TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 38


__ADS_3

POV Anin


Aku Seperi mimpi bisa selamat dari tragedi yang hampir saja merenggut nyawaku, Untung waktu itu aku langsung kabur dalam acara pembunuhan yang dilakukan oleh dua pria yang wajahnya samar samar dalam ingatanku.


Ya dua orang yang selalu aku ingat nama nya dalam hatiku, yang telah menghancurkan kehidupanku bersama ibu. Aku harus terpisah oleh dua laki laki yang tidak pernah mempertangungjawabkan keadaan yang pernah mereka perbuat dalam keluargaku.


"Anin,"


"Papa," senyumku pada pria yang kini menjadi papa aku.


Baru kali ini papa menyebut nama asliku, aku senang sekali mendengarnya ya kerena memang namaku itu, nama pemberian ibu saat aku dilahirkan.


"Terimakasih pa, pak telah menyebut nama itu!" ujar ku riang.


"Iya sayang, papa akan lakukan itu pada kamu," kata papa tersenyum.


"Pa, mumpung papa disini, Anin minta anatar yuk ke kuburan ayah." pintaku pada papa.


"Oke! papa akan antar kamu ke tempat dimana ayahmu beristirahat." kata papa sambil mengelus tanganku lembut.


Ya biarpun papa bukan papa asli ku tapi pria itu seperti menyanyangi ku. Aku bahagia sekali jadi anak papa yang sellau perhatian dan memberikan cintanya padaku.


'Papa sayang kamu, Nin. Kalau Zahra ada di sini mungkin usianya sebesar kamu." bisik papa merangkul bahuku.


"Pa, bukannya Anin iri sama Zahra yang selalu ada dalam ucapan papa, tapi Anin pengen mengingatkan kalau Zahra sudah tenang," ingatkan aku pada papa.


"Mamamu nggak bisa menerima kalau Zahra telah tenang di alam sana Nin," keluh papa padaku.


"Sudahlah,"


"Papa malah bangga melihat ibu mu yang begitu ikhlas menerima takdirnya, kehilangan suami dan kamu." ujar papa menatap wajahku.


"Pak setiap wanita berbeda," sanggah aku lada papa.


"Ya seperti Anin dan Ana saja pa," lanjut aku.

__ADS_1


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, Anin pengen ke pemakaman ayah," kata Anin memotong perkataan papanya.


Aku lihat papa sepertinya ingin bicara tapi aku langsung mengajaknya. Akhirnya papa mengikuti aku ke pemakaman, kami berjalan beriringan. Kebiasaan yang aku lakukan dengan papa, kami kalau berjalan tangannya saling berpegangan satu sama.lainnya.


Ya mungkin di luaran sana, yang melihat aku dan papa berjalan bagaikan anak dan papa kandung saja, kami sebenarnya punya cerita yang sama tapi berbeda tipis saja.


Aku harus berpisah sementara dengan ibu, dan Ana sedangkan papa harus mengikhlaskan Zahra pergi selamanya. Hanya mama yang belum bisa menerima kepergian Zahra, sampai nama Zahra harus digunakan oleh aku sendiri. Aku tidak bisa menolak. Keputusan mama didukung oleh papa, aku semakin terpuruk. Untung nama kami belakangnya sama, jadi tidak masalah nama belakangnya tetap namaku sendiri.


Sesampai di pekuburan, aku memberikan salam. Setalah memberikan salam, kami berdoa di kuburan ayah, dan aku berharap kalau ayah bisa tenang disana dsn bisa bertemu dengan Zahra.


"Papa iri sama ayahmu," bisik papa saat kami kembali lagi ke rumah.


"Kenapa harus iri pa, papa punya segalanya." ujarku tersenyum.


"Iri kerena ayahmu punya kamu dan Ana, anak anak yang baik," ucap papa sendu..


"Pa, jangan bilang begitu, Anin juga anak papa kok!"


"Ya anak papa, tapi papa takut kamu bakal kembali lagi pada ibumu dan adikmu,Nin itu yang papa dan mama takutkan," ungkap papa.


Aku terharu mendengar apa yang diucapkan papanya, aku langsung memeluk tubuh papa nya dengan lembut sekali.


Hatiku remuk rasanya, mendengar apa yang papa katakan padaku. Apa aku harus mengubur kerinduanku pada ibu, membiarkan ibu menantikan aku? Dalam bayang bayang yang tidak pasti?


