TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 192


__ADS_3

Pak Bram yang sedang berada di rumah terlihat mondar mandir kesan kemari, kadang duduk, berdiri, jongkok, ada helaan nafas yang berat sekali di mutnya. 


Ia masih ingat pertengkaran  kecil dengan Zehra. Kalau gadis itu ingin bicara dengan Darman untuk terakhir kalinya. 


"Aku pernah bicara tapi jika masalah tentang ayah, waktu itu di perpustakaan yang Rara bina di desa itu. " 


Memang gadis itu pernah bicara waktu di perpustakaan waktu itu! Tapi waktu itu Darman mungkin masih menduga kalau dirinya hanya anak kota yang di kirim. Ke desa itu. 


Suara Zahra terhiang hiang di telinganya. 


"Ya bicara juga sambil bentak bentak nggak karuan sama sekaki, jadi Rara sekarang ingin sekali bicara santai dengan pria itu. Banyak yang harus Rara bicarakan dengan pria igu, pa. " 


Zahra menyakinkan pak Bram untuk mengizinkan dirinya supaya mengizinkan untuk menemui Darman. Pria itu hanya mengangguk anggukan kepala saja mendengarkan apa yang diceeitakan oleh Zahra. Tapi hatinya masih belum sepenuhnya menerima apa yang zahra akan lakukan dengan Bram. 


Ada sebuah ketakutan yang menyelinap dk hatinya yang paling dalam. 


"Banar ya ini untuk terakhir kalinya, kalau sampai kamu ingkar janji papa nggak mau lagi mengizinkan kamu bicara. Papa lakukan ini kerena papa sayang kamu." 


Tegas pak Bram pada Zahra, pria itu menatap wajah putri nya dengan tajam sekali. Zahra yang ditatap sedemikian rupa hanya mengangguk dengan cepat sekali. 


Pak Bram bicara itu di hadapan Zahra memang ia sangat sayang pada puytinya dan takut kalau misal Darman melakukan hal hal yang tidak diinginkan. Itu kernah terjadi saat ia mendengar cerita kalau Ana pernah menyalamatkan Zahra dari Darman dan membuat Bram sangat shock sekali. 


Pria itu masih mondar mandir di ruang kerjanya, banyangan Zahra begitu jelas di pelupuk matanya. 


"Papa jangan khawatir ya, Rara baik baik saja kok. Kalau terjadi apa apa Rara telpon kok. Mudah mudahan  uwa Darman nggak menyakiti Rara. " kata Zahra menguatkan hati pak Bram. 


Zahra sengaja memberikan kekuatan supaya pak Bram tidak khawatir pada dirinya, gadis itu melihat jelas ada raut wajah kecemasan dari wajah pria itu! Raut wajah yang begitu tulus untuknya. 


"Ya bagaimanapun Rara juga ponakan uwa Darman. Masa uwa Darman  tega menyakiti Rara, sudah ayah juga sudah pa. " saut  gadis itu. 


Zahra hanya merenung dan berangan angan kalau Darman tidak melakukan apapun pada dirinya. 

__ADS_1


Memang kalau dipikir antara dirinya, darman dan Ani memang ada hubungan yang tidak terputus. Rara di pihak ayahnya yaitu Hamdi bagaimana pun juga Zahra ponakan Darman, begitu juga dari pihak Ani. Ani adalah adik dari Darman otomatis Zahra berada di. Lingkaran keluarga Darman ya biarpun pria itu tega menghilangkan nyawa adik angkatnya yaitu ayah Zahra--Hamdi. 


"Papa harus tahu itu, pa. Uwa Darman bagaimana juga adalah kakak dari ayah Rara pa, begitu juga uwa Darman adalah kakak dari mama. " jelas Zahra. 


Pak Bram hanya terdiam saja mendengarkan penjelasan dari putrinya. Kalau dipikir memang benar apa yang dikatakan Zahra. 


"Apalagi sama mama uwa Darman belum kenal dekat masa sih ia tega melihat mama menangis kehilangan Rara. " sanggah Zahra melanjutkan apa yang dikatakannya. 


Pak Bram termenung mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zahra. 


Zahra benar benar berpikir positif sekali, gadis itu tidak pernah berpikir negatif sama sekali pada Darman yang telah mengacaukan keluarganya. 


Pak Bram hanya bisa mengangguk saja ia memeluk putrinya dengan erat, dan mengizinkan untuk pergi. 


"Ingat ya apa yang papa katakan pada kamu, kamu janji ini untuk terakhir kalinya kamu ketemu Darman. " ingat pak Bram pada Zahra. 


