
Mentari pagi masuk kecela cela jendela. Pagi itu telah datang, tapi Ayu masih di teras belakang. Setelah mengerjakan rutinitas di rumah itu ia langsung duduk dan memikirkan Rani. Wanita itu masih mengingat pembicaraan dirinya dengan Rani yang membuat hatinya teriris iris.
Akhirnya ia menuju teras belakang, ia hanya ingin sekali menenangkan pikiran dirinya sendiri, perasaan yang terasa kacau balau sejak pertemuan kemarin.
"Ran, kenapa kamu seperti ini? "
"Kemana Rani yang dulu? "
"Aku sesungguhnya kehilangan Rani yang dulu,"
"Ran, berubah lah demi Vito dan anakmu ya g lain? "
Pertanyan demi pertanyaan dilontarkan di dalam hati, mengingat seorang teman yang sekarang bener benar menghilang, Ayu hanya bisa pasrah. Rani yang dulu dan sekarang menurutnya sangat berbeda jauh sekali.
Ia juga tidak menyangka kalau Rani yang jadi biang dari semua masalah yang ada. Bukannya ia menyalahkan temannya itu tapi memang kenyataannya seperti itu, kilatan masa lalu terbayang kembali begitu indah dan malah sekarang suram menurutnya.
Dan yang lebih tidak menyangka kalau Rani harus melakukan sengkongkolan dengan Darman kakak nya dari ayah anak anak. Wanita itu menarik nafas dalam dalam tidak pernah menyangka semua akan terjadi.
Ia juga tidak tahu siapa yang memulai semuanya. Sejak Rani diusir oleh ibu mertuanya dulu, Rani tidak pernah datang kembali ke rumah dan ia juga tidak berhubungan lagi dengan Rani, ia merasakan Rani menghilang seperti ditelan bumi apalagi saat Darman menikah memang Rani tidak datang.
Ayu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi saat pengusiran Rani dan pernikahan Darman, ia sama sekali tidak tahu. Sedangkan Ayu tahunya Rani pergi sambil menangis kecewa sekali, waktu ia mengejarnya Rani tidak pernah mengubrisnya.
"Aku hanya anak yang nggak pernah diakui. Jadi pantas kalau orang lain juga nggak suka sama aku, mama dan papa juga begitu! " tangis Rani meninggalkan Ayu.
"Ran, jangan diambil hati. Ibu, "
"Sudahlah jangan bela ibu, " potong Rani.
Ayu tahu dari nada bicara Rani kalau wanita itu marah pada ibu Hamdi, kerena tidak pernah merestui pernikahannya dengan Darman. Ayu nyakin kalau Rani menduga duga yang tidak pasti menuduh ibu Hamdi tidak mengizinkan Rani menikah dengan Darman kerena Rani anak tidak jelas.
Apa yang diduga oleh Ayu memang benar sekali. Rani menceritakan itu semuanya setelah Hamdi meninggal dunia dan kasus pembunuhan belum terungkap sama sekali.
Ayu menjelaskan tapi Rani tidak pernah menanggapi apa yang ia katakan.
"Ibu hanya ingin kamu yang jadi menantunya sedangkan aku nggak pernah diakuinya, "
"Ran, ibu. "
"Sudah jangan bela ibu saja. Kamu beruntung dapat diakui di keluarga itu sedangkan aku? " potong Rani.
Rani sepertinya nggak mau mendengar penjelasan dari Ayu, sebenarnya Ayu ingin menjelaskan tapi kerena Rani selalu mengelakkan akhirnya ia hanya bisa diam saja mendengar sangahan dari Rani.
__ADS_1
Tanpa menunggu Ayu bicara Rani langsung meninggalkan Ayu yang mengejar Rani yang berlari menjauhi Ayu yang tidak berhasil mengejarnya. Hatinya terluka dan sakit. Di tambah lagi Darman juga tidak berkutik dengan kedua orang tua angkatnya.
Ia tidak menyangka semua dalang dari cerita itu adalah teman masa lalunya Rani. Ia menganggap Rani orang yang baik perhatian nyatanya malah sebaliknya.
"Ibu nggak suka sama Rani kenapa bu, " tanya dirinya waktu itu.
"Mudah sekali dikendalikan! " dengus ibu Hamdi.
"Kamu jangan terlalu dekat dengannya, aura gelap nya terlihat kurang baik kalau kamu mendekatinya. " lanjut ibu Hamdi sambil memegang tangan dirinya.
Ayu juga heran kenapa ibu nya Hamdi mengatakan itu padanya, sedangkan ia tahu kalau Rani memang baik tapi ibunya Hamdi seperti tidak mau tahu apa yang dikatakan olehnya tentang diri Rani.
"Kamu Yu jangan mudah percaya dengan apa yang dikatakan oleh dia, kalau orang yang baik pasti selamanya dia baik, tapi ibu lihat teman mu itu kurang baik. "
"Bu! Kenapa ibu bilang begitu pada Rani? " tanya Darman yang tiba tiba datang dan menghampiri dirinya.
