
Darman benar benar kecewa sekali lihat Vito seperti itu, sebenarnya ia berniat mengajak Vito meloloskan Rani dan bisa merencanakan sesuatu pada Anin. Tapi pemuda itu hanya menggelengkan kepala saja.
Akhirnya Darman harus menyusun rencana kembali untuk mengeluarkan Rani dari penjara. Dan ia berjanji baka menceritakan yang terjadi pada Vito, ia nyakin Rani bakal kecewa pada Vito.
"Anak durhaka! "
"Kenapa sih dia nggak mampus saja!"
Darman benar benar kecewa sama Vito, menurutnya Vito seharusnya menolong mama nya bukan menolong Zahra. Ia benar benar kecewa sekali pada Vito.
"Gugurkan saja! " spontan Darman menyuruh Rani untuk menggugurkan kehamilannya, tapi wanita itu tidak mau menggugurkan kandungan.
"Nggak! Aku. Nggak bakal menggugurkan kehamilan ini, kamu gila! " teriak Rani.
Wanita itu sangat marah ketika ia mendengar Darman malah menyuruh menghentikan kehamilannya. Otomatis lah ia tidak mau menghentikan kehamilannya biarpun ia harus menanggung resiko yang sangat besar yaitu ocehan orang di sekitarnya.
Darman hanya menelan air liur saat ingat percakapan dirinya dengan Rani sewaktu Rani pertama kali ketahuan hamil. Tapi wanita itu sepertinya keukeuh untuk mempertahankan kandungannya.
"Coba kalau Vito dari dulu digugurkan mungkin ia nggak bakalan membantu si Anin itu! " dengusnya kesal.
Gerutuan Darman terdengar jelas oleh diri ya sendiri. Menurutnya kalau dulu Vito di guvurkan mungkin sekarang Vito tidak bakal ada di sini dan tidak akan membantu Zahra.
"Kalau dia mampus mungkin aku bisa bebas!" bisik Darman.
Ya Darman malah berpikir buat apa dulu Rani mempertahankan Vito kerena Vito malah mereka Zahra, kalau saja Rani. Menguvjrkan kandungan mungkin Darman bisa membebaskan Rani sendirian tanpa Vito. Sebenarnya ia bisa membebaskan Rani, tapi sebelum rencana nya berjalan ia hanya ingin Vito mendukung nya.
Tapi malah Vito mendukung Zahra itu menurut pikiran Darman.
"Gara gara Anin semuanya. "
Darman masih menggerutu, ia kesal dengan keputusan Vito, sepanjang jalan menuju gubug nya, sejak berpisah dengan Ageng ia harus hidup sendirian saja di kota ini, awalnya ia merasa riang ketika Viyo datang dan mengenalkan dirinya sebagai anak Rani. Tapi sekarang Darman malah tidak menyukai Vito kerena Vito tidak bisa diajak kerja sama.
"Seharusnya aku nggak pisah dengan Ageng!"
Ia mendengus memikirkan ageng dan menarik nafas dalam dalam lalu dikeluarkan begitu saja.
Darman bukannya langsung ke gubug nya tapi ka menuju suatu tempat yang benar benar ingin ia lakukan biarpun tempat itu memakan puluhan kilo juga itu tidak diperdulikan sama sekali.
__ADS_1
"Bagaimana? "
"Tenang! Kamu aman kok! "
"Sukurlah kalau begitu!"
Malam itu! Darman bisa lolos menggeluarkan Rani dari penjara. Entah bagaimana Darman bisa mengeluarkan Rani di tahanan itu.
"Masa kang! " Tanya Rani kaget saat mendengarnya
Darman tanpa menunggu waktu lagi menceritakan apa yang terjadi pada Vito, Rani hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh Darman. Wanita itu terkejut saat ia mendengar kalau Vito benar benar tidak bisa diandalkan sama sekali.
"Nggak mungkin Vito kaya gitu kang, aku percaya kalau Vito itu nggak mungkin berkata sama mamanya. " kata Rani tidak percaya apa yang daraamn katakan.
"Kamu nggak percaya apa yang aku katakan? Aku bersumpah Ran, kalau Vito berkata begitu sama aku, " Darman berusaha untuk menjelaskan.
"Sudahlah kang. " tempas Rani.
Darman terlihat kesal sekali mendengar apa yang dikatakan oleh wanita yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka kalau Rani tidak percaya sama dirinya, ia mendengus saja.
