TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 114


__ADS_3

Darman mwnjauhi Ageng menuju tempat yang biasanya. duduk di pinggiran sebuah batu jalan, tangannya mememgang sebuah alamat yang masih misteri baginya .


"Kang Darman ya? " tanya seseorang menatap wajah Darman dengan kwrasan heran.


Darman yang mendengar seseorang yang beeteriak langsung menatap orang yang berdiri di didepannya sambil menatap heran.


"Kamu siaoa? " tanya kwtus Darman menatap sinis.


"Kang kamu lupa sama aku? " tanya nya heran.


Darman masih menatap wajah laki laki itu! Ia merasakan asing sebenarnya dengan laki. laki yang ada dihadapanya.


"Kamu jangan bikin aku mwnebak siapa kamu ya, aku nggak tahu kamu itu siapa?" tanya Darman sedikit marah.


Laki. lain yang nada di hadapaan Darman berkerut wajahnya mendengar Darman yang tidak bersahabat sama sekali. Ia langsung duduk di samping Darman tapi darman hanya diam tidak mengerti.


"Aku Harun, kamu kenal aku nggak? "


"Harun?" gumam Darman litih.


Ia langsung diam seperti memikirkan apa yang di sebutkan dalam bibirnya.


"Kamu yang suka sama Ayu kan?" Tanya Darman berteriak.


Harun hanya mengangguk saja. Darman hanya bisa tersenyum kecut saat tahu laki laki yang ada dihadapan nya adalah Harun.


"Kang kenapa kakang bisa disini? " tanya Harun heran.


Darman bukan langsung menjawab pertanyaan Harun, ia hanya diam saja mendengar pertanyaan yang dilontarakan oleh Harun. Daramn seperti berpikir kalau semuanya bakal baik baik saja.


"Nggak aku cuma cari kerja disini, tapi susah sekali ya aku terlunta lunta.


" Istri bagaiamana? " tanya Harun.


"Aku sudah ganti istri lagi, istriku yang lalu meninggal."


"Wah banyak sekali berubah nya sekarang? Terus akang disini kerja? Kerja apa?" tanya Harun menatap wajah Darman.


Harun merasa ada yang disembunyikan oleh darman, ia ingin menanyakan tapi ragu kerena takut menyinggung perasaan Darman.


"Aku nggak kweja cuma mencari alamat ini," kata Darman menunjukan alamat yang di owgangnya.


Harun menerima kertas yang dipegang oleh Darman, ia melihat alamat itu dan berkerut wajahnya seperti mengingat alalamt itu.

__ADS_1


"Kamu lagi mencari alamat? Ini kan alaamat Rani? " tanya Harun.


Harun masih ingat waktu dulu ia juga pernah diajaka ke tempat itu bersama Darman, Hamdi dan juga Ayu. Harun menatap heran kearah Darman yang sepertinya tidak mengingat Rani.


"Rani?" tanya Darman seperti mengingat nama itu.


"Iya Rani, masa kamu nggak ingat pada Rani?" tanya Harun heran.


Ia menyangka kalau Rani wanita yang beruntung mendapatkan darman, tapi hatun merasa heran pada darman yang tidak mengingat Rani?


"Kang apa yang terjadi sebenatnya?" tanya Harun menatap heran pada Darman.


Harun seperti melihat ada sesuatu yang pernah terjadi tapi ia sama sekali tidak tahu tahu apa yang terjadi itu.


"Ini semua gara gara ibu dan bapak! " sembur Darman memandang lurus.


"Ibu dan bapak menghalangi pernikahan aku dengan Rani, jadi aku seperti inj. Gara gara ibu yang nggak pernah mengizinkan aku menikah dengan Rani, " gumam Darman dengan pandangan kosong.


Harun hanya mendengar apa yang diceritakan oleh Darman, ia juga terkejut waktu mwndengar daraman tidak menikah awalnya ia akan mengorek cerita dari Darman tapi tidak jadi.


Ya ia keburu pindah ke kota dan melanjutkan kuliah kota itu. Harun tidak sempat bertemu dengan Darman, jadi wajar kalau ia tidak tahu apa apa pada Darman.


"Aku melakukannya kerena dia ikut campur urusan aku, mentang mentang aku hanya anak angkat." dengus Darman kesal dan geram mengingat semuanya.


