
POV Rani
Aku tidak bisa menerima apa yang Darman lakukan, tiba tiba ia memutuskan untuk menyerahkan diri pada polisi tentang kasus pembunuhan yang terjadi 20 tahun yang lalu.
Apa yang aku takutkan benar benar terjadi sekarang. Dulu aku pernah bicara masalh ini pada Darman tapi pria itu hanya mengelak saja.
"Aku takut kalau kamu malah menyerahkan diri pada polisi, kang? " tanyaku menatap pria yang ada dihadapanku.
"Aku nggak bakal menyerahkan diri Ran, percaya lah pada akang." kata pria itu mwnyakinkan.
"Apa kata-kata kamu bisa aku percaya kang? " tanyaku ragu.
"Kamu nggak percaya sama aku Ran? " tanyanya menatap wajah ku tajam.
Bukan nggak percaya sih! takut kamu berubah! " keluh aku waktu itu.
Brak!
Pria yang ada dihadapanku langsung mengebrak meja yang baca di hadapannya sampai aku terkejutnya mendengarnya.
"Kang! " teriakku.
"Ran, kalau kamu nggak percaya sudahlah!" ujar pria itu meninggalkan aku sendirian membuat hatiku tepuk jidat.
Aku hanya menghela nafas melihat kakang aku itu pergi begitu saja, sejujur aku tidak bisa menerima keputusan yang di ungkapkan pada Ani dan Vito. Mungkin keduanya menyambut keputusan baik Darman tapi buatku itu keputusan yang tergila sangat tidak masuk akal sama sekali.
"Ma, apa yang dikatakan pak Darman benar, seharusnya mama juga menyerahkn diri pada polisi! " cetus Vito padaku.
Aku hanya mendesah mendengar vito masih menyebutkan nama darman dengan sebutan bapak! Sebenarnya aku sudah menegurnya tapi anak itu tidak mendengarkan apa tanganku perintahkan, ia mulai melawan sekarang terhapaku.
Brak!
Aku langsung memukul meja yang ada dihadapanku saat mendengar apa yang Vito katakan. Aku langsung emosi seketika juga, tidak menyangka juga harus Vito yang mengatakan itu padaku.
"Vit! apa yang kamu akan lakukan pada mama?" tanya ku geram seketika juga.
Aku tidak bisa mengendalikan amarah yang memuncak seketika juga mendengar suara panjang Vito yang katakan, seharusnya membuat aku sadar apa yang dikatakan anakku. aku malah menatap benci pada anak yang pernah aku lahirkan, sebenatnya yang aku inginkan Vito mendukung apa yang aku katakan dan aku perbuat tapi nyatanya malah sebaliknya.
"Ma, apa lagi yang mama lakukan? Mama sebarnya sudah buron. Tapi mama masih berkeliaran saja! " Teriak anakku tajam.
__ADS_1
Plak!
Aku tidak menunggu lama lagi, langsung melayangkan tanganku yang terasa gatal mendengar apa yang dikatakan oleh Vito, kulihat Vito tidak bisa menghindar dari tangan yang aku layangkan. Akhirnya tamparan kerasa tepat mengenai pipinya, pemuda yanga ada di hadapanku langsung mengusap pipinya yang terlihat warna merah. Mungkin anakku merasakan sakit yang luar biasa di pipinya.
Tapi anak itu hanya diam saja. Aku sudah benar benar kalap dan tidak bisa menguasai diriku sendiri.
"Ma, sampai kapanpun juga Vito nggak akan pernah bosen apa yang harus Vito lakukan akan Vito lakukan, asal mama mau mempertangungjawabkan semuanya. " kata anak itu dengan tegas.
"Vit! mama nggak mau kalau bicara itu lagi! mama hanya ingin kamu bela bukan mengatakan seperti ini terus sama mama! "
Aku berteriak dengan lantangnya! Sebenarnya yanga ku inginkan kalau Vito membela aku sebagai mamanya tapi nyata anak yang aku lahirkan malah menyerang aku sedemikian rupanya.
"Kenapa, Ma? Kenpa Vito nggak boleh bicara itu lagi dihadapan mama, mama hanya ingin mempertangungjawabkan kesalahan mama di hadapan hukum. Vito ingin mama sadar apa yang mama lakukan itu salah, Ma kalau mama sayang Vito lakukan itu hanya untuk Vito. " kata Vito sambil memegang tanganku lembut.
Tapi aku langsung menepiskan dengan kasar tangan Vito yang menganggam. tanganku, pemuda itu terlihat mengusahakan catatan bening yang mengalir di pipinya aku tidak peduli.
"Vi, kamu bicara seperti kenapa? seharusnya kamu yang bela mama bukan bela merka? " tanyaku menatap wajah anakku.
"Ma, aku bicara seperti ini kerena aku sayang mama. Kita bisa kumpul kembali kalau mama keluar dari penjara, Vito janji bakal menunggu mama. " kata anakku dengan. lembut.
Mataku langsung menatap wajah anak yang aku lahirkan ku lihat wajahnya disana aku menemukan kejujuran dan keinginan dirinya untuk kumpul bareng lagi denganku, tapi hatiku masih belum bisa menerima nya. Apalagi aku harus mendekam di penjara.
