
Dua jam kemudian. Mobil yang ditumpangi oleh Zahra telah sampai ke depan rumah sakit, berapa yang ada di rumah sakit saat melihat ada mobil ambulan langsung membawa tempat tidur yang di dorong ke depan ambulan dan menggotong tubuh Ana.
Zahra langsung turun dari mobil ambulan, salah satu pegawai kesehatan yang di klinik itu langsung mengurus sapa yang dibutuhkan oleh Ana, tubuh Ana langsung masuk UGD. Zahra dan dua orang hanya menunggu di ruangan tunggu dan membiarkan para perawat merawat Ana.
Di ruangan UGD beberapa dokter memeriksa keadaan Ana yang semakin lemah, dan lukanya juga mulai mengering darahnya. Luka yang dialami oleh Ana sangatlah serius sekali. Membuat para dokter hanya mengelangkan kepala melihat pasien yang seperti berusaha untuk sembuh sangat kuat sekali.
“Bu, bagaimana kondisinya?” tanya Zahra saat ia melihat perawat rumah sakit itu menghampiri mereka.
“Siapa keluarga dari pasien?” tanya perawat itu menatap tiga orang yang ada di sana.
“Saya sendiri,”Akunya.
“Ibu dipanggil ke ruangan dokter,” ujar perawat itu.
Mempersilahkan ibu Ayu untuk ke ruangan dokter, Zahra ingin ikut tapi dihalangi oleh perawat. Ibu Ayu di panggil ke ruangan dokter untuk membicarakan keadaan pasien.
Ibu Ayu mengangguk dan setuju sekali di panggil sedangkan Zahra dan uwa Iyan menunggu disana dengan rasa khawatir sekali. Ibu Ayu masuk ke ruangan dokter yang memeriksa Ana, disana ia disuruh duduk oleh dokter.
“Maaf bu anak ibu butuh donor darah langka, mungkin hanya keluarganya saja yang bisa memberikan darah pada pasien,” kata dokter muda dengan berlahan.
“Dok, ambil darah saya dok, saya adalah keluarganya dan saya adalah satu satunya keluarganya.”getar ibu ayu.
Hanya 1 jam pemeriksaan membuat wajah dokter itu berkerut dengan jelas sekali, ia akhirnya mendatangkan ibu Ayu dan dua orang ke ruangannya. Untuk memberitahukan hasil dari pemeriksaan darah yang menurutnya membingungkan.
“Dok, bagaimana?” kejar ibu Ayu.
“Maaf bu, darah ibu nggak cocok dengan darah pasien? Apa ada keluarga dari pasien yang benar benar punya hubungan darah yang kuat? Tanya dokter itu menatap ibu Ayu dengan tajam..
“Nggak! Nggak mungkin darah kami nggak cocok!”teriak ibu ayu histeris.
Ia sangat terkejut ketika dokter mengatakan kalau darahnya tidak cocok, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Ana bisa bertahan untuk hidup kalau darahnya tidak cocok?
Uwa Iyan heran atas apa yang dibicarakan oleh dokter masalah darah.
“Dok, memangnya darah apa yang dibutuhkan oleh pasien?” tanya uwa Iyan dengan tatapan yang heran.
__ADS_1
“Pasien membutuhkan darah AB+, sedangkan ibu memiliki darah A,”
Uwa iyan kaget mendengar darah itu, ia sangat shock sekali, kerena darah yang dimiliki oleh Ana hanya dimilik oleh Anin, kakak kandung Ana yang entah dimana keberadaannya.
Ya darah Anin yang sama dengan darah Ana, karena memang golongan darah mereka pernah di periksa dan mereka punya darah yang sama.
Uwa Iyan benar benar shock sekali mendengar semuanya dan ia harus mencari Anin kemana. Bukan hanya uwa iyan saja yang terkejut ibu Ayu ambruk seketika juga mendengar kenyataan itu.
Dalam keadaan panik tiba tiba,
“Dok ambil darah saya aja dok!”teriak Zahra cepat.
“Tapi kamu?”
“Dok! Apa kerena saya bukan keluarga Ana jadi dokter meragukan semuanya?”
tanya Zahra.
Ibu Ayu dan uwa Iyan saling tatap satu sama lain. Mereka sangat terkejut pada apa yang Zahra lakukan buat Ana, tapi ibu Ayu hanya diam saja apalagi uwa Iyan.
