
Ibu Ani masih memeluk tubuh Zahra dengan eratnya. Ya baru kali ini ia bisa memahami kondisi Zahra, dari awal ketika Zahra mendatangi desa ini untuk jadi pustakawan ia tentang akhirnya Zahra mengalah demi dirinya.
Ia malah memisahkan ibu dan anak, dan sekarang di tempat ini Ibu Ani merasa kan kalau memang Zahra masih memiliki ikatan batin yang kuat dengan desa ini. Namanya memang Zahra tapi hatinya tetap Anin yang lahir di desa ini..
"Ma, Rara nggak akan pernah melupakan desa itu! Apalagi desa itu ada seorang ibu yang Rara sayangi. " tangis Zahra ketika ibu Ani melarang dirinya untuk. mendatangi desa itu!
Gadis itu ya Zahra begitu gigih sekali untuk memperjuangkan ibunya sampai Zahra meminta izin pada papa untuk memboyong ibu dan adiknya untuk selalu dekat dengan dirinya.
"Zahra nggak akan pernah melupakan mereka ma, mereka adalah hidup Rara. " lanjut Zahra menatap wajah ibu Anin dengan tajam.
"Wanita itu hanya masa lalu kamu Ra, sekarang masa depan kamu bersama mama! " Teriak ibu Ani.
"Ibu bukan masa lalu Rara ma, ibu adalah segalanya buat Rara. Rara nhgak akan bisa. ketemu mama kalau Rara nggak dilahirkan oleh ibu!" sembir Zahra marah.
Ia tidak mau kalau mamanya mwwngatakan kakau ibu adalah. masa lalu dirinya. ia lebih baik. memilih ibu dari pada mamanya, dari pada ia harus melupakan wanita yang ia sayangi dan rindukan selama ini.
"Kamu lebih mementingkan wanita itu!"
"Ma, wajar kalau Rara mementingkan ibu, kweena ibu lah yang lebih penting dalam hidup Rara sekarang. "
"Kamu sudah berani melawan mama! " Terima ibu Ani.
Wanita itu sangat yeepukul sekali mendengar apa yang Zahra katakan, ia merasakan sekarang putri kecilnya mulai menjauhinya.
"Rara bukan melawan mama, ma. Tapi Rara hanya ingin memberikan lwngeetiannpada mama saja, kalau ibu Ayunitu ibunya Anin ya Zahra itu Anin. " raung Zahra memberitahukan mamanya.
"Nggak kamu bukan Anin! Kamu bukan Anin! Kamu Zahra anak mama, " tangis ibu Ani. langsung memeluk tubuh Zahra dengan eratnya.
Zahra yang tidak. mwnduga membalas pelukan mamanya. Ada kenyamanan sesaat saat tubuhnya di peluk oleh mama, mereka akhirnya saling menangis berdua.
"Mama sayang kamu Ra, kamu Rara anak mama dan papa. " tangis Ibu Ani.
"Ma, terima semua ini. Zahra itu bukan anak mama, Zahra anak angkat mama. Maafkan Rara ma belum bisa jadi anak yang baik buat mama. " kata Zahra melepaskan pelukan dari mamanya.
Ditatap wajah wanita yang telah mengurus nya sejak ia masih kecil.
__ADS_1
"Ma, Zahra sudah meninggal ia sudah bahagia di syurga sana." suara Zahra lembut.
"Mama harus mengerti sekarang kalau Zahra yang sekarang adalah Anin putri ibu dan ayah." lanjut Zahra menatap wajah Ibu Ani dengan tajam.
"Mama belum bisa kehilangan kamu Ra, kamu tetap anak mama."
"Ibu mu kan punya Ana, " rajut ibu Ani.
"Ma, seorang ibu nggak mungkin bisa melupakan anaknya begitu juga dengan mama kan, mama nggak akan bisa melupakan anaka anak mama yang telah ditebang syurga. "
"Tapi kamu tetap anak mama sayang. "
"Ma, terimakaaih atas kasih sayang mama pada Rara yang begitu tulus menyanyangi Rara, maaf Rara bukan anak yang terbaik buat mama. "
"Kamu anak yang terbaik buat papa dan mama, mama bangga punya anak seperti kamu sayang."
Wanita itu memeluk lagi tubuh Zahra dengan lembut.
Kedua wanita yang berbeda itu kini masih di sebuah perkebunan, ibu Ani dan Zahra masih menikmati kebersamaan nya berdua.
"Mama salut dengan apa yang kamu pikirkan, kamu lebih paham dari pada mama tentang Rani. Dan mama juga nggak begitu percaya sepenuh tapi kamu, " kata ibu Ayu. menatap Zahra lembut.
"Rara hanya mencoba percya apa yang uwa Rani katakan ma, Rara juga masih belum sepenuhnya percaya apa yang terjadi pada uwa Rani, " kata Zahra.
