
Pov Darman
Aku hanya bisa menarik nafas panjang mengingat perkataan Ani. Ya sejujurnya aku tidak menyangka wanita itu bakal membuka semua pikiran aku yang telah beku oleh sebuah cinta. Mungkin itu yang dirasakan oleh Rani yang sejak kecil terbuang oleh seorang nenek yang tidak menyetujui pernikahan anak dan menantunya.
Mungkin kerena kehidupan aku dan dirinya beda jadi Ani bisa bicara seperti itu padaku, ya aku secara diam merasa iri pada Ani yang punya kehidupan yang sempurna, sempurna dalam. Keluarga, kasih sayang serta lingkungan yang baik.
Sedangkan aku? Aku harus di buang oleh nenek itu yang aku dengar, nasib aku dan Rani sama saja, tapi Rani lebih parah dibandingkan aku.
Aku masih bersyukur mengenal mama dan ayahku, mungkin kalau ayah tidak meninggal aku tidak mungkin berpisah dengan kedua orang tua.
Aku hanya menghela nafas panjang, aku masih mengingat semuanya tentang ayah? Sedangkan Rani, mungkin saja ia tidak ingat dengan sikap mama dan ayahnya.
"Kang, apa benar ya apa yang dikatakan Ani tentang mama. Kata Ani mama nggak tahu kalau masih hidup, mustahil banget ya kang! " kata Rani waktu itu padaku.
Sebenarnya aku malas membahas itu dengan Rani ya ujung ujungnya bertengkar dengan Rani. Pernah Rani mengajak bicara tentang ayah dan mama, tapi Rani marah.
"Aku juga nggak tahu Ran mungkin saja benar yang dikatakan oleh Ani," ujarku mengangkat kedua bahuku.
Maksud akang bagaimana? " tanya Rani padaku dengan nada heran.
"Kang, kamu kaya nggak percaya deh sama aku? " tanya Rani menatapku.
Aku hanya melenggos mendengar ucapan Rani.
"Bukan nggak percaya Ran tapi aku dan dia belum bicara apapun juga sama Ani, aku sebenarnya kalau dia punya waktu ingin ngomong sesutu dengannya. "
Kataku mengungkapkan perasaan yang ada di hatiku. Sejujurnya apa yang aku katakan pada Rani memang benar sekali, aku ingin sekali bicara seperti aku bicara sama Rabi seperti ini, tapi aku ragu sih untuk bicara berdua.
"Kamu mau apa bicara dengan Ani? " tanya Rani heran.
"Entahlah! " aku hanya mwngelengkan kepala saja..
Ya entah kenapa melihat Ani aku ingin sekali dekat.
"Ya sudah tapi ja gan macam macam. "
"Maksudmu? "
"Jangan ganggu dia? "
"Ngapain aku ganggu dia? " tanyamu gemas.
Rani hanya tertawa melihat aku heran atas pertanyaan dan komentar dirinya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
"Iya aku ngerti, terus apa yang aku perbuat buat kamu kang! " kata Rani padaku.
Memang dari dulu sih Rani sudah memanggil aku akang sebelum nya. Ya mungkin sejak kami berdua bertemu di waktu umur masih remaja.
Ya biarpun aku dan Rani tidak satu sekolah juga, tapi kami pernah bertemu satu sama lainnya, pertama kali ia menyebutkan aku akang kerena mungkin usia aku dan dia berpaut jauh 10 tahun.
Aku kenal pertama kali dengan Rani ketika ia masih usia 15 tahun, ketika itu ia duduk di kelas 1 SMU waktu itu ia ke rumah bersama Hamdi! Kerena mereka satu kelaa.
"Kok malah diam? " tanya Rani heran.
Aku hanya menghela mendengar pertanyaan wanita yang ada di hadapanku.
"Memangnya aku. Mau ngapain sama wanita orang? Ran, bagaikan pun dia itu adik kita, masa aku mau menyedibit dirinya. Entah kalau bukan adikku! " tawa ku puas.
Plak!
Sebuah tamparan langsung mengenai pipiku, sangat meras dan lumayan terasa sakit sekali.
"Ran, apa apaan kamu! Sakit tahu! " teriak ku keras.
Aku juga terkejut mendapat tamparan yang begitu kuat dari Rani, sebenarnya aku mengatakan itu hanya bercanda, ku tatap wajah wanita yang ada dihadapanku, terlihat agak kemarahan diwajahnya.
