
Ia setelah mengucapkan itu langsung pergi begitu saja, Ana yang masih blank hanya bisa terpaku di tempat tapi melihat Zahra pergi dari tempat itu, Ana pun mengikuti Zahra.
"Uwa kita bertemu kembali di persidangan. " Zahra menatap wajah Darman dan Rani saling bergantian dan pergi."
"Jadi uwa Darman silahkan selesaikan apa yang harus diselesaikan dengan mama, Anin hanya memberikan kesempatan beberapa hari lagi buat kalian untuk berkumpul dengan mama. " sambung Zahra.
"Kalau itu yang kamu inginkan silahkan uwa pasrah apa yang kamu lakukan pada uwa. " kata Darman lembut.
"Uwa salah sama semuanya. Uwa salah apa yang uwa lakukan pada kamu dan keluargamu, sampai kamu terpisah dengan keluarga kamu! " teriak Darman nyaring terpengaruhi oleh Zahra dan Ana.
Tapi Zahra tidak peduli dengan kata kata Darman, sedangkan Ana hampir berhenti saat mendengar pertanyaan itu yang keluar dari Darman hampir saja ia balik lagi tapi Zahra menarik tangan Ana untuk mengikuti Ana.
Ia sebenarnya punya pertanyaan untuk bertanya tentang apa yang dibicarakan oleh Darman tadi, dengan hati yang bersih atau hanya bohongan supaya tidak di penjara.
Kerena Zahra menarik tangannya ia tidak bisa bicara kembali dengan pria itu, akhirnya Ana mengikuti kakaknya.
"Kak, mungkin uwa Darman sudah insaf apa yang pernah dilakukannya jadi ia mengatakan itu pada kita! " ujar Ana.
Tapi Zahra seperti tidak peduli dan memilih pergi jauh dari tempat itu, Rani mengejar Zahra dan Ana.
"Kamu mau kan cerita apa yang terjadi? Pada Zahra?" tanya Rani menatap Zahra.
Rani mengejar Zahra sebenarnya hanya ingin memberikan peluang buat Ani dan Darman bicara berdua saja, tapi sayangnya Zahra hanya menggelengkan kepala saja. Intinya ia hanya ingin memberikan kesempatan buat mereka untuk berbincang bertiga saja.
Ia bisa saja menceritakan tragedi kecelakaan pada Rani, tapi itu seperti ia tidak memberikan peluang untuk Rani bicara hati ke hati dengan Darman dan mamanya.
"Maaf, Anin nggak bisa cerita sama uwa. " hindar Zahra.
"Kenapa, Nin? " tanya Rani menatap tajam
"Iya kak, aku juga nggak tahu apa yang terjadi boleh ya kakak cerita. " pinta Ana memohon.
Gadis itu menarik dan mengoyang tangan Zahra dengan lembutnya supaya kakaknya bisa menceritakan kisah meninggalnya Zahra kecil yang meninggal.
Sebelum bicara Zahra melihat Darman dan ibu Ani di kejauhan entah apa yang dibicarakan oleh keduanya kerena ia tidak mendengar suara keduanya. Ia juga melihat wajah Ana dan Rani yang ada di hadapannya.
"Lebih baik uwa tanya saja pada uwa Darman kerena ia tahu semuanya kok jangan tanya aku? " ujar Zahra.
__ADS_1
Zahra langsung meraih tangan Ana. Ia membawa Ana ke tempat yang nyaman untuk duduk berdua sambil menunggu mamanya disana, Ana menuruti saja.
Rani yang melihat Ana seperti itu hanya menghela nafas panjang, sedangkan Ana tidak perduli apa yang Rani lakukan pada dirinya.
"Kang jangan bilang kamu mencelakakan anaknya Ani dan Bram? " tanya Rani sambil menghampiri keduanya yang saling memandang.
"Kamu pura pura nggak tahu atau hanya ingin mengalihkan perhatian saja sih! " tanya Ani tidak suka dengan cara Rani berkata seperti itu.
"Kang! Sebenarnya apa yang terjadi! " teriak Rani.
Wanita itu tidak peduli Ani mengatakan apa pun pada dirinya, ia hanya ingin fokus apa pada Darman. Pria itu tidak berkutik lagi oleh kedua wanita yang ada di hadapannya, dengan perasaan yang tidak menentu akhirnya ia mengangguk saja.
