TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 168


__ADS_3

Dor 


Dor 


Dor! 


Suara pistol terdengar dengan beruntun di rumahnya Rani, Rani dan. Ayu yang ada di sana langsung masuk kedalam rumah, begitu juga Zahra dan Vito. 


Keempat orang saling tatap satu sama lainnya, ada pancaran keheranan di wajah mereka semuanya. Kerena tiba tiba ada bebrapa polisi yang mengintai rumah itu. 


"Rumah ini sudah di kepung! Saudari Rani jangan coba coba kabur melarikan diri kalau ingin selamat! " Suara pengeras suara terdengar dengan jelas sekali. 


Rani langsung terjatuh saat pengeras suara itu bersuara. Vito shock! Zahra kaget dan ibu Ayu hanya terdiam saja. 


Mereka punya pikiran masing masing dalam benaknya. 


Pikiran Rani langsung tertuju pada Zahra, kerena Zahra orang yang antusias untuk memasukkan dirinya ke penjara, kalau untuk Ayu, Rani berpikir positif ya biarpun  wanita itu juga punya kemungkinan untuk melaporkan Rani ke polisi. 


Pikiran Zahra, ia benar benar blank. Kwrwna ia sama sekali belum berpikir siapa yang melaporkan Rani ke polisi. Tiba tiba ada polisi yanng mengepung rumah itu. 


Vito, ia menatap Zahra. Ya, ia satu pikiran dengan Rani. Vito langsung menatap wajah Zahra tajam hatinya bergemuruh sangat kuat sekali. Ingin rasanya ia menghajar wajah Zahra kerena telah melakukan hal yang tidak ia suka. 


Sedangkan pikiran ibu Ayu hanya berpikir mungkin mbok Inem yang melaporkannya, kerena ia sebelum ke rumah Rani ia menceritakan akan menyusul dan meminta pertangungjawabkan pada Rani tentang kematian Hamdi dan teman teman nya. 


"Kami dari polsek XX telah mengepung rumah ini " 


Vito menatap wajah Zahra dan ibu Ayu bukan hanya ibu Ayu yang heran tapi Zahra lebih lebih kerena ia sama sekali tidak melaporkan ke polisi tapi anehnya polisi dengan tiba tiba datang dan mengepung rumah itu! 


"Kamu ya yang melaporkan pada polisi! " Teriak Vito pada Zahra dan ibu Ayu yang berdiri disana. 


"Nggak aku nggak pernah melaporkan mama kamu Vito! " Kata ibu Ayu. 


Wanita itu mwnggelengkan  kepala nya, "kalau memang aku melaporkan ke polisi kenapa nggak dari dulu aku laporkan mama kamu kesana! " Sembung ibu Ayu. 


"Aku yang melaporkan tante Rani ke polisi! " Teriak Ana yang tiba tiba berdiri disana dengan senyuman sinisnya menatapnya ke arah Rani. 


"Kalian benar benar! " Teriak Vito marah. 


Ia hampir saja menyerang Zahra. Tapi Vito mengurungkan niatnya kerena di belakang Ana telah berdiri dua polisi yang mengunakan seragam komplit. Rani yang melihat langsung ambruk  diam saja hatinya bergetar saat dua polisi itu menghampiri Rani. 


"Ma lari ma, lari ma! " Teriak Vito menarik tubuh mamanya. 


Tapi Rani terkulai lemas saat tubuhnya langsung diangkat oleh dua polisi tanpa perlawanan sama sekali. 

__ADS_1


"Kamu bajingan! Kenapa kau lakukan ini! " Teriak Vito yang tiba tiba menyerang Ana.


Ia tidak mau melihat mamanya di giring polisi dihadapan matanya. 


Zahra yang melihat Vito menyerang Ana langsung menarik tangan Vito supaya tidak menyakiti Ana. Vito langsung menepiskan tangan Zahra yang akan memegangnya. 


"Vit! " Teriak Zahra saat tangannya di tepi akan secara kasar oleh Vito, Zahra benar benar geram sekali. Melihat Vito seperti itu pada dirinya


"Diam kamu! Kamu senang ya kalau mamaku di penjara! " Ketua Vito tajam. 


"Mama kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya. " Jawab Zahra. 


"Nggak! Aku nggak pernah tinggal diam. Aku bakal menuntut balik kamu dan dia! " Sembur Vito berang. 


"Oh! Silahkan, aku dengan senang hati bakal melayani kamu, " Sinis Zahra. 


"Apa yang dikatakan oleh kak Zahra benar Vit, mama kamu seharusnya sejak dulu di penjara sebelum kamu lahir! " 


Plak! 


Vito melayangkan tanganya kearah Ana dan gadis itu langsung terpekik kesakitan dan tanganya memegang pipinya yang terasa panas dan sakit kerena pukulan yang diberikan oleh Vito. 


Melihat itu Zahra geram, hampir saja ia juga memukul Vito untuk membalaskan sakitnya Ana tapi ia langsung mengurungkan diri nya memukul Vito kerena salah satu polisi mengiringi Rani ke mobil, sedangkan satunya memegang Vito kerena pemuda itu mengamuk.


