TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 49


__ADS_3

"Aku tadi mimpi ketemu kak Anin, kak Anin bilang kalau aku baik baik saja." tatap Ana.


"De, kamu jangan bilang apa apa dulu ya, kamu jangan pikir yang berat berat. Lebih baik banyak istirahat, dan kamu pasti sembuh," ujar Zahra.


Ia menganggam tangan Ana dengan erat sekali.


"Kak, aku pengen ketemu dengan kak Ana."


"Iya suatu waktu nanti kalian pasti ketemu, kamu sekarang istirahat dulu ya."


Uwa Iyan yang mendengar percakapan mereka langsung menghampiri Zahra dan menarik tangannya, ia yangbtidak menduga langsung terkejut dan mengikuti kemana uwa Iyan pergi.


Ibu Ayu melihat tangan Zahra ditarik oleh uwa Iyan, sebenarnya ia ingin mengikuti mereka berdua tapi ditatapnya wajah Ana. Ana hanya mengangguk seperti memberikan izin untuk ibunya pergi.


"Na, kamu disini dulu ya, ibu ingin tahu apa yang mereka ingin bicarakan." ujar ibu Ayu langsung meninggalkan Ana.


Ana meraih tangan ibunya.


"Kakang kenapa?" tanya Ana lemah.


"Nggak apa apa, kamu ingat kata kak Zahra ya banyak istirahat. Nanti ibu kesini lagi," kata ibu Ayu.


Wanita itu langsung meninggalkan Ana yang masih terbaring lemah. Dalam hatinya ia penasaran pada ibu dan uwa Iyan yang tiba tiba sekali mengajak Zahra bicara di jauh seperti nya uwa Iyan tidak.mau kalau Ia mwndengrakan percakapan mereka.


Ana hanya menghela nafas panjang.


Ibu Ayu mengejar mereka, wanita itu berada tidak jauh dari keduanya yang duduk di taman. Ibu Ayu tidak mendekati, ya uwa Iyan membawa Zahra ke sebuah taman yang tidak jauh dengan parkiran kendaraan roda dua, sedangkan parkiran kendaraan roda empat terpisah. Uwa Iyan maupun Zahra tidak menyadari kalau di sana ada ini Ayu yang siap menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya ia ingin sekali kesana tapi hatinya ragu.


Jadi wanita itu hanya menatap dari kejauhan, setalah Zahra duduk di kursi taman begitu juga dengan uwa Iyan, uwa Iyan nyakin kalau mereka berada di tempat sepi baru laki laki itu membuka suara.


"Kamu Anin?" tanya Uwa Iyan menatap wajah Zahra dengan tajam.


Ada gemuruh dihati laki laki itu, tatapannya penuh kerinduan pada seseorang. Zahra merasakan semuanya. Suara uwa Iyan dengan jelas terdengar oleh ibu Ayu kerena ia juga duduk di antara mereka hanya satu pohon yang menghalangi pandangan mereka untuk melihat keberadaan wanita itu.

__ADS_1


"Saya merasa nyakin kalau kamu Anin, kenapa golongan darah kamu sama dengan Anin, kenapa?" lanjut uwa Iyan memberi dong pertanyaan.


Zahra hanya diam. Ia tidak bisa memungkiri semuanya. Tidak ada satu jawaban yang terlontar dari mulut Zahra, tapi matanya berkaca kaca menahan cairan bening yang turun dari matanya.


"Aku bukan Zahra, aku nggak tahu Zahra itu siapa, ya memang Zahra anaknya pak Bram tapi aku bukan Zahra yang kalian kenal." terbata bata Zahra mengucapkan itu.


Ia tidak bisa menahan gejolak hatinya lagi, mendengar apa yang Zahra ucapakan uwa Iyan hanya mematung, ia tidak bisa bicara apa apa hatinya kelu sekali.


"Uwa biarpun orang bilang aku anak pak Bram, tapi aku memang bukan anak mereka. Aku hanya anak yang pernah hilang di kegelapan malam meninggalakan ibu dan adik juga ayah yang telah meninggal," lanjut Zahra menangis.


"Aku nggak peduli semua orang memanggil aku Zahara, aku tetap anak pak Hamdi aku anak ayah yang menghilang itu!"


Akhirnya tumpah tangis Zahra seketika juga. ibu Ayu yang mendengar semuanya terkejut atas pengakuan dari Zahra, ia yang awalnya sembunyi kini muncul dengan tiba tiba.


"Kamu Anin, kamu anak ibu?" tanya ibu Ayu terbata bata.