"Lebih baik kita duduk di luar saja biar kalian tahu apa yange sebenarnya terjadi. " Darman kalah oleh dua wanita itu.
Ketiga orang yang kehidupannya berbeda takdir itu langsung memilih tempat yang berada di depan rumah itu sebuah tempat yang nyaman sekali.
"Maafkan aku ya Ran, aku nggak cerita ini sama kamu dan sama kamu Ni, aku menyesal apa yang telah aku lakukan pada kamu." kata Darman memandang kedua wanita itu.
Wanita yang tidak pernah ia duga sama sekali sebagai adiknya, kerena takdir mereka masing masing lah yang menentukan semuanya.
"Memang kakak tahu ceritanya tentang kak Zahra? " tanya Ana penasaran.
Mereka duduk saling berhadapan satu sama lainnya cuma agak jauh sedikit, kalau Ana duduk samb kakinya selonjoran sedangkan Zahra duduk bersila. Mereka memilih duduk santai sekali.
"Kak! " lirih Ana melirik wajah Zahra.
Kerena dilihat Zahra hanya diam saja, Ana langsung mengusiknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Zahra? Memangnya kak Anin tahu? " tanya Ana kemudian.
Zahra hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana, ia dengan lembut menatap wajah Ana tajam, di bola mata Ana banyak pertanyaan yang benar benar ingin ditanyakan pada dirinya. Akhirnya Zahra hanya mengangguk saja.
"Uwa Darman yang mengakibatkan Zahra meninggal, kejadian dua minggu sebelum ayah meninggal dunia." Zahra membuka percakapan.
"Kak Anin tahu darimana kalau uwa Darman pelaku kecelakaan itu? " tanya Ana.
"Papa yang cerita. "
__ADS_1
"Om Bram memangnya kenal dengan uwa Darman sebelumnya? " kejar Ana.
Gadis itu terkejutnya mendengar Zahra menceritakan kalau Darman dan Bram saling kenal satu sama lain. Otak Ana blank seketika juga, kerena ia melihat kalau Darman dan Bram kaya seperti tidak saling kenal.
"Mereka akrab. Tapi uwa Darman nggak tahu kalau papa adalah adik iparnya."
"Itu dulu, sekarang papa tahu kalau uwa Darman adalah kakak iparnya, tapi itu terlambat setelah Zahra meninggal.
Deg!
Hati Ana bergetar sangat keras mendengar itu semuanya. Zahra terdiam sebentar menunggu reaksi dari Ana. Tiba Tiba bulu romanya berdiri sendiri, merinding mendengarnya.
"Jadi kak Zahra meninggal oleh uwa Darman? Kapan?" bertubi tubi pertanyaan keluar dari mulut Ani.
"Waktu sebelum kejadian kakak alami, kejadiannya hampir sama dengan kejadian kakak kabur hanya beda dua minggu saja. " kata Zahra.
Gadis itu melihat mata Ana terkejut mendengar apa yang di ceritakan oleh nya, ia nyakin kalau Ana masih belum sepenuhnya percaya apa yang diceritakan olehnya.
"Apa om Bram benar benar kenal sama uwa Darman? " tanya Ana heran.
Ana masih gamang! Antara percaya dan nggak percaya mendengar kalau Zahra harus meninggalkan di tangan uwa Darman.
"Kamu nggak percaya sama kakak? " tanya Zahra menatap wajah adiknya.
"Uwa Darman sebenarnya nggak sengaja menabrak Zahra, kerena uwa Darman buru buru bawa mobilnya. Intinya uwa Darman nggak mau kalau saksi hidupnya yaitu mang Karya tahu kalau Rani yang membunuh pak Rohman."
Zahra menjelaskan secara detil tentang kematian yang terjadi pada putrinya pak Bram yaitu Zahra, Ana shock sekali mendengarkan ceritanya.
"Jadi uwa Darman belain tante Rani, " desisnya. Kata Ana lirih.
"Iya, uwa Darman sampai kapanpun bakal bela uwa Rani." tekan Zahra.
"Kamu nggak percaya sama kakak?" tanya Zahra menatap wajah Ana.
Gadis itu diam dan memang shock mendengarkan apa yang kakaknya ceritakan.
"Bukan nggak percaya kak, tapi kaya mimpi saja uwa Darman kenapa kenal sama om Bram, sedangkan mereka terpisah antara desa dan kota," tanya Ana ingin tahu.*
__ADS_1