Aku benar benar harus memilih yang mana sekarang? Ibu atau mama? Kadang aku menyesal kenapa harus Zahra pergi dalam kehidupan papa dsn mama, kenapa bukan aku saja yang meninggal?


Tapi kalau aku yang meninggal.mungkin aku tidak bisa mengungkapkan fakta meninggalnya ayah. Dsn Tuhan telah memberikan kesempatan pada ku untuk melakukan itu, Kaskus.midal Zahra masih hidup kemungkina Zahra tidak akan bisa mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh uwa Darman dan pak Tio. Itu pasti.


🦋


"Aku iri sama kakak!" ujar Ana.


"Iri? Maksudmu?" tanya Zahra.


"Aku kemarin lihat kakak dengan akrabnya memeluk ayah kakak," kata Ana.

__ADS_1


Zahra langsung menatap wajah Ana, ia tidak menyangka kalau saat ia memeluk papanya ada yang melihatnya.


"Kamu melihatnya?''


"Iya kak, aku iri sekali melihat kakak memeluk tubuh ayah kakak." sendu Ana menunduk.


Kemarin waktu Ana ke kebun mau memetik daun singkong, ia tidak sengaja melihat dari kejauhan Zahra memeluk tubuh pak Bram dengan lembut dan.pak Bram juga membalas pelukan Zahra.


Waktu itu Ana meneteskan cairan bening di pipinya, tiba tiba melihat itu ia rindu pada ayah yang telah lama meninggal, sejujurnya Ana sampai sekarang belum pernah merasakan kasih sayang ayahnya.


"Aku nggak pernah bisa kak, merasakan kasih sayang ayah. Kakak beruntung sekali punya ayah seperti itu!"


Zahra hanya diam saja, ia kelu sekali mendengar apa yang di ucapkan oleh Ana. Ia mengambil tangan Ana dalam genggaman nya.


"Doakan ayah dek. Saat kamu rindu sama ayah kamu harus mendoakan ayah, berarti ayah juga rindu sama kamu dek." kata Zahra menghibur Ana.


"Kak, aku hanya ingin dipeluk ayah!" tiba tiba Ana menangis.


Zahra langsung memeluk tubuh Ana lembut. Hati Zahra terasa teriris melihat Ana menangis dalam pelukannya, ia bisa merasakan apanyang Ana rasakan kerena ia juga bagian dari Ana sebenarnya.


"Na, ayah sudah tenang disana, kamu harus kuat seperti ibu." nasehat Zahra.


Kata kata itu bukan hanya untuk Ana sih sebenarnya, tapi untuk dirinya juga. Kemarin kemarin ia juga merasakan apa yang dirasakan Ana biarpun disampingnya ada papa, ya biarpun papa dan mama ada di hadapannya tapi ia masih tetap merindukan kasih sayang ibu. Ibu yang selalu ada dalam hatinya.


"Kalau saja kak Anin ada mungkin aku nggak sendirian mengingat semuanya kerinduan pada ayah." isak Ana.


'De, kamu bertahan ya demi kita semuanya, kakak sayang kamu sayang ibu, masing beruntung kamu dek bisa.beepwlikan dengan ibu sedangkan kakak," jerit hati Zahra..


Ia mempererat kan pelukannya pada Ana, seperti memberikan kekuatan pada Ana. Sebenarnya bukan ia yang meberikan kekuatan buat Ana, tapi Ana lah yang membuat ia kuat dan bersemangat.


Tanpa disadari oleh kedua gadis itu, ibu Ayu yang akan berkunjung pada Zahra hanya bisa mematung dalam diamnya ia melihat adegan dan percakapan antara ana dan Zahra..


'Na, maafkan ibu. Ibu salah nggak pernah mencari kakakmu, bukan ibu melupakan kakak kamu, tapi ibu hanya ingin fokus pada kamu saja. Maafkan ibu sayang, kita sama sama cari kakakmu ya,' bisik wanita itu..


Ibu Ayu langsung mengusut cairan yang hampir jatuh ke pipinya, tapi hatinya merasa senang saat melihat Zahra memeluk tubuh Ana, ia seperti melihat Anin memeluk tubuh adiknya.

__ADS_1


'Ya Tuhan, jangan pisahkan kami dengan nak Zahra. Nak Zahra telah aku anggap anakku ya Tuhan. Jangan pisahkan kami,'bisik hati ibu Ayu.


Iantidak bisa membayangkan kalau misal Zahra kembali ke kita lagi, ia tidak sanggup kehilangan Zahra.*


__ADS_2