
"Anak anak nya juga salah, nggak pernah menjenguk ibunya." Dengus Ana.
"Seharusnya anaknya mau jenguk atau menemani, jadi waktu kalau butuh kasih sayang. Apalagi dari keluarga juga kurang ada perhatian," lanjut Ana lagi.
"Opa dan Oma nggak tahu kembaran mama masih hidup. mereka tahunya sudah meninggal," bela ibu Ani pada Ana..
Wanita itu seperti nya tidak mau kalau mama dan papa nya di jelek kan di tempat oleh Ana.
"Seharusnya opa dan Oma nya mencari Taku jangan langsung percaya begitu saja." Dengus Ana.
Zahra langsung mencubit pelan Ana, ia tidak ingin ada keributan antara mama dan Ana gara gara membicarakan Rani. Ya sebenarnya Zahra tidak tahu apa apa Maslah Rani yang tiba tiba muncul disaat ia ingin mengungkap kasus Darman.
Ditambah lagi mama juga ikut campur dalam kasus Darman, ia tidak bisa berbuat apa apa. Bukannya selesai malah sekarang semakin rumit sekali.
"Sudah jangan bicara masalah Rani."kata Zahra menghentikan perdebatan.
"Aku nggak menyalahkan siapapun cuma hanya ingin meluruskan saja, kalau saja pernikahan mereka direstui mungkin kejadian ini nggak bakal terjadi," kata Ana.
Gadis itu baru tahu kalau pernikahan orang tua ibu Ani tidak pernah direstui oleh kedua orang tuanya sendiri. Jadilah pernikahan yang seharusnya bahagia malah menjadikan bumerang.
"Apa yang dikatakan Ana benar sih! tapi apa salah ya nenek menikah dengan kakek?" Ibu Ani angkat bicara.
Sedangkan ibu Ayu yang ada di samping mereka hanya mendengarkan saja, ia tidak menyangka kalau kisah Rani rumit sekali.
"Terus apa motif Rani melepaskan Darman? Apa ia masih suka sama Darman?" tanya ibu Ani menatap wajah Zahra dan ibu Ayu bergantian.
"Darman meninggalkan Rani ketika itu, jadi ia lepaskan Darman supaya Darman mencari dirinya." Zahra angkat bicara..
Ia mengatakan itu kerena Zahra mendengar secara langsung pembicaraan Narti dan Rani ketika ia di rumah itu.
Ya Zahra masih ingat saat ia menguping pembicaraan dari Rani dan Narti waktu itu.
"Bu, kenapa ibu lakukan ini pada Ibu Ani, sedangkan ibu Ani nggak pernah menganggu kehidupan ibu?" tanya Narti waktu itu.
"Saya masih mencintai Darman, saya ingin kalau Darman bisa mencari aku." ujar Ibu Rani menatap wajah Narti.
"Saya nyakin kalau Darman masih mengingat saya." lanjut nya sambil menghela nafas panjang.
"Tapi sampai sekarang yang namanya Darman nggak pernah datang?" tanya Narti.
"Saya nyakin kaku ia bakal datang dan menyusul saya ke sini?"
"Memangnya ia tahu tempat ini?" tanya Narti heran.
__ADS_1
Ya wanita itu heran kerena tempat ini baru diisi beberapa bulan yang lalu, jadi wajar kalau misal Darman tidak tahu kalau Rani punya rumah.
"Aku pasti akan mencarinya Ti, biar ia juga tahu kalau aku mencarinya."
"Kenapa ibu nggak bertemu langsung saja sewaktu ia keluar dari penjara?" tanya Narti kemudian.
"Nggak buat kejutan." Kata Rani sambil tersipu malu, ia merasa kalau Darman masih mengharapakan dirinya.
Narti hanya mengelengkan kepala melihat wajah majikan yang bersemu merah, mengingat nama Darman.
"Kamu juga bakal merasa kalau kamu jatuh hati," Rani tersipu.
Narti hanya mengangguk saja, mendengarkan apa yang dibicarakan oleh ibu Rani majikannya.
"Bu, apa ibu nggak merasa heran kenapa sampai sekarang Darman nggak datang ke rumah ini?" tanya Narti.
"Mungkin ia masih mencari tahu apa yang ia cari," Rani bersifat positif thinking.
"Kalau misal nggak pernah mencari bagaimana?"
"Nggak mungkin ia nggak pernah mencari saya Narti, pasti ia juga mencari saya bagaimanapun juga."
