
Kejadian itu spontan membuat Zahra tidak.menduga sama sekali, Entin yang melihat itu juga meminta tolong. Untung ada sebagian warga yang mendatangi tempat itu, sedangkan Darman tertawa puas kerena orang yang jadi penghalang harus dimusnahkan.
Zahra yang melihat Ana sangat shock. Ia tidak memperdulikan Darman yang tertawa dengan puasnya, langsung berlari ke klinik Diman Ana disana dirawat.
Darah mengalir dengan deras membasahi baju yang digunakan oleh Ana, beberapa orang membawa tubuh Ana untuk mendapatkan pengobatan di klinik.
"Kamu jangan lari! Semuanya belum selsai dsn aku akan menutut apa yang kamu lakukan dengan Ana!" Tegas Zahra pada Darman..
"Silahkan apa yang hendak kamu lakukan, tapi jangan harap kamu menginjakan kaki ke desa ini laki," Darman membalas kata kata Zahra dengan liciknya.
"Aku nggak pernah takut dengan kamu, kamu yang bakal mengakui semuanya di kantor polisi."
"Kamu sebenarnya siapa?" Tanya Darman menatap wajah Zahra dengan tajam.
"Kamu nggak perlu tahu siapa aku, tapi kamu perlu tahu aku adalah Zahra yang bakal membalas kematian pak Hamdi dsn teman teman kerena ulah kamu!" Tekan Zahra.
Setelah mengucapkan kata kata itu Zahra langsung pergi ke klinik untuk tahu kondisi Ana yang sebenarnya. Mengepalkan tangan menginat saat tangan Darman yang memegang pisau menusukan nya ke perut Ayu. Ia melihat kalau Darman melakukan itu bukan sekali dua kali, tapi beberapa kali seperti sengaja ingin menghilangkan nyawa Ana sendiri.
Zahra langsung masuk klinik kecil itu.
"Maaf fasilitas disini tidak memadai, pasien harus dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap lagi peralatan. Persediaan darah juga kurang, jadi lebih baik kami rujuk kesana." Kata perawat di klinik memberitahukan keadaan Ana pada Zahra.
Zahra tidak bisa berkata kata ia hanya mengangguk saja. Hatinya sangat tidak karuan, apalagi Ana harus dirujuk ke rumah sakit yang peralatan lengkap.
Ibu Ayu yang mendengar berita itu langsung pingsan. Ia tahu dari uwa Iyan, sedangkan Darman hanya tersenyum puas melihat Ana dibawa ke klinik. Ia malah duduk di halaman perpustakan dengan wajah yang tidak pernah menyiratkan penyesalan.
Entin yang sedang hamil lebih gesit lagi, ia menuju klinik menemani Ana, ia tidak menyangka kalau suami nya bakal tega menusukkan pisau pada perut Ana.
"Kang apa yang kamu lakukan pada Ana, aku nggak nyangka kalau kakang melakuakan itu lada Ana." Sembur Entin..
Entin shock sekali melihat itu semuanya. Apalagi Darman melakukan nya pada ponakannya sendiri.
"Diam lebih baik diam jangan bicara!" teriak Darman.
__ADS_1
"Diam, aku nggak bisa diam melihat kelakuan kakang seperti ini!" Sembur Entin.
Tanpa mengubris kata katanya Entin langsung meninggalkan suaminya menuju ke klinik.
Darma berusaha menghalangi Entin untuk ke klinik tapi Entin berontak ia mendorong dan memukul Darman. Setelah bebas dari pegangan suaminya Entin langsung ke klinik terdekat.
Ia langsung memegang tangan Ana dengan erat sekali.
"Na, uwa Darman ya Na, kamu cepat
bangun dsn sembuh lagi," ujar Entin menangis.
Zahra hanya diam saat melihat Entin menangis di hadapan Ana, kerena Ana masih perawatan luka di perutnya perawat membawa Entin untuk duduk menunggu. Zahra mengajak Entin ke luar.
"Sabar ya mbak, Ana bakal sembuh kok!" Zahra menghibur Entin yang menangis.
Zahra tidak bisa mengatakan apa apa pada Entin Maslah keadaan Ana yang parah itu.
"Kang, Ana mana, Ana mana?" Tanya ibu Ayu.
