TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 220


__ADS_3

Ana langsung pergi begitu saja di hadapan ibu Ani, ia akan menemui pak Bram yang berada di kantornya. Ibu Ani yang tahu itu langsung mengejar Ana yang ingin bicara sama pak Bram, tapi memang sebelum gadis itu mendatangi suaminya. Ana telah bicara pada dirinya kalau ia bakal menemui pak Bram yang sedang metting.


"Aku bakal bicara sama om Bram, kalau tante memihak pada tante Rani!" teriak Ana keras.


Gadis itu merasa kesal sama ibu Ani yang selalu berkilah saat dirinya membicarakan Rani. Bukan hanya ibu Ani saja sebenarnya tapi saat ia menceritakan Rani dihadapannya Zahra dan ibu juga mereka selalu menghindar saja.


Apalagi kalau saat ia membahas kedatangan Rani ke rumah itu beberapa waktu yang lalu, tadinya nya sama ibu Ayu ingin kalau ibu Ani membela dirinya kerena menurutnya ia dan keluarga harus kehilangan ayah kerena Rani.


Semuanya tentang Rani, itu yang Ana tidak suka dan ketika ia mengatakan sesuatu pada mereka yaitu; kenapa wanita itu tidak di penjara atau menyerahkan diri pada polisi saja. Tapi mereka hanya diam saja apalagi ibu Ani sekarang malah wanita itu sam sekali tidak mengubrisnya.


"Na, kenapa kamu tanya itu sama tante seharusnya kamu tanya ke orangnya. " kata Ibu Ani menatap wajah Ana heran.


Wanita itu benar benar tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ana, tentang kedatangan Rani ke rumah itu! Kerena memang ia tidak datang lagi ke rumah itu.


Ya wanita itu heran kenapa yang meribut masalah Rani adalah Ana bukan Zahra ya biarpun anatara Ana dan Zahra mungkin sama sama mencari keadilan buat ayahnya tapi cara Ana yang tidak ia sukai terburu buru sekali.


"Om Bram rapat Ana! Jangan diganggu, kalau kamu ingin cerita ya cerita sama tante saja! "


"Cerita sama tante? Kenapa harus cerita sama tante, sedangkan tante sendiri nggak mau. mendengarkan apa yang Ana katakan? " tanya Ana sewot sama wanita yang ada dihadapannya.


"Na, bukan tentang tante nggak mau mendengarkan apa yang kamu ceritakan pada tante! "


"Kenapa tante? Aku hanya ingin bicara masalah tante Rani, apa kerena tante Rani adik kandung tante jadi tante juga bela tante Rani?" pojok Ana kasar.


Deg! Hati ibu Ani langsung bergetar saat mendengar apa yang keluar dari mulut Ana, seharusnya kata kata itu tidak diucapkan oleh Ana pada ibu Anin tapi kenyataan nya bukan demikian.


"Bukan begitu Na, tante, "

__ADS_1


Ibu Ani ingin menjelaskan apa yang salah dari kata kata Ana.


"Tante kenapa? Tante sama saja dengan kak Zahra dan ibu nggak mau ya kalau tante Rani ketangkap! "


"Na! Kamu ngomong apa sih! Kamu harus dengarkan tante dulu jangan mendahului tante bicara. " ujar Ibu Ani.


"Alah!" kilah Ana sewot.


Gadis itu akhirnya tanpa bicara lagi langsung meninggalkan rumah tanpa permisi lagi. Ibu Ani awalnya mengajar Ana sampai ke teras, tapi gadis itu malah membawa motor Zahra mungkin mau ke kantor suaminya.


Ibu Ani sama sekali tidak bisa mencegah Ana, kerena gadis itu cepat sekali berlari dan mengambil sepeda motor ya. Wanita itu menghempaskan tubuhnya di kursi yang baca di teras.


"Ma, semuanya kerena Ana sih! kemarin uwa Rani sebenarnya ingin bicara sama Rara dan ibu tapi Ana malah ikut menimbrung! " suara Zahra terdengar di telinga wanita itu begitu jelas sekali.


