
Wanita itu benar benar memukul Zahra dengan tangannya..Hal yang tudkanleenah di lakukan mamanya dulu taoinsekarang dilakukan oleh mama sekarang itu yang diduga oleh Zahra sekarang
“Ma!” teriak Zahra kesakitan.
ia benar benar sekarang berontak, kerena melihat mamanya memperlakukan diri seperti itu.
"Jangan berteriak!" seru wanita itu geram.
“Ma, aku sepertinya nggak pernah mengenal mama. Mama nggak pernah melakukan ini sama Rara, kamu bukan mama Rara! Jerit Zahra.
Gadis itu menatap wanita itu dengan tajamnya.
"Memang kamu nggak pernah mengenal mama kamu Ra, kerena kamu lebih fokus ke ibu kamu dan ayahmu." sembur wanita itu marah.
"Apa salah kalau Rara memilih ibu dibandingkan mama?" tanya Zahra kembali.
Ia melawan wanita itu, selama ini ia tidak pernah melawan wanita itu.
"Mama nggak akan segan segan membunuh kamu!" tekan wanita itu.
"Ma!" Jerit Zahra kaget
"Kenapa? Kamu nggak percaya ap yang mama katakan?" tanya wanita itu sinis..
"Mama nggak punya hati!" ketuanya.
"Apa kamu bilang!" wanita itu marah.
"Mama nggak punya hati, dan perasaan!" seru Zahra kembali mengulang kata katanya.
"Bangsat!"
"Mama yang bangsat nggak punya nurani!" pekik Zahra.
Bug!
Sebuah bantal melayang mengenai tubuh Zahra. Gadis itu hanya diam saja, hanya matanya menatap benci lada wanita yang ada dihadapannya.
"Aku kenal dengan mama, tapi kamu kayanya bukan mama!" lanjut Zahra sinis..
Wanita itu sebenarnya ingin memukul Zahra, tapi gadis itu melawan ketika wanita itu akan memukulnya.
""Jangan sakiti Rara!" terima Zahra menatap wanita itu.
Zahra yang awalnya tidak bakal melawan kerena masih menghormati mamanya, tapi kerja melihat gelagat wanita itu seperti itu akhirnya ia mengambil keputusan.
Ya Zahra mengamuk!
Bantal yang ada di dekatnya di lempar di hadapan mamanya. Wanita itu spontan kaget melihat Zahra mengamuk dan barang barang yang ada di kamar di lempar begitu saja oleh Zahra, wanita itu meninggalkan nya, ia langsung menguci Zahra di kamarnya, Zahra berteriak teriak kerena ia di kurung oleh mamanya.
Brak!
Brak!
__ADS_1
“Ma, buka!
“Ma, buka!
Zahra berteriak sambil memukul pintu kamar supaya mamanya mendengar! Tapi wanita itu tidak mengubris teriakan Zahra dan membiarkan Zahra berteriak terus menerus.
Narti yang melihatnya hanya diam saja, ia mendengarkan pertengakaran antara majikan dan Zahra.
"Kamu jangan biarkan dia lolos."
Narti mengangguk."Bu, kalau boleh tahu kenapa kita harus melakukan itu lada non Rara?" tanya wanita muda itu tahu ragu.
Wanita setengah baya menatap tajam Narti yang melontarkan pertanyaan itu.
"Aku nggak ingin melihat Ani bahagia dengan apa yang ia miliki? Dibandingkan dengan." ujar wanita itu menerawang.
"Punya suami yang setia, anak yang baik, harta yang berlimpah, serta kebahagiaan yang nggak pernah aku dapatkan." lanjut ya.
"Anak anakku mana? Ya biarpun Zahra bukan anak dari Ani, tapi ia sangat sayang lada Ani. Aku iri pada Ani kerana ia mendapatkan apa yang aku nggak dapatkan." Dengus Wanita itu merana.
"Aku ingin Ani menderita! kamu jangan bilang apa apa, kalau sampai Rara tahu berarti dari kamu!" tekan wanita itu menatap tajam ke arah Narti.
Narti sekarang mengerti. Ya selam ia kerja disini tidak ada anak anak dari wanita itu yang datang ke rumah, rumah itu kosong tidak ada penghuni sama sekali hanya dirinya lah yang mengisinya.
"Bu, kenapa Rara sepertinya nggak kenal sama ibu?" tanya Narti.
"Ani juga nggak ketemu denganku kok! Aku nggak pernah diharapakan oleh keluarga!" wanita itu sedih sekali.
