
Ana yang tidak menerima kata-kata Zahra langsung meninggalkan tempat itu dengan perasaan hatinya yang sakit. Ia tidak menyangka kalau Zahra kakaknya bakal membela Rani bukan dirinya, gadis itu langsung masuk ke kamar tapi sebelum masuk kamar ia menabrak pak Bram sampai pria itu kaget masalahnya laki laki itu fokus ke hpnya.
Untung hpnya tidak terjatuh juga, pak Bram langsung melirik siapa orang yang menabraknya saat ia melihat itu Ana, orang itu hanya melonggo kerena Ana tidak mengatakan apa apa padanya dan malah masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa anak itu? " gumam pak Bram heran.
Tapi kerena sedang buru buru pak Bram langsung pergi ke kantor, apalagi sekarang ada metting dengan perusahaan terbesar dan kalau ia mendapat proyek pasti besar sekali.
Ana yang sudah masuk kamarnya langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Sebenarnya Ana hanya ingin kalau Zahra membela dirinya bukan Rani tapi kenyataannya lain lagi. Itu yang membuat Ana tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Zahra sama sekali.
"Aku harus melakukan sesuatu dan minta bantuan pada om Bram, aku nggak setuju kalau wanita itu! Masih berkeliaran begitu saja, " gumam Ana kesal.
Ia benar benar ingin memasukan Rani ke penjara itu keinginan terakhirnya apalagi mendengar kalau ayahnya memang dibunuh oleh Darman dan dalangnya adalah Rani. Darman melakukan itu kerena melindungi Rani, itu yang tudak bhsa di terima oleh dirinya.
"Pokoknya akau harus cari wanita itu sambil dapat, dan aku seret ke kantor polisi biar ia bisa mempertangungjawabkan semuanya. Enak saja ia melakukan tapi nggak mau tanggungjawab, ditambah lagi mengapa coba kak Anin malah bela wanita itu! "
Gadis itu benar benar geram seketika juga mengingat pembelaan Zahra pada Rani. Ana tidak tahu kalau tingkah lakunya lah yang memperkeruh keadaan, ia tidak menyadari itu semuanya. Ditambah tadi juga ia ikut campur saat Vito dan Zahra bicara, ia tidak. menyadari semuanya.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Zahra benar sekali, Ana tidak pernah bicara berdua dengan Vito maupun Rani hati ke hati, ia hanya muncul saat ada orang yang bicara dengan Rani maupun Vito otomatis Zahra menghardiknya kerena apa yang dilakukan oleh Ana memang salah dan harus diluruskan.
Tapi Ana malah marah dan tidak bisa. menerimanya, ya Zahra akhirnya mendiamkan Ana supaya gadis itu menyadari apa yang dilakukan oleh dirinya salah. Tapi Ana malah diam saja tidak bicara, menegur dan menyapa Zahra.
Zahra yang melihat Ana seperti itu hanya menghela nafas saja, ia akhirnya mengalah tapi Ana tidak mau bicara dengan Zahra kalau gadis itu tidak mau bersikap tegas pada Rani.
Melihat keadaan Zahra dan Ana seperti itu membuat ibu Ayu yang melihatnya langsung menarik tangan Zahra ia hanya ingin tahu apa yang terjadi pada kedua putrinya.
__ADS_1
"Ana kenapa bersikap seperti itu sama kamu? " tanya Ibu Ani.
"Habis Ana nggak mau dibilangin sih bu kemarin Vito ke rumah ini datang dan curhat masalah mamanya eh ngga tahunya Ana datang ikut menimbrung otomatis sama Anin di hardiknya, bukan menerima Ana malah marah. "
Zahra dengan panjang lebar menjelaskan keadaan yang terjadi ibu Ayun hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Zahra padanya.
"Anin nggak suka cara Ana seperti itu bu. Anin bukan bela uwa Rani kemarin kan uwa Rani kesini bilang mau ketemu kita tapi Ana, " kata Zahra lirih.
