
"Kita nggak bisa merahasiakan pada Anin, cepat atau lambat ia tahu semuanya." kata Ayu saat menjenguk Hamdi suaminya.
"Kamu cerita!' tanya Hamdi menatap wajah Ayu.
"Nggak, aku nggak cerita. Tapi kemarin sepertinya Anin tahu semuanya ketika ia main ke rumah Ari."
"Anin yang cerita kalau ia mendengarkan apa yang dibicarakan kang Darman dan Tio."
"Kenapa sampai Anin mwndengrakan? keluh Hamdi kecewa.
"Aku juga nggak tahu, ia sedang main kesana,"
"Seharunya kamu jaga Anin jangan sampai lolos keluar!"
"Ya bagaimana, aku juga mengurus Ana?"
"Aku juga nggak tega kalau mengurung Anin di dalam rumah,"
Hamdi seperti nya kecewa saat istrinya datang malah menceritakan Anin yang mendengarkan cerita dari Darman.
"Maafkan aku kang!"
"Sudahlah!"
"Kamu lebih baik pulang, jaga Ana jangan sampai mendengarkan apa yang nggak harus didengarkan."
Ayu perih mendengar ucapan suamianya yang mengusir dirinya, terpaksa dengan hati terluka Ayu pun pulang ke rumah. Anin dsn Ana di titipkan pada uwa Iyan dsn mbok inem.
Ia pergi sendirian ke kota hanya ingin menjenguk suaminya, sebenarnya Anin ingin ikut tapi ayu melarangnya kerena jauh perjalanan yang ditempuh.
Tapi ia sangat kecewa pada Hamdi kerrna Hamdi sebenarnya ingin ketemu dengan Anin sedangkan Anin tidak dibawa, Hamdi malah mengusir Ayu.
"Aku butuh Anin, aku butuh anakku!" jerit Hamdi menatap istrinya.
"Iya aku tahu kang, kakang kangen anak anak, nanti kapan kapan aku bawa Anin dsn Ana kesini ya untuk melepas rindu kamu kang." hibur Ayu.
"Kapan, Bu. Kapan? lebih baik kamu pulang atau kamu jangan kesini kalau kamu nggak bawa Ana dan Anin," ujar Hamdi.
Ayu sedih sekali, ia akhirnya pulang. Sampai di rumah ia kaget melihat Anin termanggu dsn pandangan matanya kosong!
"Anin kenapa?" tanya Ayu.
"Ayah jadi pembunuh ya Bu, kenapa ayah harus jadi pembunuh Bu kenapa?" jerit Anin menatap ibunya.
"Kasihan Anin, bagaimanapun kita harus cerita yang sebenarnya lada bocah itu!"mbok inem angkat bicara.
"Aku ingin ketemu ayah!" tangisnya.
Ayu memeluk tubuh Anin.
__ADS_1
Keduanya menangis sedangkan Ana hanya diam tidak mengerti apa apa.
"Bu, ayah kenapa jadi pembunuh, Anin takut sama ayah tapi Anin juga kangen sama ayah," tangis Anin.
"Iya kita bakal ketemu ayah sayang, kita bakal ketemu ayah ya, kamu sabar ibu cari uang dulu biar bisa ketemu ayah,"
Anin mengangguk.
"Bu, Anin punya tabungan pakai ia Anin saja buat ketemu ayah."
"Iya, pakai uang Anin ya, besok nanti kesana sayang." perih rasanya mendengarkan tangisan Anin.
Mbok Inem hanya mendengarkan pembicaraan antara ibu dan anak. Hatinya terenyuh sekali mendengar perkataan Anin, yang rindu ayahnya.
"Jangan pikirkan biayai nya. Nanti pakai uang mbok saja," mbok Inem angkat bicara.
"Mbok punya uang?" tanya Ayu.
"Cukup buat kalian berdua, biar Ana sama mbok saja disini,"
"Yah anak anak ingin aku bawa mereka kesana mbok, jadi kemungkinan besar Ana juga dibawa." kata Ayu.
"Ya terserah kamu dek, tapi kamu repot nggak kalau bawa kedua anak kamu?" tanya Mbok Inem.
"Nggak aku nggak repot."
"Mungkin Minggu depan saja mbok."
"Ya udah yang penting lain berangkat kasihan Anin yang rindu ayahnya."
Ayu mengangguk. Ia bertekad kalau Minggu depan ia bakal pergi ke sana bertiga dengan kedua anaknya. Mbok Inem mengangguk saja ia senang melihat Anin tersenyum sambil wajahnya berseri seri, kerena keinginan ketemu ayah bakal terkabul.
