TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 89


__ADS_3

Setelah Zahra dan Ana pergi.meninggalkan rumah itu, Zahra membiarkan ibunya sendirian disana bersama dengan wanita itu. Hanya ke Narti saja ia menitipkan ibu Ani, jadi kalau misal ibu mau pulang telpon saja dirinya. Narti hanya mengangguk saja.


ibu Ani dan wanita itu saling pelukan satu sama lainnya. Seperti mencurahkan hati keduanya yang terpisah.


"Aku nggak pernah tahu kalau aku punya saudara." ungkap Ani menatap wanita yang ada di hadapannya.


"Apa nggak ada yang cerita?"


"Nggak sama sekali, mama dan papa juga nggak cerita apa apa pada aku. Aku merasa kalau aku hanya anak tunggal saja," kata Ani menceritakan kehidupannya tanpa seorang kakak dan adik.


Memang selama ini ia tidak pernah mendengar apa apa dari mendiang orang tuanya. Wanita itu bernama Rani hanya diam saja mendengar kan apa yang terjadi lada dirinya..


Ada getir dalam hatinya. Saat ia membuka mata tidak ada orang yang dipanggil ibu atau ayah, dan sekarang saat ia beranjak tua tidak ada orang pun memanggil ia ibu.


"Maafkan mama kak, mungkin mama nggak tahu apa yang terjadi."kata Ani prihatin..


"Nggak mama memang nggak pernah sayang sama aku, mama hanya mementingkan kamu saja," sembur Rani marah.


"Aku nggak percaya kaku ada seorang ibu yang tega menelantarkan anaknya!"


"Kak! ingat nggak ada seorang ibu yang mau menelantarkan anaknya! Seorang ibu yang nggak mau anaknya meninggal!" terima Ani..


"Bukti nya orang tua kita! Kamu diakui anak, sampai mereka mengurus, membimbing, dan memberikan kasih sayang. Sedangkan.ladsku?" tanya Rani menatap Ani tajam..


"Nggak mungkin kan?"


"Mungkin saja kak, apalagi kita kembar, mama dan papa menduga salah satu dari kita meninggal!" bela Ani lada kedua orang tua yang sudah lama meninggal.


"Itu bisa jadi kak, apalagi kalau pernikahan diantara kedua orang tua kita tidak direstui," lanjut Ani.


Wanita itu baru tahu kalau mama dan papanya menikah tanpa direstui oleh Nanak dari mama ( orang mama ).


"Mama hanya cerita kalau ia menikah dengan papa nggak direstui oleh orang tuanya. Aku juga sampai sekarang nggak pernah bertemu dengan saudara pihak mama," kata Ani menceritakan semuanya.


Apa yang diceritakan oleh Ani memang benar sekali, ia mendapatkan cerita ini dari mamanya. Ya mama nya cerita kaku ia mencintai seorang pemuda yang sederhana tapi orang tuanya tidak merestuinya.


Dan pernikahan itu menghasilkan anak, tapi orang tua Ani terkena hasutan orang tuanya kalau salah satu dari anak kembar mereka meninggal dunia. Nenek Ani memisahkan Ani dan kakaknya.

__ADS_1


Rani dikirim ke panti asuhan sedangkan Ani di urus oleh orang tuanya. Orang tua Ani tidak tahu kalau kakak kembaran Ani masih hidup sampai sekarang juga.


"Mustahil, kaya di film saja." elak Rani tidak percaya apanyang diceritakan oleh Ani.


Wanita itu tidak percaya apanyang dikatakan oleh Ani, ya cerita itu Sepri film Indosiar yang menampilkan cerita itu itu saja.


"Ya sudah kalau misal kakak nggak percaya sama aku, aku juga nggak tahu cerita pastinya itu apa." kata Ani mengangkat kedua bahu.


"Aku hanya tahu itu saja kak, aku juga nggak tahu masalah yang terjadi lada keluarga kita." jujur Ani melanjutkan.


"Jadi kamu lakukan itu kerena kamu hanya ingin tahu atau hanya ingin mendengarkan penjelaskan dari aku?" tanya Ani menatap Rani.


"Aku hanya ingin kamu tahu saja, kalau kamu punya kakak. Cerita aku dan Zahra sangat jauh sekali ya, kalau Zahra biarpun dianggap meninggal oleh semua warga desa tapi di hati ibunya ia tetap hidup begitu juga dihati Ana." Hela nafas Rani.


