
Ana terdiam setelah mengeluarkan uneg uneg hatinya di hadapan Vito. Ketiganya diam satu sama lain, ada keheningan diantara mereka bertiga, hanya suara angin yang terdengar berbisik halus.
"Vit, aku sedih nggak pernah merasakan ayah ada dihadapan aku. Kalau saja ayah ada mungkin kita bertiga bakal bersama sama dengan ayah. "
Ana sengaja bicara seperti itu pada Vito. Kerena ia tahu Vitu juga sebenarnya rindu sosok ayah, gadis itu tidak bisa menahan gejolak hatinya dan menangis begitu saja, Ana beberapa kali memukul tubuh Vito, tapi pemuda itu hanya diam saja seperti nya ia mengakui apa yang dibicarakan oleh Ana.
"Kalau kak Zahra enak sudah pernah melihat ayah, dipeluk ayah tapi kita? "
Gadis itu sambil melirik Zahra yang diam saja, seperti sengaja membiarkan Ana untuk bicara tentang ayahnya pada Vito.
Zahra dan ibu Ayu hanya diam saja mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Ana, ia tidak menyangka kalau hati Ana begitu lembut sekali. Zahra bari menyadari hal itu, ia bisa menyembunyikan nya. Tidak seperti dirinya.
Zahra hanya menghela nafas saja mendengarkan nya. Ibu Ayu yang masih berdiri di tempat semula hanya termanggu mendengarkan kalimat perkalimat dari mulut Ana.
"Terus aku harus bagaimana sekarang? " Tanya Vito linglung.
"Kamu mau tinggal sama aku di rumah mama? " Tanya Zahra cepat.
"Aku nggak masalah kok kalau kamu tinggal dimana pun juga, atau kamu mau tinggal dengan Ana di desa itu? " Sambung Zahra memberikan luang buat Vito memilih pilihannya.
" Boleh juga tuh sama aku tinggalnya, " Umar Ana tersenyum.
Vito menatap kedua wajah adik kakak. Di kedua mata adik kakak itu ada ketulusan yang terpancar diwajahnya.
Ya bagaimanapun Vito adiknya biarpun bukan adik nasab. Ditambah lagi ibu Ani adalah saudara dari mamanya, jadi tidak terlalu masalah.
"Bu, ibu dan Vito ke rumah mama, Zahra dan Ana ke kantor polisi berdua saja." Kata Zahra menatap ibunya.
Zahra mengalihkan pembicaraan nya kearah ibu Ayu hang dari tadi diam saja.
"Ya bagaimana baiknya saja,"
Ibu Ayu memgangguk saja, kerena kalau pulang ke desa juga tidak mungkin juga kerena pasti kemaleman di jalannya.
"Oke! Kita ke rumah Rara dulu yuk, " Zahra mengajak ke tiganya untuk ke rumah mamanya.
Sebelum ke kantor polisi Zahra dan Ana langsung menuju rumah ibu Ani, Zahra awalnya tidak akan mengantarkan keduanya tapi tatapan Ana menyuruh mengantarkan ibu Ayu ke rumah ibu Ani.
"Pak Bram yang melaporkannya! " Kata Ana ketika mereka menuju kantor polisi.
Ia mengadukan semuanya, kalau tadi Ana mendapatkannya telpon dari pak Bram yang mengabarkan kalau Zahra berada di rumah Rani.
"Pak Bram nggak bisa datang kerena ia di luar kota, makanya pak Bram ingin Ana yang ke rumah wanita itu! " Cerita Ana.
__ADS_1
Gadis itu seperti tidak mau menyebut nama Rani dalam obrolannya. Jadi menganti dengan nama wanita itu!
"Papa" Tanya Zahra terkejut sekali.
Gadis itu melirik Ana yang ada disampingnya. Ia sebenarnya tidak cerita sama papa tapi papanya tahu semuanya tentang dirinya.
"Iya, mungkin mama kamu cerita kalau ibu ke rumah wanita itu! Wanita benar benar iblis! " Seru Ana kesal.
Ana memberitahukan kalau pak Bram tahu Zahra berada di rumah Rani kerena ibu Ani, mendengar itu Zahra hanya mengangguk saja mengiyakan apa yang Ana katakan.
"Mungkin saja sih! Masalahnya waktu aku cerita sama mama, papa lagi nggak ada di rumah."
Apa yang yang diceritakan oleh Ana, benar sekali. Zahra baru mengerti sekarang kenapa Ana berada di rumah itu tidak tahunya papa melaporkan Rani ke kantor polisi.
"Kami senang sekali atas laporan kalian pada kami, " Kata polisi tersenyum pada kedua adik dan kakak itu.
Zahra menceritakan semuanya secara detail tentang kejadian yang menimpa ayahnya pak Hamdi dan polisi itu bakal membantu mereka untuk menangkap Darman.
