TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 192


__ADS_3

"Kenapa diam? Pasti alasannya kerena anda adalah adik dari keduanya? Jawabannya sama dengan jawabnya yang Anda. Mereka nggak menyakiti Zahra kerena Zahra sebenarnya menjadi incaran mereka." ungkap ibu Ayu nyakin. 


Wanita itu mengucapkan itu kerena ia merasakan nyakin pada mereka berdua kalau keduanya bagaimana pun juga akan lindungi Zahra. 


"Jadi jangan ada prasangka buruk dengan keduanya, saya mohon pada kalian termasuk Ana. " ujar ibu Ayu mantap. 


Apa yang dikatakan wanita itu sebenarnya nyata sekali, sesungguhnya ia pernah mendengar pertengkaran Rani dan Darman sebelum ayahnya anak anak meninggal. 


Keduanya memperebutkan Anin. Sebenarnya Darman tidak mau kalau Anin diculik oleh Rani, tapi wanita itu keukeuh untuk mengurus Anin. Tapi ia hanya diam saja ketika itu, dan berita itu datang kalau sesunguhnya Rani hanya ingin mengambil Anin dari tangannya tapi Darman tidak mau memisahkan Anin dengan keluarganya. 


Jadi Ayu merasa nyakin kalau keduanya bakalan melindungi Zahra bagaimanapun posisi mereka sekarang. 


"Kamu sekarang menanyakan  alasan yang saya kemukakan sama anda. " 


"Tapi ini lain lagi, Zahra ponakan angkat dari pihak saya dan di pihak ayahnya bukan ponakan asli, " akhirnya ibu Ani mengakui kalau Zahra benar benar bukan anaknya. 


"Sama saja. Jadi tenangkan hati kalian ya jangan sampai khawatir berlebihan, " ibu Ayu memberikan saran pada ibu Ani dan pak Bram termasuk pada Ana. 


"Tapi nggak bisa begitu sih!" ibu Ani sewot mendengar apa yang dikatakan ibu Ayu. 


Pak Bram la hsung mengangkat tangan kearah istrinya. Ia mengangguk anggukan kepala nya, ya biarpun hatinya sangat kacau tapi apa yang dikatakan wanita itu benar. 


"Mas, jangan diam saja lebih baik. Kita kepung saja tempat mereka! " teriak ibu Ani gusar. 


"Kenapa sih ibu harus bicara seperti itu, aku nggak terima kalau kak Rara kenapa kenapa. Ibu masih ingat apa yang pernah dilakukan uwa Darman pada kak Rara? " tanya Ana. 


Ana membenarkan apa yang dikatakan oleh ibu Ani, ditambah lagi ia ingat bagaimana kejamnya uwa Darman pada Zahra waktu masih di desa itu! 


Kalau saja ia tidak menghalangi pisau yang akan di tusukan pada zahra tidak mungkin  ia masuk rumah sakit! 


"Uwa Darman belum tahu Zahra waktu itu." dengus Ibu Ayu. 


"Benar, Na. Untung ada kamu yang melindungi Rara. " dukung ibu Ani. 


Pak Bram hanya tepuk jidat mendengar dukungan yang dikatakan oleh istrinya, ia tidak menyangka kalau istrinya bakal mengingat itu semuanya. Sedangkan Ibu Ayu hanya diam, ia ingat itu semuanya sampai Ana di bawa ke rumah sakit untuk di rujuk kerena hampir kehabisan darah.


Dari sana ia tahu kalau Zahra itu Anin, mungkin kalau Ana tidak mengalami pendarahan dan butuh donor darah kemungkinan identitas Zahra sampai sekarang tidak bakal ketahuan sama sekali. 


"Ibu jangan bela mereka bu! " rajuk Ana manatap wajah wanita yang telah melahirkannya. 

__ADS_1


"Ana tahu kalau ibu selalu bela mereka berdua yang selalu menyakiti ibu dan ayah. Kali ini saja bu, Ana mohon sama ibu. " sambung Ana melanjutkan perkataannya.


"Bu Ana benar apa yang dikatakan putrimu, Rani dan Darman bahaya buat Zahr! " protes ibu Ani keukeuh. 


Wanita itu menginginkan kalau ibu Ayu bertindak jangan sampai gegabah, dan membiarkan Zahra sendirian disana. 


"Insha Allah saya yakin kok! " 


Ibu Ani hanya menghela nafas panjang mendengar kepercayaan wanita itu pada Darman dan Rani, ya apa yang dikatakan Ana sebenarnya kalau mereka berdua selalu menyakiti keluarga ibu Ayu. 


Tapi hati ibu Ani sangat khawatir sekali, mendengar apa yang dikatakan oleh ibu Ayu di hadapannya, sebenarnya bukan ia tidak percaya pada saudaranya itu. 


"Oke jangan diperdebatkan lagi, saya juga mengikutin apa yang dikatakan ibunya Ana. " ujar ibu Ani menatap suaminya. 


Wanita itu sebenarnya tahu kalau Zahra pergi ke Darman. Ia awalnya melarang Zahra pergi tapi gadis itu malah keukeuh dan berjanji pada dirinya untuk sekali saja bicara dengan pria yang disebut uwa olehnya. 


