TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 113


__ADS_3

"Mama hanya takut kalau ka Rani melakukan sesuatu pada Zahra!" rajuk wanita itu menatap waja suamianya.


"Ma, percaya lah pada kak Rani..Ibu ayu juga lebih percaya lada kak Rani dibandingkan dengan mama," ujar pak Bram membalas tatapan mata istrinya.


PLAK!


Wanita itu langsung memeluk lengan pak Bram, pak Bram yang tidak menduga istrinya memukul hanya tersenyum saja.


"Jangan mudah khawatir ma, bagaimana pun Zahra hanya titipan dari Tuhan untuk kita," ingat pak Bram.


"Aku sayang banget lada Rara," gumam Ibu Ani.


"Ma, rasa sayang juga nggak boleh dikekang, biarkan Rara memilih yang ternyaman baginya."


"Papa sebenarnya sayang nggak sih sama Rara." rajuk wanita itu cemberut.


"Ya sayang ma, kalau nggak sayang ngapain pala menyuruh mama mengambil Zahra di jalan." kata pak Bram mengingatkan wanita itu.


Seketika juga ibu Ani terdiam. Ia masih ingat ketika mereka.oulang dari puncak, mereka.malah.mengambil jalur yang tidak pernah mereka lewati.malam.hati itu!


Mobil yang ditumpangi keduanya menuju sebuah desa yang sepi sekali kerena malam.mulai larut sekali.


"Ma, lihat!" teriak pak Bram ketika itu.


Wanita yang dipanggil mama oleh laki laki itu langsung mengikuti tunjuk pak Bram yang menunjukan sesuatu di pinggir jalan. Sebuah tubuh kecil tergeletak di pinggir jalan.


"Kita tolong pa?" tanya istrinya.


Pak Bram langsung turun dana memeriksa tubuh kecil itu, ada detak kehidupan di dalam tubuhnya.


"Ma, kita bawa ke rumah saja." kata pak Bram menatap istrinya.


Ani wanita itu hanya mengangguk. Mereka akhirnya membawa bocah kecil itu dan mereka juga menyematkan nama Zahra Anindya pada bocah kecil itu yang bernama Anindya.


"Ma, Pao nggak bakal melupakan apanyang pernah terjadi pada Zahra." kata pak Bram mengingat kan semuanya.


"Papa, membawa ia kesini juga kerena papa sayang sama dirinya, kalau nggak sayang buat apa papa bawa ia ke rumah ini."


"Tapi kenapa pala kaya membiarkan Zahra kembali ke desa itu lagi! Apa papa nggak takut kehilangan Zahra."


"Ma, kalau papa begini ya prinsip nya. Kalau Zahra pulang ke sini berarti ia masih anak kita. Tapi, kalau nggak pulang ke rumah ini misalkan ya bukan anak kita." ujar pak Bram.


"Ah! Papa kok begitu." ibu Ani cemberut..


"Iya, jadi jangan khawatirkan Zahra ya ma. Bagaiamana pun ia tetap anak kita."


Ibu Ani hanya diam saja.


"Pokoknya Zahra harus pulang!"


"Rara bakal pulang."


"Pa, kapan pulangnya? Mama tiap hari juga menunggu Rara pulang tapi anak itu malah nggak pulang pulang!" protes Ibu Ani sengit.


Ibu Ani langsung meninggalkan suamianya. Sedangkan pak Bram yang melihat istrinya merajuk hanya diam dan memandang kepergian istrinya.

__ADS_1


Brak!


Bunyi pintu di tutup sangat keras oleh ibu An ia membuat pak Bram kaget sekali..


"Ya Tuhan mama!" terima pak Bram keget.


Tapi wanita itu hanya diam saja..


Di kamar!


Wanita itu hanya menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan perasan yang tidak karuan sama sekali. Pikirannya kemana mana..


"Aku pernah tinggal di desa itu. Desa yang penuh dengan kenangan yang pahit, aku pernah mencintai orang yang aku sayangi tapi tidak pernah berhasil."


Ibu Ni teringat kata kata yang diucapkan oleh wanita itu, wanita yang mengaku sebagai kakaknya. Ia sempat tidak nyakin saat mendengar kalau wanita itu adalah kakaknya, tapi mau tidak mau harus percaya kerena wajah mereka sangat mirip..


"Mungkin kamu nggak percaya apa yang aku ucapkan, tapi itu kenyataan yang harus kamu terima kalau aku pernah tinggal di desa itu, begitu juga dengan Zahra."


Lanjut wanita itu. Ani hanya diam saja, ia tidak bisa menepiskan apa yang dikatakan oleh Rani apalagi Zahra. Ia juga heran kenapa Rani bisa tahu Zahra bukan anaknya.


"Kamu mau tahu apa yang pernah Ayu ucapkan padaku?" tanya Rani pads Ani..


