TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 193


__ADS_3

Darman gemas sekali kerena diikuti oleh Zahra. Ia dengan spontan langsung mendorong tubuh Zahra dengan kerasnya. Untung tubuh itu tidak terjelembab  jatuh ke lantai, ada seseorang yang meraih tubuh Zahra. 


"Kang! Apa yang akang lakukan!" Teriak wanita itu marah. 


Zahra terkejut sekali kerena ada seseorang yang memegang tubuh ya saat ia melihat kebelakang hatinya bergetar dengan hebat sekali. Rani yang datang dengan tiba tiba sekali. 


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipinya Darman dengan kerasnya. Zahra yang ada di depan terkejut sekali lihat adegan tampar menampar yang dilakukan oleh Rani. 


"Ran! " teriak Darman kaget. 


"Aku nggak ingin Zahra kenapa kenapa ya, kalau sampai ia celaka aku bakal menyalahkan kamu! " teriak Rani keras. 


Ia marah sama Darman ketika matanya menangkap Darman mendorong tubuh Zahra yang mengejarnya memang ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada diri Darman dan Zahra tapi ia melihat dengan jelas Darman sedikit kecewa dan meninggalkan gadis itu! 


"Ingat dia bukan anak kandung kamu! " balas Darman geram. 


"Memang dia bukan anak kandung aku, tapi keteledoran kamu semuanya buyar! " 


"Maksudmu? " 


Darman belum mengerti apa yang dimaksud oleh wanita yang ada dihadapannya. 


"Kalau kamu cepat bertindak mengambil Anin nggak mungkin Anin menghilang entah kemana?" tanya Rani. 


"Ran, please jangan diingat itu masa lalu! " 


"Iya masa lalu? Tapi sampai kapan aku menunggu supaya Anin menjadi anak aku? " tanya Rani rapuh. 


Darman sebenarnya pusing oleh keinginan Rani. Keinginan  cuma menjadi mimpi saja, tapi kalau dipikir memang ia yang salah tidak pernah mengikuti keinginan Rani, kalau diikuti mungkin Anin bakal bersama diri Rani bukan Ani. Darman menatap wajah Zahra yang diam saja. 


Zahra tidak jauh dari sana hanya tertegun mendengarkan  hati Rani, serapuh itukah yang diadakan oleh Rani terhadap dirinya? 


Zahra langsung menghampiri Rani tanoa di duga oleh Rani maupun Darman, gadis itu langsung memeluk tubuh Rani dengan lembutnya. Rani tertegun sejenak saat Zahra memeluk tubuhnya, hatinya berdesir sangat kuat sekali. 


Ragu ragu Rani membalas pelukan Zahra. 


"Uwa, maafkan  Rara ya! Rara nggak bisa apa yang uwa pinta. " suara Zahra bergetar. 


"Kamu bukan Rara! Kamu tetap Anin! " Teriak Darman tidak suka mendengar nama Rara. 


"Semuanya gara gara Ani! " dengus Darman. 


"Bukan gara gara mama, semua nya gara gara uwa Darman. Kenapa uwa lakukan itu pada keluarga Anin! " pojok Zahra kuat. 

__ADS_1


Gadis itu langsung melepaskan pelukannya nya dari tubuh Rani, Zahra menghampiri Darman yang tidak jauh berdiri darinya. 


"Semua gara gara kalian! Kalian lah yang harus mempertanggung jawab semuanya! " teriak Zahra keras menatap kedua orang yang baca dihadapannya. 


"Kalian yang menghancurkan keluarga kami, semuanya hancur gara gara kalian! " ujar Zahra di tekan. 


Kedua orang itu hanya diam saja. Rani dan Darman saling bertatap satu sama lain keduanya tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Zahra. 


"Aku nggak nyangka kalian harus melakukan itu pada ayah, kalian yang nggak pernah jujur pada semuanya? Kalian yang telah menghancurkan semuanya! " 


"Kalian masih ingat kejadian pertama kali pembunuhan yang direncanakan oleh kalian pada pak Rohman? " tanya Zahra tajam. 


"Sampai ayah yang nggak tahu apa apa harus menanggung kesalahan kalian? " sambung Zahra tajam. 


Keduanya terkejut mendengar apa yang di pertanyakan oleh Zahra, keduanya saling pandang saling menuduh satu sama lain. 


