
"Ra, mama ingin bicara sama kalian berdua. Sekalian sama Ana mumpu ia ada di sini. " tegas ibu Ayu menatap Zahra.
Ana mulai bertanya tanya pada dirinya, iantakut kakau misal mamanya kak Zahra mwngusirnya. Memang ia sudah tiga hari menginap di rumah itu hanya buat bersama dengan Zahra.
Mendengar apa yang ibi Ani katakan, Ana merasa kakau ibu Ani mulai bosen lada dirinya. Jadi mau memanggilnya dan bjcara supaya ia pulang.
Zahra mengangguk. Setalh bjcara begitu ibi Ani langsung ke ruang keluarga.
"Kak, apa mama kakak nggak suka ya kalau Ana disini? " tanya Ana pada Zahra.
"Sudah. Nggak apa apa kok, mungkin bukan tentang keberadaan kamu disini, " hibur *Zahra.
Gadis itu yang melihat raut wajah Ana hanya. mengusap dan menghibur hati Ana supaya tjdak berprasangka jelek lada mamanya.
"Yuk kita ke ruang keluarga, kita ditunggu sama mama. " kata Zahra menarik tangan Ana.
Gadis itu ragu sebenarnya tapi demi Zahra ia mengangguk saja.
Bukan Ana saja yang punya perasaan tidak enak, Zahra juga mulai yidak. nyan tiba tiba mamanya memanggil dirinya dan Ana.
"Kalian duduk, " kata ibu Ani mempersilahlan Ana dan Zahra.
"Ma sebenatnya ala. yang akanama katalan? " tanya Zahra menatap wajah ibu Ani.
"Mama hanya ingin bicara sama kalian berdua masalh Rani. "
Deg!
Hati Zahra tergetar seketika juha. mendenbar nama Rani diucapkan oleh mamanya. Ia sama sekkaintjdal menceritakan tentang anak Rani hasil hubungan dari ayahnya, Zahra hanya. mengangguk saja mendengar apa yang diucapkan oleh ibu Ani.
Hati Ana masih ketera ketir. Ia masih belum. mengerti apa yang dimaksud oleh ibu Ani, tapi Zahra menangkap sesuatu dari ucapan mamanya.
"Apa yang mama ingin bicrakan tentang uwa Rani? " tanya Zahra.
"Kalian.perlu tahu ya, ibu Mirna pernah cerita kalau uwa Rani sedang hamil waktu itu oleh ayah kalian . " ibu Ani hati hati bicara juga matanya melirik pada kedua wajah adik kakak itu.
__ADS_1
"Ra, Na, anak ayah kamu. dari uwa Rani sekarang sudah umur 20 tahun, ia sekarang kuliah di kampus X tapi sejak kecil. diurus sama orang lain. " lanjut Ibu Ani.
aura hanya diam saja, ia tahu. kalau. ini Ani sebenatnya berusaha menjelaskan keberadaan Vito pada dirinya dan Ana. Tapi wanita itu tjdak tahu kalau Zahra sebenatnya udah tahu kwneradan Vito dari pertemuan ia dan Ibu Nining minggu kemarin dan. ia jiga ketemu.
Ana yang belum tahu langsung menatap wajah ibu Ani, kan tahu memang dari bu marni kerena. wanita itu pernh menceritakan tentang cerita kematian dan siapa yang membunuh paknRohan, dan sebab akibat ayahnya meninggal.
Ia juga tahu kakau Rani juga punya nama darin ayahnya, dan sampai sekarang ia juga belum. tahu anak dari Rani dengan ayahnya.
Ibu Ani menatap kedua wajah kakak beradik secara bergantian satu sama lainnya.
"Tante , maaf apa yang tante bicarakan tentang anak dari tante Rani kan? Memangnya tamte sudah bertemu dengan. anaknya ayah dari tante Rani? " tanya Ana.
Zahra hanya diam saja. mendengarkan apa. yang mama katakan juga Ana yang diucapkan. Ia sudah mwnduga kalau mamanya memanggil dirinya pasti twntang Vito. Memang Zahra belum. pernah mwnveeitakan lads mamanya kakau ia sebenarnya pernah bertemu dengan. Vito, tapi pemuda itu belum mengetahui twntang dirinya.
Awalnya Zahra ingin bjcara kemarin. kemarin sebelum. ada Ana, tapi. kesibukan lah yang membuat ia. lupa menceritakan semuanya pada mamanya. Dan sekarang malah mamanya yang mendahului nya.