Ya sudah 3 bulan Hamdi di penjara, kerena kasus pembunuhan pak Rohman, dsn polisi juga tidak ada bukti selain Hamdi maka akhirnya polisi menahan Hamdi kembali selama tiga bulan lamanya. Tanpa ada pulang sama sekali itu yang membuat Anin merindukan ayahnya. Apalagi ia sebenarnya ingin mencurahkan hatinya pada ayah, tapi sosok ayah yang ditunggunya tidak pernah pulang, otomatis ia seperti kehilangan ayahnya.
"Anin kangen ayah uwa, ayah nggak pulang pulang, bukan kerja sih!" Dengus Anin.
"Ayah di penjara, tapi kata ibu ayah nggak salah kenapa harus dipenjara? Terus yang bunuh pak Rohman siapa ya?" tanya Anin pada uwa Iyan.
Ia benar benar ingin tahu tapi uwa Iyan tidak menceritakan. Anin hanya bertanya dalam hatinya saja.
"Uwa, emang kalau dibunuh itu langsung mati ya uwa?" tanya Anin kembali.
"Iya seperti kamu bunuh cicak."
"Berarti pak Rohaman juga gitu?"
Deg!
Hati uwa Iyan langsung berdenyut sangat keras mendengar apa yang Anin katakan, ia tidak menyangka Anin bakal mengatakan itu lada dirinya.
__ADS_1
"Pak Rohman lain lagi!"
"Maksudnya?"
Uwa Iyan gelagapan mendengar pertanyaan dari Anin yang menurutnya kalau dijawab bikin Anin bakal terus bertanya sampai ia mengerti.
"Udah siang Anin harus bobo siang yuk!" potong uwa Iyan mengajak Anin buat tidur siang.
Uwa Iyan langsung memengang tangan Anin buat diajak ke tempat tidur.
"Kok bobo sih!" protes Anin, sambil menarik tanganya menolak diajak tidur siang.
"Kan udah waktunya bobo siang Anin," bujuk uwa Iyan.
"Tapi Anin nggak mau bobo uwa, Anin kangen ayah, ayah kapan pulang nya ya?" tanya bocah itu.
Uwa Iyan langsung menatap wajah Anin, benar saja ia melihat di bola mata Anin, ia melihat ada sebuah kerinduan yang teramat sangat. Uwa Iyan langsung mengelus bahu Anin dengan lembutnya.
"Kalian pasti ketemu, ayah cuma sebentar kok!" ujar uwa Iyan menguatkan hati Anin.
"Tapi uwa, Minggu depan Anin dsn Ade mau ke ayah sama ibu." ujar riang Anin.
"Masa?"
"Iya, nanti Anin mau naik kuda."
"Wah! pasti seru tuh naik kuda, uwa boleh nggak naik kuda?"
"Nggak boleh, Anin pengen naik kuda sama ayah!" protes Anin ketika ia mendengar uwa Iyan ingin ikut.
Mendengar perkataan Anin, uwa Iyan tersenyum manis.'Asal kamu bahagia uwa juga ikut bahagia, Nin." bisik iwak Iyan mengelus rambut Anin lembut.
Kegembiraan Anin begitu nyata sekali, ia jingkrak jingkrak ingin ketemu ayahnya. Malam itu! Anin berceloteh di kamarnya dengan mbok inem kalau pagi hari ia bakal menjemput ayah ke kota dsn pulangnya mau naik kuda.
"Mbok ikut?" tanya Anin..
"Nggak mbok nggak ikut, biaya nya dimana kalau mbok ikut kamu dsn ibu mu saja ikut, biar mbok disini sama uwa Iyan.
"Oke! terus mbok Inem mau oleh oleh apa dari Anin?"
"Mh! Mbok pengen oleh oleh roti isi coklat!" tawa renyah mbok inem.
Ia membayangkan kalau ia bisa memakan roti yang ia suka. Roti yang empuk dsn lembut di mulut serta coklat yang lumer.
"Nanti Anin bawain yang gede ya mbok, kita makan bareng bareng di sini, sama ayah, Ade, ibu, uwa Iyan dan mbok." senyum Anin.
"Siap!"
Malam mulai larut, Anin dsn mbok Inem mulai mengantuk dsn mereka tidur. Sedangkan ayu dsn Ana tidur di belakang, ya sejak Hamdi tidak ada di rumah, Ana mengajak mbok inem tidur bersamanya, sedangkan uwa Iyan tidur di rumah sendiri.*
__ADS_1