dihadapannya ada benarnya untuk dicerna.


"Siapa tahu Anin juga ingin pulang ke desa ini kerena ia lagi nyari bukti bukti tapi masih ragu untuk berkunjung ke sini," tutur Zahra.


Sebenarnya hatinya sangat berdebar debar menunggu apa yang bakal pria itu ceritakan tentang kejadian yang sebenarnya, ia tidak mungkin mencari tahu pada uwa Darman kerena tidak mungkin laki laki itu mau menceritakan nya biarpun cerita itu ada juga.


"Kamu juga lagi nyari Anin?" tanya ia Iwan menatap wajah Zahra.


"Iya, pak. Aku hanya ingin kalau aku sudah nggak di kampung ini lagi, Anin muncul dan berkumpul bersama kalian lagi." Zahra mengangguk me iya kan apa yang diucapkan oleh uwa Iyan.


Wajah pria itu berseri seri saat mendapatkan alasan Zahra tentang Anin. Sejujurnya kalau mau mengatakan ia sebenarnya rindu ingin memeluk tubuh Anin, ia tidak bisa membayangkan sekarang Anin sudah sebesar apa?


"Iya pak siapa tahu Anin baca novel yang aku buat, nantikan ia pulang rindu desa ini," kata Zahra membujuk uwa Iyan.


Sebenarnya Zahra hanya ingin ada kejelasan cerita tentang kematian ayahnya, ya biarpun ia sendiri yang melihat kejadian itu tapi secara detilnya ia sama sekali masih meraba raba kisahnya itu.


Jadi wajar kalau misal Zahra hanya ingin mengulang dan mengingat kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya sebelum ada orang yang mengangkatnya.


"Oke, bapak bakal cerita apa yang bapak tahu. Asal kamu janji bawa pulang Anin kehadapan bapak." kata Uwa Iyan menatap wajah Zahra tajam.


Disana ia melihat dengan jelas kalau ada sebuah kerinduan yang begitu luar biasa di sorot mata nya laki laki dihadapan nya.


🦋


Tahun 2002


"Ayah!" panggil bocah 5 tahun itu sambil menyongsong laki laki 34 tahun.


"Anin! Anin lagi ngapain kok ini kaya nggak dibersihin!"


"Ayah kok lama nggak pulang pulang? Anin mau cerita kata ibu, ayah bakal ceritain kisah nabi Ibrahim," celoteh Anin menatap wajah ayahnya.


"Insha Allah ya sayang, ayah lagi sibuk." Hamdi mengusap pucuk kepala Anin dengan penuh kasih sayang.


"Kapan ayah, ayah bilang sibuk terus," Rajuk Anin cemberut.

__ADS_1


"Bagaiamana kalau malam," ujar Hamdi memegang tangan Anin.


"Benar ayah!"


Hamdi mengangguk dengan cepat. Biarpun capai nya ia bekerja tapi kalau lihat Anin tersenyum capai nya lanhsung hilang begitu saja. Dan pembicaraan itu adalah pembicaraan yang sering di lakukan oleh Hamdi pada putrinya, bukan itu saja ia juga sering menceritakan kisah para nabi, serta kancil pada Anin.


Hamdi memiliki dua anak perempuan yang satu bernama Anindya Nurul Al Fatih sedangkan adiknya Widyana Nurul Huda. Usia Anindya atau Anin kini 5 tahun sedangkan adiknya masih belum lepas di gendongan ibunya.


Malam itu!


"Kang tolong kang!" suara laki laki meminta tolong sambil mengendor gedor pintu rumah Hamdi dengan kerasnya.


Hamdi yang baru saja hendak tidur langsung bangun kerena kaget mendengar suara seseorang yang memanggil dengan suara keras dan melengking.


Untung Anin yang tidur disampingnya tidak terbangun oleh suara gedoran pintu serta teriakan orang yang memanggilnya.


"Ada apa mang, malam malam seperti ini teriak teriak!" seru Hamdi heran.


"Bahaya kang bahaya," gugup nya.


"Mang Tio yang tenang apanyang terjadi sebenarnya?" tanya Hamdi dengan tegasnya.


"Kang kang Darman kang."


Mang Tio terlihat rusuh dan gugup apalagi dihadapannya Hamdi masih menatap dengan wajah heran sekali.


"Iya ada apa dengan kang Darman, tadi kang Darman kesini kok! ada apa?" Hamdi mengatakan secara berlahan.


"Kang Darman di kebun dengan kang Rohman."


"Ya udah kalau begitu kita kesana."


Hamdi langsung mengajak Tio ke kebun. Kebun yang dimaksud adalah kebun warisan orang tua Hamdi yang telah meninggalakan kebun itu otomatis milik Hamdi.


Malam itu!


Angin malam hari begitu dingin sekali apalagi rembulan dengan indahnya tersenyum melihat kedua orang yang sedang berjalan menuju sebuah kebun yang tidak jauh dari pemukiman.

__ADS_1


"Saya nggak tahu mereka sedang rundingan apa, kang Darman menyuruh saya ke rumah kang Hamdi." Alasan Tio pada Hamdi..


Hamdi mengangguk, ia sangat hapal watak dari saudaranya. Kalau misal dibiarkan bisa bisa berabe.*


__ADS_2