Gadis itu mengambil nafas panjang lalu dihembuskan kembali, seperti mengeluarkan beban yang mwnghimpit hatinya. Sedangkan ibu Ayu hanya diam saja mendengarkan apa yang Zahra katakan padanya.
Wanita itu mengangguk saja membenarkan apa yang dikatakan Zahra, apa yang dikatakan gadianitu memang benar kerena ia melihat sendiri apa yang di lakukan oleh Ana pada Rani. Sampai sekarang ia tidak tahu apa yang Rani ingin bicarakan pada dirinya, kerena sampai saat ini Rani menghilang tidak tentu rimbanya sama sekali.
Tapi Ibu Ayu nyakin kalau Rani berasa di desa tempat dirinya dulu selalu bersama dengan Rani ya desa di mana Hamdi meninggal, wanita itu menarik nafas dalam dalam mengingat semua kenangan disana.
Gadis itu masih ingat apa yang terjadi pada kejadian kemarin, apa yang diceritakan oleh Zahra, ibu Ayu hanya mengangguk. Wanita itu akhirnya membenarkan sekali, hanya ia tidak ingin terlihat membela Rani maupun Ana jadi. lebih banyak diam saja.
Zahra melirik ibunya, yang hanya diam saja mendengarkan apa yang dikatakan ya.
"Bu, kenapa diam? Apa yang ibu pikirkan? " Tanya Zahra mwngelus tangan ibunya dengan lembut sekali.
"Nggak, ibu hanya mikirkan Rani. Ibu nyakin kalau Rani ada di desa itu! Wanita itu nggak bakal meninggalkan desa itu Nin, itu yang pernah ia katakan pada ibu." kata ibu Ayu.
Ibu Ayu mengungkapkan isi hatinya pada Zahra. Dan itu satu keanehan yang meme buat wanita itu heran, ia begitu jujur kalau dihadapan Zahra apalagi kalau membicarakan Rani, sedangkan pada Ana ia sering tidak pernah jujur apalagi menyangkut Rani.
Bukan sekali dua kali Ana selalu bertanya tentang Rani pada nya, tapi dirinya tidak pernah membicarakan Rani dihadapan Ana.
__ADS_1
"Bu, Ana nyakin pasti ibu tahu ya keberadaan tante Rani? " tanya Ana pada dirinya.
"Tante Rani? Na, ibu sama sekali nggak tahu tante Rani itu dimana? "
"Bohong! "
"Mengapa coba ibu mesti bohong sama kamu? Untungnya apa coba kalau ibu bohong! " tanya ibu Ayu tegas sambil menatap wajah Ana tajam.
"Bukan Ana nggak percaya bu, ibu kalau smaa kak Anin masalah tante Rani ibu terbuka tapi kenpa kalau sama Ana ibu nggak pernah terbuka?" desak Ana aheran.
"Entah lah ibu juga nggak tahu, tapi kalau kamu berpikir seperti itu seharusnya kamu introfeksi diri lah. " ujar ibu Ayu.
Dan sekarang jawaban dirinya pada Zahra sangatlah jauh sekali, ia mengadi pada gadis itu kalau ia merasakan nyakin pada perasaannya kalau Rani berada di desa itu.
"Ibu nyakin? " tanya Zahra heran.
Ibu Ayu mengangguk saja, melihat anggukan kepala ibu Ayu, Zahra hanya diam saja.
"Ibu nyakin sangat nyakin. kalau wanita itu ada disana. " tegas ibu Ayu.
"Bu, kalau misal uwa Rani ada di sana kenapa uwa Iyan nggak menghubungi kita? " tanya Zahra seperti pada dirinya sendiri.
"Mungkin uwa Iyan nggak tahu keberadaan Rani, ia kan dari awal juga sebelum semuanya terjadi selalu sembunyi di hutan. Sampai ibu menyangka kalau ia meninggalkan kampung itu selamanya tidak kembali lagi, " ibu Ayu menarik nafas berat.
Ya wanita itu tidak menyangka kalau dulu Rani bakal sembunyi di kebun yang tidak jauh dari pedesaan itu, hanya Darman yang tahu itu semuanya kerena keduanya selalu bersama. *
__ADS_1