Pria itu akhirnya mengizinkan Zahra pergi, tapi sebum gadis itu pergi beberapa kalau pak Bram memberikan saran buat Zahra untuk tetap waspada dan harus menelpon dirinya kalau terjadi sesuatu. 


Pak Bram langsung masuk ke ruangan kerja ya, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya tapi nihil. Pikirannya ingat Zahra yang telah keegi menemui Darman hatinya was was sekali takut Zahra kenapa kenapa. 


Sampai ia berdiri, duduk di kursi, melamun dan mondar mandir di ruangan kerjanya. Bwbraap kaki melihat jam di tangannya seperti jamnya begitu lelet sekali. Ada helaan nafas yang berat sekalli. 


Ibu Ani yang melihat suaminya yang mondar mandir di ruangan kerjanya hanya menggelengkan kepala, ia tidak mengerti sama sekali pada suaminya yang terlihat kusut sekali. 


Ya tadi ia akan ke kamar Zahra untuk memberitahukan kalau kiriman barang atas nama Zahra telah sampai, tapi sebelum ke kamar Zahra wanita itu melihat ruangan kerja suaminya terbuka begitu saja dan melihat suaminya mondar mandir tidak karuan. 


"Mas, kenapa? Kelihatannya kamu rusuh dan gelisah? " tanya ibu Ani mendekati suaminya. 


"Rara ma, Rara! " jawabnya gelisah. 


"Rara kenapa? Kau bicara yang tenang pa. " ibu Ani memberikan saran pada suaminya. 

__ADS_1


"Rara menemui Darman, tadi memang papa mengizinkan dia pergi tapi perasaan papa nggak enak takut Rara kenapa kenapa. " pak Bram memberikan penjelasan pada istrinya.  


"Apa? Rara menemui Darman! Kenapa papa izinkan dia pergi! " tanya Ani terkejut. 


Saking terkejutnya wanita itu berteriak dengan keras. Sampai ibu Ayu yang masih ada di kamar sebelah ruang kerja pak  Bram langsung keluar beserta Ana. Keduanya langsung pamit masuk ke ruangan kerja pak Bram yang terbuka. 


"Maksud om apa? Tadi Ana dengar tante teriak kalau kak Zahra pergi menemui uwa Darman? Kok bisa? " tanya Ana heran. 


Pak Bram menatap wajah Ana dengan lembutnya.


"Maafkan om Ana. Kak Zahra yang minta ketemu terakhir kalian ya dengan  uwa kamu."kata pak Bram. 


Pria itu mempersilahkan ibu Ayu dan Ana duduk di kursi yanga di ruangan itu, keduanya  menurut. Begitu juga dengan ibu Ani yang mengikuti mereka berdua duduk di kursi kwtiganya duduk saling berdampingan  sedangkan pak Bram duduk di depan mereka. Hanya meja kecil yang jadi pemisah diantara mereka.  


"Mas, kenapa mas mengizinkan Rara pergi? " tanya ibu Ani menatap suaminya. 


"Bu Ani maaf memotong ya. " tiba tiba Ayu angkat bicara sambil melirik wanita yang ada di sampingnya. 


"Maksud ibu? " tanya Ana heran. 


"Kang Darman nggak akan penyakit Zahra, apalagi kalau Zahra mengakui kalau ia Anin. Apalagi kemungkinan besar Rani juga ada disana, " uang Ibu Ayu optimis


"Ibu, kenapa ibu harus percaya sama uwa Darman sih dan tanta Rani? " tanya Ana heran pada sikap ibunya seperti pasrah seperti itu. 


"Banar Na. Ibu mu itu percaya sama Rani dan Darman yang beberapa kali menyakiti keluarganya. " sambung Ibu Ani gemas. 


"Tapi anda juga bertemu dengan kang Darman, nggak disakiti kan sama kang Darman dan kamu juga mau diajak bicara beberapa kata," pojok ibu Ayu pada ibu Ani. 


"Motif apa anda mengikuti ajakan  dari kang Darman  sedangkan kalian baru bertemu, apa kang Darman  dendam dengan apa yang Anda lakukan? " tanya Ibu Ayu. 


Ibu Ayu mengingatkan pada diri ibu Ani kalau ia pernah mengirim ke penjara atas masalah yang Zahra hadapi, ya biarpun gagal kerena ada ikut campur dari Rani. Mendengar itu Ibu Ani hanya diam saja tidak bisa menjawab apa yang dilontarkan oleh wanita dihadapannya.*

__ADS_1


__ADS_2