
Ana pontang panting mencari ibunya yang tiba tiba menghilang. Hatinya sangat geram sama orang yang tidak bertanggung jawab pada dirinya, ia sama sekaki tidak tahu apa apa taoi tiba tiba ibunya kemarin. Marah marah tidak karuan sama sekali.
"Ada apa dengn ibu kamu? " Tanya uwa iyan menayakan pada Ana.
"Nggak tahu taoi Ana nyalin kalau ibummarah sama tante Rani! " Kata Ana.
"Marah sama Rani maksudnya? " Tanya uwa iyan memandang wajah Ana heran.
Pria itu merasa aneh kalau sampai Ayu marah sama Rani seingatnya Ayu dan Rank sahabat.
"Uwa apa jangan jangan ibu ke kota menyusul tante Rani? " Tanya Ana.
Uwa iyan menatap wajah Ana dengan tajam. Ia masih belum mencerna apa yang dikatakan oleh Ana sam sekali, gadis itu akhirnya langsung mengajak uwa iyan menuju tempat nyaman.
"Kemarin ibu marah marah uwa. "
"Iya marahnya kenapa?"
Tanya uwa iyan pada Ana, ia juga merasa heran kenpa Ayu sampai marah, dan marahnya dwngan siapa.
"Ana juga nggak tahu sih uwa. Tapi kemarin ia menyebut nama Rani. Dan ibu juga menggebrak meja, Ana sudah tanya ke ibu, ibu hanya diam saja. " Cerita Ana.
"Ana nyakin kalau ibu tahu kalau tante Rani hamil sama ayah deh! " Dengus Ana kesal.
Ia sebenarnya telah berusaha untuk tidak. Menceritakan semuanya pada ibunya, bukan kerena ingin melindungi Rani tapi ia tidak ingin ada pertengkaran antara rank dan ibunya.
Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Kalau saja ia tahu orangnya pasti ia bakalan membuat perhitungan dengan orang itu karena telah menceritakan apa yang seharusnya tidak di ceritakan sama sekali.
"Kalau ibumu tahu juga nggak kenapa kenapa? Memang Rani itu harusnya di bunuh saja," sembur uwa iyan marah.
Sebenarnya sejak dulu juga ia sama sekali tidak resfek pada kedatangan Rani yang menurutnya hanya wanita sok suci, tapi nyatanya malah buruk.
Brak!
"Boro boro ibu mu yang marah tapi uwa juga merasa tercoreng oleh tingkah laku dirinya yang membuat orang nggak suka sama tingkah lakunya! " Geram uwa Iyan.
Sampai tangan pria itu mengebrak amben yang ia duduki. Ia tahu dari Zahra kalau Rani benar benar mengandung anak dari Hamdi,
"Apa? " Tanya uwa Iyan waktu pertama kali ia mendengar apa yang diceritakan oleh Zahra.
Ia masih ingat percakapan dirinya dengan Zahra tentang Rani dan Vito. Zahra sengaja ingin bertemu dengan dirinya, awalnya ia sendiri merasa heran saat Zahra mengajak uwa Iyan meminta ketemu di suatu tempat.
"Iya, itu bukan rahasia lagi kok uwa. Semuanya sudah mendengar hanya kitanya sakja yang belum pernah mendengarnya. "
__ADS_1
"Ibu Mirna dan ibu Nining yang mencari takan nya kok! " Lanjut Zahra..
Awalnya ia tidak percaya pada Zahra, ya biarpun Zahra baik juga tapi ia berada diposisi yang benar, uwa Iyan. Takut kalau Zahra mengunakan cara ini untuk menjelaskan diri Rani si hadapannya, apalagi ia membenci nya.
"Aku nggak bohong uwa. " Zahra menjelaskan.
Tapi uwa iyan tidak tinggal diam ia mencari tahu keberadaan Ibu Nining dan ibu Mirna.
"Iya apa yang diceritakan oleh Zahra, saya yang menceritakan pada dirinya, ia harus tahu apa yang terjadi biar ia tahu apa yang terjadi pada keluarganya. " Pengakuan ibu Mirna.
Saat ia mendengar apa yang diceritakan ibu Mirna, uwa iyan hanya bisa menghala nafas panjang saja. Tidak menyangka kalau kehidupannya seperti itu.
"Pak Hamdi juga ngg salah, Rani yang melakukan nya. Rani yang membuat pak Hamdi tertidur jadi ia tidak tahu apa apa yang dilakukan Rani pada dirinya, " Lanjut ibu Mirna.
Uwa Iyan menyangka kalau Hamdi yang melakukan perbuatan bakat itu pada Rani.
"Pak Hamdi di sini yang jadi korban bukan Rani yang jadi korban. " Kata ibu Mirna menjelaskan.
