TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 24


__ADS_3

Malam itu!


Darman sebenarnya ingin merebut kembali surat tanah yang telah menjadi milik Rohman, kerena tanah itu telah dijual oleh Darman ke Rohman tapi atas perintah istrinya Darman ingin memiliki tanah itu kembali.


Tanpa pikir panjang Darman menyambut keinginan istrinya. Tapi, siasat itu mengunakan Hamdi sebagai tameng dari Darman.


Dari awal memang Darman ingin menguasai tanah itu tanah dari orang tua angkatnya. Darman tahu sebenarnya Hamdi tidak setuju kalau tanah itu dijual oleh Darman.


"Mana kang Hamdi kang?" tanya Rohman menyapa wajah Darman.


Ia heran sekali kerena di kebun itu hanya ada dirinya dengan Darman.


"Memangnya kamu mau ketemu Hamdi disini? Ada apa kalian ketemu disini?" Darman pura pura bertanya.


"Kang Darman tetap saja nggak mau kalau tanah ini dijual kang. Tadi Tio menyuruh aku datang kalau malam ini kang Hamdi bakal bicara di sini." ujar Rohman tanpa curiga sama sekali.


"Oh! Aku kira apa?" senyum licik Darman.


"Kamu harus hati hati, kalau Maslah tanah dengan Hamdi." lanjutnya.


"Memangnya kenapa aku harus hati hati lada kang Hamdi, nggak mungkin kan kalau kang Hamdi bakal melakukan apapun untukku." bela Rohman.


"Kamu tahu nggak, aku pernah diancam bakal dibunuh waktu aku jual tanah itu sama kamu," hasut Darman.


"Nggak mungkin kang Hamdi kaya gitu sih kang. Aku tahu kalau kang Hamdi itu baik dan selalu mengalah." bela Rohaman.


Laki laki.itu tetap saja memebela Hamdi kerena selama ini yang ia tahu Hamdi selalu baik dan selalu menolong orang lain.


"Itu kata orang! Kenyataannya nggak sama sekali!" ejek Darman panas.


Ia merasa hatinya terbakar kerrna laki laki yang ada dihadapannya selalu membela Hamdi. Tapi ia menhan perasaannya, kerena ingin sesuatu dari Rohman.


"Jangan fitnah kang dosa! Aku malah curiga sama sampeyan," selidik Rohaman.


"Maksud kamu apa!" sembur Darman tidak suka.


"Kerena akang selalu menjelekkan kang Hamdi!" ketus Rohaman.


BUG!


BUG!


Sebuah tinju langsung melayang dengan cepat mengenai pipi Rohaman. Pria itu tidak menyangka kalau Darman menghajar pipinya dengan keras, ia merasakan pedih di pelipisnya.


Darman beberapa kali menghajar dan akhirnya mereka bergulat di sebuah kebun hanya sang Dewi yang melihat semuanya. Angin malam yang dingin menyelusup ke dalam kulit dan tulang.


Sedangkan Tio berhasil membawa Hamdi ke kebun itu! Tapi saat ia sampai ke kebun itu ia dengan mata kepala sendiri melihat kejadian yang membuat dirinya bergetar.


Tubuh Rohman tersungkur! merenggang nyawa dengan darah bersimbah di tanah. Malam yang dingin tiga orang di kebun itu!


Betapa terkejutnya saat vonis itu jatuh! Hamdi yang tidak tahu apa apa harus dijeret ke bale desa untuk mempertangungjawabkan kematian Rohman!


Hamdi sudah beberapa kali menyangkal kalau dirinya bukan pembunuh tapi Darman lah yang melakukannya tapi semua bukti ada di Hamdi semuanya.

__ADS_1


Ayu yang mendengar histeris sekali. Anin yang tahu ayahnya tidak pulang selalu menanyakan ayahnya pulang tidaknya.


"Ayah mana ibu? Aku rindu ayah!" tatap mata Anin sendu.


Ia kehilangan sosok ayah yang selalu menemani dirinya, tapi kini ayah tidak pernah pulang kembali.


"Ayah lagi kerja!" ujar Ayu membalas tatapan putrinya.


"Memangnya Aya kerja dimana?" tanya Anin.


"Kerja di kota biar bisa beli sepeda."


"Benar Bu ayah mau beli sepeda?" tanya Anin berbinar binar.


Ayu mengangguk. Anin senang sekali kerena selama ini ia ingin sekali beli sepeda buat makan dengan teman temannya.


Sebelum kemudian!


Kabar bahagia datang dari keluarga Ayu, entah bagaimana ceritanya ada seorang polisi yang percaya apa yang dikatakan oleh Hamdi kalau ia tidak bersalah.


