
Pagi itu!
Udaranya masih terasa segar sekali, Zahra membawa Avanza dengan kecepatan sedang menuju jalan yang dilalui olehnya.
"Ini mau kemana?" tanya Wanita itu heran.
"Tenang saja ma, Rara nggak bohong kok!"
"Tapi kayanya jalan ini pernah mama lalui?" tanya wanita itu tidak berkedip.
Zahra tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu, ia lebih fokus melihat jalan yang dilalui nya. Tapi ia juga waspada terhadap kemungkinan yang terjadi..
"Kamu hati hati, Ra, kamu tahu siapa Rani. Jangan sampai kamu lengah," kata ibu Ayu kemarin.
"Iya Bu, Rara bakal hati hati kok, tenang saja," kata Zahra.
"Pokonya ibu nggak mau kamu menganggap sepele masalah ini, ibu nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya."
Ibu Ayu mengatakan itu sambil menatap wajah anaknya yang pertama..
"Iya Bu, Zahra bakal hati hati kok! Ibu jangan khawatir ya."
"Ibu nggak khawatir kok, hanya mengingatkan saja."
Zahra mengangguk. Bukan hanya ibu Ayu yang memberikan nasehat pada Zahra. Sebenarnya ibu Ani sewaktu Zahra sebelum.ke rumah Rani juga memeluk tubuh Zahra dengan dekapan yang lembut.
"Mama nggak ingin mendengar kamu kenapa kenapa?"
"Mama mungkin nggak akan memaafkan mama sendiri kalau kamu sampai terluka."
"Iya Rara bakal jaga diri Rara ma, mam tenang saja ya jangan khawatirkan Rara.
"Seharusnya mam ikut dengan kamu, jadi kalau ada apa apa mama Yaang bantu kamu,"
"Sudah mama nggak ikut juga nggak apa yang penting doakan Rara ya ma,"
Ibu Ani begitu berat melepaskan kepergian putrinya. Wanita itu hanya bisa menatap wajah suamianya, ia ingin sekali kalau suaminya melarang Zahra..
Tapi pria itu hanya diam saja, ia juga benarnya Berta melepaskan Zahra. Tapi bagaiman pun ini keinginan Zahra sendiri..
"Ra, kok mas kaya nya mengenal jalan ini?" tanya wanita itu di dalam mobil sambil menatap Zahra dengan perasan heran.
"Ra, sebenarnya kamu akan bawa mama kemana?" tanya wanita itu..
"Ma, mama kenal dengan desa xxxx?" tanya Zahra tanpa menatap wajah wanita itu.
"Maksudmu?" tanya wanita itu terkejut..
Ia sangat terkejut saat Zahra menyebut desa itu, desa dimana ia punya satu kenangan yang begitu tidak terlupakan.
"Ma, Rara juga berasal dari desa itu, Rara meninggalakan desa itu sewaktu Rara umur 6 tahun.
__ADS_1
"Rara hilang dari keluarga Rara sendiri, Rara awalnya nggak tahu harus keman tapi untung ada mama yang menemukan Rara." Zahra menceritakan kisahnya.
"Rara kangen desa itu! Desa yang membesarkan Rara, kangen ayah yang selalu menyanyangi Rara." lanjut gadis itu sambil memegang setir mobilnya.
"Kamu mengingatnya ?" tanya wanita itu spontan menanyakan.
"Rara nggak akan bisa lupa ma, kerena memang Rara pernah tinggal disana, bersama ibu dan adik Rara.
Wanita itu masih fokus mendengarkan apa yang Zahra ceritakan pada dirinya. Tiba tiba kelebatan dirinya yang pernah berada di desa itu hadir di pelupuk matanya.
"Ran, ambil! Ran ambil!" teriak Darman waktu itu.
Darman berteriak kencang menyuruh dirinya mengambil perahu yang segaja di hanyut kan oleh Darman.
Rani yang awalnya diam saja langsung berlari turun ke tebing, untuk mengejar perahu yang dihanyutkan oleh pria yang ia sukai.
Untung perahu itu ketangkap oleh Rani, kedua nya langsung tertawa riang. Aliran sungai yang bening membuat duanhari saking mencintai itu bahagia sekali.
"Kamu kelihatan bahagia sekali Ran?" tanya Darman.
"Aku bahagia dekat dengan kamu."
"Aku lebih bahagia lagi."
"Ran, kaku kita menikah nanti kamu ingin apa dariku?" tanya Darman menatap wajah Rani..
"Aku hanya ingin bersama kamu selamanya, punya anak dsn bahagia denganmu,"
Rani yang mendengar kata kata Darman sangat lah bahagia sekali, apalagi untuk mendampingi Darman menjadi istrinya.
"Kamu mengingatkan aku pada seseorang!" ujarnya menghela nafas panjang.
