TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 50


__ADS_3

"Zahra harus pulang pa, Zahra harus pulang sama kita!" Teriak Ani histeris.


Wanita itu memukul tubuh Bram dengan keras, laki laki itu hanya terdiam saat tubuhnya di pukul oleh istrinya. Hatinya terasa sakit melihat istrinya tidak bisa mengontrol emosi sendiri.


"Ma, nanti Zahra pulang, ia ada urusan disana dulu. Papa sudah telpon Zahra kok," pak Bram berusaha menenangkan istrinya.


Di perjalanan kalau saja tidak hati hati mungkin mereka mengalami kecelakan kerena Ani mengamuk dan menjambak kepala Bram dengan kerasnya. Untung saja ia langsung menghentikan laju mobilnya.


PLAK


BUG


Tubuh Bram dihajar habis habisan. Ani ingin balik lagi ke rumah sakit tapi Bram tidak mengizinkan kalau Ani balik lagi otomatis membuat Ani marah pada Bram. Kerena takut membahayakan diri dan istrinya maka pak Bram menelpon taksi untuk mengantarkan ia dan istrinya ke perumahan elit.


Wanita itu benar benar tidak menerima kenyataan kalau Anin masih hidup. Ia mengamuk sampai di rumah sambil memanggil nama Zahra. Pak Bram hanya bisa diam membisu.


Ya ia dan Ani seharusnya menerima kenyataan yang sebenarnya, kerena apapaun yang terjadi suatu saat nanti Zahra bakal kembali ke ibu kandungnya.


"Pokoknya aku nggak ikhlas kalau Anin hidup, Anin sudah lama mati, dia bukan Anin tapi Zahra!" Teriak ibu Ani.


"Dia bukan Anin,"


"Dia Zahra anak kita pa, anak kita pa. Pokoknya aku nggak ingin wanita itu mengambil Zahra dariku,"


Tapi kenyataannya yang ada Ani tidak bisa menerima yang terjadi, pak Bram sangat terpuruk melihat kelakuan istrinya. Kejadian itu mengingatkan dirinya pada kejadian yang lampau.


“Pokonya Zahra harus pulang! Harus pulang pa, aku nggak mau Zahra pergi lagi!” raung Ani sambil menangis.


Akhirnya pak Bram tidak bisa membiarkan Ani menangis, ia menelpon Zahra yang masih di rumah sakit.


Zahra yang masih bersama dengan ibu Ayu dan uwa Iyan di taman langsung mengangkat hpnya, saat ia melihat matanya kalau pak Bram menelponnya.


📱Ra, kalau bisa kamu pulang ya hari ini, pap tunggu di rumah. Mama kamu mengamuk dan terik teriak.


Pak Bram memeberitahukan kondisi istrinya. Zahra sebenarnya mendengra teriakan dari ibu Ani, ya biarpun pak Bram tidak memberitahukan keadaan ibu Ani tapi Zahra dengan jelas mendengar suara mamanya.

__ADS_1


📱Tapi, pa?


Tanya Zahra tercekat. Ia langsung menatap wajah ibu Ayu dan uwa Iyan seperti meminta solusi.


📱Mamamu?


Terdengar suara uwa Iyan dari sebrang hp pak Bram. Zahra mengangguk dengan cepat kalau yang telpon itu adalah papanya. Uwa iyan langsung merebut hp di tangan Zahra dan ia yang bicara pasda pak Bram.


📱Pak Bram yang saya hormati, saya nggak akan mengizinkan kalau Anin ke rumah itu lagi, kerena saya nyakin anda nggak akan pernah mengizinkan Anin bertemu dengan ibunya.


Suara lengking uwa iyan terdengar di telinga pak Bram, sampai laki laki itu langsung menjauhkan hpnya di telinga kerena ia sangat terkejut sekali apanyang di dengar dari uwa Iyan.


📱Saya ngerti, Anin bukan anak saya tapi saya mohon izinkan Anin ke rumah ini untuk kali ini, saya nggak akan memghalangi Anin menemui ibunya!” pak Bram memohon dengan sangat.


Ia lakukan itu kerena kasihnya pada Ani istrinya, ia juga merasa iba melihat Ani Seperi itu.


📱Pergi lah, Anin. Ibu tahu bagaimana seorang ibu kehilangan anak.


Terdengar suara ibu Ayu ditelinga nya pak Bram, ia sedikit terkejut kerena ini Ayu mengizinkan kalau anaknya mengunjungi rumah nya.