"Rara masih bisa bersyukur dibandingkan uwa Rani bagaimanapun Rara masih bisa merasakan kasih sayang ibu dan mama dibandingkan uwa Rani. Mungkin dengan cara ini Tuhan menunjukan pada Rara, kalau ada orang yang perlu dikasihani, " lanjut Zahra panjang dan lebar.
"Mama bangga Ra sama kamu. "
"Terimakaih ma, Rara juga bangga punya mama kaya mama. "
Keduanya begitu anteng di sebuah gubug tua di sebuah kebun yang begitu teduh, tanpa menyadari kalau sebantnya Ayu dan Rani menyusul merka berdua.
Keduanya hanya menatap Zahra dan Ani dari jauh, sedangkan Ayu dan Rani nerteduh di bawah pohon yang tidak jauh dari mereka berdua. Keduanya tidak berani mendekati seperti memberikan keleluasaan buat Ani dan Zahra untuk mwncirahkan hatinya.
"Kamu nggak iri melihat anakmu begitu dekat dengan mamanya? " tanya wanita itu melitik wajah Ayu.
__ADS_1
"Iri? Sebenarnya aku bahagia melihat Anin dekat dengan ibu angkatnya, mengingatkan aku pada kang Darman. " kata Ayu tersenyum.
Rani lanhsung langsung terdiam mendengar apa yang Ayu katakan, kata katanya menyindir dirinya.
"Aku juga nggak tahu pasti apa yang terjadi pada kang Darman. yang telah menikah, kami hanya tahunya ia punya anak dan istri entah hatinya. " lanjut Ayu seperti bertanya pada diri sendiri.
"Kang Darman berubah banyak saat ibu dan bapak meninggal dunia, ia malah menyerang ayah anak anak, sedangkan istrinya tertindas juga. "
"Pokoknya kehidupan kang Darman berubah menjadi berbeda dengan yang dulu."
Ayu terus saja menceritakan tentang kakak angkatnya di hadapan Rani, apa yang diceritakan oleh Ani itu fakta yang harus dihadapi.
"Kang Darman lebih mementingkan dirinya, dan banyak warga menyalahkan istrinya yang menguasai warisan ibu dan bapak, kami hanya diam saja. " kata Ayu meneruskan apa yang ia tahu.
"Satu yang aku sesali, kang Darman benar benar menguras akan yang dimiliki oleh ayah anak anak sampai sekarang kami nggak keenah memiliki apa apa, "
Rani hanya terdiam saja ia tidak bicara apa apa pada Ayu yang bercerita tentang Darman pria yang pernah menyanyangi Rani. Ayu terus saja tidak berhenti mwngenang masa lalu setelah pernikahan Darman dengan istrinya..
"Yu, apa kerena aku hanya anak panti sampai ibu dan bapak nggak leenah merestui aku dan kang Darman? "
"Mereka tega! Aku juga nggak ingin seperti ini, ditambah lagi kehidupan ku sekarang nggak semulus apa yang aku pikirkan.
" Ibu memang jahat membandingkan aku dengan dirimu yang punya status keluarga yang jelas. Aku juga sebenatnya punya Yu, tapi aku nggak tahu keberadaannya. Aku baru tahu sekarang itu juga mama dan papa sudah meninggal. " getir Rani.
"Kamu tahu apa alasan ibu nggak keenah merestui kang Darman dengan aku? " lanjut Rani bertanya pada Ayu.
Ia sejak dulu ingin sekali bertanya apa. alasan orang tuanya Darman tkdak mengizinkan dirinya bersatu dengan Darman? Apa kerena dirinya tidak punya keluarga? Kalau itu alasannya, itu menurutnya tidak. masuk akal. Kerena Darman juga sebenarnya anak angkat dari ibu dan bapak Hamdi.
"Ran, jangan paksa aku memberikan alasan kerena sampai ibu dan bapak meninggal juga beliau nggak. memberitahukan alsan pada aku. " ujar Ayu jujur.
"Memang ibu sampai bapak menurut ku salahnya satu hal nggak pernah menjelaskan apa apa pada aku maupun kang Hamdi. " lanjut Ayu.
Memang selama orang tua Hamdi hidup mereka berdua tidak menjelaskan sama sekali tentang bagaimana hubungan Darman dan Rani.
"Aku juga nggak keenah bertanya pada kang Darman alasan itu Yu, kalau saja aku bisa menikah dengan kang Darman kita pasti jadi kakak dan asik ipar. " dengus Rani.
__ADS_1
Wanita seperti nya membayangkan kalau. ia adalah kakak iparnya Ayu, sedangkan Ayu tersenyum kecut mendengarkan Rani mengatakan itu.*