
Apa yang dibicarakan oleh uwa Iyan benar terjadi. Siang itu Darman mengamuk dan mengacak rumah kediaman Ayu. Pria itu sangat lah emosional sekali, tanpa memikirkan apa yang terjadi, rumah Ayu di bobol paksa dan kacanya dipecahkan begitu saja dengan mengunakan parang yang dibawanya.
Entin yang melihat suamianya seperti itu berteriak teriak meminta tolong warga yang ada disana. Wajah Entin sangat ketakutan melihat suamianya seperti itu.
"NyI sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku juga nggak tahu sih sebenarnya, tapi waktu aku pulang dari pasar ia bicara sendiri nggak karuan." cerita Entin.
Ya ia pagi tadi setelah menyiapkan sarapan suamianya, Entin langsung pergi ke pasar kerena banyak kebutuhan yang harus dibeli seperti ikan, kalau masalah sayuran masih ada di kebun tinggal metik saja.
Ya biarpun tinggal di desa, ia tidak kesusahan oleh sayur mayur di desa. Kerena tinggal ambil di kebunnya sendiri, tapi Maslah ikan ya terpaksa harus beli apalagi ikan laut.
"Nyi, sekarang beli ikan laut, enak kalau di goreng kering!" suara suaminya terdengar saat ia akan meninggalkan rumah ke pasar.
Ia hanya mengangguk mendengar teriakan suaminya itu, Entin bergegas menuju pasar yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumahnya.
Sampai di rumah ia sangat terkejut mendengar teriakan suaminya. Ia melihat suaminya berbicara sendiri sambil bersila di amben bambu.
BRAK!
"Dengar ya aku nggak takut? Apa Anin bakal datang! Silahkan, kalau dia datang bilang sama aku kalau aku siap menghadapi nya!" teriak Darman beringas.
Ia dengan keras memukul amben yang ia duduki, matanya melotot seperti melihat ada orang dihadapannya.
"Aku nggak takut kalau si Hamdi hidup lagi nggak takut apalagi Anin anak baru lahir itu!" cerca Darman sambil beranjak dari duduknya dan mengambil pisau.
Setelah mengambil pisau ia dengan kerasnya membuang pisau itu ke sembarang arah.
Hahahaha
Mampus kamu Anin. Sebelum kamu datang di kampung ini, aku sudah cincang tubuhmu lalu ku buang mayat mu ke sungai biar tubuhnya dimakan buaya!" teriak Darman sambil menghampiri pisau yang di buang olehnya.
Dipungutnya pisau itu dan disimpan ke sarungnya lalu dibawa pisau itu keluar sambil bicara tidak karuan sama sekali, Entin yang yang melihat kelakuan suamianya langsung mengikuti Daraman ia lupa untuk masak hari itu.
Entin baru tahu kalau Darman menuju rumah Ayu, ia sangat ketakutan lalu misal Ayu sampai ada di rumah bisa bisa Ayu bakal di apa apa oleh suamianya. Tapi Ayu tidak ada di rumah, Entin bernafas sangat lega sekali.
"Anin kamu keluar!"
"Jangan jadi.lengecit kamu!"
"Kalau kamu berani tampak kan wajah mu jangan sembunyi!"
__ADS_1
Teriak Darman sangat keras sekali. Ia hanya mengedit ngedit pintu depan rumah Ayu saja, tapi kerena orang yang dimaksudnya tidak muncul akhirnya ia mengunakan larang yang tadi dibawanya setalah pisau.
Semua warga heboh seketika juga melihat kelakuan Darman seperti itu. Banyak bisik bisik yang terdengar dari.milt beberapa warga yang melihat kejadian itu.
"Karma,"
"Bisa jadi, pak Hamdi nggak salah kayanya,"
"Begitu lah kalau orang baik Ken fitnah maka yang salah bakal menunjukan dirinya salah, dengan teriak teriak seperti itu!"
"Benar, kasihan pak Hamdi ya dibunuh dan harus kehilangan Anin,""Aku dengar Anin pulang?"
"Anin masih hidup?"
"Pasti hidup lah, dulu ia masih bocah malaikat yang melindunginya."
Percakapan demi kecakapan terdengar mengalir begitu saja dari beberapa warga yang mengetahui secara detil pak Hamdi dan kejadian menghilangnya Anin.