"Sabar ya Bu. Narti bakal menemani ibu disini."
Wanita itu langsung pergi begitu saja dari hadapan Narti. ART itu hanya menatap kepergian wanita itu dengan tatapan getir sekali.
"Kasihan ibu! Ibu benar benar kesepian," gumam Narti.
Memang selama ia bekerja di rumah itu, rumah itu sepi sekali. Rumah yang seperti tidak ada kehidupan sama sekali.
Sejak ia bekerja tidak ada satupun anak anak wanita itu datang, dan wanita itu hanya menceritakan tentang gadis yang bernama Rara itu saja.
"Anak anak yang nggak bertangungjawab!" lirih Narti.
Sedangkan di nun jauh.
Ibu Ani hanya bisa mematung. Ada kesepian yang luar biasa dihatinya saat Zahra anak yang ia sayangi pergi begitu saja, tanpa ada kabar sama sekali.
"Bu, jangan seperti ini." bujuk Inah sang Art setianya.
Wanita 30 tahun itu menatap sendu majikannya. Sudah beberapa hari tidak makan dan minum.
"Bu, saya bikin bubur di makan ya, saya suapi ibu ya." kata Inah sambil mengambil bubur dengan ujung sendok dan mendekati ke bibir ibu Ani.
PES! Bruk!
Ibu Ani langsung menipiskan sendok yang di dekati oleh Inah.
__ADS_1
Art itu terkejut kerena majikannya dengan cepat menepiskan sendok yang ia sodorkan.
"Bi, aku nggak butuh makan! Aku butuh Rara!" terima wanita itu kasar.
"Tapi bu, ibu harus jaga kesehatan, insha Allah Rara bakal balik ke rumah ini." kata Inah khawatir lada majikannya.
"Nah! Jangan di paksa kalau nggak mau makan!" terima Ibu Ani.
Wanita itu benar benar melotot saat Inah akan memberikan bubur ke mulutnya. Inah hanya bisa diam dan mematung sedangkan sendok yang dipegangnya hanya melayang.
"Pergi!" teriak wanita itu.
Inah akhirnya pergi ke dapur dan menyimpan mangkuk yang isinya bubur. Ia hanya menghela nafas panjang, ya sejak Zahra tidak pulang kesehatan ibu Ani mulai turun.
Apalagi Rey datang dengan tuduhan tuduhan tanpa bukti dan sekali.
Bukan hanya ibu Ayu yang merasa kehilangan Zahra, Ana dan ibu Ayu juga sangat kehilangan Zahra.
"Ra, kamu kemana? Apa dengan wanita itu!" gumam Ayu.
Wanita itu punya firasat kalau bukan ibu Ani yang melakukannya penyekapan pada Zahra.
"Ran, aku nggak pernah memaafkan kamu kalau sampai terjadi apa apa pada Zahra!" lirih ibu Ayu sendu.
Sebenarnya ia bisa mendatangi rumah itu! Tapi ibu Ayu hanya ingin menyelidiki keberadaan Zahra saja.
"Bu!"
"Aku nggak suka sama ibu Ani, benar benar nggak punya hati!" gerutu Ana sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi dekat ibunya.
"Bukan ibu Ani, ibu Ani hanya sebagai kambing hitam seseorang!" seru ibu Ayu menatap wajah Ana.
"Maksudnya?" Ana balik tanya.
"Rani lah jadi pelakunya." ujar Ibu Ayu jujur..
"Rani? Siapa dia Bu, apa ia sejahat itu?" tanya Ana heran.
"Kerena keadaan yang membuat dirinya seperti itu!" geram Ibu Ayu.
"Aku nggak ngerti maksud ibu."
"Ibu nyakin kaku Rani yang jadi tersangkanya, kerja ia tidak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan jadi ibu Ani yang jadi pelampiasan nya."
"Rani itu siapa?"
Ibu Ayu langsung terdiam ketika Ana menanyakan wanita itu pada dirinya. Ana heran kenapa ibunya mengenal wanita yang bernama Rani.
"Bu, apa kak Anin bakal baik baik saja?" getir Ana.
"Ya kak Anin insha Allah baik baik saja, ia hanya menyekap nya saja hanya untuk menjadi teman saja," ibu Ayu menghibur anaknya.
"Sejahat apakah wanita itu?" tanya Ana.
__ADS_1
Ibu Ayu beranjak dari duduknya dan langsung memeluk putrinya dengan erat sekali, Ana membalas pelukan dari ibunya.*