Apa yang dikatakan Ibu  Ayu di hadapan ibu Ani, Ana dan pak Bram benar saja. Sebenarnya Darman pernah beeniat ingin melukai Zahra kerena pernah menangkap Rani, dan itu diutarakan langsung pada Rani sendiri. 


Tapi wanita itu mewanti Darman untuk tidak melukai Rani, mendengar apa yang dikatakan Rani; Darman hanya bisa mengangguk tapi dalam hatinya tidak setuju. 


"Aku nggak mau kalau misal Ankn kenapa kenapa, kalau sampai Anin kenapa kenapa aku nggak bakal memaafkan yang dilakukan oleh kamu." tekan Rani waktu itu. 


"Oke! Aku janji pada kamu biar kamu puas! " ujar Darman agak kesal. 


"Siap aku percaya sama kamu. "Kata Rani serius. 


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rani, Darman hanya bisa garuk kepala tidak gatal. 


Sedangkan Zahra dan Darman keduanya asyik mencurahkan hati nya masing masing. Tanpa ada ngangguan dari siapa pun juga. 


"Uwa juga nggak tahu sih! Sebenarnya uwa tahu semuanya setelah uwa kenal dengan Rani tentang cerita itu! Cerita kalau nenek uwa yang mw buang uwa dan Rani." 


Darman sengaja menyebutkan dirinya sebagai uwa di hadapan Zahra, gadis itu juga tidak menampaiknya kalau pria itu menyebutkan dirinya uwa. Zahra tidak jadi masalah kerena bagaimana pun Darman harusnya menyembut itu  sejak dulu. 


Darman tidak ragu ragu menceritakan tentang   keluarganya, gadis itu hanya diam saja mendengarkan saja. Sejujurnya ia juga tidak kenal dengan yuyut sama l sekali, mama tidak pernah membawa dirinya kesana. 


"Yuyut kamu sudah. Meninggal Ra, jadi mama nggak pernah membawa kamu. Bertemu dengan yuyutmu," ungkap ibu Ani. 


Kata kata ibu Ani masih terdengar dengan jelas sekali oleh Zahra, ia hanya kenal dengan nenek ibu dari mamanya. Ningsih. Bukan itu saja ia juga kenal dengan ibu dari papanya. 

__ADS_1


"Maafkan mama sayang. " 


Zahra hanya mengangguk saja kerena ia. Juga percuma minta  bertemu dengan yuyut kalau orangnya juga tidak ada, dan ia sebenarnya sekarang tidak begitu nyakin kalau yuyutnya meninggal dunia. 


"Oma lah yang memisahkan uwa dan ibu uwa." Darman menerawang mengingat kejadian itu. 


"Tapi kenapa uwa harus jahat sama ayah? Asik uwa sendiri? Sedangkan uwa juga si tolong sama ibunya ayah? " 


Zahra bertubi tubi menanyakan alasan pria itu menyakiti keluarganya, menurutnya sih Darman seharusnya tidak pernah menyakiti keluarganya. 


"Maafkan uwa! " 


"Kenal mi ta maaf? " tanya Zahra heran atas permintaan maaf Darman pada dirinya. 


"Aku salah pada kamu dan keluargamu, " Darman mengakuinya. 


"Kalau.memang uwa mengakui salah kenapa nggak lapor polisi saja atau menyerahkan diri pada polisi! " tegas Zahra. 


BRAK! 


"Kamu jangan lancang!" 


"Kenapa lancang! Kenyataannya seperti itukan? Seharusnya menyerah akan diri pada polisi untuk di proses hukum, memangnya enak jadi buronan terus! " pojok Zahra tegas. 


"Jangan bicara masalah itu! Saya nggak suka! Teriak Darman. 


"Nggak suka? Kalau memang uwa nggak suka kenapa harus dilakukan oleh ua sendiri, sebelum bertindak harus berpikir jernih supaya nggak ada penyesalan sama sekali." Zahra menasehatinya. 


Zahra benar benar gemas mendengar apa yang diucapkan oleh pria yang ada di hadapannya. Tapi ia tidak pernah berhenti untuk mengucapkan kata kata nya untuk pria yang ada dihadapannya. 


"Uwa, anin tahu apa yang uwa pikirkan waktu itu! Uwa sebenarnya uwa punya kasih untuk Anin  tapi terlalu mudah terhasut. " sindir Zahra. 


Zahra sengaja mengorek keterangan  kejahatan Rani di depan Darman. Ya gadis itu percaya  tidak 100 persen Darman menjalankan aksinya tapi hanya 50 persen saja sisanya Rani. 


Darman mendengar Zahra berkata itu langsung beranjak dari duduknya hendak pergi meninggalkan Zahra, tapi gadis itu dengan cepat langsung memegang tangan Darman. 


"Lepaskan! " teriak Darman sambil menepiskan tangan Zahra dengan kerasnya nya. 


Tangan Zahra berhasil ditepiskan oleh Darman tapi gadis itu tidak tinggal diam langsung mengikuti pria yang akan masuk ruangan.*

__ADS_1


__ADS_2