TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 33


__ADS_3

"Kamu dengan uwa Iyan saja ya Bu pergi ke kliniknya," kata Hamdi. 


Ia sebenarnya tidak tega melihst Ana yang rewel kerena demam yang tidak turun. Kalau tidak ada janji mungkin Hamdi akan mengantarkan Ayu ke klinik, tapi kerena ada janji maka ia mengizinkan uwa Iyan mengantarkan istrinya ke klinik untuk periksa Ana. 


"Ya sudah kalau begitu ayah baik baik saja ya sama Anin, ibu nggak lama kok bakal pulang." Ujar Ayu. 


Wanita itu sebenarnya berat meninggalkan Anin dan ayahnya di rumah berdua, hati nya berdebar keras sekali. Tapi kerena ia merasa Ana butuh ke klinik maka Ayu dengan berat hati meninggalkan suaminya dengan Anin. 


Ayu merasa takut kalau Hamdi di apa apa kan oleh Darma. Tapi perasan itu ia tekan saja, dan dibuang jauh jauh dari hatinya. 


"Anin nggak diajak sama ibu, ayah?' tanya Anin menatap wajah Hamdi. 


"Nggak Anin tani ayah ya di rumah ini, ayah ingin selalu bersama dengan Anin." 


"Oke!" 


Malam itu Ayu dan uwa Iyan pergi ke klinik yang tidak jauh dari rumahnya, sedangkan Hamdi menunggu Karta yang janjinya akan datang sebelum jam 20.00, tapi sampai jam 21.00 belum sampai juga.


"Menunggu siapa dek," ujar mbok Inem menghampiri Hamdi yang termenung. 


"Kang Karta katanya mau kesini tapi sampai jam segini belum juga datang?" Tanya Hamdi seperti pada dirinya sendiri. 


"Mungkin ada urusan yang mendadak jadi kang Karta datang lambat," hibur mbok Inem duduk di samping Hamdi. 


Wanita itu percaya kaku Karta ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, ia tahu Karta, laki laki itu tidak bakal ingkar janji pada siapa pun juga kecuali keadaan yang mendesak. 


"Ya udah mbok mau menidurkan Anin, jam segini anak itu harusnya tidur ini masih belum," ujar mbok Inem langsung menghampiri Anin yang sedang main boneka dari kain. 


"Anin mau menunggu ibu dan ade, mbok. Tadi bobo siang sama uwa Iyan jadi sekarang belum mengantuk!" Protes Anin pada mbok Inem. 


"Tapi sekarang sudah jam 21.30," ingat mbok Inem. 


Anin mengelengkan kepala saja tanda ia tidak mau tidur, mbok inem hanya manyun melihat gelengkan kepala. 


Akhirnya mbok Inem pamit pulang ke rumahnya, awalnya Anin mau diajak tapi bocah itu menolak ingin menunggu ayahnya. 


Hamdi mengangguk dan mengizinkan mbok Inem pulang, sebenarnya mbok In dan uwa Iyan tidak pernah tidur di rumah Hamdi. Mereka kalaualam sering pulang ke rumah kecuali kalau Anin meminta mereka menginap. 


Dan malam itu Anin tidak meminta mbok inem tidur di rumahnya, wanita itu pamit mau pulang. Anin hanya mengangguk dan melampaikan tangan mungilnya, sedangkan Hamdi mengantarkan mbok Inem ke luar. 

__ADS_1


Tidak lama setelah mbok Inem pergi, Hamdi mengajak Anin buat tidur. Anin langsung mau diajak tidur oleh Hamdi, akhirnya mereka tidur di kamar depan. 


BRAK! 


Suara pintu di terjang seseorang diluar, Hamdi dsn Anin yang hampir tidur lanhsung terbangun kaget. Hamdi langsung melirik wajah Anin, gadis itu malah menempelkan telunjuknya di bibir tanda ia dan ayaanya diam. 


Hamdi langsung beranjak dan keluar dari kamar sambil menyuruh Anin diam di kamar. 


"Kang Darman?" Tanya Hamdi terbelalak melihat Darman malam malam seperti ini datang ke rumah. 


BUG! 


Sebuah bogem melayang ke wajah Hamdi dengan keras, tubuh Hamdi terhuyung ke belakang tapi tidak jatuh. 


"Kang! Apaan?" Tanya Hamdi kaget. 


"Apa apaan? Maksudnya apa? Kamu mencari bukti supaya kamu bebas dari penjara!" Terik Darman..


Anin yang berada di kamar mendengar suara Darman berteriak dan suara pukulan. Bocah itu tidak mengkeret ketakutan, waja pucat sekali. 