“Sebenarnya ini hanya menyangkut keluarga sih bukan orang lain yang mendonorkan darah,” gumam dokter melirik Zahra.
Tapi Zahra seperti tidak mendengar gumaman dari bibir dokter itu.
“Tapi kata dokter hanya keluarga Ana yang bisa mendonorkan darah buat Ana, sedangkan bukan siapa siapa Ana malah kamu mau menolong Ana, kamu bukan keluarga tapi,” terbata bata ibu Ayu mengatakan itu.
“Bu kita coba saja.”
“Sebenarnya saya juga ragu sih memeriksa anda kerena ibu sendiri juga nggak bisa donor darah, tapi kalau itu mau anda saya lakukan sendiri,” kata dokter itu.
Di wajah dokter terbersit keraguan, bukan hanya dokter sja wajah uwa iyan dan ibu Ayu sebenarnya ragu tapi melihat antusias dari Zahra ketiganya pasrah saja.
Tidak lama kemudian, wajah dokter berkerut sangat terkejut sekali kerena melihat pemeriksaan kalau darah Zahra dan Ana sama. Akhirnya dokter langsung mengambil darah Zahra untuk dikirim ke dalam tubuh Ana.
Ketiganya dipanggil oleh dokter dan dokter langsung menatap wajah Zahra dengan tajam, Zahra yang tahu dokter menatap hanya diam saja tidak mengubris tatapan dokter yang seperti curiga pada Zahra.
__ADS_1
“Dok hasilnya bagaimana?”tanya ibu Ayu harap cemas.
“Aneh darah ibu sama sekali nggak sama dengan pasien tapi darah yang tadi sama dengan darah pasien. Apa kalian ada hubungan keluarga? Atau bisa jadi kalian adik dan kakak kandung, kerena kalau bukan kakak dan adik kandung mustahil,”desak dokter menatap Zahra.
Mendengar pengakuan dari dokter, ibu Ayu dan uwa iyan langsung menatap wajah Zahra dengan pandangan heran sekali. Zahra menunduk seketika juga ia tidak mungkin menceritakan semuanya di depan dokter itu, dengan senyum manis Zahra pamit.
“Terimakasih dok, apa kami bisa menengok pasien?" Tanya Zahra sambil melihat dokter.
Ia tidak mengubris apa yang dokter katakan pada uwa Iyan dan ibu Ayu.
"Silahkan, kerena pasien telah stabil maka boleh di jenguk tapi jangan berisik," ujar dokter menatap Zahra heran.
Zahra mengangguk dan sambil beranjak dari tempat duduk dan melangkah menuju luar ruangan dokter, setelah itu ia tidak langsung menuju kamar Ana tapi menuju ruang tunggu seperti menunggu kedatangan ibu Ayu dan uwa Iyan.
Melihat Zahra meninggalkan ruangan dokter, ibu Ayu langsung mengejar Zahra sampai ke ruang tunggu. Zahra sepertinya sengaja menunggu keduanya di ruangan itu, kerena ruangan itu tidak ada siapa siapa.
“Kamu sebenarnya siapa?” tanya ibu Ayu setelah Zahra ada di ruangan tunggu.
“Hanya Anin yang memiliki darah AB+” tatap ibu Ayu curiga.
“Iya hanya Anin yang memiliki darah yang sama dengan Ana, dan dokter juga mengatakan kalau hanya darah keluarga saja yang bisa didonorkan pada Ana, tapi kamu?’ Berondong uwa iyan menatap Zahra.
Zahra tidak bisa bicara mendengar berondongan kata kata dari ibu Ayu dan uwa iyan. Ia mau bicara apa lagi kalau begini? Ya ia melakukan kerena ia sama sekali tidak mau kehilangan Ana. Jadi spontan ia mengatakan ingin mendonorkan darah buat Ana dan Zahra tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi.
"Bu,.."
Belum sempat Zahra mengungkapkan sesuatu, dokter tadi datang ke ruangan tunggu.
"Pasien sudah sadar dan mencari keluarganya." Ujar dokter itu.
Mereka langsung menuju Ana, dan melupakan apa yang mereka ingin bicarakan pada Zahra.
"Bu, mana kak Anin?" Tanya Ana.
Ibu Ayu blank mendengar apa yang Ana bicarakan, sedangkan Zahra diam seribu bahasa. Uwa Iyan langsung menatap Zahra, ia ingat apa yang akan dibicarakan olehnya dengan Zahra.*
__ADS_1