" Aku nggak akan pernah diam untuk tetap memiliki kamu seutuhnya! " Kata Rani langsung pergi meninggalkan Zahra. 


"Wanita gila! " Sembur Ana.


"Gila! Aku akan buktikan kalau Anin adalah anak aku, aku juga nggak ingin kehilangan Anin. Biarpun papanya meninggal tapi ia tetap anak gadis ku! " Sembur kata kata Rani. 


Zahra yang mendengar itu tidak bergeming sama sekali. Apa yang dikatakan oleh uwa iyan benar tentang Rani! Bukan uwa iyan saja yang mengatakan itu taoi ibu Nining dan ibu Mirna juga mengatakan hal yang senada. 


"Tapi Darman nggak pernah setuju kamu ada di pelukan wanita itu! " Kata uwa iyan. 


"Darman tetap melindungi kamu, ya biarpun bagian hati kamu diambil dengan paksa. " Lanjut uwa Iyan waktu itu. 


"Kenapa uwa Rani ingin mengambil aku dari tangan ibu dan mama? " Tanya Zahra. 


"Mungkin Rani melakukan itu hanya menebus kesalahan nya terhadap ayahmu. Tapi uwa juga nggak tahu juga sih!" 


"Rara, punya ibu dan mama, mereka orang gua Rara untuk sekarang! " Jawab Zahra tersenyum. 


"Tunggu lah kau akan jadi milikku dan akan menyebutkan mama seperti Vito! " Ketus Rani agak kesal mendengar apa yang dikatakan Zahra padanya.

__ADS_1


Zahra hanya tersenyum kecut saat mendengar apa yang Rani katakan padanya, sedangkan pada Ayu, Rani hanya melirik dan pergi begitu saja. 


"Aku nggak akan mengizinkan kamu menyentuh kakak ku sedikitpun! " Teriak Ana keras. 


Rani masih mendengar tapi ia hanya diam saja, tidak mengatakan apapun juga. 


Vito yang melihat mamanya di giring oleh polisi hanya bisa mengamuk, kerena Vito menghalangi akhirnya polisi langsung memukul belakang kepalanya, kerana hampir saja ia mengambil pistol yang akan diarahkan pada polisi yang memegang Rani, dari pada kenapa kenapa akhirnya salah satunya memukulnya dengan keras. 


Vito terjatuh ambruk ke lantai, polisi yang memukul Vito menghampiri Ana dan Zahra. 


"Saya ingin anda bersaksi di kantor polisi masalah kematian pak Rohman dan teman temannya. " Ujar polisi itu menatap Zahra dan Ana saling bergantian.. 


"Iya saya akan lakukan itu! "Kata Zahra. 


" Baik, saya tunggu! " 


Kedua polisi itu pulang sambil membawa Rani. Wanita itu hanya diam saja saat dirinya digiring oleh dua polisi ke kantor polisi. 


"Kalian!" Teriak Vito saat siuman dari pingsan nya. 


Vito langsung memukul Ana beberapa kali, Ana yang tidak menduga hanya bisa diam saja, untungnya Zahra yang melihat itu langsung memisahkan mereka.. 


"Vit, kamu yang tenang! " Teriak Zahra memegang kedua tangan Vito. 


"Nggak aku nggak bisa tenang sebelum. Mama keluar dari penjara! " 


"Mama kamu harus tanggung jawab pada ayah! Gara gara mama kamu semuanya, aku harus kehilangan ayah! " Teriak Ana.. 


"Bukan hanya aku dan kakak yang kehilangan Ayah tapi juga kamu! " Sambung Ana sambil memukul Vito. 


"Dan aku tanya sama kamu, kamu kangen ayah nggak? " Tanya Ana menatap tajam kearah Vito. 


Deg! 


Hati Vito bergetar saat mendengar Ana menyebutkan kalau ayahnya meninggal kerena mama. Ia sebenarnya mengakui kalau papa meninggal kerena mama, tapi hatinya tidak mampu melakukan apa yang dilakukan Ana. Ia juga berpikir kalau misal mama di penjara ia sama siapa? 


Ya biarpun ia masih punya ibu dan bapak angkat, tapi jujur ia lebih nyaman tinggal di rumah mama bersama wanita yang melahirkannya. 


Melihat Vito terdiam, Ana mendekati Vito. 


"Kita sama sama anak ayah, Vit. Kita anak anak ayah, hanya saja beda ibu." Ujar Ana lembut. 


"Kamu nggak berpikir kan, semuanya kerena mama kamu. Kalau saja mama kamu nggak pernah membunuh ayah mungkin kita punya ayah sampai sekarang! " Getir Ana. 

__ADS_1


Gadis itu memegang tangan Vito biarpun  ragu ragu juga. Vito hanya diam saja, hatinya memang sakit kalau ingat papanya. Papa yang harus meninggalkan di tangan mama nya sendiri.*


__ADS_2