"Sudah kang! Jangan diperpanjang lagi! " seru Ayu saat tahu kakaknya datang menghampiri
"Diam kamu!" seru Darman menepiskan tangan Ayu.
"Bu, kenapa ibu bilang itu sama Rani, aku sayang Rani bu. "
"Buang rasa sayang kamu?! "
"Kalian nggak pantas menjadi suami istri! "
"Ma! " teriak Darman emosi.
Bukan hanya Darman yang kaget atas kata kata Ibunya Hamdi, Ayu juga kaget sekali mendengar kata katanya. Kata kata yang menyinggung perasaan orang lain yang mendengarkannya.
"Bu, kok bilang begitu! " Teriak Ayu kaget.
Darman yang akan bicara tidak jadi kerena Ayu yang mengatakan nya dengan lantangnya! Darman langsung ambruk seketika saat mendengar apa yang ibunya katakan, kata kata yang tidak seharusnya keluar itu malah menghantam hatinya yang terasa sakit.
"Bu! Apa yang ibu katakan seharus nya jangan dikatakan seperti itu." Ayu mengela nafas.
Tanpa menunggu apa apa Ayu langsung meninggalkan ibu dan Darman. Biarpun ia melihat kalau wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Bu, ada apa? " usik Zahra yang melihat wanita yang melahirkan itu diam saja. Termenung tanpa ada semangat sama sekali.
Zahra duduk di samping ibu Ayu.
__ADS_1
Tadi pagi ia setelah membereskan kamar tidurnya, ia mencari ibu Ayu kesana kemari.
"Na, ibu kemana? " tanya zahra menatap adiknya yang sedang di depan laptop.
"Nggak tahu, Ana nggak lihat ibu pergi kemana? "
"Waduh! " lirih Zahra.
Zahra langsung mencari ke depan, tapi nihol wanita itu sama sekali tidak ada di depan. Ke kamar mamanya tidak ada awalnya ia mau bertanya ke mamanya tapi mamanya juga tidak ada di kamar. Ia hanya manyun.
Zahra menuju ke ruang kerja papanya.
"Maaf pa, ibu kemana ya? " tanya Zahra.
"Ibu? "
"Papa nggak lihat ibu. "
Zahra garuk kepala. Tapi pikirannya langsung ke teras belakang, ia langsung menuju teras belakang dan benar saja dugaaannya kalau ibu Ayu ada disana sedang duduk pandangan matanya lurus ke depan.
Zahra langsung menghampiri wanita itu yang sedang duduk hatinya ada rasa was was kalau ibunya kenapa kenapa, ya sejak ketemu dengan Rani, ibunya seperti itu ia takut kalau wanita itu membuat sesuatu pada ibunya. Tapi ia selalu menepiskan perasaan yang muncul dari hatinya.
Wanita itu menghela nafas panjang, melihat Zahra duduk disampingnya.
"Semuanya nggak ada kejujuran dari awal, jadi seperti ini akhirnya. " kata ibu Ayu.
Wanita itu seperti menyesali apa yang pernah terjadi pada Rani dan Darman.
Zahra yang mendengar apa yang ibu Ayu katakan hanya menarik nafas mendengar wanita itu!
"Ibu nggak pernah menceritakan apa yang terjadi, kalau saja ibu menceritakan kalau Darman dan Rani saudara mungkin mereka nggak mungkin melakukan seperti ini? " ujar Ibu ayu seperti menyesali semuanya.
Menurut ibu Ayu kalau saja ibu mertuanya bilang sejujurnya mungkin mereka tidak akan melakukan hal seperti sekarang. Rani sampai menghasut Darman dan pria itu mengikuti omongan yang dikatakan oleh Rani.
"Bu, sudahkah! Apa yang ibu katakan itu nggak semuanya benar. Bisa jadi kalau mereka tahu, mereka nggak percaya begitu saja! " Zahra langsung menepiskan.
Anggapaan ini Ayu ditepis kan oleh Zahra, menurut Zahra ibu dari ayahnya tidak bersalah, biarpun tidak bilang kalau Rani dan Darman saudara juga. Kalau. Misal neneknya bilang tidak mungkin mereka percaya dengan apa yang dikatakan oleh nenek..
Jadi dengan nenek tidak merestui mereka lah jadi mereka berdua berpikir dan itu yang terjadi, dan ia mendengar kalau Darman dan Rani mencari tahu tentang keluarganya sampai mereka mengetahui sendiri.
"Bu, jangan menyesali semuanya. Semuanya sudah terjadi, mungkin ini sudah jalan dan takdir mereka. Takdir kita juga seperti ini, syukuri yang ada ya bu, " pinta Zahra.
__ADS_1
Wanita ituh mengangguk. Ada helaan nafas panjang terdengar di mulutnya ibu Ayu, Zahra hanya tersenyum saja. Ia mengajak ibunya ke depan kerena semua orang yang ada di rumah itu juga sedang mencari ibu Ayu.