
Rani termenung disebuah tempat di perbukitan antara dua desa. Pikirannya kemana mana mengingat orang tuanya yang begitu tega menghempaskan dirinya sendirian di panti asuhan yang jauh dengan orang tuanya.
Ia belum pernah merasakan kasih sayang orang tua yang utuh, kadang ia merasa iri pada teman teman yang lain memiliki orang tua yang lengkap dan penuh kasih sayang.
"Mama dan papa nggak tahu kak, aku juga nggak tahu apa apa, kalau. mungkin mereka tahu pasti merka juga mencari kakak." kata Ani waktu itu.
"Kenoa dulu kalau kakak tahu kakak diam saja tidak menyusul kami? "
Kata kata itu yang selalu terhiang hiang di telinga nya. Tentang pembelaan Ani pada kedua orang tuanya, orangtua dirinya juga.
Rani menganggap wajar kalau Ani. membela kedua orang tua kerena Ani. mendapatkan. limpahan kasih sayang yang utuh dibandingkan dirinya.
"Pernikahan orang tua kita tidak direstui oleh oma dan opa, kerena nenek orang tua papa orang yang tidak mampu. Sampai mama dan papa meninggal jiga mereka tidak cerita kalau aku punya seorang kakak."
"Aku juga tidak. mengenal mereka kak, ya aku nggak kenal dengan oma dan opa, aku hanya kenal kakek dan nenek saja.
Kata Ani memberitahukan apa yang terjadi pada keluarganya. Ani hanya ingin. menjelaskan pada Rani kalau ia tidak membohongi Rani tentang cerita itu.
" Aku. nggak percaya kisah itu kisah fiktip! " Terima Rani.
"Terserah kakak mau percaya mau nggak juga, aku sudah menjelaskan pada kakak. " kata Ani pasrah.
"Kak, maafkan mama dan papa, biarkan ia tenang di sisiNya." Lanjut Ani.
Rani hanya menghela nafas panjang mendengar apa yang diceritakan oleh Ani. Ia sebenarnya masih ragu untuk percaya pada Ani, tapi tatapan Ani begitu tulus untuk berkata bohong pada dirinya.
"Aku nggak akan pernah memaafkan mereka! merekantelah menbuang aku, aku kesepian sedangkan kamu? Kamu punya segalanya, orang tua, suami, anak dan segalanya! " teriak Rani menatap. tajam.
"Kak! syukuri yang ada! Kakak sebenarnya melebihi aku, kakak yang punya segalanya sedangkan aku? " sembir Ani tegas.
"Oke, kalau orang lain melihat aku. Memang sempurna, punya segalanya, kebahagiaan, tapi aku sadar anak anakku. meninggal dunia semuanya? Sampai aku sadar telah memisahkan ibu dan anak! " jerit Ani.
Rani hanya diam. kalau dipikir sih memang benar, ia anak punya tapi sampai sekarang ia tidak tahu keberadaannya. Mereka meninggalkan dirinya sendirian.
"Anakku tiga kak, laki laki satu dan cewek dua. Tapi ketiganya malah meninggal dunia, duanya lahir prematur dan zahra meninggal di usia 6 tahun, "
__ADS_1
Ani meraung saat menceritakan kisah hidupnya, ia hanya ingin kalau Rani tudak kufur nikmat yang telah Tuhan berikan itu sebenarnya cukup tapi kenyataannya? Rani langsung terdiam mendengar semua yang diceritakan oleh Ani.
"Zahra Anindya mwninggal kak, aku nggak punya anak lagi, apalagi vonis dokter mengatakan aku nggak pernah punya anak lagi."
"Aku.menemikan Anindya di desa itu, saat aku dan mas Bram pulang dari puncak. " Ani terbatas bata menceritakan pertemuan dirinya dengan Anin.
Rank hanya diam terpekur saat mendengarkan semua cerita dari Ani.
"Aku bisa bertahan kerena Anin kak, aku nggak mau kehilangan Anin, sampai nama Anin aku ubah menjadi zahra. "
"Tapi ingatan Anin tetap hadir dalam benaknya, ia masih mengingat nama ayah dan ibunya. Dan kakak tahu yang lebih menyakitkan aku, Anin tetap menyebut ibunya di setiap ceeitanya."
"Jujur, kak. Aku itu sama ibunya Anin. Ia mampu mendidik Anin bocah kecil yang polos untuk menghargai dan menyanyangi orang tuanya. "
Anienjelaakan semuanya tentang Anin yang ia ganti namanya menjadi Zahra, ia lakukan hanya ingin Anin hidup dalam dunia Zahra tapi Anin tetap Anin yang punya ingatan kuat tetang kasih sayang ibunya dan ayahnya.