Zahra terkejut melihat kedatangan ibu Ayu, tapi ia langsung berlari mendekati ibu Ayu dan memeluk dengan tulus sekali.


"Bu, aku Anin. Aku Anin, aku anak yang hilang di kegelapan malam," tiba tiba Zahra menubruk dan menangis di pelukan ibunya..


Belum sempat ia mengatakan sesuatu, tiba tiba tubuh Zahra ada yang menarik dengan kuat dan memisahkan mereka yang sedang mencurahkan kerinduan yang terpendam.


"Nggak Zahra bukan Anin, dia anak saya. Kamu jangan mengaku ngaku ya kalau Zahra itu Anin!" teriak Ibu Ani yang tiba tiba muncul dan menarik tubuh Zahra dari pelukan ibu Ayu.


"Ma, beliau ibu Rara. Ibu yang melahirkan Rata!" jerit Zahra.


"Nggak, Anin anak kamu sudah meninggal. Nggak mungkin gadis itu bisa bertahan!" teriak Ani berang.


"Ma, Rara mohon."


"Ra, kamu anak mama bukan anak wanita itu!" sembur Ani menatap Zahra.


"Nggak, ibu Ayu adalah orang yang telah melahirkan Rara, mama yang harus sadar kalau Zahra telah meninggal," kata Zahra dengan tegas.

__ADS_1


"Ma, apa yang dibilang Zahra benar. Zahra telah meninggal, ia adalah Anin," pak Bram menambhakan kembali.


Ibu Ayu hanya diam sambil menangis perih, mendengar apa yang dikeluarkan oleh ibu Ani pada dirinya. Ia tidak menyangka kalau Anak bakal mengatakan itu lada dirinya, ia juga tidak tahu kalau Zahra anak ibu Ani itu telah meninggal dsn menganggap Anin anaknya sebegai anak kandung nya.


Uwa Iyan dari tadi hanya terpaku tidak bisa mengatakan apa apa..


"Pa, ia anak kita. Zahra anak kita dia bukan Anin!" tangis Ani dalam pelukan suaminya.


Zahra langsung mendekati ibu Ayu dan memeluk kembali wanita yang telah melahirkan dirinya.


"Bu, maafkan Anin ya. Anin nggak bisa memilih kalian berdua mungkin Anin bakal meninggalkan ibu dan mama supaya adil." hajar Zahra sambil melepaskan pelukan dan memegang tangan ibu Ayu.


""Nin, kamu mau pergi lagi dari ibu?" tanya Ibu Ayu.


"Nggak, kamu jangan pernah meninggalakan desa itu Nin, kaku anak desa itu!" teriak uwa Darman sambil beranjak dari duduknya.


Laki laki itu langsung memeluk tubuh Anin dengan kerinduan yang membuncah.


"Aku nggak akan biarkan kalian mengambil Anin di desa itu! Kalau sampai Anin meninggalakan desa itu hadapi aku dulu!" sembur uwa Iyan menatap ibu Ani dan pak Bram.


"Tapi kami ucapakan terimakasih atas apa yang kalian berikan pada Anin, kerena tanpa kalian Anin nggak bakal selamat!" lirih uwa Iyan menatap keduanya.


"Enak saja! Itu bukan Anin! Anin sebenarnya sudah meninggal! Aku nggak ingin Zahra tinggal di desa kumuh itu!" teriak Ani tidak terma sambil memukul tubuh uwa Iyan.


pak Bram langsung meraih tangan istrinya untuk tidak memukul uwa Iyan tapi Ani berontak dan tetap memukul tubuh laki laki itu, uwa Iyan geram sekali ia juga mendorong tubuh Ani. Untung pak Bram dengan sikap menangkap tubuh istri.


"Kang jangan kasar kaya gitu?" terima Ayu mengingatkan uwa Iyan.


Zahra sempat terkejut saat uwa Iyan mendorong tubuh ibu Ani, ia juga protes tapi ini Ayu yang lebih cepat protes pada tindakan yang dilakukan oleh uwa Iyan.


"Pak Iyan!" spontan teriakan Zahra.


""Tuh laki laki bejat nggak ada norma!" teriak Ani ingin memukul uwa Iyan kembali, tapi pak Bram dengan cepat langsung menarik tangan ibu Ani untuk masuk mobil.

__ADS_1


Pak Bram berusaha mengajak istrinya itu pulang ke rumah, Zahra hanya menatap kepergian kedua orang tua angkatnya dengan tatapan yang lain.


__ADS_2