"Kalian menyuruh  ayah datang ke perkebunan itu dan mang Tio yang kalian suruh untuk menjemput ayah di malam hari, kalian nggak tahu kalau sebenarnya ada orang yang mengintaj kalian berdua! " 


Plak! 


"Lancang! Kamu tahu dari mana cerita itu! Cerita bohong! " Darman dengan beringasnya memukul pipi Zahra. 


"Kang! " 


Rani yang berada di samping Zahra terkejut sekali melihat Darman  tanpa segan segan langsung menampar muka Zahra. 


Plak! 


"Ran!"


"Apa? Aku bilang jangan pukul zahra! " teriak Rani. 


Entah kenapa ia begitu sakit melihat Zahra di pukul oleh Darman, sedangkan kalau dipikir pikir Rani juga malah sering memukul Zahra. Tapi sekarang Rani merasakan sakit saat melihat Zahra di tampar oleh Darman! 


"Kamu kenapa marah sama aku, Ran? Kenapa, seharusnya kamu marah sama Anin bukan aku? " tanya Darman heran. 


Kalau dipikir sih apa yang dikatakan Darman memang benar sekali, Rani seharusnya marah dan kecewa sama Zahra yang telah tahu apa yang pernah terjadi pada kejadian yang telah mengubah cerita dan kehidupan mereka tapi kenyataan nya tidak sama sekali. 


"Aku tahu kang, tapi kamu jangan berani memukul Zahra! " 


Zahra hanya diam saja mendengar pertengkaran dia orang yang ada di hadapannya. 


Zahra masih ingat kata kata ibu Ayu pada dirinya tentang Rani. 


"Bu, jangan mudah percaya apa yang dikatakan wanita itu! " teriak Zahra pada wanita yang telah melahirkanya. 

__ADS_1


"Ibu mudah percaya pada mulut manisnya! " lanjut Zahra kemudian. 


"Nin, bukannya ibu percaya begitu saja tapi itu kenyataan yang ada, " suara lembut ibunya begitu sejuk di hati Zahra. 


"Sudahkah bu, Anin nggak mau berdebat dengan ibu!" dengus Zahra kesal. 


Tapi apa yang dikatakan ibu Ayu kini disaksikan langsung oleh Zahra sendiri. Hatinya ada rasa haru yang menyelinap tapi ia langsung menepiskan perasaan itu dan mengingat tujuan awal dirinya. 


Di lain  tempat Ana terus menerus menelpon Zahra tapi HP Zahra sepergi sengaja di silent kan oleh Zahra sendiri. 


"Kakak nggak mengangkat nya. " 


"Coba lagi! " 


Dia wanita yang berbeda usai itu berusaha menghubungi Zahra, ya ibu Ani dan Ana yang mulai gelisah kerena Zahra tidak bisa dihubungi sama sekali. 


"Bagaiamana kalau kita susul? " tanya ibu Ani menatap Ana. 


"Tante tahu alamat dimana ua Darman berada? " tanya Ana. 


"Tahu, masalahnya tante dikasih alamatnya oleh uwa kamu. " uang ibu Ani. 


Tanpa minta izin lagi kedua wanita yang berbeda usia langsung menuju tempat dimana Darman berada. Tadinya ibu Ani menyuruh Ana untuk izin dulu pada ibunya tapi gadis itu menggelengkan kepalanya saja. 


"Kenapa? " tanya ibu Ani heran. 


"Ibu sebenarnya lebih percaya pada wanita itu daripada anaknya sendiri, " dengus Ana. 


Wanita itu hanya mengangguk saja, keduanya langsung mwnuju alamat yang dituju.


Ketika mereka sampai disana, keduanya terkejut melihat Darman dan Rani bertengkar sedangkan  Zahra hanya diam saja sambil duduk di kursi yang tidak jauh dari keduanya. 


"Mereka kenapa? " tanya Ana pada ibu Ani. 


Wanita itu yang baru sampai dengan Ana hanya mengangkat kedua bahunya tanpa tahu apa yang harus dijawab oleh ya. 


"Jangan jangan mereka memperebutkan kak Zahra? " 


"Memperebutkan apa kira kira ya? " tanya wanita itu heran. 


"Kita samperin? " kata Ana pada ibu Ani. 


Gadis itu siap melangkahkan kakinya tapi dengan cepat ibu Ani memegang tangan Zahra dengan cepat. 


"Kita lihat apa yang mereka lakukan, jangan dulu kita kesana. "Ujar wanita itu. 

__ADS_1


Ana hanya mengangguk saja.*


__ADS_2