
Darman hanya menghela nafas. Ia melirik wajah Vito sekilas, lalu membuang kembali ke arah lainnya. Ia sebenarnya sudah menduga kalau pemuda yang ada di hadapannya itu anak seseorang yang pernah menemani hari harinya. Tapi semuanya musnah karena Ibu angkatnya yang membawakan kabar buruk, entah percaya entah tidak pada cerita ibu angkatnya tentang dirinya dengan Rani.
"Rani." lirih Darman.
Vito terkejut saat ia mendengar apa yang Darman ucapkan tadi! Ya biarpun Vito sudah tahu kalau pria yang ada dihadapan nya adalah orang yang pernah mengenal mamanya. Tapi saat pria itu menyebutkan nama mamanya Vito terkejut sekali
"Nggak mungkin? kamu siapa, kamu jangan. ngaku ngaku kenal dengan mama aku! " Teriak Vito frustasi.
Pertama kali kenalan juga ia sudah menduga kalau pria yang ada di hadapannya pasti ada hubungan dengan mamanya. Apalagi nama pria itu tidak asing lagi baginya, kerena sering disebut oleh mama maupun Zahra.
Tapi saat pria menyebut nama mamanya, vito tidak mau menerimanya.
"Jadi kamu anak Rani! " Gumam Darman terkejut! Ditatapnya wajah Vito dengan tajamnya.
"Nama kamu siapa?" Tanya Darman sebelum Vito bicara.
"Vito." Ucapnya.
Tiba tiba Darman mengingat pengakuan Rani tentang kehamilannya.
"Kang aku hamil! "
"Kok bisa? " Darman terkejut mendengar pengakuan Rani.
"Kamu hamil sama siapa? "
"Siapa yang melakukan ini sama kamu? Siapa? " Tanya Darman berteriak.
Darman sangat shock mendengar kenyataan yang sebenarnya kalau wanita yang ada dihadapannya hamil.
"Hamdi! " Ujarnya.
"Apa? Kenapa kamu lakukan itu pada adikku!" Teriak Darman menatap wajah Rani tajam.
Pengakuan Rani membuat Darman seperti di bom oleh Rani, ditatap wajah Rani dengan tajam nya. Ia hampir ambruk mendengar kalau di perut Rani ada kehidupan.
"Aku nggak ingin Hamdi dan Ayu bahagia! " Dengusnya.
"Aku juga nggak suka sama ibu kamu, bicara kalau kita saudara itu nggak mungkin kalau kita saudara itu hanya akal akalan dia saja! "
"Rani, gugurkan! "
"Nggak aku nggak akan pernah mengugurkan bayi ini! "
"Kamu gila! "
"Aku memang gila! "
__ADS_1
Darman langsung menghempaskan tubuhnya ke atas amben yang ada di depan. Pengakuan Rani membuat dirinya tidak bisa melakukan apa apa kecuali mengerutu atas tindakan yang dilakukan Rani.
Pria itu menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka kalau pria yang ada di hadapannya adalah anak nya Rani. Baru kemarin ia menyuruh Rani untuk menghilangkan kandungannya, tapi sekarang ia melihat kenyataan yang ada di depan ya.
"Memang aku nggak pantas mengenal mama kamu, mama kamu banyak menderita sama aku! " Hela Darman menerawang tentang perjalanan yang dilalui olehnya.
"Kamu kenapa bunuh Hamdi kang? Kenapa?" Teriak Rani masih segar dalam ingatannya.
Wanita itu meraung sejadi jadinya. Darman hanya bisa terpaku saat melihat wanita yang pernah mengisi kehidupannya menangis dihadapannya.
"Maafkan aku Rani, maafkan aku. Aku lakukan ini kerena aku ingin menyelamatkan kamu dari pengakuan Hamdi tentang kematian pak Rohman! " Kata Darman membela diri.
Ya ia lakukan itu kerena ingin Rani tidak sampai masuk penjara apalagi saat ini Rani hamil ya biarpun anak hamdi.
"Kang! Tahu nggak Hamdi belum tahu kalau di perutku ada benih darinya! Terus aku harus mengatakan apa pada dirinya? "
Tanya wanita itu menepiskan tangan Darman yang memeluknya. Darman hanya diam saja mendengarkan apa yang di katakan oleh Rani.
"Maafkan aku, maafkan aku! " Lirih Darman merangkul tubuh Rani dengan eratnya.
Rani hanya diam dipeluk oleh Darman.
"Kamu jahat kang! Kamu jahat! "
Darman hanya diam saja ia tidak mau bicara lagi apalagi kakaknya bicara salah bisa bisa Rani bisa nekad.
"Sekarang keberadaan mama kamu dimana?" Tanya Darman.
"Benarkah cerita itu! Cerita tentang pembantaian pada pak Hamdi," selidik Vito.
Sejak lama sebenarnya ia ingin mengatakan itu pada Zahra tapi ia sama sekali tidak melakukan nya tapi sekarang ia melakukan pada laki laki yang baru dikenalnya.
Vito bukan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Darman. Malah melemparkan kata katanya untuk Darman.
