TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 98


__ADS_3

Di rumah sakit.


Zahra dan ibu Ani dengan tenangnya mendengarkan apanyang pak Bram ceritakan tentang kejadian dirinya yang dibawa ke sebuah villa. Pak Bram juga menceritakan tentang keheranan dirinya saat mendengar wanita yang disangka istrinya itu bisa membeli villa di dekat villa yang ditempati bi Onah.


Zahra hanya bisa menghela nafas mendengar cerita papanya.


"Non, hati hati ya sama ibu," kata Narti waktu ia datang ke rumahnya..


"Maksudnya?" tanya Zahra heran..


"Ibu pasti bakal nekad melakukan sesuatu diluar jangkauan kita." kata Narti.


"Semoga saja jangan terjadi apa apa ya," ujar Zahra berharap.


"Saya merasakan kalau ibu bertindak secara spontan dan gegabah, saya takut kalau ibu melakukan hal yang tidak diinginkan."


"Masalahnya ibu seperti mengiring kalian untuk masuk jebakan, saya takut Kalau ada korban." lanjutnya.


"Korban? Maksudmu apa bi?" tanya Zahra heran atas apa yang diucapkan oleh Narti.


"Saya hanya takut salah satu diantara kalian bisa jadi korban dari ibu, ya bisa bisa ibu membunuh," Narti mengucapakan itu pelan seperti takut.


"Semoga saja sekarang jangan ya non?" kata Narti tersenyum.


Zahra hanya mengangguk saja. Ibu Ani yang melihat Zahra hanya diam saja langsung menyentuh tangan Zahra dengan lembut dan pelan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya ibu Ani..


"Rara hanya ingat percakapan kemarin dengan Narti."


"Narti bilang ini takut diantara kita ada korban kalau majikannya bertindak sesuatu. Dan sekarang terbukti sekali."


"Kapan Narti bilang begitu?"


"Sewaktu kita kesana kemarin ma," Zahra mengingatkan mamanya.


Wanita itu hanya mengangguk. Ya biarpun ia tidak mendengar langsung percakapannya antara Narti dan Zahra, tapi ia nyakin kalau Narti mengatakan apa yang ada dihatinya.


"Sebenarnya bi Narti baik, penurut apa yang diperintahkan oleh majikannya. Ya biarpun majikannya begitu juga," kata Zahra.


Ia mengingat apa yang pernah terjadi lada dirinya di rumah itu, memang Narti sering memperlakukan dirinya tidak baik. Tapi itu Narti lakukan disaat ada Rani, tapi disaat tidak ada Rani, Narti sering berbuat baik dsn sering meminta maaf padanya..


"Maafkan saya nin, saya lakukan itu hanya perintah majikan saya." kata Narti terhiang di telinganya.


"Kasihan Narti harus meninggal seperti itu." Hela nafa pak Bram.


Ya dari tadi pria itu hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kedua wanita yang ia sayangi.

__ADS_1


"Maafkan mam ya pa, mam pikir papa telah berselingkuh dengan Narti." kata ibu Ani menatap wajah suamianya.


Setelah mereka saling diam, dsn memikirkan nasib Narti yang tragis oleh sang majikan.


"Maksudnya apa?" tanya pak Bram heran.


"Begini pa, mama menduga kalau papa menghamili Narti, kerena papa mengigau tentang Narti." Zahra langsung menjelaskan.


"Astagfirullah, mama kok mama berpikir begitu sama papa?" tanya pak Bram terkejut mendengar kan penjelasan dari Zahra.


"Maafkan mama ya pa, mama telah menyangka papa yang bukan bukan." ujar Ibu Ani lembut.


"Kamu tega ma, menuduh papa selingkuh tanpa bukti," Dengus pak Bram cemberut.


"Rara sudah jelaskan pada mama kalau papa nggak mungkin selingkuh, tapi mama malah marah marah nggak karuan," adu Zahra tersenyum.


"Ya Tuhan mama, Rara juga masih muda masih bisa berpikir positif. Ini mama," pak Bram hanya bisa mengelengkan kepalnya.


Pak Bram tidak ada pikiran untuk selingkuh dari istrinya, apalagi Ani telah meberikan anak pada dirinya tiga orang perempuan dua dsn laki laki satu, ya biarpun semuanya telah meninggal.


Ia juga menganggap kalau Anin atau Zahra sebegai anaknya, apalagi Zahra sejak kecil ia asuh dan bimbing. Mungkin itu alasan Rani merasa iri pada Ani, kerena Ani mendapatkan apa yang ia tidak dapatkan.


