TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 146


__ADS_3

PLAK! 


Ayu tidak segan segan melayangkan tangannya kearah pipi Rani. Beberapa kali ia menampar muka Rani, sampai Rani yang tidak menyangka hanya meringis kesakitan ia tidak menduga seumur hidupnya mendapatkan tamparan dari tangan Ayu. 


"Ran kenapa kamu lakukan ini? Kenapa? Apa kerena kamu nggak mendapatkan restu dari ibu sampai kamu lakukan ini? " Tanya Ayu beringas. 


Ya ia menyangka kalau Rani membunuh Hamdi. Kerena tidak dapat restu dari keluarga Hamdi untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. 


Ya hari itu juga Rani dibawa ke bale desa untuk diintrogasi oleh perangkat desa atas ketahuan sedang ada kuburan Hamdi terlihat oleh Ana. 


Ada warga yang memanggil ibu Ayu kerena wanita itu ingin bertemu dengan Ayu. Akhirnya oleh salah satu warga ibu Ani di panggil, awalnya wanita itu heran kenala dirinya dipanggil ke bale desa.. 


Orang yang memanggilnya menerangkan kalau nada seorang wanita ingin bertemu dengan ibu Ayu. Setelah mendengar nama wanita itu, ibu Ayu twrkwjut kerena Rani wanita itu iangin bertemu dengannya. 


Di jalan orang yang menjemput ibu Ayu menjelaskan kalau wanita itu tadi berada di kuburan Hamdi. 


"Apa? " 


Ibu Ayu twekwnut sekali mendengar kalau Rani berada di. Kuburan suaminya. 


"Ditemukan sama Ana ia sedang menangis dan bicara kata anak juga, " Adanya. 


"Dia mau ngapain ke kuburan kang Hamdi? " Tanya Ibu ayu kaget. 


"Entah! Aku juga nggak tahu masalahnya Ana yang tahu itu. " Kata orang yang menjemput ibu Ayu. 


Setelah sampai ke bale desa, sudah banyak warga yang ingin tahu masalah wanita itu dengan ibu Ayu. Disana juga ada Ana tapi gadis itu hanya duduk saja tidak melakukan apa apa, ibu Ayu masuk ke ruangan bale desa. 


"Pak, bolehlah saya bicara beberapa kata dwngan wanita itu? " Tanya ibun Ayu meminta izin pada kepala desa. 


Pak Arya sebagai kepala desa X hanya mengangguk dan mengizkkan ibu Ayu untuk menemui  wanita itu. 


"Silahkan! Lebih baik ibu dan dirinya bicara baik baik ya jangan ada keributan, " Kata pak Arya mengizinkan ibu Ayu untuk bicara. 


Pak Arya juga sebenarnya merasa heran atas tindakan yang dilakukan oleh wanita itu, dan ia baru melihat wanita itu di desa itu! 


"Pak, saya ingin bicara di ruangan itu bagaiamana? " Tanya ibu Ayu sopan meminta izin pada pak Arya. 


"Oh, boleh boleh silahkan! " Kata pak Arya. 


Keduanya saling menatap satu sama lainnya. Akhirnya Rani ngangguk dan beranjak dari tempat duduk menuju ruangan yang ada disana. 


Ruangan itu berukuran 3x3², disana ada lemari, 2 kursi dan meja disana. Diatas meja terdapat satu laptop dan alat printer, disisi meja ada kertas yang menumpuk. Salah satu meja di biarkan kosong hanya kursi yang ada disana.. 


Ditatapnya wajah Rani dengan tajamnya. ibu Ayu langsung menghampiri Rani dan tanpa wanita itu duga Ayu memukul wajah Rani dengan kerasnya. Sampai wanita itu memegang pipinya yang terasa sakit kerena tamparan tangan Ayu. 


"Ran.jangan dendam itu masa lalu yang kita lalui." Ingat Ayu kemudian. 

__ADS_1


"Yu, kalau memang aku dan kang Darman saudara kenapa ibu nggak jelaskan pada aku dan  malah memisahkan kami. Ibu nggak pernah jujur itu yang aku nggak suka dari ibu."


"Ibu tahu dari mana kalau aku dan kang Darman saudara? Sedangkan ibu hanya tinggal di desa ini? Yu, aku hanya butuh penjelasan saja!"


Rani berteriak histeris saat Ayu menanyakan alasan kenapa Rani harus melakukan itu pada hamdi? 


Ayu tertegun mendengar apa yang wanita katakan dihadapannya. Ia tidak menyangka apa yang diucapkan oleh Rani pada dirinya. 


"Jadi kamu dan kang darman saudara, dari mana? " Ibu Ayu terkejut mendengar apa yang Rani katakan. 


"Ran, kamu kata siapa? Siapa yang bicara ini pada kamu? 


Ibu Ayu seperti nya lupa kalau ada orang yang pernah menceritakan pada dirinya tentang Rani dan Darman. 


" Aku kira kamu tahu! " Dengus Rani agak terkejut. 


PLAK! 


