
"Sebuah kecemburuan yang nggak pernah ia dapatkan dari keluarga, merasa tersisihkan menjadikan dirinya seperti itu. Itu yang uwa dengar, ditambah lagi memiliki anak seperti kamu." kata Uwa Iyan menghampiri cerita.
"Rani sangat dekat dengan ibu Ayu, kerena ia tinggal disini. Rani sering cerita kaku dirinya punya adik, tapi entah adiknya tahu atau nggak nya keberadaan kakaknya." lanjut Uwa Iyan.
"Tapi kan wanita itu memiliki segalanya dibandingkan mama?"
"Nggak Rani nggak pernah memiliki segalanya dibandingkan adiknya. Ya secara luar Rani memiliki segalanya, punya rumah, anak, tapi satu hal yang nggak pernah ia miliki kasih sayang."
"Malah adiknya yang secara luar nggak pernah memiliki anak tapi ia punya segalanya yaitu anak yang baik, patuh, taat, ya biarpun anak angkat," ujar uwa Iyan.
Zahra terdiam. Dio juga terdiam. Ada kisi hati yang kosong menyelusup di hatinya Zahra..
"Tapi kenapa wanita itu tahu kalau aku anaknya mama?"
"Entah kaku itu uwa juga nggak ngerti. Dsn uwa juga baru mendengar kalau Rani memang pernah mengikuti adiknya yaitu Ani.
Setelah semuanya selesai dan Zahra mengerti akhirnya hari itu juga Zahra dsn Dio lanhsung menuju kota, perjalan yang di tempuh mereka berjalan dengan cepatnya.
"Langsung pulang?" tanya Dio..
"Ke rumah ibu," pinta Zahra..
"Oke kita kesana sekarang."
Malam telah sempurna turun. Saat itu Zahra telah sampai di kantin yang di tempati oleh ibu Ayu dan Ana .
"Rara!" ibu Ayu terkejut.
Ketika ia melihat Zahra berdiri tersenyum di hadapannya, wanita itu tanpa sadar langsung memeluk Zahra. Ibu Ayu telah terbiasa dengan panggilan Rara, begitu juga dengan Ana.
"Kamu kemana saja?" bisik ibu Ayu masih memeluk Zahra.
"Ceritanya panjang Bu," jawab Zahra..
Gadis itu melepaskan pelukannya. Dio yang melihat hanya tersenyum ada kebahagian tersendiri saat ia melihat Zahra dsn ibu Ayu saling berpelukan satu sama lainnya.
Dio langsung pulang ke rumah.
"Terimakasih ya Dio Ats bantuannya." kata Zahra tersenyum..
"Iya sama sama Ra."
Dio melambaikan tangan ke Zahra, gadis itu membalas lambaian tangan Dio yang meninggalakan kantin.
"Ibu kenal dengan Rani?" tanya Zahra ketika mereka sudah di dalam..
Ibu Ayu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Zahra, ditatapnya wajah gadis yang ada dihadapannya.
"Bu, ibu kenal dengan Rani? Lalu kenapa gambar ayah ada di rumahnya?" tanya Zahra kembali sambil menunjukan gambar dirinya dengan pak Hamdi.
"Kamu selama ini disana?" tanya ibu Ayu menatap Zahra.
Wanita itu malah menanyakan Zahra, tanpa menjawab pertanyaan yang dilontrakan oleh gadis itu.
"Nak, sebenarnya Rani pernah mencintai ayahmu, tapi ayahmu malah mencintai ibu."
__ADS_1
"Lalu kenapa Rani tahu kalau aku anak ayah? Sedangkan aku di besarkan oleh mama?" kejar Zahra.
"Rani sepertinya mencari tahu keberadaan kamu."
"Ibu juga nggak tahu pastinya sih!"
Zahra hanya diam. Tapi itu tidak berlangsung lama, gadis itu memeluk tubuh ibu Ayu dengan erat sekali, tanpa mereka duga satu sosok tubuh melesat memeluk Zahra..
"Kakak!" terima Ana.
Gadis itu sebenarnya sudah tidur tapi sayup sayup ia mendengar ada orang yang bicara tapi saat melihat, matanya terbelalak saat tahu Zahra berada di rumah itu!
"Ana!" jawab Zahra ada keharuan yang menyelusup hatinya.
Ia sangat rindu lada Ana begitu juga dengan Ana, wanita itu hanya menatap kedua putrinya dengan perasaan haru dsn bahagia sekali.
"Kalian harus baik baik saja ya, jangan terpisah lagi."
"Anin janji Bu, nggak akan terpisah lagi dengan kalian," kata Zahra tersenyum..
