TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 105


__ADS_3

"Mama!" ucap Zahra pada wanita itu.


Ya setelah pak Bram mulai sembuh kembali, Zahra sengaja datang ke rumah wanita itu dengan sebutan mama. Awalnya Ibu Ani thdk mengizinkan kalau Zahra mendatangi rumah itu, tapi gadis itu menjelaskan kalau Rani bakal baik padanya.


"Rara!" teriak wanita itu ketika mendengar suara Zahra yang memanggil namanya dengan sebutan mama.


Wanita itu langsung memeluk tubuh Zahra dengan hangatnya.


"Mama kemana saja, Rara kemarin mencari mama?" tanya Zahra melepaskan pelukan dari wanita itu.


"Mama ada salah di rumah." dusta nya.


"Ada? Sebenarnya Rara ingin mengajak mama ke suatu tempat," kata Zahra kemudian.


Gadis itu masih ingat percakapan dirinya dengan uwa Iyan.


"Kamu lebih baik bawa Rani ke tempat dimana ia pernah mengalami semua kenangannya."


"Buat apa, uwa? Zahra masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh uwa Iyan.


"Kamu bawa saja Rani ke sini, nanti juga kamu bakal tahu apa yang terjadi," kata uwa Iyan.


"Baik kalau begitu Rara bakal lakukan itu uwa. Kalau misal Rani nggak mau dibawa bagaimana?"


"Kamu bujuk dirinya dengan lembut, jangan sampai memaksa dirinya untuk ikut, nanti jadi curiga."


"Rara bisa juga besok bagaiamana?" tanya Zahra menatap wajah pria itu.


Sebenarnya Zahra masih penasaran rencana dari uwa Iyan, tapi ia juga melakukan perintah dari uwa Iyan sendiri.


"Kapan saja boleh, tapi yang lebih baik itu lebih cepat." ungkap uwa Iyan.


"Kang, buat apa sih?" tanya mbok Inem yang mendengarkan percakapan antara Zahra dengan suaminya.


"Kalian lihat saja apa.yabg saya lakukan, pokoknya Zahra lakukan itu ya, bawa Rani ke tempat ini."


Akhirnya Zahra menganggukkan kepala mendengar perintah dari uwa Iyan, begitu juga dengan mbok Inem.


Akhirnya sore hatinya Zahra dan Rey pulang ke kota kembali, dan mempersiapkan apa yang uwa Iyan katakan.


Ya hari ini, Zahra mendatangi Rani di rumahnya. Gadis itu datang sendirian ke rumah, sedangkan Rey sedang berada di rumah ibu Ani. Dari Rey orang tua Zahra tahu apa yang akan di lakukan oleh Zahra.


"Rara mau bawa ibu Rani ke desa itu!" ujar Rey menceritakan semuanya.


"Buat apa? Uwa Iyan melakuakan itu?" tanya pak Bram menatap wajah Rey dengan tajam.


Sebenarnya ia takut kalau misal Zahra kenapa kenapa saat kesana, apa lagi jarak antar desa itu dan rumah sangat jauh 3 jam perjalanan ya kalau tidak macet.


"Entah uwa Iyan hanya meminta kami melakukan itu,"

__ADS_1


"Apa uwa iyan nggak menjelaskan apa apa pada kalian?" kejar pak Bram.


"Mungkin uwa Iyan hanya ingin Rani kembali ke desa itu supaya ia mengingat dirinya pernah disana." ujar Rey.


Sebenarnya Rey juga merasa heran pada rencana yang di lakukan oleh uwa Iyan itu.


"Ya sudah kalau begitu, kalian harus hati hati ya, jangan mengambil keputusan sendiri." nasehat pak Bram.


"Iya pa, Rey akan ingat itu.


"Jadi sekarang Rara disana?" tanya pak Bram..


Rey mengiyakan dan mengangguk. Melihat anggukan kepala Rey, pak Rey hanya bisa menghela nafas panjang. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia berdoa supaya Zahra putrinya selamat dari marabahaya.


Begitu juga dengan ibu Ayu yang telah diberitahukan oleh Zahra sendiri, Ana hanya mengangguk saja mengikuti apa yang dikatakan Zahra.


"Nggak! ibu nggak setuju Rani dibawa kesana!" teriak ibu Ayu tidak suka.


"Kenapa Bu, ini perintah uwa Iyan kok!" rajuk Zahra.


"Ibu takut kamu kenapa kenapa Ra,"


"Bu, Zahra hanya ingin doa saja dari ibu."


"Tapi kamu nggak akan tahu apa yang akan terjadi di desa!" sembur ibu Ayu..


"Dek, kakak hanya ingin tahu apa rencana uwa Iyan itu? Disana juga ada Rey dan Dio yang jadi teman kakak." kata Zahra menjelaskan.


