
Zahra dan Vito langsung meninggalkan tempat yang sekarang jadi tempat Darman yang baru. Catatan yang melihat kepergian keduanya hanya bisa mendengus kesal, apalagi mendengar semua percakapan yang ia dan Zahra lakukan tadi.
Ia benar benar tidak menyangka kalau Zahra ingin memiliki tanah yang sekarang jadi milik ya, Darman hanya bisa mendengus kesal melihat kepergian mereka berdua.
"Bapak hanya bisa memberikan tanah ini buat kamu, Man. Jaga baik baik tanah ini, kerena bapak nyakin kalau tanah ini bakal menjadi tanah yang baik apalagi di tanah ini ada sebuah danau yang indah. " Kata bapak nya Hamdi yaitu bapak angkat dirinya.
"Danau ini sebenarnya kalau bisa digunakan dengan baik bakal menghasilakan cian yang banyak. Bapak memberikan ini kerena kamu punya pontensi yang bagus buat wisata danau ini. " Sambung bapak angkatnya..
Memang apa yang di katakan bapak angkatnya benar, kalau tanah yang diberikan oleh bapak angkatnya itu ada danau yang ukuran besar sekali.
"Kamu bisa buka danau ini buat dijadikan wisata. " Ujar nya.
"Jangan sia siakan pemberian bapak ya! Jangan sampai kau jual tanah yang ada danaunya, lebih baik kamu bangun sebagai wahana wisata untim desa ini. "
Darman hanya diam saja mendengarkan apa yang disampaikan bapak angkatnya. Ia sangat terharu mendengar apa yang dikatakan oleh bapak angkatnya. Apalagi danau itu dekat dengan perbukitan yang ada di desa itu sangat pengagumkan pemandangannya.
"Buat adikmu Hamdi, bapak hanya memberikan kebun itu! Kerena adikmu itu suka sekali bertani, ya hasil taninya sangat bagus dibandingkan kamu, " Tawa bapak angkatnya.
"Pak, apa bapak nggak berlebihan memberikan tanah itu pada Darman? " Tanyanya pada bapak angkatnya.
"Nggak, nak. Kamu bagi bapak adalah anak kandung bapak, bapak harap kamu dan adik kamu akur ya. Jangan sampai ada pertumpahan darah dengan adikmu. Sayangi adik kamu itu seperti kamu sayang pada diri kamu sendiri," Nasehat bapak angkatnya.
Darman hanya mengangguk saja mendengatkan apa yang dikatakan bapak angkatnya, ia sangat menghormati bapak angkatnya.
Tapi semuanya berubah ketika Rani datang dan mendesak apa yang seharusnya ia pertahankan.
"Nggak Ran, aku. Nggak akan pernah menjualnya, " Kata Darman ketika Rani mengajukan tanah warisan yang diberikan bapak angkatnya pada Darman ada yang mau menawar.
"Kenapa kang! Akang bisa beli tanah lagi kalau memang akang ingin memiliki tanah lagi. " Tanya Rani heran.
"Nggak aku nggak bisa, aku hanya ingin mempertahankan apa yang telah diberikan orang tuaku padaku. "
"Tapi kan mereka bukan orang tuamu, kamu ngomong kalau kamu nggak diakui oleh mereka? " Kejar Rani.
"Iya aku dibuang, biarpun aku anak angkat mereka tapi nggak seharusnya aku menjual warisan itu! " Tegas Darman.
"Lebih baik jual saja! "
"Ran! Kenapa sih kamu ingin supaya aku menjual tanah itu? Alasan kamu apa? " Tanya Darman heran.
__ADS_1
"Atau jual padaku tanah warisan itu! " Bujuk Rani.
"Kamu gila! Aku tetap nggak akan menjual apa yang aku miliki! Sampai kapanpun juga!" Tegas Darman.
Darman melihat wajah Rani yang merah padam kerena ia menolak keinginan dari Rani, tapi pria itu hanya diam saja tidak menggubris apa yang diinginkan oleh Rani.
Sebenarnya dalam hati Rani menginginkan tanah warisan yang telah diberikan oleh bapak angkatnya Darman, ia menginginkan itu kerena ia tahu kalau sebenarnya di tanah itu ada sebuah danau yang indah dan bisa dijadikan usaha dan bisa menghasilkan uang.
Rani sebenarnya punya rencana kalau sampai tanah yang itu dijual oleh Darman menjadi miliknya, ia bakal menjadikan tempat pariwisata yang terkenal di seluruh kota disana. Apalagi di sekitar itu ada sebuah perbukitan yang indah sekali, sekali pandang semuanya jatuh cinta.
