TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 182


__ADS_3

"Keterlaluan Zahra!" geram Rani. 


Wanita itu sudah menduga  kalau Zahra lah yang melaporkan ke polisi! Sebenarnya bukan Zahra. Tapi Vito yang melaporkan atas nama Zahra. Vito tahu kalau pasti mamanya akan melakukan sesuatu pada Ana dan ibunya, sedangkan Rsy sudah mengingat akan Zahra supaya melaporkan polisi tapi hanya menggelengkan kepala. 


"Kenapa? " tanya Rsy. 


"Aku takut terjadi sesuatu pada ibu dan Ana kalau di misal kita lapor polisi. "


"Kamu jangan takut Ra, kita semuanya lagi menginginkan ibu dan Ana selamat! " 


"Kalah mis terjadi sesuatu bagaiaman pada mereka? ""


"Ra, kamu diam saja. Kami juga sayang sama Ana dan ibu, makanya dengan lapor polisi siapa tahu tante Rani dan uwa darman tertangkap. 


"Jangan! Kalau aku katakan Jangan ya jangan," ketus Zahra. 


Rey hanya mendengus mendengar kata kata Zahra. Akhirnya dengan perasaan kesal ia menuruti ala yang Zahra katakan. Tapi tanpa Zahra dan Rey ketahui, malah Vito yang mendatangi kantor polisi dan melaporkan semua tindakan mama dan Darman. 


"Kamu panggil Polisi? " tanya zahra mentapa zahra ketika ia melihat beberapa polisi berusaha datang dan menangkap Rani dan Darman. 


Rey menggelengkan kepala tidak tahu, ia tidak merasa kalau ia yang memanggil polisi. 


Gadis itu waktu polisi menghampiri agak gelagapan tapi untung ia berhasil menguasai dirinya, Rani dan Darman yang lari kesana kemarin bisa menyelamatkan diri dari kejaran polisi dan kini keduanya duduk diantara bebatuan yang ada di sekitar sana. 


"Ini pasti kerjaan Zahra! " gerutu Rani sambil menyepak batu yang ada di depan kakinya. 


Sampai batu yang ukuran sedang terpwntal jauh dan menimpah gundukan babatauan yang ada disana. 


"Pasti, dia kan yang menginginkan kita masuk penjara! " dengus Darman. 


"Aku heran kenapa sih ia bisa tahu kita akan menculik ibunya? " tanya Darman. 

__ADS_1


"Ana yang sempat telpon Zahra! " 


Ya tadi ia melihat kalau Ana menelpon Zahra, awalnya Rani tidak menyadari kalau Ana menelpon Zahra tapi setelah melihat kemunculan Zahra ia langsung menduga tadi Ana menelpon Zahra. 


"Sekarang kita bagaimana? " tanya Rani. 


Ia tidak menyangka kamu ia  dikejar polisi lagi! Kalau saja ia tidak melihat Darman lari mungkin ia sama sekali tidak akan melarikan diri. Kerena spontan melihat Darman kabur otomatis ia juga mengikutinya. Daripada ia harus mendekam di penjara lebih baik ia kabur saja, dan tidak pernah memikirkan resiko yang akan terjadi pada dirinya. 


"Gimana kalau kita kembali merencanakan awal? " tanya Rani. 


"Rencana awal maksudmu? "


"Bukan rencana kita sih tapi rencana aku. " lirih Rani pelan. 


Rank ragu sebenarnya untuk menceritakan rencana yang pernah ia buat dulu, kerena rencana itu di tentang oleh Darman juga. Jadi waktu ia ingin mengatakan Rani ragu sekali untuk bicara lagi, ia hanya diam dan menghembuskan nafas dalam. 


"Iya rencana kamu yang mana? " tanya Darman menatap Rani. 


"Katakan saja! " kata Darman. 


Pria itu melihat kalau Rani seperti nya ragu untuk mengatakan  sesuatu pada dirinya. Tapi hati pria itu menduga kalau rencana wanita itu pasti ingin memiliki Anin. Tapi sekarang sudah terlanjur kerena Anin sudah dewasa dan bisa memilih mana mama dan mana yang bukan. 


