
Rey yang melihat Zahra menarik tangan ibu Ani hanya diam saja, ia akhirnya duduk di samping pak Bram seperti ada niat mendengar mengigau nya pak Bram sedangkan Zahra dan ibu Ani berada di luar kamar pak Bram.
Keduanya duduk di kursi yang ada di ruangan tunggu.
"Ma, apa mama ingin papa selingkuh?" tanya Zahra.
"Itu buktinya, ia mengigau nama Narti?" sudut Ibu Ani.
"Ma, percaya sama Rara nggak mungkin papa seperti itu! Rara nyakin ada hal lain yang pala ingin papa sampaikan pada kita." jelas Zahra.
"Maksudnya?"
"Rara juga nggak tahu pastinya ma, tapi Rar nyakin ada sesuatu Narti."
"Papa kayanya tahu kaku Narti kenapa kenapa oleh wanita itu." kata Zahra.
"Kok mama berpikir lain ya?" tanya wanita itu.
"Maksudnya?"
"Mama berpikir kalau Narti hamil oleh papa kamu,"
"Mama kok mama berpikir seperti itu?" tanya Zahra menghela nafas panjang mendengar mamanya bicara itu.
"Mama takutnya Ra,"
"Ma dengarkan Rara papa nggak mungkin selingkuh dengan Narti, Rara cuma takut kalau Narti memang kenapa kenapa oleh Rani." kata Zahra.
"Kak Rani melakukan apa?" tanya ibu Ani kaget spontan menyebut kak pada Rani.
"Entah Rara juga nggak tahu apa yang terjadi, makanya tadi Rara dan Rey mendengarkan apa yang dibicarakan papa." terang Zahra.
"Apa kamu baka menyelidiki?" tanya ibu Ani.
"Entah! Maunya sih! Tapi lihat kondisi papa dulu.
Zahra bernafas lega saat melihat mamanya tenang sekali. Gadis itu beranjak dari duduknya hendak ke kamar papa nya, tapi tanganya dipegang oleh mamanya.
"Ada apa lagi?" tanya Zahra.
"Papa kamu juga bicara kalau harus jaga mama" ujar ibu Ani.
"Iya, ma. Rara ingat."
"Kenapa papa kamu bilang itu sama kamu?"
"Kerena papa sayang sama mama dan Rara." Zahra tersenyum menggoda mama ya.
"Ah! Kamu ada saja." tersipu ibu Ani mendengarnya.
Keduanya langsung menuju kamar pak Bram kembali.
"Ra, apa jangan jangan wanita itu yang melakukan sesuatu lada Narti ya?" tanya Rey seperti pada diri sendiri.
Ketika Zahra dan ibu Ani masuk kamar kak Bram.
"Apa yang dilakukan wanita itu?" tanya Zahra malah balik bertanya pada Rey.
"Mungkin melakukan penyekapan pada Narti ya?"
"Nggak mungkin wanita itu menyekap Narti, bagaimana pun Narti orang kepercayaan nya." Zahra mengkerutkan wajahnya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Rey.
__ADS_1
"Ra, aku nyakin kalau papa sebenarnya melihat kejadian itu!"
"Kejadian apa? Jangan bikin aku penasaran deh!"
"Apa mungkin wanita itu membunuh Narti, terus papa melihatnya?" tanya Rey menatap wajah Zahra.
"Ngaco kamu, kalau memang papa melihat Narti dibunuh mungkin saja papa sudah lapor polisi!"
"Kamu ingat waktu kamu melihat pembunuh ayahmu? Kejadian seperti kamu waktu dulu!
Rey masih ingat waktu ia diajak oleh papa ke rumah, ia terkejut melihat seorang anak kecil hanya beda dua tahun dengan dirinya.
"Ayah!"
"Uwa Darman!"
"Jahat!.
"Kamu jahat!
"Kamu jahat banget!"
Banyangan Anin terekam oleh Rey. Rey melihat Anin sedang mengigau, tubuhnya lama, berkeringat.
Zahra yang masih berada di sana menatap langsung Rey dengan tajamnya.
"Memang aku pernah mengigau?" tanya Zahra heran menatap wajah Rey dan ibu Ani saling bergantian satu sama lainnya.
"Iya, seperti papa sekarang!" tekan Rey.
"Aku masih mengingatnya Ra, kaku kamu mengigau tentang ayah, uwa Darman dan semua yang kau ingat dalam memory kamu," lanjut Rey.
"Rey apa mungkin apa yang kamu katakan itu benar, tapi bisa jadi sih!"
"Rey apa setega itu kak Rani melakukan nya?"
