TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 187


__ADS_3

"Kang! Nggak mungkin kan Rani melakukan itu padaku, nggak mungkin mau mengambil Anin dari aku. Nggak mungkin! " Teriak Ayu waktu itu. 


Ia sempat tidak percaya apa payang dikatakan uwa iyan pada dorinya, sampwt ayu marah pada pria itu yang menurutnya terlalu benci pada Rani. 


"Akun tahu akang dari dulu sampai saat ini membenci Rani kenapa kang? Kenpa harus Rani yang dibenci oleh akang kenpa bukan orang lain! " raungnya. 


"Yu, percaya sama akang! Akang nggak pernah membenci siapapun juga, akang hanya ingin kamu percaya akang itu saja. " uwa iyan berusaha untuk jujur. 


Tapi wanita itu malah mengamuk dan menuduh dirinya membenci Rani. 


"Percaya sama akang? Aku juga percaya sama akang tapi jangan seperti ini kang! " Ayu keukeuh pada pendiriannya. 


"Sudah lah yu, akang tahu kalau kamu lebih percaya sama Rani dibandingkan akang! " uwa iyan menghindar. 


Akhirnya uwa Iyan memilih diam dan tidak pernah membicarakan Rni pada Ayu kembali. Ia takut kalau wanita itu malah menuduh dirinya membenci Rani. 


"Suatu waktu nanti kamu bakal percaya Pa yang akang bicarakan Yu, kamu jangan mikirin ya ya g penting kamu tetap bersama Ana dan Anin. Jaga mereka seperti kamu menjaga dirimu sendiri." 


Uwa Iyan mengatakan itu dihadapan Ayu, sedangkan wanita itu merasa heran kenapa pria itu mengatakan  itu pada dirinya. 


Dan sekarang wanita itu mendengar apa yang diceritakan oleh uwa Iyan. Ia mendengar dari mulut Zahra sendiri. Ia hanya bisa menghela nafas panjang setelah Zahra mengucapkan nya. 


"Jadi benar apa yang diceritakan uwa iyan sama aku Ran, kalau kamu menginginkan sesuatu dari aku?" tanya Ayu yang dari tadi hanya diam saja akhirnya berkomentar. 


"Kamu baru mendengarnya? " tanya Ani heran mendengarkan kata kata Ayu. 


Ayu hanya mengangguk saja, melihat anggukan dari ibu Ayu, Ani hanya bisa menghela nafas panjang lalu dihembuskan kembali. 


"Akubnggak menganyaka kalau kamu ingin mememiliki zahra. " kata Ani terkejutnya. 


Kata Ani melemparkan kata katanya pada Rani, wanita itu tidak habis pikir pada Rani yang ingin memiliki Zahra dalam hidupnya sampai sudah merencanakan penculikan tapi semuanya gagal. 


Ia juga baru mendengar apa yang Zahra katakan. 


"Kalian jangan ikut campur urusan aku dan Ayu, kamu hanya bisa bicara saja! " teriak Rani menatap Zahra dan Ani yang ikut berkomentar. 


"Kamu janji nggak bakal ikut campur kalau aku dan Ayu bicara tapi kenapa sekarang malah kalau bicara, sambung Rani sambil membentak Ani yang berdiri tidak jauh dari Zahra. 


Plak! 


"Awh! " jerit Rani keras. 


Zahra yang mendengar kata kata kasar yang keluar dari mut Rani langsung dengan emosinya Zahra melayangkan tangannya ke arah oleh Rani. Tepat pada pipinya, dan dari mulut Rani terpekik seruan kesakitan. 

__ADS_1


"Anin! Kamu! " teriak Rani kalap. 


"Kamu sendiri yang nggak pernah menjaga bicaranya, kamu sadar apa yang kamu bicarakan pada mama? " Teriak Zahra yang tidak terima kalau wanita yang ada dihadapannya memarahi ibu Ani di depan nya. 


Ani yang melihat itu langsung menyentuh tangan Zahra supaya tidak melakukan apa apa pada Rani, tapi zahra menipiskan tangan ibu Ani secara lembut. 


"Kamu kenapa nggak lakukan dari dulu kalau kamu ingin mengharap akan aku diurus sama kamu! " sambung Zahra tidak suka sama Rani. 


Rani yang tadinya mau angkat bicara langsung terdiam ketika ia keduluan  bicara oleh Ayu. 


"Sudah! Jangan diteruskan! Anin sekarang sudah dewasa kalian malah merebutkan saja!" lerai ibu Ayu. 