Dan sekarang Ana menceritakan hal senada dengan Zahra. Uwa iyan hanya bisa termanggu saja mendengarkan apa yang di katakan padanya.
"Uwa, Ana nyakin kalau ada orang yang menceritakan semuanya pada ibu ketika Ana nggak ada kira kira siapa? Tega bangat sih dia menceritakan semuanya. " Dengus Ana kesal.
"Sudah paling ibu kamu nggak jauh kok dari sini, nggak mungkin kalau ia ke kota buat apa coba ia kesana. " Kata uwa iyan menghibur Ana.
Apa yang dikhawatirkan oleh Ana terbukti! Ibu Ayu memang datang ke kota menyusul Rani dan menuju ke rumahnya Rani.
Sedangkan Ana dan uwa iyan masih berpikir kemana ibu Ayu perginya. Dan Ana juga berpikir tidak mungkin kalau ibunya menyusul Rani.
"Kurang ajar kamau Ran, berani menikam aku dari belakang! " Teriak Ayu marah!
Pagi itu dengan perasaan yang tidak karuan ia langsung menuju kota, tanpa menunggu waktu lagi ia menuju rumah Rani.
Brak!
Ayu langsung mwmbuka pintu dengan masarnya, untung pintu tidak teekunci dan mengeluarkan bunyi yang berat sekali sampai Rani yang ada di dalam rumah teekejut sekali.
Matanya terbelalak saat ia melihat orang yang di kenalnya berdiri.
"Ayu! " Rani terkejut melihat Ayu yang tiba tiba datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan sama sekali.
Ayu berjalan dengan muka yang merah padam, 2 jam di perjalanan ia menahan marah dan emosi gara gara berita itu!
Plak!
__ADS_1
Ayo langsung menampar muka Rani dengan kerasnya.
"Yu ada apa? " Tanya Rani kaget.
Lebih terkejutnya Ayu datang menempatkan pipinya dengan kerasnya sampai ia hanya bisa mengelus pipinya yang terasa panas dan sakit sekali.
Wanita itu benar benar kaget saat melihat Ayu yang tiba tiba datang, dan tanpa ba bi bu. Lagi langsung memukul dirinya, Rani mematung melihat Ayu yang begitu marahnya pada dirinya.
"Yu, ada apa? Kamu datang datang malah memukul ? Kenapa? " Tanya Rani kebingungan.
"Kamu bilang ada apa? Seharusnya aku yang bilang kenapa kamu lakukan ini padaku. Kenapa? Apa alah aku pada. Kamu! " Teriak Ayu sambil mendorong tubuh Rani dengan kerasnya.
Rani hampir terjatuh tapi untung ia menghindar dari dorongan Ayu, wanita itu menatap wajah Ayu dengan tajam penuh dengan keheranan.
"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti apa yang kamu maksudkan? "
Rani benar benar tidak tahu apa apa melihat Ayu yang datang tanpa permisi dan malah memukul dirinya dengan kerasnya sekali.
Rani tidak paham apa yang dipikirkan oleh Ayu, sampai ia melkuakan pada Rani seperti itu.
"Alah! Kamu benar benar jahat! Jahat! Apa yang kau lakukan pada kang Hamdi! " Cerca Ayu dengan tajamnya.
Deg!
Hati Rank tergetar saat telinganya mendengar kata kata Ayu, ia sedikit terkejut sekali. Sebenarnya ia nyakin kakau suatu waktu nanti juga Ayu bakalan tahu semuanya dengan seiring waktu berjalan.
"Oh! Itu, aku salah sama kamu. Aku hanya! " Kata Rani menundukkan.
"Hanya apa?"
"Aku khilaf. "
"Khilap, kamu bilang kalau khilap? " Tanya Ayu penuh dengan emosi memandang wajah Rani.
"Aku nyakin. Kamu melakukan ini kerena ibu! Pantas ibu nggak merestui kerena kamu bajingan! " Sembur Ayu.
Wanita itu menuding muka Rani dengan emosinya. Ia tidak tahu kalau sebenarnya bukan itu ibu mertuanya tidak merestui Rani menikah dengan Darman.
Ayu belum mendengar cerita antara Darman dan Rani, karena baik Ana maupun Zahra belum menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ibu Ayu hanya tahu kalau Rani dan Ani saudara.
Jadi wajar kalau wanita itu mengatakan pada Rani perkataan seperti itu.
"Kamu hamil oleh kang Hamdi! Kenapa kamu harus lakukan itu padaku? Apa yang salah sama aku sampai kamu melakukan itu padaku! " Jerit Ayu sambil memukul beberapa kali ke tubuh Rani.*
__ADS_1