"Jangan bandingkan hidup Zahra dengan kehidupan kamu kak!" protes Ani sewot.


"Kenapa? Zahra lebih bersyukur kerena bukan hanya ibu kandungnya saja yang sayang lada dirinya tapi kaku juga malah lebih menyanyangi Zahra!" ketus Rani murka..


Ya ia melihat kehidupan Zahra yang begitu lurus, punya keluarga lengkap, sederhana. Seorang ibu yang selalu merindukan ya, sedangkan dirinya?"


"Kamu nggak terima kalau Anin masih hidup?" tanya Rani tajam.


Ya ia tahu kalau selama ini ia mendengar kalau Ani tidak mau sama sekali kalau Zahara di sebut nama Anin sedangkan nama Anin sebenarnya nama diri sendiri.


"Nggak, dia tetap anak aku, kak. Ya biarpun bukan lahir dari rahimku."


"Aku hanya nggak mau kehilangan Rara dalam hidup aku, aku nyakin kalau Rara sebenarnya merindukan ibunya apalagi ayahnya." lanjut Ani pasrah.


"Kalau masalah anak kita sama, tapi masih untung kamu bisa merangkul Rara biarpun ia bukan anak kamu. Sedangkan aku?"


Ani menatap wajah Rani tajam.


"Kamu masih bisa melihat anak anakmu, bersyukurlah! Aku nggak pernah melihat Zahra, sampai kapanpun juga hanya fhoto nya saja yang bisa aku lihat.


"Tapi aku nggak menyesali semuanya, aku hanya bersyukur punya Zahra."


Tanpa keduanya ketahui, Ana sebenarnya menguping pembicaraan mereka. Ya setelah berpisah dengan Zahra ia malah balik lagi ke rumah itu hanya ingin memastikan apa yang terjadi pada kedua wanita itu.

__ADS_1


Ia tertegun sejenak saat ia tahu kalau wanita yang bernama Rani harus mengalami hidup seperti itu! Dsn disisi lain ia sangat terharu pada ibu Ani dengan tulus menyanyangi kakaknya ya biarpun ia harus kehilangan kakaknya.


"Aku nggak pernah merasakan kasih sayang ibu seperti kamu, Ni. Biarpun aku bisa melihat anak anakku tapi aku nggak pernah merasakan pelukan hangat anakku." kata Rani memandang lurus ke arah jendela..


"Ka, maafkan mama dan papa, mereka nggak pernah melupakan anaknya."


"Tetap saja, mereka bukan orang tua yang baik. Nggak mencari anak satunya lebih memilih anak satunya."


"Kak, kita nggak tahu pasti mereka nggak seperti itu!" teriak Ani.


Iantidak suka kalau ada orang lain menjelekkan orang tuanya biarpun itu kakak kandungnya sendiri.


"Buktinya?" cerca Rani.


"Kamu belum jelas saja ya, sudah aku jelaskan dari awal mungkin ajak nenek yang memisahkan kita kak bukan mama."


"Itu sama saja!"


"Nggak. Aku nggak sependapat dengan kakak," kekeh Ani.


"Tapi kenapa kamu kenal dengan ibu Ayu?" tanya Ani mengalihkan topik.


Sebenarnya Ani bukan mengalihkan topik malah membuka topik baru lagi dari cerita dirinya.


"Aku hidup di panti asuhan sampai aku dewasa ya mungkin kita kira umur 15 tahun, aku kenal dengan Ayu gadis desa yang anggun."


"Aku juga mengenal Hamdi!" lanjut Rano mengingat semua yang pernah terjadi..


"Aku mengenal hamdi lebih dulu dari lada Ayu, dsn secara diam diam Hamdi menyukai Ayu gadis desa itu!" lanjut Rani.


"Sebenarnya Hamdi suka sama aku tapi aku menolak Hamdi, keenam secara diam diam aku menyukai Darman! Aku juga merasa heran kenapa aku suka sama Darman yang terkenal preman desa itu," Terang Rani.


Ya ia merasa heran pada dirinya yang sangat menyukai drama sedangkan ia Taku kalau Darman bukan laki laki baik.


"Kenapa kamu nggak menerima Hamdi malah mencintai Darman?"


Ani langsung menyakan alasan pada Rani, tapi wanita itu hanya mengelengkan kepala saja. sedangkan Ana masih mendengarkan yang diceritakan oleh Rani!*

__ADS_1


__ADS_2