"Uwa! Uwa Darman dimana kamu! " Zahra berteriak dengan kerasnya memanggil Darman.
Zahra sepulang dari kantor polisi langsung menuju tempat dimana Darman berada. Tapi sebelumnya ia pulang dulu untuk menjemput Vito kerena pemuda itu tahu alamat dimana Darman berada.
"Vit, dimana rumah uwa Darman? " Tanya Zahra.
"Kamu mau apa ketemu sama pak Darman, " Selidik Vito.
"Nggak mau! " Teriak Vito.
Tapi Zahra berhasil. Menarik tangan Vito untuk masuk kedalam avanza nya. Mau tidak mau akhirnya Vito ikut juga kerena Zahra dengan kerasnya berusaha supaya Vito mengatakan keberadaan Darman!
Sampai di kediaman Darman Zahra langsung mencari Darman di setiap penjuru sebuah bagunan yang tidak layak huni.
"Ada apa? " Suara berat Darman terdengar di telinga Zahra.
"Uwa aku harap uwa bisa mempertanggung jawabkan semuanya ke kantor polisi! " Tegas Zahra.
"He, siapa kamu menyuruh menyuruh aku ke penjara! " Teriak Darman marah melihat Zahra yang tiba tiba menyuruh mempertanggungjawabkan semuanya.
Darman kaget sekali melihat Zahra yang tiba tiba datang, yang lebih terkejut lagi saat matanya melihat Vito yang bersama dengan Zahra.
"Jadi kamu yang kasih tahu tempat ini? Lalu siapa dia? " Teriak Darman menatap Vito.
Hatinya bertanya tanya dalam hati tentang gadis yang bersama dengan Vito yang tiba tiba datang bilang tanggung jawab segala.
__ADS_1
"Uwa nggak kenal dengan aku? " Tanya Zahra sinis.
"Siapa? Kamu hanya pengelola TBM itu! " Tanya Darman.
Ya ia hanya mengenal Zahra sebatas pengelola TBM yang berada di desa tempat tinggalnya.
"Bapak nggak kenal dengan Zahra! Zahra anaknya pak Hamdi. " Ujar Vito memberitahukan Darman.
"Nggak di bukan Zahra! " Teriak Darman.
"Kamu Anindya! Kamu Anin, bukan Zahra! " Dengan spontan Darman menyebutkan nama Zahra dengan nama masa kecilnya..
Pria itu memang mengenal nama kecil Zahra dibandingkan nama yang sekarang.
"Anin." Gumam Vito melonggo.
Vito masih blank masalah Zahra. Ia masih banyak pertanyaan tapi belum bisa dijawab satu satu, ya ia masih bertanya masalah Zahra yang bisa menjadi anak ibu Ani sedangkan ia punya ibu.
"Oh jadi kamu belum mampus? " Tanya Darman tertawa renyah.
"Alhamdulillah, aku masih hidup dan aku sekarang ingin sekali membawa kamu ke penjara! " Sengit Zahra.
"Nggak. Nggak semudah itu cantik, kamu ngak akan bisa membawa aku ke penjara, kerena bukan aku yang membunuh. "
"Kamu memang bukan membunuh pak Rohman tapi membunuh ayahku, sampai kau melindungi Rani!" Seru Zahra tegas.
"Rani telah ditangkap polisi, sekarang bagian kamu harus di tangkap! " Ketua Zahra sinis menatap wajah Darman.
"Apa? Jadi!" Teriak Darman kaget mendengar apa yang Zahra ucapakan tentang Rani.
Darman benar benar shock seketika juga mendengar aduan dari gadis yang ada dihadapannya tentang Rani.
Dor!
Sebelum Zahra menjawab pertanyaan yang dilontarkan tiba tiba terdengar sebuah tembakan yang membuat terkejut.
Wajah Darman sangat ketakutan saat suara tembakan terdengar dekat sekali. Belum sempat rasa kagetnya hilang tiga polisi menyerbu kediaman Darman.
"Kalian menjebak aku! " Desirnya begisnya.
Darman yang baru menyadari langsung lari melompati pagar dan kabur begitu saja.
"Berhenti!" Teriak polisi
__ADS_1
Tapi Darman langsung kabur naik pagar, polisi yang melihat buronan kabur langsung menembakkan timah panas itu ke arah Darman tapi gagal. Akhirnya salah satu polisi mengejar Darman yang kabur. Suara pistol ditembakkan beberapa kali hanya untuk menakutkan Darman.
Zahra dan Vito yang melihat itu hanya terdiam, keduanya sangat terkejut melihat adegan yang spontan tanpa rekayasa sama sekali. Hati kedua nya bertanya tanya pada diri masing masing siapa yang melaporkan Darman pada polisi sampai polisi tahu tempat kediaman Darman.*