TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 44


__ADS_3

Darman meninggalkan Zahra dan istrinya, sebenarnya ia masih terasa kesal sekali kerena tiba tiba Zahra datang tanpa diundang sama sekali. Entin mengajak Zahra untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.


Awalnya Zahra akan menolak ajakan Entin, tapi kerena di lihat mata Entin yang berharap supaya ia duduk, akhirnya Zahra duduk. Mereka memilih duduk di teras sambil merasakan sejuknya angin siang hari yang masih terasa nyaman. 


“Mbak nggak apa apa kan?” tanya Zahra menatap wajah entin yang agak pucat.


“Nggak apa apa. Aku sudsh biasa menghadapi kang darman seperti ini, kang Darman sering banget marah marah nggak karuan seperti ini.” cerita Entin menunduk.


“Mbak bisa lapor saja mbak kalau suami mbak seperti itu? Apa benar kemarahan suami mbak itu kerena kabar kedatanmgan Anin?” tanya Zahra menyelidik.


Ia hanya ingin tahu apa benar tidaknya khbar yang didengar, jadi sebenarnya ia juga tidak mau gegabah mendengarkan cerita warga yang sering banyak dustanya dibandingkan ia menanyakan sendiri pada orang yang bersangkutan. 


“Iya, de. Tapi aku nggak bias lapor kemarahan suami saya kerena  kang Darman bakalan marah kalau aku lapor, karena aku pernah lapor pada kades desa ini, nggak tahunya kang Darman memarahi pak Arya." Kata Entin mengakui kalau ia pernah lapor tindak tanduk suaminya. 


Zahra menghela nafas Panjang mendengar cerita Entin tentang suaminya, bukan hanya Entin saja yang menceritaka tapi pak Arya pernah menceritakannya. Zahra hanya bisa mengelus tangan Entin saja.


Dari cerita pak Arya maupun yang ia lihat memang Darman laki laki yang penuh emosi, Zahra merasa iba melihat keadaan Entin Seperi itu. 


“Aku juga nggak tahu Anin datang atau nggaknya tapi kang Darman seperti ketakutan seperti iyu pada Anin?” ujar Entin heran.


“Mbak apa ada sesuatu yang terjadi pada suami mbak yang diketahui oleh mbak sendiri” tanya Zahra.


Ia berusaha mencari tahu tentang Darman pada Entin ya biarpun itu tidak mungkin kerena menurut informasi warga desa itu, Entin adalah warga baru ya biarpun memang Entin dan keluarganya tinggal di desa itu, Tapi Zahra menanyakan itu hanya ingin tahu seberapa jauh nya Entin tahu masalah Anin.


Ya menurut warga sih! Setelah kepergian Anin, keluarga Entin datang ke desa itu! Mereka memliki rumah di ujung jalan sana dekat sungai, dan perkebunan. 

__ADS_1


Jadi kemungkinan Entin tidak pernah tahu cerita yang terjadi antara Darman dan Anin. Apalagi kejadian Anin sudah 10 tahun baru Entin dan keluarganya datang. 


“Pernah mendengar sih tapi mungkin itu dongeng semata, aku nggak begitu percaya sam berita kaya gitu kaya di film dan novel saja, masa ada anak kecil yang lari kerena ketakutan melihat pembunuhan,” kata Entin.


"Mungkin kalau itu cerita novel atau film yang ditayangkan aku lebih percaya kerena nggak mungkin kan seorang gadis kecilnya itu setelah melihat kejadian itu!" Lanjut Entin. 


"Ditambah lagi de, mana mungkin anak kecil usia 6 tahun harus mengikuti orang dewasa ke hutan, kalau fiktif oke lah percaya kalau fakta maaf nggak bisa," kata Entin mengakar tangannya keatas. 


Wanita itu hanya mengelengakn kepalanya saja kerena ia sama sekali tidak pernah percaya atas apa yang terdengar di desa itu. Zahra tidak pernah menyalahkan Entin sama sekali, kerena harus tidak percaya pada cerita Anin yang viral di desa itu. 


Ya kalau saja ia tidak pernah mengalaminya mungkin ia juga seperti Entin yang akan menyanggah semuanya cerita dari semua warga. Tapi Zahra sendiri pernah berada disana, jadi ia bakal percaya apa yang warga bicarakan pada dirinya sendiri. Tapi Zahra hanya mengangguk angguk saja mendengarkan apa yang Entin bicarakan.


