
Zahra dan Rey seharian muter muter mencari Ana dsn ibu Ayu, tapi keduanya belum menemukan keduanya.
zAhra begitu khawatirnya memikirkan ibu dan Ana yang baru beberapa Minggu di kota sudah hilang entah kemana, pikiran Zahra kemana mana. Ia takut kalau Darman menemukan ibu dan Ana apalagi sekarang Darman adalah buronan.
"Lalu kita cari kemana lagi ibu dan Ana?" tanya Zahra.
Gadis itu frustasi kerena tidak menemukan titik terang dari ibu Ayu dan Ana. Ia nyakin kalau ibu maupun Ana masih disekitar kita itu, kerena tidak mungkin Ana bakal jauh apalagi mengingat kondisi Ana yang masih baru di kota itu!
"Kita lebih baik tanya ke pasar, siapa tahu ada orang yang melihat Ana?" tanya Rey mengenggam tangan Zahra.
Akhirnya mereka langsung menuju pasar tempat dimana Ana sering belanja untu kebutuhan kantin kantor. Sudah beberapa orang yang ditanya semuanya hanya mengelangkan kepala saja.
Akhirnya mereka balik lagi ke kantor, siapa tahu Ana dan ibu Ayu ada di kantin tapi keinginan mereka hanya dia sia belaka saja.
"Ya Tuhan kemana mereka," rintih Zahra..
Rey menatap Zahra dengan pandangan sendu.
"Bagaimana?" tanah pak Bram yang tiba tiba datang dan menanyakan pada keduanya..
"Nggak ada pa, belum ketemu." Dengus Zahra.
Pak Bram diam seketika menatap wajah Rey dengan tajam. Rey hanya mengelengkan kepala saja.
"Besok kita cari lagi ya." hibur pak Bram merangkul pundak Zahra..
"Pa, ibu dan Ana belum makan itu, kasihan pasti mereka lapar. Masih untung kalau ada orang yang peduli tapi kalau tidak ada yang peduli bagaimana?" tanya Zahra getir..
Zahra mengatakan itu kerena ia sangat khawatir dsn cemas mengingat Ana yang baru pertama kali di kota harus seperti ini. Pak Bram mengangguk ia paham apa yang Zahra katakan..
"Pa bagaiamana kalau Rey menelpon Tan Rey buat cari ibu dsn Ana?" tanya Rey pada pak Bram.
Ia lakukan itu ingin membantu Zahra untuk menemukan ibu dan Ana.
"Oke! papa setuju, kamu telpon teman teman kamu suruh mencari ibu dan Ana." antusias pak Bram mendengar apa yang Rey katakan.
Zahra melihat wajah papanya."Terimakasih pa."
Rey akhirnya menelpon beberapa temannya dan juga mengirim.fhoto ibu Ayu dan Ana.
Sedangkan Ana dan ibu Ayu masih di tempat semula. Dari mereka kabur sampai sore lagi mereka masih disana, jarang ada orang yang lewat jalan itu jadi tidak ada orang yang tahu kalau ada ibu dan Ana yang kesasar dan kelaparan.
"Na, kita pergi saja yuk dari sini?" kata ibu Ayu sambil menatap wajah putrinya.
"Oke! Kita cari orang dan tanya saja dimana kantornya kak Zahra." ujar Ana langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kamu tahu alamatnya?" tanya ibu Ayu menatap wajah Ana.
"Nggak sih tapi Ana tahu kantornya." kata Ana jujur.
"Dekat dengan patung kuda, tapi kantor nya sebelah timur," lanjut Ana.
Ibu Ayu hanya menghela nafas mendengar penuturan Ana. Gadis itu hanya tersenyum mendengar helaan nafas dari ibunya.
"Ana benar kok Bu. Kalau alamatnya nggak tahu, tapi kantornya tahu," senyum Ana.
"Kalau tahu mau diculik aku bawa uang, hp juga," gerutu Ana kesal.
"Itu orang yang menculiknya nggak bilang bilang sih!" lanjut Ana kesal.
PLAK
Sebuah pukulan keras mengenai tubuh Ana. Ana bukannya marah tapi tersenyum.saat ibunya memukul lengannya dengan keras.
"Iya bu, coba kalau itu yang menculik kita bilang!" tawa nya.
Akhirnya kedua ibu dan anak tertawa, ya tawa hanya mengusir kelelahan dan kelaparan yang sedang mendera tubuhnya.