"Terlanjur, semuanya telah teejadj!"


"Maksudnya?" tanya Harun heran.


Daraman hanya diam saja tidak berkomentar sedangkan Harun menunggu Darman untuk bicara tapi Darman tudak bicara apa apa pada Harun ia hanya menghela nafas oanjang.


"Kamu tahu alamat ini? " tanya Darman menatap wajah Harun.


"Kamu lupa itu alamat Rani?"


Darman hanya mwngelwngkan kepala saja sedangkan Harun menatap heran pada Darman.


Sedangkan disisi lain, Rani dan Zahra dan sedang berada di bukit sedang berdua. Mereka entah bicara apa sedangkan Rey dan uwa iyan hanya melihatnya saja.


"uwa apa hubungannya dengan pwmbunuhan Nanti?" tanya Raya penasaran.


"Kalau uwa sih menyangka kalau semua nya ada hubungannya sih!" Ujar uwa iyan menatap wajah Rey.


"Apa jangan jangan ibu Rani yang melakukannya?" tebak Rey.

__ADS_1


"Iwan juga nggak tahu masalah itu. Kita nggak bisa menuduhnya tanpa bukti sama sekali, ya kalau menyangka pasti ada sih!"


"Tapi kita nggak boleh menuduh dulu, Rey bagaimana pun harus ada bukti yang kuat untuk menjebloskan Rani ke penjara." lanjut uwa iyan memberitahukan.


"Terus kita tahu dari mana kalau misal ibu Rani melakukan kejahatan?" tanya Rey penasaran


"Masalahnya kita tahu kalau Narti teebunuh di villa itu, ditambah lagi papa juga banyak cerita kalau papa sehabis pulang di villa malah bertemu ibu Rani?" sambung Rey.


"Memang pak Bram kenapa?" Tanya uwa iyan menatap Rey dengan pandangan heran.


"Rara belum cerita? " tanya Rey bukan menjawab malah balik bertanya pada iwa iyan.


"Oh! iya iya uwa lupa, Rara udah cerita kok tentang pak Bram yang sudah balik dari desa ini mampir ke villa nya, pas pulang ia malah betemua dengan Rani. " urai uwa iyan menganggukkan kepalanya


"Itu kejadiannya berbarwngan dengan Narti yang meninggal?"


"Papa cerita kalau papa tahu yang bunuh Narti itu ibu Rani, tapi sepertinya ibu Rani biasa saja."


"Penuh misteri sebenatnya."


"Makanya banyak yang harus di pertanyaan sih uwa tentang kematian Narti juga,"


"Makanya uwa kenapa memanggil Zahra untuk. mengajak Rani ke desa ini, semoga saja dengan Zahra mengajak Rani bisa diketahuinsemuanu."


"Tujuan uwa iyan begitu uwa?" Rey menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Jawaban kamuntepatbangetsih!"


"Apa uwa curiga pada ibu Rani yang melakukan sesuatu yang tidak diduga sama orang desa? " tanya Rey menasaran.


"Ya sebenarnya itu intinya, Rey. Apalagi pas uwa lihat kematian Narti yang menyedihkan itu, ditambah lagi tubuhnya hampir sama dengan para korban seblumnya."


"Kalau misal ibu Rani bagaimana uwa? Masalahnya aku khwatir kalau ia menyakiti zahra, apalagi Zahra pernah kena hukuman dari ibu Rani." kata Rey.


Uwa iyan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan yang dilontatkan oleh Rey, bukan hanya Rey daja yang menanyakan hal itu, tapi dirinya juga sering menanyakan hal itu. Tapi ia hanya meneruskan saja kerena hatinya tjdak bakal nyakin seoenuhnya.


Uwa iyan hanya menghela nafas panjang.


"Rey, kita pasti bakal tahu siapa yang melakukannya. " kata uwa iyan sambil. melangkah kan kaki menuju rumah, sedangkan Rey menatap kepergian uwa iyan dengan helaan nafas kecil.


"Entahlah mbok juga nggak tahu apa yang iwa iyan pikirkan." terhiang kata kayaa dari mbok inem saat ia menayakan tentang pembunuhan dan pelakunua.


"Masih belum jelas kok, kalau misal masih kabar burung memang yang jadi bahan pembicaraan adalah Darman. "

__ADS_1


__ADS_2