Darman tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Vito. Ia menatap wajah Vito, hatinya terasa sakit saat pemuda itu mengatakan itu padanya. Seperti membuka lembaran yang telah usang!
"Kamu tahu dari mana? " Tanya ketus Darman.
"Zahra, kata dia yang membuat ayahnya meninggal adalah kamu! " Desaknya.
"Kenapa kamu lakukan itu! Kamu juga melakukan pada papa aku? " Tanya Vito geram.
Biarpun ia semula tidak percaya apa yang dikatakan oleh Zahra tapi sekarang ia harus percaya apa yang dikatakan gadis itu!
"Zahra! " Darman termenung mengingat nama Zahra. Ia hanya menggelengkan kepala mendengar nama Zahra disebut, ia tidak pernah mengenal nama Zahra sama sekali. Ia hanya kenal Zahra adalah pengurus TBM di desa nya.
"Ya Zahra! Anak pertama pak Hamdi!"
__ADS_1
"Mungkin Anin? Jadi Anin masih hidup? " Tanya Darman terkejut. Giliran Vito lagi yang melonggo atas kata kata daraman. Ia sama sekali belum pernah mendengar nama Anin.
Ia hanya kenal Zahra bukan Anin.
"Pak, bapak seharusnya tahu Zahra bukan Anin!" Sembur Vito heran.
"Anaknya Hamdi itu bukan Zahra tapi Anin. Aku tanya kamu ketemu Anin dimana? Dia masih hidup? " Darman bertanya bertubi tubi.
"Anin? Aku nggak kenal sama Anin kok! Siapa Anin? " Tanya Vito ketakutan melihat mata Darman melotot kearahnya.
Ia mengatakan jujur pada Darman kalau ia sendiri tidak kenal sama Anin, baru mendengar nama Anin juga baru sekarang.
"Katanya kamu tahu dari anaknya Hamdi, ya berarti kamu ketemu dengan Anin berarti Anin masih hidup? Dimana sekarang! " Teriak Darman sewot.
Pria itu heran pada Vito. Ya pemuda itu yang mengatakan kalau ia sendiri mengatakan anak pertama Hamdi, otomatis anak pertama Hamdi itu Anin bukan Zahra.
Pria itu langsung menarik baju Vito kedepan sampai wajah Vito dan wajahnya saling berdekatan satu sama lainnya.
"Lepaskan!" Teriak Vito sambil berusaha melepaskan baju yang dicengram oleh Darman.
Vito langsung beranjak dari tempat duduk dan berdiri secara kasar. Menatap Darman dengan tajamnya.
"Iya aku tahu anak Hamdi! Tapi bukan Anin, aku juga nggak tahu siapa itu Anin?" Teriak Vito marah.
Ia sama sekali tidak mengenal orang yang disebutkan oleh pria yang ada dihadapannya, ditambah lagi tidak ada kejelasan siapa Anin yang sebenarnya. Zahra maupun Ibu angkatnya maupun mamanya juga belum pernah menyebut nama Anin.
Jadi wajar kalau ia sama sekali tidak tahu siapa Anin. Vito hanya tahu kalau anak pak Hamdi dari istrinya itu Zahra dan Ana bukan Anin.
PLAK!
Darman merasa kesal mendengar teriakan orang yang baru saja dikenalnya telah berani berteriak dengan keras di hadapannya. Spontan sekali Darman langsung melayangkan tangannya kearah pipi Vito.
Beberapa kali Darman memukul pemuda itu, Vito yang tidak menyangka sangat terkejut dan kaget sekali menerima pukulan dari orang yang dikenalnya.
"Awh! Sakit! " Lolong Vito sambil memegang wajahnya yang kena hantam beberapa kali.
"Kalau bicara sama orang tua yang sopan! Jangan main teriak saja, kamu itu masih bau ingus nggak tahu apa?! " Uang Darman tegas.
"Bapak lah yang salah aku sama sekali aku nggak tahu siapa Anin tapi bapak malah maksa kalau aku harus menjelaskan tentang Anin! " Bela Vito.
Hatinya merasa heran sekali mendengar
pertanyaan dari Darman.
"Pak, apa bapak nggak salah anaknya Pak Hamdi itu Anin? Setahu aku anak pak Hamdi itu Zahra bukan Anin. " Akhirnya Vito bicara lembut.
Ia mengusap pipinya yang terasa sakit sekali akibat oukulan yang bertubi tubi di wajahnya, kalau tidak takut kualat mungkin ia ingin sekali menghajar wajah orang itu dengan kerasnya tapi itu tidak dilakukan oleh Vito sendiri.
__ADS_1
"Zahra? Kamu tahu dari mana kalau anak Hamdi itu Zahra? " Tanya Darman menatap Vito tajam.
Ia sama sekali baru mendengar kalau anak adiknya itu Zahra. Seingatnya anak Hamdi itu Anin dan Ana, bukan Zahra. Darman beberapa kali menggelengkan kepala saja takut kalau ia lupa tentang anak Hamdi. Seingatnya anak Hamdi memang Anin bukan Zahra, tapi pemuda yang ada di hadapannya nya kekeh mengatakan kalau anak Hamdi Zahra?*