
Siang itu!
Di sebuah pekuburan di desa itu! Seorang wanita dengan diam diam menyusuri jalan yang penuh dengan ilalang. Ya biarpun tahun telah berubah tapi wajah desa itu masih alami dan segar sekali.
Ketika sampai. Kesalah satu kuburan yang telah kusam kerena telah lama. Wanita itu langsung menjatuhkan diri di batu nisan yang tertera nama Hamdi.
"Di, maafkan aku Di, aku nggak pernah menyuruh kakang mu membunuhmu. Aku nggak mungkin tega menyakiti kamu, " Tangisan wanita itu.
Ya baru kali ini ia ke kuburan dan menangis di hadiah kuburan, ada sesal di dirinya yang tidak tahu masalah yang di hadapan kang Darman.
Ia masih ingat ketika kang Darman melarang dirinya mwnculik Anin. Tapi kang Darman lah yang memisahkan Anin dengan ayahnya. Wanita itu meraung sejadi jadinya di pwkubutan itu!
"Aku.menyesal telah melakukannya, kakang mu. Hanya ingin kamu tutup mulut atas kematian kang Rohman demi mwmbela aku, kang Darman Di."
"Kalau semuanya nggak seperti ini mungkin akun dan kamu bisa berkumpul kembali seperti biasanya."
"Maafkan aku kang. Maafkan aku kang baru berkunjung ke tempat istirahatmu. "
Ia masih ingat pada waktu Hamdi ditemukan menjadi mayat, semua desa gempar seketika juga, ia yang mendengar langsung mengintrogasi Darman dan pengakuan Darman membuat dirinya tidak berkutik.
Hamdi meninggal. Setelah menenangkan diri, ia langsung kesana kemari TKP tapi tidak memperlihatkan dirinya di semua orang, ia hanya melihat dari kejauhan saja.
Hamdi mwninggal ia tidak pernah mendatangi kuburannya sampai sekarang. Dan baru ini, setelah 20 tahun yang lalu ia bisa melihat kuburan Hamdi.
"Di, maafkan aku ya, kerena aku keluarga kamu seperti ini. Mungkin kalau aku nggak memaksa kakang mu untuk melakukan menjual kebun itu mungkin peristiwa itu nggak terjadi! "
Wanita itu masih menyesal air kelakukannya di atas kuburan Hamdi, ya mungkin kalau waktu bisa si putar mungkin ia bakal memutar kembali supaya ia bisa melakukan apapaun tanpa harus menurut orang
"Kenapa ya aku nggak laporkan si rohman itu ke polisi?"
"Kalau aku laporkan rohman ke polisi mungkin kejadian ini nggak bakal terjadi!"
Kata Wanita itu sambil meninju tanah kuburan Hamdi beberapa kali.
Ia masih ingat waktu bersetegang dengan Darman ia yang salah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Darman padanya.
"Kang! Aku. Nggak mau ya polisi ikut cour urusan kita!" Teriak Rani pada Darman.
"Ran, bagaimanapun juga pak Rohman yang mengambil jang kita, masa uang hilang tahan hilang! " Sembur Darman.
"Kang! Coba kalau misal kita lapor polisi itu sama saja melaporkan kita ke polisi. Apa bedanya coba? " Kata Rani kekeh.
"Maksudnya apa sih aku belum mengerti! "
"Nih gini! Ini kan Hamdi, kita yang merampaa surat dan akte tanahnya dari Hamdi. Lalu kita jual ke pak Rohman tapi uangnya belum. Kita terima. Terus kalau kita lapor polisi itu sama saja bohong! Kita bakalan masuk penjara." Jelas Rani.
Darman akhirnya mengangguk annggukan kepalanya saat mendengar penjelasan dari Rani. Ia. Membenarkan penjelasan Rani pada dirinya.
__ADS_1
"Terserah kamu saja taoi akun sudah bilang ya kalau ada kesalahan jangan salahkan aku." Tegur Darman menyerah.
"Hamdi, yang aku inginkan adalah tanah yang sekarang milik kakang kamu, tapi tanah itu sampai sekarang miliknya."
"Maafkan aku Hamdi!"
Tangisan wanita itu semakin keras saja. Ia meraung raung di hadapan kuburan Hamdi yang telah usang nisannya.
Tanpa sepengetahuan wanita itu! Ana yang akan berkunjung ke kuburan ayahnya hanya tertegun menatap tubuh seorang wanita yang meraung menangis sambil memeluk nisan Hamdi dengan erat sekali.
Dari mulutnya terdengar tangisan yang menyayat hati, Ana hanya tertegun menatap adegan itu!
"Tante! " Bisiknya.
"Kenapa kesini lagi? Apa dia ingin menyerahkan diri pada polisi? "
"Apa aku beritahu saja uwa iyan supaya uwa iyan memberikan pelajaran pada dirinya? "
"Harus sih! "
"Biar kapok juga! Dia yang menyuruh uwa Darman tadinya eh malah ia juga yang menangis? "
Hati Ana bertanya dan berkecamuk melihat wanita itu yang sedang berada di atas kuburan ayahnya.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang terlontar di hatinya tapi ia pendam saja.