Pak Bram kaget, saat hpnya ditempelkan kembali ke telinga begitu keras suaranya, laki laki itu langsung menjauhkan kembali hpnya. Teriakan uwa Iyan bergema dsn ia sangat tidak setuju kalau Anin pergi ke rumah dimana pap dsn mamanya berada.


📱Ibu mengizinkan, kasihan mama kamu.


Terdengar suara ibu Ayu di telinganya pak Bram, laki laki itu terkesiap mendengar nya, suara yang penuh ketabahan saat mengizinkan Zahra untuk ke rumah untuk menemui mamanya.


Pak Bram langsung mengusap matanya yang tiba tiba ada kabut yang siap tumpah menjadi gerimis.


Pak Bram langsung mematikan hubungan telponnya, Zahra yang masih dihadapan ibunya hanya tersenyum. Wanita itu mengangguk.


Zahra menatap wajah ibunya dengan tulus, ia tidak menyangka kalau ibu Ayu bakal mengizinkan dirinya menemui mamam. Akhirnya setelah mematikan hpnya dan bicara pada pak Bram kalau ia bakal kesana Zahra langsung meninggalkan ibu dan uwa iyan.


"Maafkan Anin Bu," gumam Zahra sambil meninggalkan wanita itu.


Ibu Ayu melampaikan tangan melihat kepergian Zahra.

__ADS_1


Laki laki itu tidak suka melihat kepergian Anin, tapi ibu Ayu menyuruh Zahra untuk pergi. Zahra mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada ibunya.


Pak Bram terharu saat mendengar kata kata ibu Ayu yang begitu tulus pada istrinya, ia merasa bersalah kerena telah memisahkan Zahra dengan ibu kandungnya. Pak Bram langsung memeluk tubuh istrinya yang masih terisak, wajahnya terlihat kusut sekali, rambutnya acak acakkan.


“Mama!”panggil Zahra.


Gadis itu langsung menubruk tubuh Ani yang sedang duduk di lantai dengan keadaan yang tidak karuan. Melihat Zahra datang wanita itu langsung memeluk tubuh putrinya dengan lembutnya ia merasa senang melihat Zahra kembali lagi ke rumah itu.


Pak Bram tersenyum melihat kedatangan Zahra kembali ke rumah itu, hatinya berjanji suatu waktu akan mengembalikan Zahra pada ibunya. Dan ia maupun istrinya tidak berhak memisahkan ibu dan anak, apalagi mereka telah kehilangan anak mereka. Masa ia tega merampas kebahagiana Zahra dan ibunya.


“Kamu nggak bakal balik lagi kan ke rumah sakit itu?’ Tanya ibu Ani melepaskan pelukan Zahra dan menatap putrinya dengan tajam.


Zahra tidak langsung menjawab pertanyaan mamanya.


“Ma, lalu siapa yang menemani Ana di rumah sakit? Ibu Ayu dan uwa iyan nggak tahu yang harus mereka buat, kalau saja Zahra nggak disana maka ibu Ayu nggak tahu ruangan informasi, maupun beli obat di apotik.” Jawab Zahra menjelaskan.


“Pokoknya mama nggak mau kamu kesana lagi,” protes Ani.


“Ma, mama perlu tahu kalau Ana menolong Rara. Mungkin kalau nggak ada Ana, Rara yang berada di rumah sakit itu!”


Zahra menceritakan sampai Darman menusukan pisau ke perut Ana, Ani dan Bram yang mendengarkan cerita Zahra menahan nafas. Wanita itu sangat terkejut sekali tidak menduga kalau Darman mencelakakan Ana yang saat itu memang menolong Zahra.


“Rara nggak tahu kalau pak Darman ingin mencelakai Rara, ma. Jadi wajar kalau Rara menolongnya.” Kata Zahra.


“Bukan yang lain?” tanya Ani tajam


“Maksud mama?”


“Bukan kerena dia adikmu?” tanya mama ketus.


DEG!


Hati Zahra berdetak mendengar apa yang ibu Ani katakan. Ditatapmya wajah wanita yang telah membesarkannya. Terlihat wajah Ani tidak suka kalau Zahra melakukan kebaikan itu kerena Zahra kakaknya Ana.


Mendengar suara ketus mamanya, Zahra hanya menggelengkan kepala, sedangkan pak Bram tidak suka atas kata kata yang keluar dari bibir istrinya, menurutnya Ani keterlaluan bicara seperti itu pada Zahra. Tapi pak Bram tidak berkomentar apa apa pada Ani.

__ADS_1


Zahra hanya menghela nafas Panjang mendengarkan apa yang diucapkan ibu Ani, tapi ia bersikap biasanya saja.


__ADS_2