Ia sama sekali tidak menyalahkan pada Entin secara 100 persen tidak. Boro boro Entin yang baru datang setelah kejadian itu! Ya otomatis setelah Anin menghilang, Ana yang tinggal di desa itu juga masih bertanya tanya apanyang pernah terjadi. 


"Aku kaya mwndengrakan kisah dongeng deh! Apalagi kalau cerita tentang kak Anin." Ujar Ana waktu beberapa hari yang lalu. 


"Terus menurut kamu kisah Anin fiktif belaka?" Tanya Zahra gemas..


"Kaya mengada gada gitu sih kak, masa anak kecil usia 6 tahun bisa lolos dan berlari diantara gelapnya malam?" Tanya Ana heran..


Di wajah Ana terlihat keherana yang jelas sekali. Zahra tidak menyalahkan apanyang dikomentari oleh Ana. Ya ia baru menemukan dua wanita yang berbeda yang sama sama mengatakan tentang Anin. 


"Banyak mengada ngada nya sih de, menurut mbak masalah Anin. 


Zahra awalnya akan angkat bicara tapi tidak jadi kerena Ana berlarian dengan wajah pucat dan berkeringat memanggil nama Zahra. 

__ADS_1


Zahra dan Entin menatap wajah Ana yang merah terbakar raja siang, ia berusaha mengatur nafas yang naik turun. 


"Kak Zahra kemana saja sih dicariin juga nggak ketemu ketemu,” sembur Ana dengan gemas sekali. 


Ia baru menyadari kalau Zahra berjalan menuju kebun yang tidak jauh dari perkampungan, tapi sebelum ia sampai ke kebun Ana melihat  Zahra yang sedang duduk di teras bersama Zahra.


Sebenarnya ia penasaran juga kerena melihat Zahra sedang duduk dan mengobrol dengan nyi Entin diteras, Zahra sangat terkejut kerena melihat Ana yang tergesa gesa menghamoirinya.


“Kamu cari kakak? Untuk apa?” tanya Zahra.


“Na, ada apa? Sepertinya kamu terlihat rusuh seperti itu, kaya di kejar hantu saja?” tanya nyi Entin menatap wajah ponakannya.


“Uwa Darman main ulah lagi anak anak yang lagi membaca diusir dan di pukul oleh uwa Darman,”adu Ana sambil mengatur nafas yang tersenggal senggal kerena di di perpustakaan ia berlari kesana kemari untuk mencari Zahra ia lupa kalau masa sekarang ada hp.


Ana spontan mencari Zahra kerena tadi waktu ia membereskan perpustakaan, terlihat uwa Daraman datang dan melah masuk tanpa di suruh. Ana kaget waktu melihat uwa Darman.memukul dan mengusir anak anak yang sedang membaca buku. 


Awalnya ia mencegah uwa Daraman untuk tidak memukul dsn mengisir anak anak yang membaca buku tapi uwa Daraman malah memukul dirinya nya dan mendorong tubuhnya sampai ia terjatuh menabrak rak buku.


Dengan perasaan ketakutan, ia akhirnya menyelamatkan anak anak yang membaca dibawa keluar daripada dibabak belur oleh uwa Darman. 


Tanpa menunggu waktu Ana mencari Zahra dan menyuruh anak anak pulang ke rumah masing masing. Anak anak itu menurut, mereka pulang ke rumah mesing masing, sedangkan Ana langsung mencari Zahra.


"Tadi aku lihat Zahra ke jalan menuju kebun," ujar warga desa memberitahukan keberadaan Zahra. 


Zahra langsung menuju ujung kampung yang berhubung ke sebuah kebun dekat perkuburan warga. Belum sempat ia sampai ke tempat itu, ia melihat Zahra di rumah uwa Daraman. 

__ADS_1


“Ya tuhan kenapa lagi itu uwa kamu? Kenapa sering banget bikin ulahnya!" Teriak Entin perih.


Zahra hanya tertegun saat ia mendengar Darman yang membuat ulah di perpustakaan dan mengusir anak anak yang sedang baca buku. Ia menahan emosi saat Ana menceritakan semuanya, ia mengepal tangan sangat kuat sekali.*


__ADS_2