TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 200


__ADS_3

Tapi itu tidak jadi masalah kerena kejadian itu sudah lama dan ia mulai bisa menerimanya. 


"Sudahkah! Aku juga mulai  ikhlas kalau Zahra memang sudah meninggal. Dan aku juga ikhlas kalau Anin berada di samping ibunya kembali." Ani pasrah. 


Ia dengan cepat mengusap pipinya yang tiba tiba mengalir cairan bening di pipinya, ia masih mengingat semuanya tentang anaknya dan Anin yang tiba tiba muncul tanpa di duga sama sekali. 


"Maafkan aku ya Ni. " Ujar Darman getir. 


"Sudah jangan dipermasalahkan semuanya harus seperti ini. Mungkin kalau Zahra nggak meninggal aku juga nggak bakal bertemu dengan Anin."


Ani hanya bisa mengatakan itu, apa yang dikatakan itu memang benar sekali. Ia bisa ke puncak sebenarnya kerena kehilangan Zahradan suaminya membawa ke puncak menghibur dirinya, ia membanyangkan kalau misal Zahra masih hidup Anin bersama dengan siapa nantinya. 


"Maksudnya? " Darman bertanya pada Ani. 


"Aku bisa bertemu dengan Anin kerena aku dan mas Bram ke puncak dan pulangnya lewat desa Anin. Kami menemukan Anin disana pingsan sendirian, " cerita Ani. 


"Untung mas Bram mengajak aku lewat alternatif kalau nggak, aku juga nggak tahu bagaiamana Anin hidupnya. " sambung Ani membayangkan malam itu. 


Darman tertegun mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Ani. Ia dulu tidak sempat mencari Anin, Darman hanya menduga kalau ia hanya dengan Tio saja tidak tahunya ada orang lain yang ikut yaitu Anin. 


"Untung ia malam itu bisa lolos dan bisa menuju jalan utama, kalau tidak aku dan mas Bram nggak tahu bagaimana nasibnya."


"Akhirnya kami mengambil Anin dan membawa anak itu ke rumah tapi ia selalu menanyakan ayahnya yang sedang kesakitan."


Darman dan Rani terpekur mendengarkan cerita Ani. Darman sama sekali tidak menyangka kalau Anin bisa sampai jalan utama, jalan yang harus di lalui juga masih gelap dan banyak sekali krikil yang tajam dan runcing. 


"Nama Anin sama kamu diganti! " seru Darman sudah menduga. 


Pria itu tidak menduga sama sekali kalau Anin yang di duga meninggal bisa lolos dari dirinya dan Tio, ia sama sekali tidak menyangka kalau ada Anin. 


"Mas Bram yang menggantinya. Alasan mas Bram supaya ia nggak merajuk kalau nama nya Anin. Ya ia nggak mau kalau namanya jadi Zahra. " ujar Ani merasa bersalah. 


"Dia mau juga? " 


"Mau, kerena Anin menyebutkan nama kamu!" kata Ani menatap wajah Darman. 


Ani masih ingat ketika anin kecil menyebutkan nama Darman berulang ulang kali sampai suaminya juga menanyakan siapa Darman sebenarnya. 


Deg!

__ADS_1


Hati Darman bergetar dengan hebat mendengar cerita wanita yang ada dihadapannya, tantang Anin yang selalu menyebut nama dirinya. 


"Ayah dibunuh sama uwa Darman, Anin takut dibunuh sama uwa Darman juga! " wanita itu masih mengingat percakapan Anin dengan suaminya. 


"Akhirnya mas Darman menyarankan Anin mengubah namanya menjadi Zahra biar uwa Darman tidak mengetahui kalau Anin masih hidup. " jelas Ani. 


Wanita itu mengulang kata kata suaminya pada Anin kecil dan Anin kecil mengangguk dengan cepatnya. 


"Anak itu! " hela nafas Darman. 


Rani yang mendengarkan hanya mengepalkan tangannya lalu meninjukan tangan satunya. Apa yang ia takut  pada Anin terbukti sekali. 


"Kang, aku takut kalau misal Anin kabur dan ditemukan sama orang bagaiamana? " tanya Rani waktu itu. 


"Biarkan ia temukan Ran, apa yang kamu takutkan? Yang penting kita aman disini. " suara Darman terkesan cuek. 


"Kang, aku takut bocah seumuran Anin pasti bisa disalah gunakan oleh orang lain? " 


"Maksudmu? " tanya Darman masih belum mengerti apa yang dibicarakan Rani. 


