
BRAK!
Ibu Ayu yang sedang beres piring kotor hampir saja melepaskan piring yang ada di tanganya saking terkejutnya, kerena ada seseorang yang memukul meja dekat dirinya.
"Kamu mau apa kesini, ngapain sih datang bikin jantungan!" teriak Ibu Ayu kaget.
Hampir saja piring yang di pegang ya jatuh semuanya. Ditatapnya wajah ibu Ani yang tidak bersahabat menatap wajahnya.
"Bu kenapa sih ibu mengizinkan Rara pergi begitu saja!" protes ibu Ani yang ujug ujug tanpa permisi lagi datang ke kantin milik kantor Rey.
"Saya kira ibu juga nggak mengizinkan Zahra pergi, seharusnya ibu tuh nggak mengizinkan Zahra pergi!" sembur ibu Ayu sewot..
Ia tidak jadi ke dapur, piring kotor akhirnya disimpan lagi ke meja, ibu Ayu yang berdiri langsung duduk setelah melihat ibu Ani duduk di kursi dekat dirinya.
Ia tidak menduga kalau wanita itu datang ke kantin hanya ingin menegurnya. Ya sebenarnya dalam hati ia hanya ingin kalau ibu Ani tidak mengizinkan.
"Seharusnya ibu, bukan saya!" terik ibu Ani tidak mau mengalah.
"Yaelah Bu, Zahra itu anak ibu juga kan seharusnya ibu yang larang Zahra bukan saya Bu!"
"Terus kita harus ngapain kalau Zahra sekarang ke desa?" tanya Ibu Ayu menatap wajah ibu Ani.
"Kenapa anda menyalahkan saya dalam hal ini, seharusnya anda yang seharusnya melarangnya,"Lanjut ibu Ayu.
"Kalian lagi! Kenapa sih kalau ada kalian harus ada keributan di sini?" tanya Ana yang tiba tiba datang menghampiri mereka..
"Tuh ibu kamu!" delik ibu Ani menunjuk pada ibu Ayu.
"Ada apa sih! Bu?" tanya Ana memandang wajah ibu Ayu tajam.
"Lho kok ini yang disalahkan? seharusnya anda yang harus disalahkan kerja anda datang kesini untuk apa?" tanya ibu Ayu menunjuk pada ibu Ani..
Belum sempat ibu Ana menjawab, Ana langsung menarik kursi duduk ditengah dua wanita itu! Ana melakukan itu kerena takut kalau kedua wanita itu berantem gara gara Zahra lagi.
"Bu, Tante, kalian pasti tahu kalau sekarang kak Zahra kemarin telah meminta izin pada kalian sebagai ibu dan mamanya. Tapi kenapa kalian harus bertengkar gara gara itu!" tanya Ana.
"Seharusnya kalian sebagai ibu dan mamanya bisa menahan kak Zahra bukan hanya diam saja, dibibir kasih izin tapi dihatinya nggak," lanjut Ana menatap keduanya saling bergantian.
"Ibu sih mengizinkan kak Zahra mu pergi, itu kan desa nya sendiri," kat Ibu Ayu.
"Tapi dia sama Rani, kalau kenapa kenapa bagaimana dengan Zahra?" tanya ibu Ani sambil berteriak.
Kalau tidak ada Ana mungkin ibu Ani telah menampar muka ibu Ayu dengan keras sekali. Tapi kerena ada Ana maka ia hanya diam saja.
__ADS_1
"Mau sama siapa saja juga seharusnya kalau diizinkan izinkan.kalau nggak ya nggak jangan bikin orang bigung!" terima ibu ayu ketus.
"Kamu hanya bikin aku emosi saja!" terik ibu Ani menatap wajah ibu Ayu dengan sinis nya.
"Gara gara kamu sih semuanya!" lanjut ibu Ani.
"Menurut Anda apa saya salah, salah saya dari mana?"
Ana hanya diam saja tidak ikut campur yang terpenting keduanya tidak saling baku hantam atau menyakiti satu sama lainnya. Ana hanya melihat keduanya aja yang saling berantem mulut.
"Kalian nggak capai ya tiap ketemu kaya Tom and Jerry saja." gerutu Ana.
"Kalau Tom and Jerry lucu tapi kalian nggak ada lucu lucunya," lanjut Ana gemas.
"Ibumu!"
"Ibumu yang salah seharusnya jangan mengizinkan Zahra pergi!
"Oh! Anda menyalahkan saya, seharusnya anda larang anak anda bukan cuma menyalahkan saya!"
"Sudah! Coba kalian diam jangan bertengkar terus, kak zahra nya sudah sampai mungkin di desa itu!" terima Ana berusaha melerai kedua wanita itu.