Kerena malam sudah larut, maka ketiga wanita itu langsung tidur di kamar. Zahra benar benar terharu sekali kerena bisa tidur bersama kembali dengan ibu dsn adiknya seperti dulu, hanya ayah yang tidak ada saat ini.
🦋
Wanita itu kaget waktu tahu Zahra menghilang ditambah lagi Narti juga tidak ada di dalam rumah. Wajahnya begitu geram saat tahu kamar Zahra tidak ada orangnya, di dapur tidak ada siapa siapa.
Apalagi melihat pagar rumahnya tidak ditutup sama sekali, ia menduga ada orang yang masuk. Mustahil kalau Narti membawa kabur Zahra! Atau Zahra yang membawa kabur Narti?
Itu pikiran yang hadir dalam benak wanita itu!
"Narti!"
"Narti!"
Panggil wanita itu bolak balik dapur, belakang, depan, taman dan tempat lainnya. Sambil berteriak memanggil Narti. ART itu benar benar raib sekatika juga.
Sedangkan Narti oleh Dio berada di gudang tubuhnya diikat oleh tambang oleh Dio, ia berusaha melepaskan dirinya tapi ikatan nya kuat ditambah lagi mulutnya disumpal oleh kain yang diikat.
Ia mendengar jelas suara majikannya berteriak memangil namanya, tapi ia tidak bisa membalas panggilannya.
"Kemana babu tengik itu!"
BRAK!
Wanita itu langsung melempar barang yang ada dihadapan hanya, semuanya dilempar suara terdengar sangat gaduh sekali.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Tolong"
Narti mencoba berteriak biarpun suaranya tertahan juga, ia hanya ingin majikan tahu kalau dirinya ada di gudang. Tapi sia sia saja kerena wanita itu tidak mendengar sama sekali teriakan Narti..
Narti berteriak cuma di dengar oleh dirinya. Kemungkinan kalau wanita itu berada dekat pintu pasti terdengar.
__ADS_1
Narti berusaha membuat kegaduhan di sekitar gudang supaya mencari perhatian majikannya.
"Narti!
"Kamu kemana sih!" dengus nya.
Narti bukanya tidak mendengar panggilan majikannya, tapi kerena mulutnya disumpal jadi ia tidak bisa berteriak keras.
"Kurang ajar!"
Wanita itu menyepak ember yang berisikan kayu kering. Sampai ember itu terpental jauh.
"Dasar! Kemana anak itu!"
Kerena orang yang dicarinya tidak diketemukan akhirnya wanita itu menghempaskan tubuhnya di sofa depan sambil berpikir kemana mereka berdua perginya.
"Jangan jangan!" teriak wanita itu langsung beranjak dari duduknya kembali, ia langsung menuju kamar depan yang dipakai oleh Zahra. ia menatap ada beberapa gambar yang hilang!
"Bajingan kaku Zahra! Kalau sampai kamu ketemu bakal aku cincang kamu!" teeika wanita itu gusar.
"Hamdi kamu nggak akan lolos!" teriak wanita itu.
Ia langsung mencakar dinding, matanya berkobar marah.
"Aku nggak akan pernah membiarkan kalian bahagia!" teriak wanita itu..
Ia dengan marahnya melempar lampu hias yang ada di dinding.
BRAK!
Bunyinya terdengar dengan jelas sekali.
Ia langsung keluar dari kamar yang ditempati Zahra dan hatinya membawa ke sebuah pekarangan belakang.
DUG DUG!
Suara terdengar kembali di gudang! Telinga wanita itu mendengar tapi suara itu melemah. Hanya sayup sayup terdengar kembali, Seperti ada orang.
"Siapa?' tanya wanita itu heran..
"Tolong!"
Narti berusaha berteriak dengan keras supaya majikannya mendengarkan suaranya..
Kerena penasaran wanita itu akhirnya membuka gudang, matanya terbelalak keluar saat ia melihat Narti diikat di kursi.
"Kamu ngapain disini?" tanya wanita itu.
Wanita itu langsung membuka ikatan dan simpel yang di mulut Narti.
"Zahra Kabir!" ujar Narti.
"Aku sudah tahu, kabur kemana? Kamu suruh aku jaga kenapa kamu teledor siapa yang membuat kamu seperti ini!" teriaknya geram.
Setelah tali dibuka, Narti menceritakan apa yang terjadi lada dirinya, dari kedatangan Dio yang ingin bertemu dengan majikan. wanita itu hanya itu hanya mendengarkan saja, sambil menhan marah yang hampir membludak.*
__ADS_1
.