"Aku hanya ingin Anin bersama aku kang! Itu rencana awal yang aku katakan pada kamu, " gumam Rani. 


Mendengar itu ia hanya menghela nafas, Darman mendengus kesal saat mendengar Rani mengucapkan apa yang pernah dulu wanita katakan sebenarnya ia masih ingat apa yang dikatakan oleh wanita itu. 


Memang dulu ia tidak setuju waktu Rani  mengambil Anin dari tangan Ayu dan Hamdi, Darman hanya ingin kalau Anin tetap berada diantara kedua orang tuanya saja, tapi Rani lain lagi. Wanita itu seperti keukeuh ingin sekali memiliki Anin selamanya. 


"Kang, memang aku masih mengharapkan  Anin dalam hidupku. Itu karena dalam rahimku ada Vito, aku hanya ingin keduanya saling sayang satu sama lainnya dan aku ingin Anin menyebutkan aku mama. "


"Tapi itu hanya keinginan aku saja, gadis itu malah memanggil Ani dengan sebutan mama!" Jelas Rani getir di hadapan Darman. 

__ADS_1


Darman hanya menghela nafas mendengar lirihan suara  Rani yang begitu getir sekali. Ditatap wanita yang pernah ia cintai dengan tajam, sorot matanya begitu bersinar sekali dan ada sorot kerinduan yang mendalam ke seseorang. 


"Ran, tapi Anin anaknya Ayu dan Hamdi kamu nggak akan bisa memilikinya sampai kapanpun juga," jelas Darman. 


"Tapi Ani? " tanya Rani tajam menatap wajah Darman. 


Suara Rani terdengar sendu dan sedih sekali. Ia tidak menduga kalau yang bisa mengasuh Anin adalah Anin itupun tidak sengaja saat Anin harus kabur dari kejadian malam itu! 


"Kalau saja kamu dulu bisa mengambil Anin dulu sebelum membunuh Hamdi mungkin sekarang Anin bersama aku. " lirih Rani menatap lurus. 


Ia merasakan matanya tersa hangat sekali mengingat keinginan dulu mengambil Anin dari dekapan Ayu tapi gagal. Sebelum Anin diambil bocah itu telah menghilang entah kemana dan tahu tahunya malah menjadi anak angkat Ani dan Bram. 


Rani menjelaskan pada Darman, pria itu hanya diam saja mendengarkan apa yang keluar dari mulut Rani. 


Darman tidak pernah menyangka kalau Rani ingin memiliki Anin sepenuhnya. Ia juga tidak menyangka kalau Anin yang dikira meninggal malah selamat dari dirinya, ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Anin. Yang sekarang namanya kata Rani menjadi Zahra. 


Tapi! 


Darman yang melihat Rani bersedih langsung memeluk tubuh Rani dengan erat nya. Rani yang dipeluk oleh Darman hanya diam saja malah wanita itu menangis dalam pelukan Darman. 


"Menangis lah kalau kamu ingin menangis! " lirih Darman halus.


Rani masih ingat ketika ia meminta Darman untuk mengambil Anin di pangkuan Ayu tapi Darman tidak pernah mengizinkan dirinya. 


"Aku nggak mengizinkan dulu juga aku takut kalau kamu lebih mencintai Anin, dan sekarang juga kamu malah memikirkan Anin?" dengus Darman. 


Rani hanya diam saja. Keduanya duduk di sebuah tebing tinggi, pikiran keduanya berbeda satu sama lainnya. Kalau pikiran Rani hanya tertuju pada Anin. 


"Kalau saja dulu aku bisa mengambil Anin, mungkin sekarang Anin berasa disamping aku bukan disamping Ani! " dengus Rani kesal. 


Kalau sampai dulu ia bisa mengambil Anin dalam hidupnya Ayu mungkin saja Anin sekarang selalu bersama dirinya, belajar dan ia tidak mungkin membuka rahasia ia anak siapa? Tapi kenyataan Ani yang telah memiliki Anin sepenuhnya. 

__ADS_1


Sedangkan pikiran Darman lain lagi, pria itu menyusun rencana untuk menghilangkan nyawa Anin, ia harus membuat Anin meninggal dunia di tangannya supaya tidak ada lagi yang memenjarakan dirinya dan Rani*


__ADS_2