
Plak!
"Mama!" teriak Zahra menjerit.
Wanita itu dengan ganasnya memukul beberapa laki wajah Zahra dengan kerasnya. Kerena wanita itu mendapat laporan dari Narti kalau Zahra mau kabur!
Mendengar laporan dari Narti wanita itu langsung mendatangi kamar Zahra dengan sekali pukul gadis itu menjerit kesakitan.
"Jangan sekali kali kali kamu kabur dari rumah ini!" terima wanita itu garang.
"Ma, Rara udah lama nggak ke kantor, mama sebenarnya sudah keterlaluan sekali. Hp Rara mam sita, Rara sekarang di dalam saja apa sih untungnya buat mama?" teriK Zahra emosi.
Ya selama beberapa Minggu ia disini, banyak keheranan yang terjadi pada mamanya. Banyak keganjilan yang ia lihat dari wanita itu. Semakin dekat ia dengan wanita itu semakin misterius wanita yang dipanggil olehnya.
"Sudah kantor biarkan, kamu yang penting di rumah saja, suatu waktu kalau kamu menikah kamu jangan kerja biar Rey yang kerja!" sembur Wanita itu melotot.
"Nggak Rara juga pengen kerja kaya mama, kenapa sekarang mama larang Rara kerja! kenapa?" jerit Zahra.
PLAK
Wanita itu melayangkan tangannya dengan cepat ke pipi Zahra. Gadis itu langsung menghindar dari pukulan mamanya, otomatis wanita itu memukul angin kerena saking kerasnya ia memukul Zahra tapi zonk akhirnya tubuh wanita itu terpelanting dan jatuh.
Zahra kaget sekali. Tapi ia hanya menahan tawanya melihat mama tersungkur dan kepalanya kena meja.
"Mama!" teriak Zahra langsung menghampiri wanita itu.
Tapi belum sempat Zahra menolong mama nya, wanita itu mendorong tubuh gadis itu dengan kuat sampai Zahra terjengkang keras, kepalanya terbentur ke lantai.
PLAK
BUG
Melihat gadis yang ada dihadpannya terjengkang, Wanita itu langsung menghampiri Zahra dan menduduki perut Zahra. Sampai wanita itu berontak kesana kemari, tapi wanita itu dengan keras langsung memukul wajah Zahra dengan kerasnya.
"Ma sakit!"
"Sakit!"
Runtuh Zahra, tapi wanita itu tidak pernah mengubrisnya. Ia beberapa kali memukul wajah dan bahu Zahra dengan keras sekali, sampai Zahra merintih kesakitan apalagi ditambah lagi perutnya juga diduduki oleh wanita itu.
"Jangan sekali kali melawan mama kalau kamu ingin selamat dari mama," sembur wanita itu langsung beranjak dari perut Zahra.
"Argh!" rintih nya.
Setelah wanita itu pergi, Zahra memegang perutnya yang sakit kerena tertekan oleh tubuh wanita itu
Pipinya juga terasa sakit sekali.
"Kamu istirahat lebih baik di kamar," kata wanita itu balik lagi ke ruangan itu.
__ADS_1
Zahra diam saja..
"Kamu jangan sekali kali.kabir," ulang wanita itu.
'Semua gara gara Narti!" Dengus Zahra dalam hati.
Zahra langsung ke kamar dan duduk di kasur sambil menyandarkan pungungnya ke dinding, sambil tanganya mengelus beberapa kali perutnya.
"Sakit?" tanya wanita itu menghampiri Zahra.
Zahra diam. Hatinya terluka..
"Jawab!' terima mamanya dengan garang kerena melihat Zahra diam..
"Kenapa harus tanya ma, mama sudah melihat sendiri kalau Rara sakit tapi mama bertanya Seperi nggak ada apa apa nya!" ketus Zahra.
"Sudah lah, kamu sekarang minum obat, jangan sampai sakit!" ujarnya lembut sambil meninggalkan Zahra.
Gadis itu hanya mendengus mendengar apa yang diucapkan mamanya, setelah wanita itu meninggalkan kamar Zahra. Zahra melihat apanyang dibawa oleh mamanya..
Obat dan minumnya. Ia hanya diam dan malah tidur tanpa menyantuh obat itu. Hatinya menangis melihat tingkah laku mama yang menurutnya sangat berubah.
