
Dio pagi itu tidak pergi ke kantor, sejak Rey pergi mencari tahu tentang Rani memang Rey mengikuti Zahra ke dara itu! Dio hanya bisa mengantarkan Zahra dan Rey sedangkan dirinya balik lagi ke kota kerena banyak kerjaan yang harus ia selesaikan.
Pagi itu biarpun kontir libur, ia menuju sebuah kantin yang diisi oleh ibu Ayu dan Ana. Ya sudah satu minggu mereka tidak ada kabar maupun beeitanya
"Aku.nyakin kalau sebenarnya Zahra tahu siapa Rani yang sebenarnya hanya menutupi saja. " kata Dio waktu sampai di. kantin dan duduk di sana.
"Tahu lah, kalau ngak salah tante Rani adalah uwaknya kak Zahra ya biarpun angkat juga.
" Bukan, aku nyakin kalau Zahra yang membunuh Narti! "
"Jangan bilang begitu sih! Kita nggak tahu pasti kan tante Rani melakukan itu, nggak ada bukti yang kuat. " bela Ana.
"Nggak pantas di bela wanita kaya gitu mah Na seharusnya polisi lanhsung meringkus wanita itu! Apalagi kita tahu kalau wanita itu juga yang menyekap kamu dan ibumu! " kata Dio.
Ana paham apa yang dimaksud oleh Dio, ya ia dan ibu pernah disekao oleh Rani taoi tjdak ada tindakan apapun jiga terhadap Rank sampai sekarang, ditambah lagi kasus Narti seolah oleh ditutup begitu saja tanpa ada klasifikasi nya.
"Apa kamu bakal biarkan itu semua? "
"Na, seharusnya kamu jangan tinggal diam ala yabg terjadi bisa bisa kamu bakal menjadi korban dari wanita itu. " kata dio menatap Ana, seperti memberikan nasehat.
Ia melibatkan dirinya bukan kerena ingin ikut campur tapi takut Ana kenapa kenapa apalagi Zahra yang seminggu dengan Rey tidak oulang, apalagi tidak ada kabar sama sekali.
"Aku ngak pernah membiarkan kak Zahra pergi kok! Ibu lah yang selalu membiarkan kak Zahra pergi bersama dengan kak Rey, " kilah Ana.
"Kak, sebenarnya kenapa kak dio cerita sama tante Rani. "
"Mesterius banget orangnya. "
"Kak, kenpa sih kakak harus mencark tahu tentang kematian Narti? "
"Jangan jangan apa yang diceritakan oleh iwa iyan benar, " selidik Ana.
"Uwa iyan? " tanya Dio menatap Ana dengan herannya .
"Iya uwa iyan! "
"Iya uwa iyan, uwa iyan pernah mencurigai tante Rani yang membunuh Narti. " cetus Ana.
Dio mwlonggo. "Uwa iyan tahu dari mana kalau Tante Rani yang membunuh Narti? "
__ADS_1
"Pengakuan pak Bram menguatkan, kata pak Bram kan kalau mereka bertiga berada disana terus Narti ingin bela pak Bram tapi Narti yang menolong pak Bram dari tante Rani. "
Jelas Ana pada dio secara terperinci tentang kematian Narti.
"Tapi kenapa uwa iyan malah mengajak Rey dan Zahra kesana bersama tante Rani?" tanya dio.
"Entahlah."
Ibu Ayu yang ada di dalam hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi ia kadang mengan nafas saat merka bicara tentang Rani. Bukannya ia membela Rani tapi merasa kasihan pada Rani yang selalu membuat cerita orang saja.
Ibu Ayu langsung melanjutkan aktifitas nya di dapur, ya biarpun libur kantin libur tapi perut dirinya dan Ana tidak bakal libur.
PLAK!
Ibu Ayu mendengar seseorang memukul, ia langsung berlari keluar. Matanya menatap kearah diao dan Ana.
"Dio kamu itu apa apaan! " teriak Ibu Ayu menatap dio dengan tidak sukanya.
"Ana, Bu bukan dio, " Protes Dio memegang pipinya. Laki laki itu dengan wajah nya menatap Ana dengan tajam sekali.