Ibu Ayu dengan kerasnya memukul lengan Rani dengan kerasnya kerena mendengar dengusan Rani. 


"Kamu tahu dari mana kalau kamar saudara kang Darman? " Kejar ibu Ayu penasaran. 


Rani terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ayu sahabatnya. Ya sahabat yang telah ia lukai gara gara sebuah kejadian yang tidak mungkin dilupakan oleh semua orang. 


🦋


Seperti sekarang. Ia duduk di teras rumah memandang dedaunan yang teertiup angin. Sedangkan Ana sedang membantu mbok inem di Kebun memetik daun singkong buat di jual ke pasar. 


Ibu Ayu hanya bisa menghela nafas panjang saat pikiran. Mengingat Zahra, ingat percakapan dirinya dengan Zahra kemarin kemarin sebelum Zahra ke kota lagi. 


"Bu, kalau ayah ada mungkin ayah bakal menemani Anin ya bu, " Kata Zahra selalu menyebutkan namanya Anin buat ibu Ayu. 


Ya gadis itu kalau dengan. Ibu Ayu sering sekali menyebut nama Anin, begitu juga dengan Ani. Kadang ibu Ani yang mendengar zahra menyebut nama Anin hanya menghela nafas panjang. 


"Aku kangen ayah! " Lanjut Zahra sendu. 


"Kalau kamu kangen ayah doakan ayah ya, supaya ayah tenang disana, " 


"Kenpa ayah harus meninggalkan Anin, bu?" Tanya Zahra getir. 


"Bu sejujurnya Anin. Seperti mimpi. Kalau ayah meninggal, nggak percaya begitu saja ya biarpun  ayah meninggal di depan Anin. Tapi Anin masih menggap masih hidup. " 


Lanjut Zahra lirih tapi masih teedengar dengan jelas oleh ibu Ayu sendiri. 


"Kematian itu ibarat matahari. Saat lagi mentari muncul itulah kelahiran, tapi saat mentari redum atau terbenam itumah matahari yang sudah mati. "


"Matahari hanya hidup sehari ibarat ayahmu yang meninggalkan kita. Tapi sinarnya tetap kita rasakan sampai sekarang, " Lanjut ibu Ayu sambil metangkul Zahra. 

__ADS_1


"Apa matahari itu seperti manusia yang hidup dan mati? " Tanya Zahra heran. 


Ia baru tahu kalau matahari bisa hidup dan mati itu dari ibunya sendiri. 


"Iya matahari itu seperti manusia, saat lagi itulah matahari lahir sedangkan saat sore matahari harus meninggal dunia. " Jelas ibu Ayu. 


Zahra hanya tersenyum getir saat mendengarkan apa yang dijelaskan ibu Ayu. 


"Nak, biarpun ayahmu telah meninggal tapi ia bagaikan mentari yang menyinari hatimu. "


Ibu Ayu merangkul tubuh putrinya dengan lembut sekali. 


"Bu, Anin bakal kangen sama ibu kalau misal Anin ikut mama ke kota. " 


"Kamu bisa telpon Ana kok kalau misal kamu kangen sama ibu. " 


"Kangen kebersamaan seperti ini, bu. Mungkin bukan hanya telpon yang Anin kagen tapi kebersamaan kita di disini. " 


"Bu, kenapa  melamun? Hari sudah sore, bu?" Tanya Ana yang tiba tiba datang. 


Ibu Ayu terkejut saat mendengar teguran dari Ana. 


"Ibu ingat Anin. " Kata ibu Ayu. 


"Bu, bagaiamana kalau kita besok ke rumah kak Anin dan bilang kalau tante Rani sudah diamaankan di bale desa. " Kata Ana. 


Gadis itu masih ingat kejadian kemarin waktu ia berkunjung ke kuburan ayahnya, melihat wanita itu menangis si pusara ayahnya dengan raungan. 


"Bu, apa yang ibu bicarakan dengan wanita itu! " Ujar Ana penasaran. 


Ibu Ayu hanya menghela nafas panjang mwndengar apa yang Ana katakan tentang Rani. 


"Ibu heran kok nenek kamu tahu ya kalau uwa darman dengan tante Rani saudara? Terus kenapa nenek tahu kalau mereka saudara? " 


"Tante tanya itu? " Kejar Ana. 


"Iya, itu yang di katakan oleh tante Rani pada ibu. " 


"Apa tante Rani juga mencari tahu keluarganya ya bu? " 


Ibu Ayu mengangguk dengan pelannya. Ia nyakin sih pasti Rani bakal mencari tahu keluarganya, apalagi orang tua sendiri. 


"Kasihan? Kalau dipikir pikir tante Rani butuh kasih sayang otang tuanya?"


"Ana curiga kalau sebenarnya tante Rani juga dibuang sama orang tuanya termasuk uwa darman saja. Kecuali tante Ani. " 


Ana masih pemasaran kenapa sampai dia anak yang harusnya di tinggal akan begitu saja oleh orang tuanya, ia hanya menggeleng kan kepala kalau memang benar kedua anaknya dibuang begitu saja.*

__ADS_1


__ADS_2