"Wah! pak Hamdi bahagia banget ya."
"Iya bisa memiliki Anin yang bisa membenar kan kelakuan ayahnya."
"Mampus juga tuh Darman kalau Anin benar benar datang ke desa ini,"
"Sebenarnya siapa sih yang membunuh pak Hamdi? Tujuan dia membunuh pak Hamdi apa sih!
"Pastinya warisan dari orang tua Hamdi,"
"Daraman anak kurang ajar!"
"Iya nggak ada terimakasih nya sama sekali!"
Komentar komentar terdengar bagaikan hujan yang turun terus menerus.
Ibu Ayu yang mendengarnya langsung menuju rumahnya begitu juga pak Bram dan ibu Ani juga kesana.
Melihat Darman Seperi itu membuat beberapa orang merasa iba sekali, apalagi istrinya Entin yang duduk tidak jauh dari suamianya sambil menangis melihat suamianya seperti itu..
"Jangan sembunyi kamu Anin! Aku nggak tahun pada kamu, tunjukan wajah kamu!"
Teriak Darman beberapa kali, ia benar benar Seperi kehilangan kesadaran. Rumah ibu Ayu berantakan, kaca pecah, meja dan kursi entah kemana. Melihat itu semua hanya mengelus dada, miris sekali.
__ADS_1
Zahra melihat semuanya itu,"Itu nggak sebanding dengan ayah!" ujarnya.
"Maksudnya?" tanya Ana..
"Eh! apa yang kakak bicarakan?" gugup Zahra seperti pada dirinya sendiri.
"Kakak tadi bilang itu tidak sebanding dengan ayah? Maksudnya?" tanya Ana heran..
"Oh! Itu, ya nggak sebanding dengan papa kakak. Papa kan pernah melakukan itu!" kata Zahra asal bicara.
"Papa kakak? Memangnya?"
"Sudah lah tadi cuma akting saja." senyum Zahra serba salah.
"Kakak seperti menyembunyikan sesuatu deh!" tebak Ana.
Zahra nyengir saja. Kedua nya saling diam saat Daraman mengamuk. Tidak ada orang yang bisa mencegah amukan dari Darman. Segala di pecahkan, di banting, rumah ibu Ayu semakin amburadul.
"Kang sudah kang sudah! Anin nggak balik lagi kang itu hanya berita bohong!" terima Entin meraung melihat suamianya sama sekali tidak bisa dikendalikan..
"Pak, apa benar apa yang terjadi pada pak Darman hanya halusinasi ia pada sosok Anin?" tanya Zahra waktu melihat pak Arya yang hadir disana.
"Kemungkina. itu benar, masalahnya saya juga mendengar kalau Anin muncul." ujar Pak Arya membenarkan..
"Tapi kak Anin nggak pulang ke rumah? Kalau memang kak Anin pulang seharusnya sekarang kami juga sudah bertemu?' tanya Ana heran.
"Kemungkinan Anin di tempat lain, kerena bagaimana pun juga ia.juga ingin selamat dari amukan pak Darman." ungkap Pak Arya.
"Bisa jadi sih! Tapi pak, kalau misal Anin ada di desa ini kemungkian ia lebih tahu Selak seluk desa ini, dan ia bakal menjadi orang baru tanpa diketahui," Zahra berkomentar..
"Tapi siapa?" pak Arya berpikir..
"Masalahnya disini juga banyak pendatang, nggak kaya dulu lagi."lanjut pak Arya..
Ana hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan, ia juga merasa heran atas apa yang dilakukan kakak nya. Kalau memang kakaknya pulang dimana keberadaannya, kenapa tidak langsung menemui ibu sedangkan kalau Anin belum.pulang kenapa Darman sellau berteriak teriak ketakutan saat mendengar nama Anin.
Diam diam.Ana penasaran sama sosok Anin yang katanya sering berada di desa itu!
"Kak Zahra, apa mungkin kak Anin sembunyi kerena takut uwa Darman atau kerena yang lainnya."
"Kakak juga nggak tahu Na, pokoknya kakak nggak mau ikut campur masalah kakakmu dengan pak Darman," ujar Zahra cuek.
__ADS_1
Tapi dalam hatinya sebenarnya ia peduli pada Ana, apalagi kata kata Ana yang ia benarkan sendiri.*