Kedua tidak menyadari kalau Zahra mendengarkan pembicaraan mereka. Ia menghela nafas mengingat semua percakapan antara Rani dengan Narti.
"Kau jahat juga nya mendengar pembicaraan orang!" goda ibu Ayu pada Zahra..
"Zahra hanya ingin tahu, saja Bu. Untung saja Zahra disana nggak terlalu disekap "
"Terus yang Ana anehnya kenapa ya harus kak Zahra yang di ciliknya motifnya apa, sedangkan ia tahu kalau..." Ana tidak meneruskan pembicaraannya, matanya melirik wajah ibu Ani.
"Ibu nyakin kalau Rani nggak tahu kalau Zahra itu anak ibu, ia tahunya Anin anak ibu." kata ibu Ayu.
"Tapi kenapa kalau Zahra anaknya Tante Ani kenapa harus Zahra yang diambil, kan sama saja ponakan?" tanya Ana bertanya.
"Na, kakak nyakin kalau ibu itu awalnya nggak tahu kalau kakak anaknya mama, begitu juga ibu itu nggak tahu kalau kakak itu Anin " duga Zahra.
"Semuanya gara gara kakak sih! Kenapa coba kakak harus menghilang, jadi begini ceritanya." ujar Ana cemberut.
"Kakak juga nggak tahu kalau ini bakal jadi cerita yang panjang!" Hela Zahra.
Memang kalau dipikir lagi, kalau ia tidak kabur mungkin semuanya akan beda ceritanya. Semuanya sudah takdir yang harus dijalani oleh dirinya maupun ibu Rani.
"Semuanya sudah direncanakan sama Tuhan dek, pasti ada hikmah yang tersimpan dalam cerita yang kita alami ini," sanggah Zahra.
__ADS_1
"Iya sih!"
"Aku kesal kenapa harus uwa Darman yang jadi dalang semuanya." lanjut Ana mendengus.
"Kakak nyakin kalau semuanya akan ada sambungannya. Masalahnya kakak juga nggak begitu nyakin kalau uwa Darman pembunuh ayah," kata Zahra merenung.
"Maksudnya?"
"Uwa Darman pasti ada yang menyuruh membunuh ayah, nggak tahu ini motif kerena warisan orang tua ayah atau bukan, Kakak hanya ingin memastikan semuanya sampai ke akarnya de." ujar Zahra lembut.
Deg!
Kata kata Zahra mengingatkan ibu Ayu pada sosok laki laki yang ditemui dulu, laki laki yang berbicara tidak beda dengan apa yang dibicarakan oleh Zahra sekarang.
"Cari lebih detil lagi, siapa tahu bukan orang yang kamu tuduhkan semuanya. Saya nyakin ada orang lain selain orang itu, jangan gegabah menangkap orang yang tanpa disa nanti kalian kuawalat." kata laki laki itu.
Ibu Ayu tidak menceritakan apa yang pernah ia dengar dari laki laki itu, pada Ana maupun Zahra. Hanya diri nya yang menyimpan kasta kata itu dengan baik, tapi ibu Ayu terkejut hatinya tergetar saat Zahra mengucapkan nya.
"Ra, kata kata itu kamu dapatkan dari mana?" tanya Ibu Ayu heran sambil menatap wajah Zahra.
Zahra bukannya langsung menjawab tapi ia hanya tersenyum ke arah ibu Ayu.
"Kenapa Bu, ibu heran dengan kata kata Zahra yang tadi Zahra ucapakan?" tanya Zahra menatap wajah ibu Ayu lembut..
"Iya, ibu seperti pernah mendengar kata kata itu,"
"Zahra juga dari laki laki itu bu." jawab Zahra lembut.
"Kamu bertemu juga dengannya?"
"Iya Bu, beliau juga membicarakan ibu kok!"
"Ibu kira kata kata itu dari kamu?"
"Nggak, Zahra pernah bertemu dengan laki laki itu tapi Zahra nggak tahu namanya." Jujur Zahra pada ibu Ayu.
"Kalian ketemu dengan ya?"tanya ibu Ani yang tadi hanya diam langsung angkat bicara.
Zahra mengangguk. Begitu juga dengan ibu Ayu.
"Kalian beruntung bertemu dengan kaki laki itu!" Hela ibu Ani menatap keduanya.
Terlihat wajah ibu Ani seperti ada keinginan yang luar biasa untuk bertemu dengan laki laki itu.*
__ADS_1