Meraka berjalan menyelusuri jalan yang sepi, hanya debu yang ada dsn sinar matahari yang mulai redup.
Ketika Ana dan ibu Ayu berjalan tanpa arah tujuan yang sebenarnya. Terlihat sebuah mobil dari belakang mereka melaju dengan kecepatan pelan sekali, pria muda itu terbelalak melihat Ana dan ibu Ayu yang sedang berjalan.
"Ana! Kamu Ana'kan yang di desa itu!" terik pria muda menatap Ana.
"Kak Dio!" seru Ana kaget.
Gadis itu tidak menyangka kalau bakal ketemu dengan Dio temannya Rey. Ya mereka pernah ketemu saat Zahra dan Rey pertama kali ke desa itu..
"Kamu sejak kapan ada disini?" tanya Dio heran..
"Ceritanya panjang!"
"Kak, boleh minta bantuan nggak tolong telpon kak Zahra atau kak Rey." Ana memelas.
"Zahra dan Rey disini lagi? Katanya Zahra di desa itu!" tanya Dio heran..
"Kak, nanti aku ceritakan semuanya, please!" pinta Ana sambil mengalihkan tanganya..
"Ya udah kalian naik mobilku," kata Dio menyuruh Ana dsn ibu Ayu naik mobil.
Kedua wanita itu langsung masuk kedalam mobil Dio, hawa dingin langsung menyentuh tubuh ibu Ayu dan Ana yang dari tadi kepanasan di luar.
__ADS_1
"Kak, ke kantornya ke kantor kak Rey saja," Ana langsung bicara.
"Oke!"
Tapi apa yang dilakukan oleh Dio diperhatikan oleh wanita yang menculik nya. Ia langsung menelpon anak buahnya untuk mengejar mobil dengan flat B.XXXX.ZD.
"Dio awas kamu!" sungut wanita itu..
"Aku akan perhitungan dengan kamu, aku nggak akan biarkan kamu menolong wanita itu!" gerutu wanita itu dengan wajah merah Manahan marah.
Saat mobil yang ditumpangi oleh Dio dsn Ana meluncur dengan berlahan, wanita itu langsung sembunyi kerena takut ketahuan oleh mereka.
Acong yang telah menerima telpon dari bosnya langsung meluncurkan kendaraannya menuju tempat dimana bosnya memberitahukan keberadaan nya.
BRAK!
Mobil yang berhenti di pinggir jalan oleh Acong langsung ditabrak seketika juga, pemilik mobil Dio yang sedang istirahat di sebuah warung langsung melihat apa yang terjadi.
"Kak orang itu!" terima Ana masih mengenali dua orang yang menabrak mobil Dio.
Dua orang itu tersenyum sinis, apalagi Dio berhenti ditempat yang sepi jadi keduanya bukannya takut malah berani.
"Jadi kalian yang melakukan nya?" tanya Dio tidak gentar.
Dua orang itu langsung melawan Dio yang melindungi Ana dan ibu Ayu, Ana yang melihat Dio akan dihajar oleh kedua orang itu langsung mengambil kayu yang ada disana.
BUG!
Aah!
terima Acong yang kasakitan saat tubuhnya di pukul dengan keras oleh Ana.
Bukan itu saja Ibu Ayu yang melihat kesempatan itu langsung menginjak kaki ke arah burung Acong.
"Ah!" jerit Acong sambil memegang burungnya yang ditendang ibu Ayu.
Dio yang melihat teman Acong yang akan mendekati Ana langsung menarik tubuh teman acong dan ia langsung menghajar wajah teman ya Acong..
"Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini!" teriak Dio sambil memelintirkan tangan temannya Acong dengan keras.
"Ampun!" teriak temannya Acong histeris kerena kesakitan.
Sedangkan ibu Ayu dengan lincahnya langsung memukul badan Acong dengan batu yang ada di jalan. Sampai Acong terjungkal, sambil meringis kesakitan.
"Darman!" teriak teman Acong dengan keras.
__ADS_1
Mata Ana dan ibu Ayu terbelalak kaget mendengar apa yang diucapkan oleh Tan Acong, Ana tidak menduga kalau kalau uwa nya bakal melakukan sesuatu lada dirinya.
Ana tidak berpikir jernih! Ia mengerti sekarang kalau uwa Darman melakukan ini pada dirinya dan keluarga.