"Tapi mama belum ketemu dengan anak itu! kalian harus akur ya? Tadi ibu angkatnya telpon mama kerena ingin mempertemukan kalian dengan kalian. Untung kalian ada di rumah ini jadi malam ini kita ketemuannya.
" Malam ini ma ketemunya? memangnya. nggak terlalu cepat ya? " tanya Zahra blank.
"Malam ini tante? Wah! Ana seneng tante bakal ketemu anaknya tante Rani. " riang Ana.
Wajah Ana beeseri seri mendengar kalau malam. ini bakal ketemu dengan adik biologisnya, sedangkan zahra hanya diam saja kerena ia nyakin kalau malam ini ia bakal ketemu vito kembali. Dan ia juga bakalan tahu pasti vito terkejut melihat kenyataannya kalau vito dan dirinya saudara biologis.
"Jam berapa tante ketemunya? " kejar Ana antusias.
"Jam 19.00."
"Nggak besok lagi ma? " tanya zahra lemas.
"Kamu nggak suka badan? Kok nggak semangat?" ibu Ani balik tanya pada zahra.
Matanya menyelidik apa yang dirasakan oleh Zahra, tapi gadis itu hanya mengelengkan kepala nya saja.
"Ya sudah kalau misal nggak ada apa apa lagi kalian siap siapa ya, " kata ibu Ani tersenyum.
__ADS_1
"Iya tante, Ana sangka panggil. kami berdiam kerena tante nggak mau Ana lama lama disini nggak tahunya! " senyum Ana malu.
Ia benar benar merasa bersalah kerena telah mwnsuga yang tidak tidak pada ibu Ani, tidak tahunya wanita itu hanya ingin bicara maslah anak ayah.
"Tante, ibu nggak tahu kan maslah ini? " tanya Ana menatap wajah ibu Ani.
"Seharusnya tante yang bicara itu sama kamu? Tente mana berani bilang sama ibu kamu, kamu nggak bilang kan? " balik tanya ibu Ani.
Ana hanya tersenyum dan mengangguk. " Ana nggak bilang apa apa kok tante telah saja."
Zahra hanya diam dan menghela nafas mendengar percakapan yang terjadi anatara Ana dan mamanya, ia belum menceritakan kalau ia sendiri pernah bertemu dengan Vito.
Zahra tidak bisa membayangkan kalau misal ia dan vito ketemu sebagai adik kakak, ditambah lagi kalau vito tahu kalau mamanya yang jadi tersangka lwmbimuhan ayahnya sendiri.
Zahra tidak bisa membayangkan reaksi Vito kakau. misal semuanya bakal terkuam atas pertemuan yang akan terjadi.
Setelah ibu Ani menuju luar, Zahra mwhgajak Ana buat ke kamar lagi. Hatinya benar benar ridau dengan pertemuan yang bakal terjadi antara Vito dan dirinya. Apa yang harus Zahra lakukan kakau midal mereka bertemu, apalagi disana juga ada Ana.
"Semoga saja cowok rese itu jikan adik aku! " masih terdengar suara Ana pada ditinyanketika di toko buku.
"Kakak kenapa diam saja? Apa kakak nggak senang ya kalau ketemu dengan adik? " tanya Ana mentap wajah Zahra.
Zahra hanya tersenyum saja."Kakak senang kok! Kita bisa bertiga kumpul bareng lagi! " kata Zahra tersenyum.
"Dek, kakau misal kita ketemu. Kamu jangan marah ya, jangan uring uringan pokoknya jaga emosi ya? " tanya Zahra.
"What? Buat apa kak? Memangnya kenpa kakak bilang begitu? " tanya Ana penasaran.
Ana bukan menjawab dengan jawaban iya tapi hadia itu malah melontatkan kata kata pertanyaan pada Zahra.
"Ya misal kalau kita ketemu dia terus kita nggak sesuai apa yang kita inginkan kamu sabar ya. " ujar Zahra.
"Aku ngak ngerti apa yang kakak katakan? "
"Sudahkah! Nanti juga kita bakal ketemu. " kolah Zahra
__ADS_1
Gadis itu tidak bisa menjelaskan apa apa pada Ana, ia takut kalau. misalkan menjelaskan tentang Vito pasti Ana bakal kecewa, masalahnya Zahra mendengar dengan jelas kata. kata Ana pada Vito ketika di terminal.*