"Kak, jujur kalau aku suruh memilih aku ingin Anin menjadi miliku seutuhnya. Tapi aku nggak bisa kerena apa, kerena Anin selalu ingat ibunya. "
Ani hanya merasakan sakit hati saat ia mengingat kalau hanya Ayu lah yang selalu di hati Zahra,. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, kerena memang Anin atau Zahra memang anak kandung dari Ayu, jadi pantas kalau Zahra mengatakan kalau dirinya bangga menjadi putrinya Ayu dan hamdi.
"Aku hanya bersyukur sekarang memiliki Anin atau zahra dalam hidupku. "
"Uwa kok disini, ayo kita ke rumah mbok Inem. " kata Zahra menghampiri wanita itu.
Wanita itu hanya mwngelwngkan kepala saja, melihat itu Zahra langsung duduk di samping wanita itu.
"Nin, kamu begitu sempurna ya mempunyai seorang ibu dan mama yang begitu sayang sama kamu, sedangkan uwa sendiri? " kata wanita itu tanpa melirik Zahra yang ada di sampingnya.
"Uwa kok bicara begitu sih! "
"Uwa hanya mwmbanyanhkan jadi kamu, memeiliki ibu sedangkan uwa? "
"Setiap anak itu mempunyai ibu dan ayah, nggak ada orang yang tidak memiliki ibu dan ayah kecuali nabi Adam. " tutur Zahra mwnghela nafas panjang.
Hati gadis itu dapat merasakan kalau wanita yang ada di sampingnya memang merindukan seorang ibu, oke ia jga sebenatnya merindukan kebersamaan dengan orang tuanya, tapi ahaha telah lama meninggal. Tapi wanita yang di hadapannya?
__ADS_1
"Uwa rindu ibu, " lirih wanita itu pelan.
Tapi ucapan pelan itu masih yerdengar dengan jelas oleh Zahra. Ada perasaan yang mwnyelusup dihatinya, saat mendengar kakau wnaita itu rindi ibunya. Zahra bisa merasakan itu dari sorot mata wanita itu begitu besar rasa rindu nya pada sosok ibunya.
Tapi ia tidak bisa membantu apa apa pada wanita yang dihadapannya.
"Uwa, Rara tahu uwa rindu ibi, Rara juga rindu ibu dan ayah. Kita sama-sama merindukannya."
"Tapi kamu masih beruntung masih bisa bertemu dengan ibu kamu, sedangkan iwa sama sekali nggak dikenal oleh orang tua uwa sendiri, uwa benar benar teebuang. " dengus wanita itu perih.
Zahra melihat wajah wanjta itu ada sebuah luka yang begitu dalam dari sorot matanya.
"Kamu masih beruntung biarpun ayahmu telah meninggal tapi sososknya masih ada dihatimu, begitu juga secara fisik. kamu. juga masih bisa memanggil ayah pada Bram. "
Zahra terpekur apa yang dikatakan wanita itu benar tapi dihatinya biarpun di sampingnya ada pak Bram yang selalu menyanyanginya taoi hati nya masih ada ayahnya.
"Uwa, sudah jangan pernah. menyesali apa yang terjadi ya, syukurin semuanya dan ada hikmah yang harus kita raih. " ingat Zahra mwngusap pugung wanita itu. lembut sekali.
"Uwa kalau boleh tahu, kenapa anak anak uwa ngak ada disini. Kira kira meraka kemana pergi nya meninggalkan uwa? "
Tanya Zahra memberanikan dirinya untuk mengetahui keberadaan anak anak dari wanita itu. Ia sangat penasaran pada anak anak wanuta itu yang menurut wanita itu meninggalkannya, kalau. misal anak anak meninggalkan wanita itu pasti ada sebab dan akibatnya.
Wanita itu terdiam seketika juga saat mendengar kata kata Zahra yang tanpa ia duga sama sekali, tapi wanita itu hanya menghela nafas panjang.
Zahra menunggu apa yang akan diceritakan oleh wanita itu, ia berjanji akan mencari anak anak wanita itu!
"Uwa juga nggak tahu mereka pergi kemana? Tapi ini juga salah uwa sih! Uwa terlalu keras pada mereka. "
Kata wanita itu dengn tatapan matanya yang penuh penyesalan.
"Keras bagaimana? " tanya Zahra ingin tahu.
"Uwa sering mukul anak anak uwa kalau mereka nggak dapat nilai disekolah."
Wanita itu menceritakan kenpa anak anaknya pwegi begitu saja saat dewasa meninggalkan dirinya, ia mengakui kalau ia salah lada anak anaknya . Bukan memberikan harapan tapi malah meruntuhkan harapan mereka.*
__ADS_1