"Pak, saya janji saya akan menangkap pembunuhnya,"


"Apa ini alasan kamu saja kerena kamu ingin bebas?"


"Nggak, saya nggak bersalah! Pak, percaya pada saya apa yang saya lakukan saya bakal membantu bapak buat menangkap pembunuhnya," Hamdi menjelaskan.


"Apa kata kata kamu bisa di percaya?"


"Saya janji pak, saya akan mencari pembunuh itu!"


Hamdi dibebaskan tapi dengan syarat ia harus menangkap pelaku pembunuhan Rohman, Hamdi mengangguk setuju dengan syarat yang diajukan polisi itu!


"Ayah!" Anin bersorak gembira.


Ia bisa memeluk tubuh ayahnya dengan erat. Hamdi juga begitu.


"Ayah kenapa ayah lama kerjanya."


"Sekarang ayah nggak kerja di jauh lagi, ayah kangen sama Anin nggak mau meninggalakan Anin," alasan Hamdi menatap wajah putrinya.


"Ayah sudah banyak uang?" tanya nya polos.


Hamdi mengangguk.


🦋


"Aku nyakin kalau kang Darman lah yang membunuh kang Rohman!" kata Hamdi menerawang.


"Kamu punya bukti dek?" tanya mbok Inem.


"Nggak sih! Tapi malam itu saya lihat kang Darman berlumuran darah.


"Jangan gegabah dengan kakang kamu, bisa bisa dia nekat," mbok Inem mengingatkan Hamdi.

__ADS_1


Hamdi hanya menghela nafas panjang. Ia langsung mengangguk, mendengar nasehat dari mbok Inem.


"Aku hanya di fitnah! Aku harus melakukan sesuatu supaya aku terbebas dari tuduhan itu," Hela nafas Hamdi.


"Kalau misal gagal?" tanya mbok Inem pesimis.


"Aku nyakin Anin bakal melakukan sesuatu padaku,"


"Menunggu Anin besar itu.kustahil kamu juga keburu di penjara kembali atas kasus yang nggak pernah kamu lakukan."


Tanpa mereka ketahui seorang bocah kecil mendengarkan pembicaraan mereka, Anin bocah itu sedang mengintip mereka berdua di belakang pintu.


Hati nya berdebar keras saat telinganya mendengar nama Darman dan Rohman disebut sebut. Nama keduanya langsung terpatri dalam hatinya.


'Pembunuh itu apa ya?"bisik hatinya.


Ingatannya langsung pada percakapan dirinya dengan ibunya.


"Cicak itu harus dibunuh!" ujar ibunya.


"Dibunuh?" tanyanya heran.


"Kenapa harus dibunuh ibu?" lanjut Anin heran.


"Ya kerana mencuri makanan," ujar ibunya.


"Dibunuh itu bagaimana ibu?" tanyanya kembali.


"Dibunuh itu lehernya di sembelih," kata ibunya tersenyum lucu mendengar pertanyaan anaknya.


Tubuh kecil itu merinding seketika juga mendengar percakapan ayahnya dan mbok Inem. Ia tidak menyangka kalau ayah teman nya disembelih kaya leher cikcak.


Setelah mendengar percakapan ayah dan mbok inem, Anin langsung keluar dan berlari ke belakang rumahnya.


"Anin kenapa?" tanya Ayu heran.


Anin hanya mengelangkan kepala saja mendengar pertanyaan dari ibunya, Ayu melihat wajah Anin pucat sekali. Ia langsung menyentuh wajah putrinya, tapi tidak terasa panas sama sekali. Hanya dingin dan berkeringat.


"Kamu kenapa?"


"Aku takut dibunuh!"


"Dibunuh! Dibunuh sama siapa?" tanya Ayu heran.


Anin langsung menangis. Ayu benar benar heran sekali melihat Anin menangis tanpa sebab, ia langsung menuntun gadis kecilnya ke dalam rumah.


Tapi Anin tidak mau masuk kedalam rumah.


Hamdi yang ada di dalam rumah langsung ke luar mencari suara Anin yang sedang menangis.


"Anin kenapa?"


"Aku nggak mau dibunuh kaya pak Rohaman!" tangis Anin memeluk tubuh ayahnya.

__ADS_1


Hamdi dsn mbok Inem langsung saling pandang satu sam lainnya, mereka tidak menduga kalau tadi Anin mwndengrakan semuanya pembicaraannya. Ada perih dihati Hamdi mendengarkan tangisan putrinya seperti itu.*


__ADS_2