"Bisa jadi sih! Apalagi dia nggak pernah merasakan kasih sayang kedua orangtuanya," celetuk Zahra.
Ibu Ani langsung diam mendengarkan apa yang Zahra katakan pada dirinya dan Rey.
"Kalau itu benar, lalu Narti di kuburkan dimana?" tanya Zahra seperti pada dirinya sendiri.
Ketiga nya langsung terdiam seketika juga.
"Jangan!"
"Kamu seharusnya ikut saya!"
"Kenapa kamu nggak ikut saya!
"Ayo masuk mobil kita lari dari sini!"
"Narti dengar kata kata saya!''
"Ayo kita pergi, kita pergi dari sini!"
"Lalu kamu disini sama siapa?"
"Narti maafkan saya,"
"Maafkan saya, saya nggak bisa bantu kamu,"
__ADS_1
Pak Bram terus mengigau. keringat membasahi tubuhnya, suhu tubuhnya juga panas sekali, mulutnya tidak bisa diam sama sekali. Tapi matanya masih terpejam seperti tertidur, Zahra merasa kasihan melihat papa nya seperti itu.
Pagi hari!
"Bu, ibu!" teriak Dio histeris.
Pria itu sepertinya berlari menuju kantin, ibu Ani yang sedang ada di kantin langsung kaget dan menatap wajah Dio dengan heran..
"Ada apa? Kamu sepagi ini kesini buat apa, kantor libur!" seru ibu Ayu.
"Di jalan xXxx, ditemukan mayat perempuan!"
"Apa? Siapa?" tanya Ana yang tiba tiba menghampiri keduanya.
"Entahlah, kayanya di bunuh kemarin deh!" jelas Dio.
Ibu Ayu tidak langsung bicara ia termenung sejenak. Ya kemarin ia mengajak ibu Ani dan Zahra ke villa itu! Tapi tidak jadi kerena pak Bram lanhsingbdatang dalam keadaan sakit, dan pak Bram masih ada di rumah sakit.
"Kok ibu curiga ya kalau di villa itu terjadi pembunuhan? Pasti pelakunya orang terdekat," gumam ibu Ayu.
"Iya pasti itu, Bu. Tapi siapa korbannya?" tanya Dio dan Ana serempak.
"Anin harus tahu ini,"kata ibu Ayu.
"Kak Anin? Kenapa harus kak Anin?" tanya Ana heran.
"Lebih baik kita ke rumah sakit!"
Ketiga orang itu langsung ke ruang sakit, sebenarnya Dio jangan menanyakan sesuatu lada ibu Ani tapi tidak jadi. Kerena Dio tidak mengunakan mobil ke rumah itu, akhirnya mereka mengunakan angkot untuk menuju rumah sakit.
"Apa? Ditemukan mayat perempuan?" tanya Zahra saling pandang dengan ibu Ani dan Rey.
Baru tadi malam mereka membicarakan masalah villa itu dan akan mendatangi villa itu kalau saja pak Bram tidak pulang kemarin pasti mereka kesana.
Dan sekarang Dio datang memberikan kabar kalau di villa itu ditemukan mayat seorang wanita kita kira umur 30 tahun tanpa identitas sama sekali.
"Jangan jangan," tanya Rey menatap wajah Zahra.
"Narti!" seru Zahra blank..
"Ra, jangan jangan kemarin papa melihat semuanya?" tanya Rey kemudian..
"Melihat apa?'' tanya ibu Ani lada Rey dan Zahra.
Akhirnya Zahra menceritakan tadi malam pak Bram mengigau tentang Narti dan wanita itu!
"Aku nyakin kalau wanita itu membunuh Narti!" ujar Rey geram.
"Kita harus ke polisi melaporkan semuanya tindak tanduk wanita itu!"
Ana yang sejak tadi hanya diam saja ikut merinding mendengar apa yang diceritakan oleh Zahra tentang dugaan mereka pada Narti dan wanita itu!
"Ra, ibu nyakin kalau Rani hanya ingin menjelekan mam kamu saja, kerena apa? Kerena ia nggak akan bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, sebuah kebahagiaan." kata Ibu Ayu geram sekali.
Ia sejujurnya tidak menyangka kalau Rani melakukan itu, dalam hatinya berdoa pada Tuhan supaya bukan Rani pelakunya.
"Ibu sabar ya," kata Zahra seperti tahu apa yang dirasakan oleh ibu Ayu.
"Ibu nggak apa apa kok nak,"
Ibu Ayu terpaksa tersenyum supaya zahra tidak melihat kegelisahan hatinya. Ia gelisah memikirkan Rani teman waktu remajanya, teman yang selalu ada dihari hari yang ia lalui di setiap waktunya.*
__ADS_1