Masih untung kalau aku di penjara, umurku sampai keluar di penjara kalau tidak? Itu yang aku takutkan sebenarnya, takut tidak bisa bertemu dengannya, memeluknya, saling bercanda dan saling berbicara beedia.
"Kalau misal mama di penjara tapi mama meninggal di dalam tahanan bagaimana? Kita nggak pernah berkumpul kembali kalau sampai mama meninggal, tapi sekarang kamu dan mama bisa berkumpul asal mama dan kamu pergi dari kota ini, " kataku pada Vito.
"Ma, jangan bujuk Vito untuk membawa mama kabur, jangan ma. Kalau. misal mama meninggal di penjara itu lebih baik dari pada mama harus meninggal tapi masih buron! "
Deg!
Hatinya bergetar dengan hebat mendengar apa yang Vito katakan, aku tidak mwnyangka sam sekali kalau alam yang ia katakan membuat hatiku muak seketika juga.
"Pergi!"
Teriak aku mengusir Vito, aku juga mwndorong bahu Vito dengan kasar sekali. Pemuda yang aku lahirkan seperti tidak ada pilihan lagi, ia meninggalkan aku sendirian.
"Dasar cowok nggak punya hati!"
Hanya dalam hati aku berteriak! Sebenarnya yang aku inginkan saat aku menyuruh Vito pergi, ia nggak pergi begitu saja tapi kenyataannya lain lagi Vito benar benar pergi jauh meninggalkan aku sendirian di sini.
__ADS_1
🦋
Sedangkan di tempat yang jauh Darman garuk garuk kepala saja saat Vito datang kembali ke tempat kediaman dirinya. Hati pria itu tiba tiba berdebar dengan kencang sekali melihat sang pemuda itu datang kembali ke rumah yang ia diami. Vito hanya tersenyum melihat Darman yang menatap dirinya, dengan pandangan heran kerena ia datang kembali.
Vito langsung duduk di samping Darman sedangkan pria itu hanya duduk di tempat semula ketika ada Ani dan Rani. Kedatangan Vito yang tiba tiba membuat hati Darman was was. Ia hanya tersenyum kecut sambil mwmbuang muka kearah lain.
"Aku harus bicara dengan mama. " kata Vito tegas.
Dwt! Hati Darman bergetar kerasa saat pemuda itu bicara kalau ia ingin bertemu dengan mamanya, pria itu nyakin kalau ada sesuatu yang akan dibicarakan pemuda itu dengan Rani mamanya.
"Buat apa kamu bicara dengan mama kamu?" tanya Darman.
Dengan heran Darman langsung menanyakan alasan Vito untuk bicara dengan mamanya, ia hanya ingin tahun saja alasan Vito tapi ia nyakin kalau pemuda itu bakal menanyakan tentang kejadian dulu yang menyudutkan diri Rani..
"Pak, Vito hanya ingin kalau mama sadar apa yang dilakukannya salah. "
Deg! Hati Darman dua kali bergetar dengan kuat sekali, apa yang disangka olehnya benar juga. Pemuda itu mungkin hanya ingin menyampaikan pada Rani sebuah kata kata yang akan di dengan oleh mamanya.
Bukan hanya Vito saja yang ingin Rani berubah tapi dirinya juga ingin wanita itu berubah seperti dulu lagi, tapi Darman tidak terlalu mengharapkan lebih.
"Kamu bakalan gagal menesehati mama kamu,"
Darman mengatakan itu pada Vito, ia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Vito, ia hanya memandang sedih ke arah pemuda itu, kerena ia nyakin kalau Rani bakal menolak kerena ia sudah punya kehidupan yang sekarang.
"Kenapa? "
Vito bertanya dengan nada heran sekali, pemuda itu menatap langsung ke wajah darman hatinya penasaran sampai pria yang ada dihadapannya hanya diam saja.
"Hati dan pikiran sudah dirasuki hawa nafsu, kita hanya bisa berdoa semoga ia insaf pada apa yang ia lakukan.
Dengus Darman memberikan penjelasan yang membuat Vito shock.
"Separah itu kah mama? " tanya Vito.
Darman masih mengingat jelas keinginan Rani, ketika wanita itu menginginkan warisan yang diberikan oleh bapak mertuanya. Ya sih wanita itu menginginkan kalau dirinya menjual tanah itu, tapi ia keukeuh untuk menjaga sampai sekarang warisan itu menjadi miliknya
"Motif apa sih mama melakukan hal yang memalukan, sampai menginginkan warisan yang diberikan pada orang lain? " tanya pemuda itu pada Darman.
Vito mengusik pikiran Darman pemuda itu seperti ingin tahu tentang motif mamanya mwnguasai warisan itu? Tapi pria itu sepertinya tidak mau menceritakan pada Vito.
__ADS_1
"Motif balas dendam pada ibu! Ya itu cuma dugaan bapak saja. "
Vito hanya bisa garuk kepala saja mengingat mama ya seperti itu. Ya pemuda itu tidak pernah menyangka apa yang pernah mamanya lakukan*