TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 223


__ADS_3

"Tante Rani ada di desa kita, bu. " Ana menyakinkan ibunya. 


Ibunya hanya diam saja saat Ana memberitahukan keberadaan Rani pada Ibunya. 


"Kita bagaimanapun juga harus bertindak melaporkan semuanya pada polisi! " kata Ana kemudian. 


Ibu Ayu belum sempat mengatakan apa apa saat Ana membrondong dengan kata kata nya. Wanita itu sangat terkejut sekali saat Ana mengatakan kalau Rani ada di desa itu, ia hanya menghela nafas panjang mendengarnya. Begitu juga dengan Ani yang ada di ruangan itu! 


"Apa yang Dio katakan itu benarkah? " tanya Ibu Ayu ragu menatap Dio. 


"Masa saya bohong sama ibu dan semuanya?" Dio mencoba menyakinkan wanita itu. 


Memang benar apa yang diduga oleh ibu Ayu tentang Rani, keberadaan Rani di desa itu tanpa  semua orang tahu. Ibu Ayu hanya menggunakan instingnya saja. Sebenarnya wanita itu akan ke desa itu kalau saja Dio tidak keburu datang dan memberitahukan pada Ana keberadaan Rani, ini sudah terlambat Ana sudah tahu. 


Ibu Ayu akan mengajak Zahra ke desa itu hanya untuk melihat apa dugaannya itu benar atau tidak, tapi terlambat kerena Dio yang melihat wanita itu duluan di desa tempat Ana berada, tanpa menunggu waktu lama lagi pria itu langsung memberitahukan keberadaan wanita itu pada Ana. 


Otomatis gadis yang mendengar khabar mengejutkan itu langsung mendatangi ibu nya yang masih berada di rumah ibu Ani. Mendengar kabar Rani yang berada di desa itu langsung ibu Ayu terkejut juga mendengarkannya kerena dugaan selama ini benar sekali. 


"Yu, aku nggak bisa meninggalkan desa ini, bagiku desa ini adalah desa kelahiranku. Desa dimana aku bisa bebas melakukan apapun juga, aku juga kalau ada masalah sering pergi ke perbukitan itu! " 


Ungkap Rani beberapa waktu. Kata kata Rani memang menjadi kenyataan bagi dirinya sendiri, sekarang Dio lah yang memberi tahu kan keberadaan Rani bukan orang lain. 


"Ya benar apa yang di katakan Dio, Rani ada disana! " ungkap pak Bram yang tiba tiba datang menghampiri mereka.


Pak Bram langsung menyambar kata kata ibu Ayu, semua yang ada di ruangan  itu langsung melihat pada pak Bram yang baru datang dari kantor. 


"Pa, papa kata siapa? Kita nggak akan tahu kalau uwa Rani disana, siapa tau Dio salah! " Zahra angkat bicara. 


Gadis itu mendekati papanya, ia tahu kalau itis yang disebut papa olehnya begitu antusias buat menangkap Rani, memang Zahra tahu alasan papanya ingin menangkap Rani. Alasannya kerena papa trauma atas kejahatan Rabi pada nya, dan kejahatan wanita itu pada Narti. 


"Ra, aku nggak salah. Kalau kalian nggak percaya lebih baik kita kesana." kata Dio. 

__ADS_1


Dio berusaha menjelaskan pada Zahra yang sejak tadi hanya diam saja, yang tiba tiba malah tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Sebenarnya Zahra bicara itu pada papanya kerena ingin menghentikan Dio supaya tidak menceritakan Rani pada semuanya, tapi kenyataannya kain malah Dio berusaha menjelaskan secara detilnya. 


"Oke kita lebih baik kesana saja. " ajak pak Bram antusias. 


"Pa, papa seharusnya jangan bergerak sendiri kaya gini. Kita lebih baik. Lapor polisi saja itu lebih terjamin. " kata Zahra berusaha untuk mencegah pak Bram. 


Ia hanya saling tatap dengan ibu Ayu, keduanya hanya dia tidak bisa berkata kata lagi. Sedangkan ibu Ani yang ada disana dari tadi hanya diam saja mendengarkan apa yang terjadi. Ia sama sekali tidak menduga kalau Rani ada di tempat itu. 