Ana yang tidak menduga, kalau ia mampu menampar pipi dio hanya termanggu dan mematung shock melihat dio seperti itu. Dio hanya terdiam saja melihat Ana hanya mematung saja.
Ia langsung menghampiri keduanya. Mata Ibu Ayu menatap tidak berkedip kearah dio.
"Ada apa sebenarnya tengah terjadi?" tanya ibu Ayu. menatap keduanya dengan perasaan yang aneh dan herannya.
"Kak dio dulu tuh yang bikin gara gara! " rajuk Ana kesal.
Ia langsung menunjuk dio dengan perasaan tidak sukanya
"Kalian sebenarnya bicara apa sih! sampai kamu Dio memukul wajah Ana dengan. kerasnya."
Keduanya tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu Ayu. Dio dan Ana saling pandang satu sama lainnya.
"Aku yang salah bu, tadi kami beeceeitw kecurigaan kami pada tante Rani, aku mwnduga kakau tante Rani bjsa jadi pembunuh Narti juga yang lainnya. " cerita Dio mengawali.
"Tapi kecurigaan aku dan Ana beda sekali, kalau aku. mencurigai uwa Darman yang membuat ayah Zahra mwninggal. " lanjut Dio.
"Alasan kamu curiga pada uwa iyan apa?"
__ADS_1
"Menurut aku curiganya kerena uwa iyan lebih fokus menyalahkan orang lain saja. Tanpa ada penyelidikan yang maksimal, "
"Terus kenapa kamu nggak menyelidiki uwa iyan kalau kamu curiga sama uwa iyan! " teriak Ana marah.
Ia tidak menduga kalau Dio mencurigai uwa iyan laki laki yang menurutnya baik apa lagi saat ayah tudak ada, menurutnya uwa iyan mampu menjadi ayah baginya. Dan saat Dio mwnuduh uwa iyan ia tidak menyukai sama sekali.
"Awas jangan sekali kali kamu mengatakan itu kepadaku ku ya. "
Ana langsung meninggalkan depan kantin menuju dalam kantin ia tidak keluar lagi. Dio hanya menggelengkan kepala melihat kepergian dari Ana.
Ibu Ayu yang masih di tempat itu langsung mendekati Dio yang duduk di dekat Dio.
"Kamu jangan menuduh tanpa bukti, itu bisa menjadi fitnah yang lebih kejam. Kamu boleh mencurigai seseorang tapi harus ada bukti yang kuat dulu ya. " ujar ibu Ayu tegas.
Ia juga tidak menyangka kalau Dio bakal mengatakan itu pada Ana. Ya wajar kalau Ana marah dan kesal pada Dio kerena bagaimana pun uwa iyan telah dianggap ayah oleh Ana, ditambah Ana sampai sekarang belum. pernah belihat wajah Hamdi.
"Maafkan aku, bu." kata Dio merasa bersalah.
Dio akhirnya pamit pulang, ibu Ayu hanya menatap kepergian dari dio. wanita itu hanya mengehela nafas dalam dalam melihat dio yang pergi begitu saja.
Sedangkan di rumah pak Bram, ibu Ani sudah bagaikan setrian, ia hilir mudik tidak karuan kadang duduk, berdiri dan berjalan. Matanya melirik kearah jalan yang ada di depannya.
"Ma, kenapa? "
"Papa bilang kenapa? Papa nggak ngerti saja. apa lebih baik kita ke desa itu menyusul Rara. " rajuk ibu Ani.
"Ma, sabar sedikit sih! "
Pak Bram langsung berdiri dan pergi bwgitu saja meninggalkan Istrinya. Ia nyakin kalau istrinya bakal mengajaknya ke desa itu kalau ia ada di rumah, jadi pria itu meninggalkan nya, ibu Ani yang melihat suaminya akan pergi bwgitu saja langsung mengejarnya.
"Pa, mau kemana? "
"Papa lebih baik pergi daripada mama terus menerus seperti ini. "
"Terus papa mau pergi kemana? "
"Papa mau pergi kemana saja. "
"Pa, apa salahnya mama bertanya atau mengajak papa ke desa itu?"
__ADS_1
Pak Bram melepaskan tangan nya dari tangan istrinya, tanpa memperdulikan ia langsung meninggalkan istrinya yang hanya mematung saja melihat kepergian suaminya. *