Kata kata Ana memang benar, Zahra sudah sampai di desa yang dituju. Sebuah desa dimana Rani hanya termenung sejenak kerena ia tidak menduga kalau Zahra mengajaknya ke desa itu.
Zahra membawa wanita itu ke rumah uwa Iyan, tapi kedua pasangan suami istri itu malah tidak ada di rumah, kerena pintu depan tertutup.
"Iya ma, mama pasti tahu tempat ini ya kan, Kerena tempat ini tempat kita berdua." kata Zahra.
Zahra keluar dari mobil dan membuka pintu mobil yang satunya, terlihat dari wajah wanita itu ras malas saat ia harus turun dari mobil itu.
"Ra, lebih baik kita pulang saja," pinta wanita itu menatap waja Zahra.
"Ma, buat apa pulang? Kita baru saja sampai." selidik Zahra.
Gadis itu meraih tangan wanita itu sambil menarik lembut tangan wanita itu untuk turun dari mobil, melihat kelembutan hati Zahra akhirnya ia turun juga.
"Ini rumah siapa?"
"Ini rumah uwa Iyan dan mbok Inem, jangan jangan mama kenal sama mereka?" tanya Zahra mengajak wanita itu untuk duduk di amben.
"Ra, kita pulang saja yuk! Mama ingin istirahat di kamar mama," kata wanita itu menarik tangan Zahra untuk masuk ke mobil.
"Ma, nanti kita ke uwa Iyan dsn mbok inem, Rara pengen bicara dengan mereka dulu." bujuk Zahra.
__ADS_1
Wanita itu hanya mengelangkan kepala saja, melihat ada kegelisahan yang terpancar Zahra merasa ada sesuatu yang pernah terjadi pada wanita itu.
"Ma, ada apa sebenarnya, kenapa mama seperti ini?" tanya Zahra membimbing wanita itu untuk di atas amben.
Mau tidak.maunwwnita itu akhirnya duduk disamping Zahra, tangan mereka saling penganan satu sama lainnya.
"Nggak ada apa kok! mama cuma nggak mau ke tempat ini saja," lirih wanita itu.
Keduanya duduk saling berhadapan, Zahra tidak tahu uwa Iyan dsn mbok inem perginya kemana..
"Ran, ceritakan apa sebenarnya yang terjadi lada diri kamu, ceritakan dengan jujur!" suara uwa Iyan terdengar dengan nyaring sekali..
Wanita itu terkejut seketika saat mendengar nama kecilnya di panggil oleh seseorang yang kenal dengan dirinya sendiri.
"Kamu?" tanya Rani menatap uwa Iyan dengan tajam.
"Rani, kamu masih mengenal Akau?" tanya uwa Iyan..
Wanita yang dipanggil Rani melengos sat laki laki yang ada dihadpannya menyebut nama dirinya secara detil.
"Sebenarnya untuk apa kamu mengajak aku datang kesini?" tanya wanita itu lada uwa Iyan.
"Aku hanya ingin ketemu dengan kamu, sudah lama ya kita nggak pernah bertemu,"
Zahra langsung meninggalkan keduanya yang berada di depan sambil duduk di amben. Ya biarpun ia merasa bersalah juga telah mengajak wanita itu ke desa itu.
"Mbok apa sih yang terjadi pada wanita itu? Kenapa uwa Iyan menyuruh Zahra untuk mengajaknya?" tanya Zahra pada mbok inem yang berada di teras belakang.
Sebenarnya Zahra hanya ingin menguping pembicaraan uwa Iyan dengan wanita itu, tapi rencana mengintip gagal oleh Rey dan Dio yang mengajak Zahra ke belakang.
"Jangan menguping pembicaraan nggak baik," kata Rey sok baik.
"Alah kamu juga sering kan?" sewot Zahra.
Akhirnya mereka duduk di teras belakang sambil memandang tumbuhan yang begitu rimbun dan asri. Apa lagi udara desa itu sejuk sekali.
Zahra tidak mengubris apanyang dikatakan oleh Rey, ia langsung mendekati mbok inem yang sedang merebus singkong.
"Narti juga kamu bakal tahu apa yang terjadi." kata mbok inem.
"Kenapa mbok nggak cerita sama Zahra?"
"Nggak mungkin percaya," kilah nya sambil mengamati panci yang telah Mateng isinya.
__ADS_1
"Zahra bakal percaya apanyang mbok katakan." kata Zahra agak memaksa mbok Inem.
Mbok inem hanya diam saja, tapi tanganya dengan lincah memindahkan rebusan singkong lada tempatnya, sedangkan Zahra masih penasaran pada rencana dari uwa Iyan.*