"Aku nggak mau ya kamu dekati Ani. "
"Motif apa melarang aku mendekati Ani? " tanyaku pada Rani.
"Ran, sadar aku dan Ani saudara. Kita saudara ya biarpun kita terpisah jauh sekali," cetusku.
🦋
Plak!
"Kamu lancang ya!" teriak Zahra berhadapan dengan Darman.
"He! Kamu apa apa an berani menampar muka aku?" teriak Darman yang terkejut.
Ia tidak menyangka harus berhadapan dengan Anin kembali. Darman tidak menyangka kalau gadis itu menemukan dirinya di tempat itu! Sejenak ia terkejut sekali, tapi hatinya nyakin kalau Ani yang memberitahukan keberadaannya, kerena kemarin ia memberitahukan alamat pada Ani.
Ia sama sekali tidak menduga kalau gadis yang disangka telah meninggal kini berdiri di hadapannya, menatap diri Darman dengan tajam dan sinis.
"Kamu yang apa apa an? Kamu telah berani menemui mama aku buat apa? " teriak Zahra geram.
Ia tadi mendengar cerita mamanya kalau Darman menemuinya di cafe yang tidak jauh dari rumahnya. Zahra yang mendengarkan terkejut sekali, ia tidak menyangka kalau Darman begitu lancang sekali.
__ADS_1
"Kenapa mama menemui dia ma? Kenapa? " tanya Zahra marah.
"Mama ingin bicara dengan ya saja! Bicara tentang kenapa kamu diperebutkan oleh Rani."
"Terus apa yang ia ceritakan? " tanya Zahra penasaran.
"Belum menjawab ia sudah main sewot saja! " dengus ibu Ani.
Tanpa sepengetahuan mamanya akhirnya ia mendatangi rumah yang sekarang yang ditempati oleh Darman, sebenarnya ia tidak dikasih tahu alamat rumah Darman yang baru.
Zahra menyangka kalau Darman masih di gubug waktu ia dan Vito kesana berdua menangkap basah Darman tapi gagal. Di jalan tanpa sengaja ia bertemu dengan Rani.
"Kamu kalau jalan lihat lihat! " teriak Rani yang tidak sengaja ditabrak oleh Zahra.
"Uwa kok disani!"teriak Zahra terbelalak matanya melihat Rani berada di sekitar perumahan.
Sedangkan ia tahu kalau Rani sering banget datang ke gubug tempat dimana Darman berada, ia juga dapat informasi dari Vito kerena Vigo sering banget melihat kedua saling bertemu.
"Seharusnya Rara yang berat ya kenpa uwa ada disini? Uwa jarang ke tempat ini kan? " selidik Zahra menatap Rani.
Wanita itu akhirnya berlari menghindari Zahra, tapi terlambat kerena gadis itu dengan cepat langsung msraih baju belakang dari Rani otomatis rani yang kabur gagal.
"Kenapa harus kabur kalau memang uwa nggak salah? " tanya Zahra.
"Lepaskan! " teriak wanita itu kasar.
Tapi Zahra dengan muat mencengkram baju belakang Rani dengan kuat, ia tidak ingin mensia sia kan kesempatan itu.
"Lepaskan? Oke! Aku bakal lepaskan baju yang aku pegang tapi jawab dulu pertanyaan yang aku lemparkan buat uwa." tegas Zahra.
"Oke! Saya bakalan jawab apa yang kamu tanyakan. "
"Uwa Darman dimana? " tanya Zahra langsung pada persoalannya.
Ia nyakin kalau wanita itu tahu dimana Darman berada. Zahra sengaja bicara seperti itu seolah olah ia tadi ke gubug itu.
"Uwa Darman ada di perumahan ZX, " jawab jujur Rani.
"Oke! Rara percaya sama uwa, tapi kalau misal uwa bohong awas! " ancam Zahra sambil menunjuk ke arah Rani.
Tapi Zahra tidak menemukan kebohongan diwajah Rani, akhirnya ia melepaskan cengkraman dari baju Rani.
"Saya nggak bohong kok! Kalau kamu mau kesana silahkan tapi uwa mungkin nggak bisa kesana, kalau misal uwa bohong silahkan cari uwa. "
__ADS_1
Rani langsung mengatakan itu saat Zahra melepaskan cengkraman nya, Rani meninggalkan gadis itu dengan buru buru sedangkan Zahra langsung menuju alamat yang diberikan oleh Rani.
Rani memang tidak bohong!