"Tante! Kenapa tante ada disini? " Teriak Ana dengan kerasnya mengagetkan wanita itu yang sedang bekerasnya
Wanita itu lanhsung berdiri dan melarikan ditinya, tapi Ana dengan cepat langsung meraih tangan wanita itu dengan cepat.
"Lepaskan! " Teriaknya dengan ketas.
Ia berusaha untuk melepaskan tangan dari cengkraman Ana, tapi gadis itu berusaha untuk tidak melepaskan tangan wanita itu biarpun berontak sekuat tenaga.
"Nggk! Aku. Nggak akan. Pernah melepaskan kamu lagi! Lebih baik kamu menyerahkan pada polisi! " Teriak Ana.
"Lepaskan! Aku. Nggak mau! Kamu lebih baik dengarkan alasan yang aku akan sampaikan pada kamu, " Tolak wanita itu.
Tapi gadis itu kekeh menyered tubuh wanita itu menuju pedesaan! Wanita itu berusaha melepaskan genggamaman tanganya datin tangan Ana, tapi gadis itu berusaha untuk tidak melepaskan genggamaman tanganya datin tangan wanita itu.
"Tolong! Tolong! "
Ana berusaha berteriak minta tolong! Suara Ana yang keras memecah keheningan siang hari! Suara Ana terdengar ke pelosok. Kampung itu, beberapa warga yang mendengar seseorang yang berteriak langsung menghampiri tempat dimana Ana berada.
Wanita itu! Meronta ronta saat mendengar suara Ana yang melingking keras memecah keheningan siang hari yang panas.
Melihat wanita itu meringankan ronta, Ana tidak. Menghentikan teriakannya malah ia berteriak sejadi jadinya.
__ADS_1
"Aduh! " Teriak Ana dengan keras saat kaki nya diinjak begitu keras oleh wanita itu. Pegangan tangan Ana terlepas.
Tanpa menunggu waktu lagi! Wanita itu kabur. Ana yang melihat wanita itu kabur ia langsung mengejarnya Ana tidak ingin kehilangan jejak wanuta itu!
Warga yang melihat Ana mengejar seseorang akhirnya membantu Ana untuk menangkap wanita itu.
"Lepaskan! "
Teriak wanita itu dengan kasarnya. Ia berontak seketika juga saat seseorang menerjang tubuhnya saat berlari. Wanita itu terjatuh dari larinya.
"Na, nih! " Teriak seseorang yang telah berhasil menangkap wanita itu!
"Lepaskan! " Teriak wanita itu menghentakan tanganya berusaha untuk melepaskan nya dari genggaman laki laki itu tapi nihil, ganggamannya sangat kuat sekali.
Plak!
Plak!
Ana dengan emosinya langsung menampar muka wanita itu dengan kerasnya.
"Sakit tahu! " Teriaknya marah.
"Sakit mana? Keluarga aku yang harus kehilangan orang yang dicintai atau kamu yang kena tampar! Sembur Ana marah.
Bukan mengalah Ana malah melawan wanita itu dengan kasarnya, memandang wanita itu sampai wanita itu terpekik kesakitan. Wanita itu spontan jongkok untuk mengusap kakinya yang sakit akibat di tendang oleh kaki Ana dengan kerasnya.
"Na sebenarnya apa yang dilakukan wanita ini pada kelaurga kamu? " Tanya orang itu menatap wajah Ana.
"Dia yang telah membunuh ayah saya! " Teriak Ana pedas.
"Bohong! " Teriak wanita itu menatap Ana tidak suka.
Plak!
Awh!
Wanita itu menjerit seketika juga ketika tubuhnya terantuk batu yang tidak jauh dari dirinya. Ana menampar wanita itu, dan mendorong tubuhnya.
"Dia yang melakukannya, kalau aku bohongin aku siap dihukum! " Teriak Ana lantang. .
Wanita itu meringis, kerena tanganya terluka akibat terkena batu yang runcing.
"Oh! Jadi ia yang melakukannya? "
Teriak laki laki berusia 80 tahun yang melihat kejadian kejar kejatan antara Ana dan wanita itu! Sedangkan laki laki yang mengejar wanita itu hanya diam saja kerana ia juga tidak tahu masalah yang terjadi antara ayahnya Ayu dan wanita yang dikejarnya.
Pria 80 tahun itu langsung mendekati wanita itu ia dengan ganasnya menarik baju wanita itu dengan sekali tarikan wanita itu langsung terangkat ke atas.
__ADS_1
"Kamu harus dibawa ke bale desa untuk. Mempertangungjawabkan semuanya! " Teriak pak Awang sambil menarik wanita itu ke desa.
"Nggak aku nggak mau! Lepaskan aku.! Lepaskan aku! " Berontak wanita itu berusaha untuk melepaskan tarikan baju dari laki laki itu dengan sekuat tenaga laki laki itu memgenggam baju wanita itu dengan. Kuat sekali.*