"Pa, apa nggak terges gesa? " tanya ibu Ani menatap suaminya. 


Wanita yang tadi hanya mendengarkan percakapan antara suami dan anaknya kini ikut bicara, ia mengerti atas tatapan mata Zahra yang menatap dirinya dengan tajam.. 


"Nggak itu lebih baik daripada kita mengundur undur keburu kabur lagi. " kata pak Bram menatap wajah istrinya. 


"Oke lah kalau begitu, mama hanya ikut saja." ujar ibu Ani. 


Ibu Ani, Ibu Ayu dan Zahra akhirnya pasrah saja. 


Suara Rani terngiang di telinga ibu Ayu begitu jelas sekali. 


🦋


Apa yang di duga oleh ibu Ayu benar sekali, kalau wanita itu memang ada di desa dimana Rani ditemukan sewaktu bayi di sana. Ia berusaha menyembunyikan diri dari aparat hukum yang mengejarnya. 


"Hamdi, maafkan aku bukan aku yang menyuruh kang Darman, tapi kang Darman sendiri yang berusaha melindungi aku. Maafkan aku Hamdi apa yang aku lakukan itu pada kamu." 


Kata Rani sambil bersimpuh di kuburan Hamdi, Hamdi yang meninggallan desa itu dengan cara dibunuh oleh Darman kakak angkatnya hanya untuk melindungi Rani dari polisi.


"Hamdi, kalau kita di hiduokan lagi dan Tuhan, aku ingin jadi wanita mu sampai kapanpun juga, aku ingin Anin juga hidup bersama kita dan bahagia selamanya. " 


"Maafkan aku Hamdi, kalau aku bisa menuliskan kisah kita di selembar kertas putih aku hanya ingin kita bersatu membangun mahligai rumah tangga yang indah bersama Anin. " 

__ADS_1


"Aku juga menyesal kenapa aku nggak pernah bertemu Anin sewaktu ia pergi meninggalkan desa ini, kalau saja aku ditakdirkan untuk mengurus Anin aku sangat bahagia sekali. Tapi Tuhan malah mempercayai Ani untuk jadi ibu angkat Anin." 


Wanita itu menarik nafas panjang lalu secara reflek mengusut cairan bening yang jatuh ke pipinya, ia hanya bisa tersenyum manis di pussra Hamdi. 


Rey tahu kabar kalau Rani berada di desa yang pernah di datangi Zahra, ia dengan cepat langsung menuju desa itu! Benar saja Rey menemukan Rani di pekuburan. 


"Mama! "Panggil Rey dengan kerasnya. 


Wanita itu langsung membalikan badan saat terdengat suara orang yang memanggil dirinya. 


" Rey, kamu disini? Kamu tahu dari mana kalau mama ada di sini? " tanya Rani heran. 


Seingatnya ia sama sekali tidak pernah menceritakan keberadaan dirinya pada orang lain, wajar kalau ia melihat kedatangan Rey dengan tatapan heran sekali. 


"Rey diberitahukan oleh Anin kalau mama di sini. " 


Pria muda itu langsung memberitahukan siapa orang yang telah memberi tahu kan keberadaan Rani. 


"Anin tahu? " tanya Rani heran. 


Wanita itu terbelalak saat Rey memberitahukan kalau Anin yang tahu Rani di desa itu, sampai wanita itu menatap heran. Hatinya bertanya tanya Anin tahu dirinya dari mana tapi pertanyaan itu hanya ia pendam saja, tidak bisa di jawab sama sekali oleh dirinya. 


Rey mengangguk ia tidak menceritakan secara detilnya kalau Zahra tau dari Dio. Rey mendekati Rani yang telah berdiri dari jongkok nya. 


"Ini kuburan siapa? " tanya Rey menatap Rani. 


"Ayah ya Anin, " 


Rani sengaja bilang kalau kuburan itu memang kuburan Hamdi  ayah kandung dari Anin, ia tidak menyebutkan kalau Hamdi juga ayah dari anaknya pada Rey. 


"Mama kenapa disini? Sejak kapan mama ada di desa ini? ' tanya Rey lembut. 

__ADS_1


"Sejak uwa Darman di penjara! " uang Rani. *


__ADS_2