
Uwa iyan langsung menyalahkan ibu Ayu, tapi wanita itu hanya tersenyum manis.
“Zahra maupun Anin akan tetap milik kita kang,”
Ana yang sedang istirahat terkejut sekali mendengar keributan uwa iyan dan ibu Ani, ia merasa heran kenapa ibu Ani dan uwa iyan seperti memperebutkan Zahra. Tapi saat ia menanyakan, uwa Iyan dan ibu Ayu hanya diam saja.
Dalam keadaan masih bertanya tanya pada diri sendiri dan tidak ada jawaban yang pasti, Ana pun akhirnya tertidur dalam keadaan pikiran sedang kacau.
“Kak Anin”
“Kak Anin,”
Panggil Ana yang tiba tiba memanggil nama Anin. Ibu Ayu yang baru saja tertidur mendengar Ana sedang mengigau nama Ani, saat ia menyantuh tubuh putrinya ia sangat terkejut.
Tubuh Ana sangat panas sekali, akhirnya ia memanggil ua Iyan.
“Ya Tuhan kok sampai segini,” jerit uwa iyan langsung panik.
Uwa iyan langsung memanggil dokter.
“Sebenarnya ia merindukan orang yang disebutnya, nggak apa apa sih tapi kalau berlarut larut bisa jadi bakal parah,” kata dokter memberitahukan.
Tanpa menunggu waktu uwa Iyan langsung menghubungi Zahra melalui hpnya Ana.
Malam itu Zahra langsung meluncur ke rumah sakit, untung pak Bram tahu dan mengizinkan Zahra pergi ke rumah sakit.
“Dek, ‘bisik Zahra lembut.
“Kakak,”ujar Ana tiba tiba bangun dan memeluk tubuh Zahra dengan eratnya.
“Kak, jangan pergi lagi jangan pergi lagi!” tangis Ana dalam pekulan Zahra.
“Kakak juga nggak mau pisah sama kamu de, kamu cepat sembuh ya biar kita bisa bermain kembali,” kata Zahra melepaskan pelukannya dari tubuh Ana.
“Kak Zahra!” tatap Ana heran.
Ia sangat terkejut Zahra yang ia peluk bukannya Anin. Zahra hanya tersenyum.
“Kamu hanya mengigau," ungkap Zahra.
“Aku rasa aku memeluk kak Anin.”
__ADS_1
Gumam Ana heran sambil garu garuk kepala saja.
“Cepat sembuh, makanya nanti kakak cerita banyak tentang Anin.”
Ana hanya bisa mengangguk. Akhirnya ia tertidur kembali.
“Apa kamu akan seperti ini saja?” tanya uwa Iyan nmenatap Zahra.
“Nggak aku ngak akan seperti ini, aku akan mengatakan tapi melihat kondisi Ana seperti ini aku hanya khawatir,”
“Kamu lebih mementingkan wanita itu dari pada Ana!”Teriak uwa iyan tajam.
“Kang! Ana sudah tidur jangan berisik, sudah jangan di teruskan lagi, kalain lebih baik tidur!” kata Ibu Ayu.
Uwa iyan akhirnya diam seketika juga, apalagi melihat Zahra yang juga menurut pada ibu Ayu, akhirnya uwa Iyan keluar dari ruangan itu dan tidur disana sedangkan ibu Ayu dan Zahra meneruskan tidurnya kembali.
Tapi Zahra mengakui kalau kata kata uwa Iyan memang benar ia lebih memilih mamanya dibandingkan Ana.
“Pa, Ana butuh Rara jadi Rara ingin focus sama Ana dulu ya pa, kasihan Ana.” Kata Zahra kertika mereka bertemu di rumah sakit.
Pak Bram sengaja menjengguk Ana, tapi Zahra mengatakan kalau ia ingin bersama Ana. Kalau Ana belum tahu kalau dirinya Anin, pak Bram mengangguk.
“Bapak senang kok kalau kalian bisa akur seperti ini, kalian harus bareng bareng ya,” kata pak Bram menatap wajah Ana dengan tulus,
Pak Bram mengangguk, Ana yang melihat anggukan kepala pak Bram, Ana tersenyum. Ia tidak menyangka kalau pak Bram bakal mengizinkan Zahra tetap di desa. Bukan hanya Ana yang senang tapi hati Zahra juga berbunga bunga.
“Mamah bagian papa, Ra. Kamu harus habiskan waktui disana, bekerja disana yang telaten.” Kata pak Bram pada Zahra.