Ani hanya mengelengkan.kepala saja..


"Kalau kamu.mau.kamu boleh mengurus Anin di desa ini kita sama sama mengutusnya." ulang Rani mengingat semuanya.


Ani hanya bisa.mwngehla nafas mengingat semua percakapan dengan Rani, ia tidak menyangka kalau wanita itu mempunyai kehidupan yang sama dengan Zahra ya biarpun tidak 100%.


🦋


"Ibu percaya sama Rani kok!" kata ibu Ayu tersenyum.


"Bu jangan terlalu dekat sebenarnya kak Anin dan Tante Rani." ingat Ana mendengus.


"Ibu pernah janji lada dirinya, waktu kakakmu masih bayi." ungkap ibu Ayu.


"Janji apa Bu?" tanya Ana penasaran.


"Ibu ingin kalau Tante Rani mengurus kakak mu bareng bareng sama ibu." kata ibu Ayu mengingat perkataannya waktu itu.


"Kenapa Bu, ibu mengatakan itu?" tanya Ana kaget.


"Ibu nggak mau melihat Tante Rani frustasi."


"Nenek kalian benar benar tidak pernah bisa menerima tante Rani, alasan nggak masuk akal kerena Tante Rani hanya anak pungut. Ada sedangkan mereka juga tahu kang Darman juga anak pungut mereka."


Kata Ibu Ayu seperti menyesali keputusan ibu mertuanya..


"Tante Rani tahu kalau uwa Darman juga anak angkat nenek?" tanya Ana.


"Tahu, tapi Tante Rani nggak mau membahas nya."


"Bu, benar nggak sih kematian ayah ada campur tangan orang lain selain uwa Darman?" tanya Ana.


"Entahlah! Ibu juga nggak tahu sih! kalau itu,"

__ADS_1


Apa yang dipikirkan oleh Ana sebenarnya sudah terpikirkan oleh Zahra, apalagi ia juga mendengar dari uwa Darman kalau saksi kematian pak Rohman juga yaitu pak Karya ada orang lain yang membunuhnya..


"Ya Na kakak curiga tapi Kaka nggak mau bahas ini dulu." kata Zahra waktu itu..


"Maksudnya?"


"Kematian pak Rohman belum usai apalagi kematian itu bersamaan dengan kematian saksi dari pak Rohaman yaitu pak Karya.". kata Zahra.


"Kakak nggak bisa mengatakannya takut kesalahan, kakak nyakin bukan hanya satu orang yang membunuh mereka." lanjut Zahra..


"Kakak curiga sama seseorang?" tanya Ana menatap Zahra.


"Iya, makanya kakak ingin mencari tahu semuanya." ungkap Zahra.


"Kamu mengatakan itu dari mana?" tanya ibu Ayu menegur Ana yang diam saja.


"Kak Zahra yang mengatakannya Bu," kata Ana jujur.


"Kok kak Zahra nggak mengatakan apa apa pada ibu?" tanya wanita itu menatap Ana.


"Entah lah Bu, Ana juga tidak tahu apa apa?"


"Kak Zahra mengatakan kalau ada pembunuh ayah selain ua darman, Bu." ungkap Ana pada ibu Ayu.


"Siapa?"


"Entah lah Bu, kemungkinan pembunuh itu bukan uwa Darman Bu,"


"Masa sih!"


"Entah!"


Tapi kan semua warga mengatakan kalau uwa Darman yang menjadi dalang pembunuhnya." ibu Ani termenung.


"Entah! Kak Zahra juga belum fix mengatakan kalau uwa Darman pembunuhnya.


"Kalau bukan uwa Darman lalu siapa?"


"Makanya itu uwa Iyan mengajak kak Zahra untuk mengajak Tante Rani ke desa itu!" lanjut Ana.


"Apa jangan jangan Rani," gumam Ayu lirih.


Tapi kata kata ibu Ayu dengan jelas kedengaran oleh Ana, tapi Ana hanya diam saja tidak berkomentar sama sekali. Ana hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu apa apa,


Sedangkan orang yang dipikirkan oleh Ana dan ibu Ayu sedang berpikir wanita yang memberikan alamat villa itu.


"Kita cari saja sambil jalan?" tanya Ageng.


"Nggak lah, jauh dari sini juga, dia juga nggak bakal tahu padaku " Dengus Darman.


"Pak, mungkin bapak kenal tapi lupa lagi namanya?" tanya Ageng mencoba membangkitkan ingatan pak Darman.


"Aku sudah tua, nggak ingat lagi siapa siapa nya, sudahlah.itu nggak penting!" ujar Darman membuang secarik kertas yang berisikan alamat itu.


Darman langsung beranjak dari tempat duduk dan meninggalakan Ageng yang ada di tempat itu, sedangkan Ageng langsung memungut alat villa itu dan menyimpannya.*

__ADS_1


__ADS_2