Ia berusaha untuk memisahkan Zahra dan Ayu supaya tidak adu mulut. 


"Kamu, juga Ni kenapa ikut menimbrung saja." dengus Rani agak kesal. 


"Aku bukan ikut menimbrung apa yang kalian bicarakan tapi kalau menyangkut Zahra aku nggak mau. Aku kira kamu dan ibu Ana mau bicara apa nggak tahunya bicara masalah Zahra." bela Ibu Ani pada Rani. 


"Uwa lebih baik ua pulang saja dari pada uwa disini bikin onar? Rara nggak segan segan melaporkan uwa ke polisi apalagi sekarang uwa adalah buronan, " ancam Zahra. 


"Kamu! " teriak Rani geram. 


"Apa? Apa uwa ingin Rara bertindak sekarang juga! " kata Zahra mengancam wanita itu. 


"Mama dan ibu ngak apa apa kan? " tanya Zahra setelah Rani pergi meninggal akan mereka. 


Kedua wanita itu mengangguk  dan ketiganya saling berpekukan satu sama lainnya.


Sedangkan Rani langsung pulang kerena melihat Rani yang begitu serius ingin melaporkan ke polisi, ia sama sekali tidak mau menanggung resiko yang berat apalagi ia ingat apa yang dikatakan oleh Darman sebelum Ia pergi ke rumah Ani. 


"Aku nggak mau kamu di tangkap polisi lagi, kamu harus hati hati ya! " kata Darman. 


Iya aku juga bakalan hati hati! " uang Rani waktu mau ke rumah Ani. Tadinya Darman juga ikut bersama nya tapi tidak lama mungkin setelah ia melarang dirinya memukul Ani, darman langsung pergi begitu saja. 


Ia hanya mengangguk saja waktu itu! Akhirnya dengan perasaan yang kesal dan emosi ia langsung meninggal akibat  rumah itu. Tapi sebelum. Ia jauh dari rumah Ani tiba tiba Vito i muncul dengan tatapan curiga. 


"Ma, mama ada apa kesini? " tanya Vito dengan pandangan menaksir. 


"Nggak ada apa apa kok! Mama hanya ketemu dengan Ani, " dusta Rani. 


"Aku nggak percaya. " saut Vito 


"Ya sudah kalau kamu nggak percaya, terserah kamu. " 

__ADS_1


"Ma, jangan ganggu Zahra. " 


"Maksud kamu?"


"Aku tahu kalau mama kesini ketemu dengan ibu. " 


"Sok tahu! "


"Aku nggak sok tahu ma, aku tahun semua yang mama inginkan dari ibu Ayu! " 


"Kamu tahu apa? " 


"Mama meminta Zahra buat bareng sama  mama kan? Ma kenapa seperti ini? " 


"Kamu anak bau ingus jangan ikut campur apa yang mama lakukak. 


" Vigo juga nggak akan pernah ikut campur ma kalau mama nggak lsenah menganggu zahra dan keluarganya. " tekan Vito tajam. 


"Kamu anak ingusan lebih baik kamu diam saja jangan bicara! " 


"Seharusnya mama yang harus sadar ma apa yang mama lakukan sebenarnya bakal melukai semuanya. " 


"Kamu lebih baik diam jangan bicara! " sembur Rani jegah atas jawaban yang dilontarkan oleh Vito. 


Tanpa menunggu lagi ia meninggalkan Vito, Rani benar benar tidak mau bicara lagi sama Vito. Bicara sama Vito sama saja seperti bicara dengan Zahra. 


Vito gagal mengejar mamanya kerena wanita itu mengunakan avanza nya sedangkan dirinya ke rumah Zahra hanya naik angkot jadi Vito pasrah saja tidak melakukan apa apa pada mamanya. 


"Vit, kenapa kamu diam saja? " tanya Zahra yang keluar dari rumah.. 


"Mama! " kawbnya lesu. 


"Sudah jangan dipikirkan, mam akamu nggK bikin onAr kok! " senyum Zahra lembut. 


"Kak! " panggil Vito halus. 


"Ya, " 


"Maafkan mama ya, mama banyak salah pada keluarga kakak. " ucap Vito. 


"Sudah jangan dipikirkan. Aku pergi ke kantor dulu ya, kamu mau apa ke sini? " tanya Zahra menatap Vito. 


"Aku.mau ketemu mama kamu. " jawab Vito. 

__ADS_1


Zahra mengangguk saja, gadis itu langsung pergi meninggalkan Vito yang masih di halaman rumah.*


__ADS_2