"Anin kalau masih hidup ia ditemukan sama orang lain, terus ia bisa menceritakan semuanya pada orang yang menemukan nya bagaimana? Itu sama saja bohong kita bakal dihukum. " kata Rani khawatir. 


Dan apa yang Rani takutkan terjadi juga, apalagi ditambah cerita Ani yang telah menemukan Anin di jalan utama, kalau saja waktu bisa diputar mungkin ia bakal menemukan Anin tapi semuanya telah terlambat. 


"Anin sekarang sudah dewasa, aku nggak bisa melarang ia lagi untuk hidup bersama dengan ibunya, aku nggak mau menghalanginya. Dia anak Ayu dan Hamdi. " suara Ani serak. 


Wanita itu menahan tangis yang tiba tiba muncul di hatinya, ada rasa sedih, kecewa, marah dan kesal tapi ia sadar itu jalan yang ia jalani. 


"Mas Darman!" Panggil Ani. 


Wanita itu langsung memeluk tubuh Darman. Pria itu terkejut melihat Ani yang memeluk tubuhnya. Rani i tertegun sejenak melihat adegan itu. Tiba tiba ia juga memeluk keduanya dengan erat. 


"Maafkan aku juga kang! Ani maafkan kakak." ujar Rani sambil memeluk kedua saudaranya.. 


Ketiga orang saling berpelukan, dihati Darman ada sepercik penyesalan yang luar biasa saat tahu tubuh kecil itu adalah ponakan nya yang meninggal akibat kecelakaan olehnya. 


"Nggak aku nggak maafkan kamu Darman!" 


Teriak seseorang dengan kerasnya. Ketiga orang itu langsung melihat siapa orang yang berterima itu! 

__ADS_1


"Vito! " panggil Rani terkejut. 


Matanya melotot saja melihat ditangan Vito memegang sebilah pisau yang tajam. 


"Vito kamu kenapa? " getar Rani. 


"Aku ingin bunuh pria itu gara garab dia aku harus kehilangan papa, gara gara dia aku nggak punya papa. " 


"Vito! Maksudmu? " tanya Darman. 


Hati pria itu gemetar ketika melihat pisau di tangan Vito. Hatinya berdesir kuat, melihat wajah Vito yang penuh kemarahan padanya. 


"Kamu kan  yang membuat aku jadi yatim, kamu'kan yang membuat aku kehilangan papa, kamu'kan yang membuat aku harus jauh dengan papa! " teriak Vito keras. 


Tubuh pemuda itu bergetar saking tidak kuat ya menahan didihan darah yang siap tumpah kerena saking panasnya. 


"Vit, memang papa kamu meninggal kerena  pak Darman tapi jangan main hakim seperti ini! " kata Ani lembut. 


Ia masih ingat kalau Vito sering mnyebut pak Daraman pada pria yang ada di depannya. 


"Dia juga main hakim sendiri, orang nggak salah tapi dibuat salah. Membunuh ppara saksi yang tidak bersalah, sudah berapa saksi yang kau bunuh! " ketua Vito. 


"Itu kerena melindungi mama, Vito. Mama nggak tahu bagaimana nasib mama kalau tidak ada pak Darman yang selalu bantu mama. " jelas Rani sambil mendekati Vito. 


Tapi Daraman was was takut kalau Vito bekas menu sukan pisau ke perutnya Rani. Tapi wanita ituu tidak peduli sama sekali asal pria yang selalu ini menyayanginya selamat dari amukan anaknya. 


Ia tidak ingin orang yang ia sayangi harus meninggal di tangan anaknya, seperti hamdi yang meninggal oleh Darman. Dan ia tidak mau  kejadian itu terulang lagi pada dirinya, kasihan foto lebih baik  ia yang berkorban untuk Darman. 


"Kak! " panggil Ani was was. 


"Mas! " panggil Ani. 


Ia tidak bisa berkutik saat Rani mendekati Vito. 


"Ma, jangan halangi aku biarl membunuh pria itu! Pria itu ngak pantas hidup! " teriak Vito beringas. 


"Vit, memang aku nggak pantas hidup. Kalau kamu ingin bunuh, bunuh aku saja jangan kau pelampiasan kemarahanmu pada mamamu! Teriak Darman. 


Pria itu langsung berjalan menghampiri Vito. Keduanya saling berhadapan satu sama lainnya, hampir saja tangan Vito bergerak bersama pisau yang dipegang olehnya tapi malah tertahan.*

__ADS_1


__ADS_2