'Ayah!' bisiknya pelan. 


"Kang!" 


"Sampai kapan pun kamu nggak akan bertemu dengan Karta. O,ya malam ini seharusnya kamu bertemu dengan Karta kan, tapi dia nggak bakal datang sampai kapanpun!" Gelagar suara Darman. 


"Maksudnya? Kang apa yang akang lakukan pada kang Karta? Apa?" Terima Hamdi gusar. 


Ia langsung menduga yang tidak tidak pada Darman. Ditatap wajah Darman yang penuh dengan api dan kebencian yang terlihat diwajahnya. 


"Kalau kamu ingin ketemu dengan dia ada di kebun!" 


"Nggak aku nggak akan ikut ke kebun itu! Aku nyakin ini jebakan yang kau ulangi!" Sembur Hamdi. 


"Ya jebakan supaya kamu mendekam di penjara seumur hidup, dan.aku ingin merampas segalanya yang jadi hak kamu!" Cerca Darman riang. 


"Kang! Aku nggak memeliki apa apa lagi, kecuali istri dsn kedua putriku, apanyang akang lakukan!" 


"Rumah ini. Ya rumah ini yang aku inginkan," potong Darman sambil tertawa. 

__ADS_1


"Nggak aku nggak bakal memberikan rumah ini pada siapapun juga! Ketus Hamdi. 


"Banyak bacot kamu!' terik Daraman sambil menghajar wajah Hamdi. 


Tio juga tersenyum sinis menatap wajah Hamdi. Ia dengan cepat langsung menerjang tubuh Hamdi, laki laki itu yang tidak menduga langsung terhubung dan terjelambab kebelakang kepalanya langsung terbentur di lantai. 


"Aww!" Rintihnya sambil memengang kepalanya yang terasa sakit sekali.


Belum sempat Hamdi berpikir, tiba tiba sebuah kayu melayang ke wajahnya, Hamdi tidak bisa mengelak dan tubuhnya tersungkur ke lantai dan ambruk seketika juga. 


Hamdi pingsan. 


Anin yang melihat ayahnya tersungkur dan terjatuh, hampir saja bocah itu memanggil nama ayahnya. Tapi ia  hanya diam saja. Tiba tiba cairan bening keluar dalam matanya, ia ingin sekali bantu ayahnya tapi ia takut dua orang itu bakal tega menganiaya dirinya. 


Melihat itu Darman merasa puas sekali, tapi ia melirik kearah Tio. 


"Periksa ruangan ini!" Perintah Darman pada Tio. 


Tio langsung mengangguk dan pergi memeriksa. Semua ruangan oleh Tio di periksa, Anin yang mendengar itu langsung berlari ke dalam kolong ranjang nya, sambil membekap mulutnya sendiri. 


Hatinya berdebar sangat kuat sekali, ia sangat ketakutan. Tapi ia berusaha dengan kuat supaya tidak ketahuan sama sekali oleh laki laki itu! 


"Nggak ada siapa siapa kang! Kaya nya rumah ini kosong!" 


"Baik lah. Jadi kita dengan leluasa membawa dia ke kebun itu!" Ujar Darman sambil tersenyum. 


Di kolong ranjang Anin mendengar percakapan keduanya. 


"Kita biang saja tubuh ini ke kebun, dan satukan dengan mayat Karta, semoga warga menyangkanya mereka bertengkar dan saling bunuh bagaimana?" Tanya Darman tersenyum. 


"Itu lebih baik, kang! Untung ayu dsn kedua anaknya nggak ada di rumah ini kalau ada kita bunuh saja kang!" 


"Ya, kita sikat saja mereka. Mungkin ayu dan kedua anaknya berada di mbok Inem, mereka tidur disana." Ucap Darman..


Drama tidak menyadari kalau ada bocah kecil yang melihat semuanya tindak tanduk dirinya menghajar Hamdi. Tio dan Darman langsung menarik tubuh Hamdi keluar rumah, Anin yang sudah keluar dari kolong ranjang langsung keluar dsn mengikuti keduanya yang membawa tubuh ayahnya. 


Bocah itu mengikuti kedua orang yang membawa tubuh ayahnya..


"Uwa Karta dibunuh oleh mereka, mereka jahat!" Bisik hati Anin perih. 

__ADS_1


Anin bukannya berlari menyusul ibu dan uwa Iyan tapi malah mengikuti keduanya menuju sebuah kebun. Kaki kecilnya mengikuti keduanya, ya biarpun hatinya ketar ketir ketakutan apalagi malam belum larut.*


__ADS_2