"Aku nggak bisa melihat Ani bahagia." itu lah yang dikatakan oleh Rani..


Ya mungkin saja, kerena Rani memang punya anak ada empat anak anaknya tapi thdka ada satu pun yang mau tinggal di dekat ibunya, di tambah lagi sang suami juga tidak pernah kembali.


Kata kata itu hanya sebagai pelampiasan saja, kenyataan nya malah tidak sama sekali..Itu yang membuat Rani frustasi keena tidak ada sedikitpun Rara menganggap dirinya mama kecuali pada Ani.


"Ma, kalau misal papa punya niatan selingkuh mungkin dari dulu papa selingkuh," ketusnya pada Ani.


"Iya maafkan mama ya pa, mama terlalu takut kehilangan papa." kata Ani mengelus bahu pak Bram lembut.


"Tapi jangan sapi terulang lagi ya, ma. Papa janji nggak akan selingkuh dari mama, papa bahagia kok dengan mama."


"Terimakasih pa,"


"Iya sama sama."


"Begitu lebih indah, jangan terhasut ma, papa mengigau juga Narti yang menolong papa bukan selingkuh!" kata Zahra mengelengkan kepalanya.


"Papa nyakin kalau itu Narti Ra, masalahnya nggak ada orang lain selain Narti yang berada di villa itu!" kata pak Bram mengingat kembali Narti.


"Iya pak, nanti Rara bakal lapor polisi.


Kata Zahra sambil mengusap kening pak Bram dengan tisu basah.


Gadis itu beranjak dari tempat duduk, meninggalakan kedua orangtuanya menuju keluar untuk membicarakan pembicaraan tadi dengan papanya.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Papa nyakin kalau mayat itu Narti, menutut papa Narti sebenarnya menolong papa. Jadi apa yang disangka sama Ana benar." kata Zahra menatap wajah orang disana.


"Jadi kronologinya seperti apa yang diceritakan Ana?" tanya Dio heran.


"Iya, papa kemarin mengisi bensin lalu istirahat disana, nggak lama kemudian papa ketemu dengan wanita yang mirip mama." ulang Zahra.


"Motifnya?"


"Motifnya, Rani ingin menghancurkan keluarga kami. Rani hanya ingin melihat mama sedih, dan merasakan apa yang dirasakan olehnya." kata Zahra.


"Jahat banget ya!" kata ibu Ayu menghela nafas mendengar apa yang Zahra ceritakan. Wanita itu hanya menggelengkan kepal saja mendengar cerita gadis yang ada dihadapannya.


"Wajar sih kalau Rani melakukan itu kerena intinya ia butuh kasih sayang, tapi kasih sayang yang ia butuhkan nggak pernah didapatkan." kata Ana.


"Sebenarnya aku juga merasakan apa yang dirasakan oleh ibu Rani. " kata An .


Ia tanpa izin dulu langsung menceritakan paa yang ia pernah dengar dari mulut Rani.


"Jadi kamu menguping pembicaraan mereka?" tanya Zahra menatap wajah Ana.


"Iya."


"Aduh!" jerit Ana.


Waktu Ana menceritakan semuanya. Tanpa ia duga ibu Ayu memukul bahu nya dengan keras, ia wanita itu ingat ketika ia harus telpon Zahra keena Ana tidak pulang ke rumahnya.


"Kamu bikin ibu khawatir saja " Dengus ibu Ayu.


"Jangan sekali kali begitu Na, kasihan ibu kamu sampai telpon Zahra." ujar Dio mengelengkan kepala.


"Ana hanya ingin tahu sih!" kata Maaf tersenyum.


"Tapi kan seharusnya kamu pulang dulu bilang pada ibu ku baru bisa balik lagi ketempat semula," kata Rey.


"Itu bikin ortu khawatir." ucap Dio kemudian.


"Aku kira kamu pulang nggak tahunya malah balik lagi."


Ya ibu aneh saja kenapa Ana nggak pulang pulang, nggak tahunya mencuri dengar." Dengus ibu Ayu agak kesal.


"Ana cuma pendaran saja, kenapa ibu Rani harus melakukan itu pada kak Zahra."


"Sudah, kita lebih baik pulang yuk! istirahat di rumah. Mama menyuruh kita pulang," kata Zahra mengajak orang yang ada disana untuk pulang.


Akhirnya semua orang di ruang tunggu pulang ke rumah masing masing setelah mengetahui cerita tentang permasalahan antara Baram dan Narti maupun Rani.*

__ADS_1


__ADS_2