Kedua nya berhenti di sebuah tempat untuk istirahat, Darman memang tidak menyukai hal lain lagi pada Rani. Tapi ia mengerti dan memberikan Rani makanan dan minuman yang di beli di tempat yang tidak jauh dari sana.
"Kamu makan dulu saja, nanti kita bicara lagi." kata Darman sambil memberikan makanan di depan Rani.
Wanita itu hanya mendengus saja melihat Darman melakukan itu pada dirinya, ia hanya menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya.
"Kang, aku nggak ingin kamu bicarakan Vito di depanku, apa yang kamu katakan aku nggak mungkin percaya begitu saja.
Rani mengatakan itu sambil menatap wajah Darman. Selama ini memang Rani tidak pernah menceritakan apa yang terjadi apalagi sampai Vito memusuhinya, ia hanya menceritakan hal hal lainnya saja.
Rani tidak tahu sama sekali kalau Zahra hampir berhasil memberikan pengertian pada Vito tentang tanggungjawab mamanya pada seorang laki laki yang telah menjadikan sebagai ayah dari anaknya.
Rani juga tidak tahu, kalau ibu Ani juga malah mendukung apa yang dilakukan Zahra untuk memenjarakan Rani dan Darman. Bukan itu saja pak Bram juga terlibat dari melaporkan Darman sebagai buronan polisi.
"Aku nyakin kalau Ani juga ikut berperan mendukung Zahra! " degus Rani.
"Zahra? " tanya Darman menatap wajah Rani.
__ADS_1
Sejak dulu ia sering mendengar nama Zahra tapi ia sama sekali tidak tahu siapa Zahra yang sebenarnya.
"Anin ya sekarang Anin dipanggil Zahra."
Rani menjelaskan kalau Anin sudah berganti nama menjadi zahra alasan kerena ketika ia kabur dan menemukan ibu angkatnya. Oleh ibu angkat nama Anain di ganti menjadi Zahra kerena ibu angkat Anin punya anak bernama Zahra tapi anak itu telah meninggal.
"Kok bisa sih! " tanya Darman heran.
"Aku juga nggak tahu sih bagaimana kronologinya, tapi menurut cerita Zahra atau Anin sebenarnya menghetahui ayahnya meninggal ketemu kamu kang! "
Rani meraba raba apa yang pernah ia dengar tentang Anin yang telah melihat apa yang terjadi pada Hamdi ayahnya. Darman hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, Ia masih belum paham tentang Zahra yang tiba tiba ganti nama menjadi Zahra. Rani hanya mendengus saat Darman menanyakan itu pada Rani.
"Kamu nggak mengerti saja kang. Anin sebenarnya lihat kamu membunuh ayah ya, ia kabur saat ayahnya dibunuh sama kamu. "
"Jadi ia melihat kejadian itu! Kok bisa? " tanya Darman seperti pada diri sendiri.
Darman blank seketika juga, kerena ia masih ingat ketika ia dan Tio masuk ke rumah Hamdi ia sama sekali tidak pernah melihat Anin sama sekali tapi sekarang ia mendengar kalau Anin melihat kejadian nya.
"Entahlah aku juga nggak tahu apa apa kang!"
Rani menggelengkan kepala nya saja, kerena ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya mendengar ceritanya tentang Anin saja jadi tidak sepenuhnya mendengarkan.
Setelah makan habis keduanya langsung menuju tempat kediaman Darman, awalnya Rani mau sekalian istirahat tapi Rani malah memilih pulang ke rumah, biarpun Darman sedikit kecewa pada Rani kerena wanita itu memilih pulang ke rumahnya.
"Kamu nggak menginap saja di rumahku? " tanya Darman menatap wajah Rani.
"Aku pengen istirahat di rumah dan ingin ketemu dengan Vito. " tolak Rani.
"Kan udah besok! " kata Darman
"Nggak aku pulang saja pengen ketemu Vito." tolak Rani.
Darman langsung teediam seketika juga mendengar apa yang Rani katakan pada dirinya, akhirnya Darman tidak bisa memaksa Rani untuk tidur di gubug nya seperti dulu lagi.
Darman langsung menghentikan kendaraan untuk Rani, wanita itu la hsjng naik dan pulang dengan angkot yang sudah dipesan oleh Darman.
Rani sampai di rumah dengan selamat, ia mengkerutkan wajahnya saat mata melihat pintu rumahnya terbuka begitu saja, akhirnya tanpa permisi lagi ia masuk.*
__ADS_1