“Terimakasih pak,” ujar ibu Ayu terharu.
“Seharusnya saya yang mengucapkan terimakasih pada ibu dan Ana,” senyum pak Bram.
“Sama sama pak, saya yang merasa senang bisa kembli bersama dengan nak Zahra,” ungkap ibu Ayu.
Uwa Iyan hanya diam saja, ia menyesal menganggap pak Bram sama dengan istrinya, kenyataannya malah pak Bram mengizinkan kalau Zahra tetap di desa itu.
“Kalian tenang saja, saya yang mengatur semuanya supaya Zahra masih bekerja di perpustakan desa.”
“Alhamdulillah.” Ucap keempat orang itu riang.
Kerena keadaan Ana semakin baik dan mulai sembuh akhirnya besok Ana dan keluarga diperbolehkan pulang ke rumah.
__ADS_1
Awalnya pak Bram menyuruh Ana untuk menginap dulu di rumahnya tapi ibu Ayu menolak dengan halus, pak Bram akhirnya tidak memaksanya.
Pak Bram mengajak istrinya ke sebuah taman, bertepatan dengan Ana keluar dari rumah sakit. Zahra sebenarnya pulang dulu ke rumah ingin meminta izin tapi pak Bram melarang kerena ia takut kalau Zahra tidak diizinkan kembali ke desa itu, dengan alas an kerja juga.
Zahra hanya mengangguk dan menatap kedua orang tuanya ke sebuah taman, setelah itu ia langsung ke rumah sakit kembali.
“Kalau ada apa apa telpon papa ya," itu yang diucapkan papanya saat ia meninggalkan rumah.
Tanpa sepengetahuan ibui Ani, Zahra ke desa itu dengan alasan kerja ya memang Zahra kerja di des itu sebagai pustakawan, buakn kerna apa apa.
Sedangkan suami istri, Bram dan Ani menuju Taman yang tidak jauh dari rumahnya. Mereka begitu Bahagia sekali.
🦋🦋🦋
Ana berangsur angsur pulih dengan cepat apalagi ditani oleh orang yang menysnyanginya. Dua Minggu kemudian beberapa polisi datang menuju rumah Darman, tanpa ba bi bu lagi polisi itu menangkap Darman atas kematian tiga orang yaitu pak Rohman, pak Karta dan pak Hamdi.
"Saya ingin membawa Zahra kembali ke kota, dan saya ingin Zahra tidak akan pernah kendesa ini lagi!" Ketusnibu Ani menatap ibu Ayu.
"Saya telah menyediakan pengecara buat ibu, tapi kebalikan Zahra pada saya. Seharusnya saya yang berhak atas Zahra bukan ibu," lanjut ibu Ani tajam..
"Maksud ibu apa? Bicara Seperi itu lada kami, kak Zahra disini hanya kerja bukan dimiliki sama kami?" Tanya Ana yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh wanita yang ada dihadapannya.
"Kak Zahra anak ibu? Kalau memang kak Zahra anak ibu kapan juga kak Zahra bakal balik ke ibu."lanjut Ana kembali.
"Na, sudah!" Ujar Ibunya memengang tangan putrinya.
"Kamus berani bilang begitu dihadapan saya?" Tantang ibu Ani emosi.
"Kenapa? Nggak berani? Anda siapa sampai saya nggak berani sama anda?" BalasnAna mwnnatang ibu Ani.
Wanita itu benar benar mendidih mendengar balasan tantangan dari Ana, ia tidak menyangka kalau anak yang dihadpannya telah berani pada dirinya sendiri.
Melihat tindak tanduk dari ibu Ani dan Ana seperti itu ibu Ayu yang berada tidak jauh dari mereka langsung menarik tangan Ana untuk masuk rumah.
"Tapi Bu, dianya." Ujar Ana.
Melihat ibu Ayu menarik tangan Ana kedalam rumah, ibu Ani akan mengejarnya tapi tangannya ditahan oleh seseorang.
"Ma, kenapa mama lakukan ini pada Rara? Apa mama nggak mau lihat Rata bahagia?" Tanya gadis itu sendu.
"Ma, mama yang telah mengajari Rara berbuat baik, bersosial tapi kenyatannya mama sendiri seperti ini." Lanjut Zahra.
__ADS_1
Zahra memandang wajah wanita yang telah membesarkannya dengan kasih sayang. Ibu Ani tertegun mendengar apa yang diucapkan oleh Zahra.
Sedangkan Ibu yang tidak jauh mendengarkan apa yang Zahra katakan pada wanita itu.*