Zahra benar benar tidak berdaya sama sekali menerima serangan demi serangan yang dilakukan oleh Narti. Art yang di beri tugas menjaga Zahra, oleh wanita itu. semakin mengganas saat gadis itu mencoba kabur lewat jendela.
“Kamu dibilangin jangan kabur malah main kabur saja!” teriak Narti garang.
“Ampun!” teriak Zahra.
“Kamu kalau dibilangin menurut, kalau seperti ini kan aku yang bakal disalahkan!”dengus Narti.
“Mama bukan mama aku kan bi?” tanya Zahra menatap Narti.
Ia berusaha mengorek keterangan lada wanita itu, tapi bukan jawaban yang diberikan Narti malah menampar pipinya dengan keras sekali.
Ya selama ini ada satu keanehan yang terjadi, ia ingat kalau mama marah apapun mamanya tidak bakal main tangan, apalagi menyuruh orang lain memukul dirinya.
“Bicara apa kamu, kamu itu anak ibu satu satunya.”
“Tapi kenapa mama harus menyuruh kamu memukul aku, sedangkan aku ingat mama nggak pernah mukul aku.’’ Dengus Zahra menantang.
“Terserah kalau kamu nggak percaya,”
“Memang aku nggak pernah percaya apa yang kamu ucapkan,”
Narti langsung pergi begitu saja. sedangkan Zahra merintih kesakitan, tubuhnya terasa sakit sekali akibat pukulan bertubi tubi.
“Ibu!” rintih nya pilu.
“Bu kenapa aku seperti nggak mengenal mama?”tanya Zahra sambil bangkit dan menuju ke kamar.
__ADS_1
Di kamar ia menatap gambar gambar dirinya waktu kecil,
“Bu, darimana mama tahu ayah?”
Ada kerinduan yang menyusup dihatinya Terbayang wajah mama dan ibu saling bergantian.
Sedangkan Narti langsung menuju ruangan belakang, terlihat wanita itu datang.
“Bu, kayanya non Rara curiga kalau ibu bukannya mama non Rara,”lapor Narti saat wanita itu datang.
“Biarkan saja. Rara mau curiga mau nggak yang penting jangan sampe ia lolos!”
“Kalau sampai lolos, aku bakal perhitungan dengan kamu!” lanjut wanita itu mengancam.
“Baik bu, apa yang diperintahkan oleh ibu saya siap menjalankannya,”
“Bagus! Kalau sampai dia kabur beri dia pelajaran!” kata wanita itu.
“Tadi juga mau kabur, aku langsung menyiksa dia.” Lapor narti.
“Bagus, asal jangan mati saja anak itu,”
Wanita itu malah bicara seperti itu pada art nya, Narti tersenyum puas sekali mendengar jawaban dari majikannya.
“Kamu bereskan halaman belakang,” perintah wanita itu.
Narti hanya mengangguk. Sedangkan wanita itu langsung menuju kamar Zahra.
Zahra berangsur dari tempat duduknya saat mamanya datang menghampirinya.
“Ma, apa maksud ini semuanya?”tanya Zahra takut takut.
“apa yang kamu ingin katakan? Katakan saja?” wanita itu langsung bicara pada Zahra.
“Rara serasa nggak kenal dengan mama, mama yang lembut menjadi jahat seperti ini, kenapa mama lakukan ini pada Rara. Apa salah Rara kenal dengan dengan ibu?" tanya Zahra menatap wajah mamanya.
“Mama lakukan kerena mama sayang sama kamu,"
“Sayang? Lalu kalau memang mama sayang, sayang sama aku kenapa mama menyuruh Narti menyiksa Rara?”
“Habis kamu mau kabur, mama nggak suka sama anak yang suka kabur!”
“Rara kabur kerena mama terlalu mengekang Rara, Rara ingin pergi ke kantor tapi mamam larang!”
“Rara nyakin itu bukan kerena mama sayang sama Rara tapi obsesi mama yang ingin menguasai Rara,’ sembur Zahra
“Apa yang kamu bilang? Buat apa mama menguasai kamu, kamu anak mama!" Seru wanita itu marah.
“Tapi kenyataannya benarkan seperti itu?”
__ADS_1
PLAK!
Wanita itu geram mendengar kata kata Zahra, tanpa ia duga sama sekali tangannya langsung melayang ke arah pipi Zahra dengan keras sekali, sampai Zahra terpekik kesakitan mendapatkan cap lima jari dari mamanya.