Uwa Iyan langsung mengantarkan ibu Ayu ke klinik, ia sebenarnya berusaha menahan ibu Ayu untuk istirahat dulu jangan sampai ke klinik dulu kerena keadaannya juga belum stabil. Tapi ibu Ayu kekeh disana ia disambut oleh Zahra yang duduk di depan ruangan ruang IGD bareng dengan Entin.
"De, maafkan kakang Darman ya, maaf kan dia," ujar Entin meraih tangan Ayu..
Tapi ayu langsung menghindar dari tangan Entin, ia seperti nya jijik menerima tangan Entin. Melihat itu Zahra langsung menarik Entin supaya jangan mendekati ibu Ayu, Entin hanya mengangguk hatinya sangat perih menerima perilaku dari Ayu.
Uwa Iyan balik lagi. Zahra tidak tahu kalau uwa Iyan bakal mendatangi Darman. Laki laki itu menuju rumah Darman tapi laki laki yang dicarinya tidak ada di rumah. Akhirnya uwa Iyan langsung ke tempat kejadian, ia melihat uwa Darman duduk bersila pandangan kosong.
BUG!
Uwa Iyan tanpa menunggu waktu lagi menghajar Darma dengan bertubi tubi, Darman yang tidak menduga langsung melihat siapa orang yang memukul tubuhnya.
Mata Darman mendelik saat tahu siapa orang itu, ia membalas uwa Iyan. Akhirnya mereka berdua tidak bisa dihindarkan, pertengkaran kecil terjadi antara uwa Iyan dan Darman.
__ADS_1
Sedangkan ibu Ayu datang ke klinik, Zahra memberitahukan semuanya pada Ibu Ayu tentang kondisi Ana.
"Bu, Ana harus dibawa ke kota, harus dirujuk kerena peralatan disini nggak lengkap." Zahra memberitahukan tentang keadaan Ana pada ibu Ayu.
"Apa? Memangnya kenapa nggak dirawat disini saja?" Tanya Ibu Ayu keget dan terkejut sekali.
"Ana tidak bisa diobati di klinik itu, kerena kurangnya fasilitas yang memadai. Kalau di kota insya Allah bisa kerena disana peralatannya lengkap dan memadai."
Mendengar apa yang Zahra katakan tiba tiba tubuh ibu Ayu ambruk seketika juga. Zahra langsung memburu tubuh ibu Ayu, Entin yang melihat langsung membantu Zahra.
Zahra sebenarnya memberitahukan alasan kenapa Ana harus di bawa ke kota pada ibu Ayu masalah fasilitas di klinik. Tapi wanita itu malah pingsan kerena memang ia belum siap mendengarkan apa yang harus diceritakan oleh Zahra.
Tapi sebelum itu ibu Ayu yang mendengar itu meraung sejadi jadinya, ia tidak menduga kalau Darman melakukan perbuatan yang membuat putrinya harus mendapatkan perawatan.
Seketika itu juga tubuh wanita itu jatuh dan ambruk ke lantai. Ada beberapa karyawan di sana langsung membawa ibu Ayu ke tempat yang tenang dan nyaman.
"Ibu nggak punya biaya buat di kotanya gimana?" Tanya ibu Ayu ketika siuman.
"Tenang saja Bu, ada Zahra insya Allah Zahra bantu kok ya biarpun nggak seberapa juga." Kata Zahra memegang tangan Ibu Ayu.
"Kamu lebih baik pergi! Aku nggak butuh kamu disini!" Teriak Ayu menatap Entin benci.
"De, maafkan kakang Darman."
"Pergi!" Usir nya.
Entin menatap wajah Zahra, Zahra mengangguk dan mengizinkan Entin untuk pergi dari kamar itu. Entin hanya bisa menangis, melihat keadaan ibu Ayu adik ipar nya seperti itu.
"Semua gara gara kang Darman!" Bisik Entin marah.
Ia baru menerima hujatan dari adik iparnya, ya Entin sadar apa yang dilakukan oleh adik iparnya pada dirinya, pasti semua orang pasti bakal marah dan tidak mau bicara kalau anak kesayangannya di tusuk oleh orang lain apalagi orang itu adalah uwa sendiri.
Entin pulang ke rumah, ia tidak peduli pada keadaan rumah yang kosong dan ia tidak peduli pada suamianya yang membuat dirinya tersisih oleh ibu Ayu.*
__ADS_1