"Tapi kamu semobil kan sama Rani?" tanya ibu Ayu khawatir.


"Mungkin iya mungkin juga nggak sih! tapi Zahra nyakin semuanya baik baik saja." kata Zahra optimis.


"Kamu benar benar mirip ayahmu!" Dengus ibu Ayu kecewa.


"Bu, aku kan anak ayah! Bukan anak papa!" rajuk Zahra sambil memeluk tubuh ibu Ayu dari belakang.


Wanita itu membiarkan tubuhnya di peluk oleh Zahra, Ana yang melihat itu langsung memeluknya dengan erat sekali.


"Bu, please izin kan Anin melakuakan sesuatu, Anin ingin sekali tahu apa yang direncanakan oleh uwa Iyan." suara Zahra lembut menyentuh lubang hidung ibu Ayu.


"Kak, jangan! Ibu bukan nggak mengizinkan kakak pergi tapi ibu takut kakak kenapa kenapa disana." kata Ana lembut.


"Terimakasih atas kepedulian kalian, tapi besok Rara akan ke rumah wanita itu untuk mengajak ibu Rani." ujar Zahra melapaskan pelukan.


"Mama dan papa kamu tahu? Reaksi mereka?" tanya Ibu Ayu menatap Zahra lembut.


"Mama dan papa kaya ibu." ujar Zahra..


"Tapi akhirnya mereka setuju kok!" lanjut Zahra kemudian.

__ADS_1


Zahra mengenal nafas panjang. Sebenarnya papa dan mamanya juga tidak mengizinkan ia melakukan sesuatu untuk Rani.


"Mereka sangat sayang sama kamu, tapi kamu nya seperti ini. jangan buat mereka kecewa sama kamu." kata ibu Ayu mengelus kepala Zahra lembut.


"Iya Anin nggak akan pernah membuat mereka kecewa." saut Zahra tersenyum.


"Kakak masih beruntung dapat papa yang baik, Ana nggak pernah merasakan kasih sayang ayah." lirih Ana.


"Na, kakak juga lebih baik merasakan kasih sayang ayah kok! Ayah sudah di surga kita harus berusaha baik dan beramal Sholehah dulu buat bisa ketemu ayah."


"Jadi kamu perginya besok?" tanya ibu Ayu kembali.


"Iya Bu, insha Allah. Semoga saja cuacanya cerah. Bu, kasih izin ya Anin pergi." kata Zahra menatap wajah ibunya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu harus hati hati jangan sampai kenapa kenapa." akhirnya ibu Ayu mengizinkan Zahra pergi besok.


"Kalau kamu ingin ikut ikutlah sama kakak kamu," kata ibu Ani melihat pada Ana.


"Nggak, Ana mau disini saja. Bantu ibu," Ana hanya menggelengkan kepal saja..


Mendengar itu ibu Ayu merangkul tubuh Ana dengan lembutnya. Zahra yang melihat itu hanya tersenyum saja, kerena sudah mengantongi izin dari ibu Ayu, Zahra pulang ke rumah dengan perasaan yang berbunga bunga.


Bukan itu saja. Zahra juga mengantongi izin dari mama dan papanya ya biarpun dari awal mereka tidak setuju, tapi akhirnya kedua orang tua Zahra mengangguk.


Pagi itu!


Dinruang wanita itu, Zahra dan wanita itu duduk di kursi ruang tamu. Keduanya seperti ini dan anak yang baru ketemu saja.


"Ra, kamu mau bawa mama kemana?" tanya wanita itu menatap Zahra lembut.


Ia menyentuh wajah Zahra dengan kasih sayang, gadis itu hanya diam saja mendapatkan sentuhan dari tangan wanita itu.


"Mama pasti suka pada tempat itu!" senyum Zahra.


"Boleh tahu tempat apa itu Ra?"


"Kalau Rara bilang sekarang berarti bukan rahasia lagi."


"Lalu kamu mau bawa mama kapan ke tempat yang kau janjikan?" tanya wanita itu kembali.


"Bagaiman kalau sekarang, ma. Memang tempat itu lumayan jauh jadi kalau sekarang kita ke sana nya siang bakal sampai." kata Zahra menjelaskan.


"Jauh? Kira kira kemana?" tanya wanita itu berkerut wajahnya.


"Nanti juga mama tahu kok!" bujuk Zahra.


Akhirnya Zahra berhasil membawa wanita itu keluar dari rumah, Zahra langsung mengunci semua pintu dan jendela supaya aman.


Zahra langsung membawa mobil menuju desa itu! Sedangkan Rey dan Dio telah menunggu di jalan menuju desa.*

__ADS_1


__ADS_2