"Apa yang mama ingat?"" tanya Zahra melirik wanita itu.
"Laki laki yang mengajak menikah tapi laki itu. laki itu yang mengkhianati mama," ujar wanita itu sendu.
"Ua Darman?" tanya Zahra hati hati.
Deg!
Hati wanita itu berdetak sangat keras saat mendengar nama Darman diucapkan oleh Zahra.
"Mungkin belum jodoh ma, jadi kalian nggak menikah."
"Sama saja, dia intinya mengkhianati mama, demi wanita lain ditambah lagi orang tuanya juga nggak pernah setu!" sembur wanita itu.
Zahra hanya diam, ia mengerti apa yang diceritakan oleh wanita itu. Ya orang tua yang diceritakan oleh wanita itu adalah kakek dan neneknya Zahra sendiri. Orang tua dari ayahnya, ia juga tidak tahu kenapa orang tua ayah tidak setuju menikahkan anaknya dengan Rani.
"Mama nggak pernah melupakan semua yang dilakukan orang tua Darman, Ran. Mereka terlalu memilih!" Dengus nya kesal.
"Mama tahu kalau orang tua uwa Darman juga adalah orang ua kandung Rara?" Zahra langsung membuka jati dirinya pada wanita itu.
__ADS_1
Bukannya menjawab apanyang dikatakan oleh Zahra, wanita itu hanya diam saja mendengarkan apa yang Zahra katakan.
"Maafkan nenek dan kakek ma, kerena mereka mama nggak pernah bersatu dengan uwa Darman." kata Zahra.
"Ra, mama meras kesal apa yang dilakukan oleh nenek dan kakek kamu. Kenapa harus wanita itu yang jadi istrinya Darman kenapa bukan aku?" tanya wanita itu.
"Ma, mungkin ada hikmah yang diambil oleh kita. Kaskus memang uwa Darman menikah dengan mama, nggak mungkin kan mama bisa ketemu dengan Rara." Zahra mengingatkan wanita itu.
"Semua ada manfaatnya ma, jangan pernah menyesali apa yang terjadi." lanjut Zahra.
Ya Zahra menghela nafas dalam dalam lalu dihembuskan berlahan sekali, Gadis itu masih mengingat apa yang direncanakan oleh uwa Iyan. Awalnya ia terkejut sih! Tapi akhirnya mengikuti juga.
"Ra, kamu harus mengulang cerita kamu waktu kamu meninggalakan desa ini," kata uwa Iyan..
"Kenapa uwa?" tanya Rey dsn Zahra kaget.
"Ikuti perintah uwa."
"Mungkin cerita kalian sama tapi beda jalur dan beda kisah nya saja."
"Ra, apa yang dibicarakan uwa Iyan benar juga sih! Lebih baik kamu coba dulu, bagaiamana reaksi dirinya."
"Apa perlu ya cerita sambil bawa mobil?"
"Ceritakan saja, tapi lebih fokus ke jalan raya apalagi kalau bawa mobil."
"Kalau memang itu baik buat kita kenapa nggak sih!" seru Zahra setuju..
Ya biarpun hatinya masih bertanya tanya alasan dari uwa Iyan untuknya.
"Aku nyakin semuanya akan berjalan lancar!" Gumam Uwa Iyan..
"Maksud uwa?"
"Semoga saja semua nya akan berjalan sesuai rencana kita." ujar uwa Iyan.
"Bukan rencana kita sih tapi rencana uwa Iyan sendiri, masalahnya Zahra nggak tahu rencananya." pungkas Zahra cemberut.
Uwa Iyan dan Rey yang mendengarkan gerutu an Zahra langsung tertawa. Melihat itu Zahra yang ada di samping uwa Iyan langsung memukul lengan uwa Iyan.
"Uwa mu itu hanya bisa main tebak tebakan saja Ra, lebih baik tinggalkan saja kamu kasti kalah." ujar mbok inem sambil menyiapkan singkong bakar dsn air teh manis.
"Seharusnya kang, kalau mau ada rencana bilang dulu rencana nya itu apa biar nggak bigung orang yang diajak nya." kata mbok inem sambil duduk di samping suaminya.
Zahra dan Rey mengangguk saja membenarkan apa yang dikatakan oleh mbok inem, kerena yang dikatakan oleh mbok inem memang benar sekali.
"Kamu hanya bikin onar saja," kata uwa Iyan kesal.
Pria itu memukul lengan mbok inem dengan kerasnya, sampai wanita itu juga membalas memukul lengan uwa Iyan. Keduanya saling pukul dan menghindar kerena takut pukulannya sakit.
Zahra dan Rey hanay senyum melihat kedua orang tua itu saling pukul dan memukul satu sama lainnya.*
__ADS_1