"Dan! Jangan paksa aku menjual hanya itu! Sampai kapanpun juga aku nggak pernah akan menjual pada siapapun juga! " Teriak datang kesal.
Darman sangat tersinggung apa yang dikatakan oleh Rani yang merendahkan orang tua angkatnya.
"Karena harus marah kang? Seharusnya akang bersyukur kenal denganku! "Umar Rani.
" Bersyukur? Maksudmu? "
"Aku'kan bisa membeli tanah itu? "
"He kamu uang dari mana untuk membeli tanah itu" Tanya Darman heran.
Darman hanya bisa mengenal nafas mengingat semuanya. Sekarang ia pernah yang apa yang dikatakan oleh bapak angkatnya.
"Nak, sebenarnya banyak yang menginginkan tanah yang kau miliki tapi bapak harapkan kamu jangan sampai menjualnya. " Kata nya.
Darman hanya mengangguk saja.
Dan sekarang terbukti apa yang dikatakan kakeknya zahra memang benar, banyak orang yang menginginkannya warisan yang telah diberikan pada Darman. Termasuk Zahra sendiri yang notabennya, cucu dari bapak angkatnya.
Sedangkan Zahra dan foto langsung pulang ke rumah masing masing, Zahra mangajak Vito ke rumahnya tapi pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Aku harus bicara masalah ini dengan ibu,"
"Ibu pasti tahu apa yang disampaikan oleh kakek pada uwa Darman, aku nggak mungkin mengorek keterangan pada uwa Darman kalau sampai uwa Darman tahu pasti bakal marah. "
"Jadi aku harus mencari tahu melalui ibu! Ibu pasti tahu semuanya. "
Bisik Zahra dalam hati. Ia bertekad mencari tahu semuanya.
__ADS_1
"Ma, ibu kemana? " Tanya Zahra ketika sampai di rumahnya. Ia. Mencari keberadaan ibunya tapi ibu Ayu tidak ada di kamarnya, sedangkan Ana sedang istirahat di kamar.
"Tadi mama lihat di belakang. " Jawab ibu Ani.
"Kok di belakang sih? " Tanya Zahra.
Ibu Ani mengangkat kedua bahunya. Melihat mamanya mengangkat kedua bahunya ka langsung menuju ke belakang rumahnya. Apa yang dikatakan mamanya benar.
Ibunya sedang duduk di kursi tapi pandangan matanya mendang kurus dengan tatapan mata kosong, Zahra yang melihat itu, langsung menghampiri ibu ayu dengan perlahan.
"Bu, kenapa?" Tanya Zahra mengusim ibu Ayu.
Gadis itu menghampiri wanita yang telah melahirkannya.
"A yahmu benar benar jahat! " Sembur ibu Ayu getir.
"Kok ibu bilang begitu!? " Tanya Zahra terkejut mendengar kata kata ibunya pada ayah.
"Ayahmu terlalu! Kenapa harus sama Rani ia berselingkuh! " Tanya wanita itu frustsi.
Di wajahnya terlihat ada kekecewaan terpancarkan di wajahnya, apalagi saat tahu kalau suaminya yang disayanginya telah mengkhianati dirinya.
"Bu, jangan salahkan ayah! Ayah nggak salah, uwa Rani yang salah. " Bela Zahra tidak suka mendengarkan ibunya menyalahkan ayah.
"Buktinya? "
"Bu, dengar! Ibu tahu dsri mana ini cerita ayah dan uwa Rani! " Uang Zahra.
Gadis itu penasaran pada ibunya yang tiba tiba menuduh ayah yang bukan bukan.
"Mbok inem cerita kalau ayahmu selingkuh dengan Rani, punya anak. Mungkin anaknya Vito. " Jelas ibu Ayu getir.
"Bu, mbok inem salah dengar, bukan ayah yang selingkuh dengan uwa Rani. Ini perbuatan uwa Rani pada ayah. " Urai Zahra.
"Ayah dibius bu sama uwa Rani. Ayah nggak sadar apa yang dilakukan oleh uwa Rani, bu." Sambung Zahra menjelaskan semuanya.
"Kamu kata siapa? " Tanya ibu Ayu.
"Kata ibu Marni, kerena ibu Marni melihat semua adegan itu bersama dengan istrinya uwa Darman yang dulu. " Jawab Zahra.
__ADS_1
Wanita itu hanya menghela nafas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Zahra. Ia tahu kalau putrinya membela ayahnya.*