"Rara bukan bela uwa Rani, ma. Uwa Rani sebenarnya datang kesini ingin tahu kalau misal ia di penjara siapa yang akan mengutus Vito. "


Suara Zahra menjelaskan apa yang terjadi pada kejadian kemarin saat ia menanyakan kenapa Rani pulang begitu saja, Zahra lah yang menjelaskannya.


"Ditambah lagi papa juga malah membela Ana, akhirnya uwa Rani pulang lagi ta la mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Mungkin intinya uwa Rani ingin tahu apa aku dan ibu bisa menerima Vito kalau misalnya ia di penjara.


Iu Ani hanya menghela nafas. Tadi juga seperti itu, ia sama sekali tidak pernah membela Rani maupun siapa saja, kerena pikiran masih ke Ana wanita itu akhirnya ia menelpon Zahra. Ia ingin meminta bantuan Zahra masalah Ana.


📱Ya ma ada apa? " tanya Zahra saat ia tahu mamanya menelpon dirinya.


📱Ana mau menemui papa kamu Ra, sambil marah marah sama mama.


Adu ibu Ani, akhirnya wanita itu menceritakan apa yang terjadi pada Ana. Mendengarkan cerita mamanya Zahra hanya menarik nafas dalam mendengar apa yang ibu Ani katakan pada dirinya, bukan hanya ibu Ani saja yang bilang tapi ibu Ayu ibunya juga yang mengatakan Ana seperti itu.

__ADS_1


📱Jadi sekarang Ana ke kantor papa sekarang.


📱 Iya dia bawa motor kamu.


📱Ya sudah kalau begitu mama sabar saja ya, biar Rara yang menemui Ana sebelum. ia menemui papa.


Zahra berusaha menenangkan perasaan mamanya supaya tidak terbawa pada pikiran ke Ana, ada perasaan geram pada gadis itu. Setelah memutuskan hubungan telponnya, Zahra langsung meninggalkan tempat itu menuju kantor pak Bram papanya menggunakan mobil.


"Na, kamu kenapa seperti ini? Kakak tahu kalau uwa Rani salah tapi jangan seperti ini, bukan hanya kamu yang terluka kakak juga terluka oleh uwa Rani, " bisik Zahra dalam hati.


Zahra bukan melarang Ana untuk membenci Rani bukan, tapi cara Ana yang menurutnya salah terburu buru ambil keputusan yang ada tanpa berpikir resiko yang ada. Sebenarnya bukan Zahra membiarkan Rani berkeliaran tapi ia hanya ingin Rani mengakui kesalahan dengan introfeksi diri, ini mungkin yang membuat Ana marah dan tidak pernah menerima keputusannya.


Siang itu setelah tadi pagi bicara dengan ibu Ayu, Zahra langsung menuju toko buku kerena ingin membeli buku bacaan yang akan dibaca kerena bukan yang di rumah hampir semuanya dibaca. Setelah membeli beberapa buku ia langsung menuju kantir.


Benar saja apa yang dikatakan oleh mamanya, Ana sudah berada di sana. Bertengkar dengan satpam kantor.


"Ini nih non! Main masuk saja, terpaksa saya yang menarik supaya keluar dari kantor! " teriak Satpam sambil menatap wajah Ana.


"Kamu yang arogan, orang pengen ketemu sama pak Bram kenapa di larang! "


"Kan harus ada izin dari pak Bram nya!" sewot satpam.


"Sudah sudah! " lerai Zahra.


Ia tanpa menunggu waktu lagi langsung menarik tangan Ana ameniju mobil yang tidak jauh dari sana, Ana yang tidak mau langsung berteriak dan meronta ronta tapi nihil! Zahra lebih kuat dari pada Ana. Zahra menyeret tubuh Ana dan langsung memasukan ke dalam mobil.


Zahra langsung membawa Ana ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman sekali.*

__ADS_1


__ADS_2